Perempuan di Meja Makan

mila La
Karya mila La Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Mei 2017
Perempuan di Meja Makan

Kala itu, sore begitu mempesona. Warna merah mega di langit terrlihat begitu kental. Sorot cahaya yang kekuning-kuningan, membuat awan tak berani bersembunyi. Bersamaan dengan itu, ada senyum yang tiba-tiba sudah berada tepat didepan wajahku.

“makasih ya kak sudah nganter iin,” begitu lirihnya setelah angkot yang kita tumpangi berhenti di depan toko di daerah Sukasari.

“iya sama-sama”

“setelah ini kakak mau kemana?” tanyanya sambil sedikit cemas

“aku langsung ke UPI aja, deket kok dari sini,” begitu kataku supaya tak membuatnya khawatir.

“emang di sana ada temen?”

“ada adek kelasku, dan rencananya aku mau ngajak makan bareng. Maklum, sudah beberapa bulan ini aku tak mengunjunginya.”

“syukurlah”

Dan tiba-tiba sudah ada mobil angkot yang berhenti didepan kami. Segera aku naik dan berpamitan padanya.

“sampai ketemu lagi ya in, salam buat Uni,” kataku dibalik angkot.

“iya nanti iin sampein kak”

Lalu terlihat lambaian tangan yang hanya tersekat oleh jendela mobil. Suara mesin menyala. Pertanda  mobil sudah siap melaju. Perlahan, ia lenyap dari pandanganku. Begitulah cara perpisahan menciptakan jarak.

Sesampainya di deket kampus UPI, q langsung turun dari angkot dan berjalan menuju gang kecil. Beberapa meter melangkah aku sudah berada di dalam kampus UPI.

“hallo, lagi sibuk ga Vey”

“gak, why?” jawabnya singkat

“mau nemenin aku makan ga?”

“dimana?”

“di deket kampus UPI”

“emang kamu lagi disini?” sedikit ga percaya

“iya, keluar aja. Aku tunggu di depan gedung FIP UPI ya,” kataku meyakinkan

“oke” jawabnya sebelum akhirnya ku tutup telfonnya.

Beberapa menit menunggu, aku melihat seorang perempuan keluar dari gang kecil. Dia terlihat sedang mencari-cari seseorang. Yang ku tahu, itu Vey yang lagi mencari diriku, hehe

“Vey”, sapaku dari sampingnya.

Aku langsung mendekat ke arahnya tanpa harus menunggu jawaban darinya. Walau sebenarnya agak canggung, aku beranikan ngobrol ringan sambi berjalan berdua. Berjalan beriringan. Dan akhirnya sampai di depan sebuah cafe.

Kita memilih tempat duduk paling belakang. Kebetulan suasana kafe tak banyak pengunjung. Jadi kita bisa bebas memilih tempat duduk.

“mau pesen apa?” tanyaku

“minuman aja, udah makan soalnya,” jawabnya sambil bales chat dari temannya.

                Aku berdiri menemui penjualnya. Dan kebetulan, penjual es sudah tutup. Kata bapak disebelahku, penjualnya lagi ada tamu. Dan aku disaranin beli es kelapa muda saja. Karena tak mau egois, aku balik bertanya lagi pada Vey yang saat itu masih sibuk dengan ponselnya.

“tingga es kelapa muda, kamu mau gak?” tanyaku

“q ga suka” jawabnya

“tapi minumannya tinggal itu,” jawabku lagi

“ya udah terserah aja gak apa-apa,” sahutnya dengan melirikku sedikit sebelum kembali lagi pada layar ponselnya.

Meski merasa tak enak, aku pesan aja. Dalam hati, ada sedikit rasa kecewa karena memilih cafe ini.

Kini aku duduk kembali disatu meja dengannya. Ku coba betulkan posisi kursi supaya berhadap-hadapan.serasa seperti di ruangan introgasi, hehe.

“Vey, katanya kamu mau tanya sesuatu,” lirihku coba memecahkan susasana hening.

“oh iya, mau tanya tentang psikopatologi,” jawabnya sambil melirikkan matanya tepat di depan mataku.

Sontak aku langsung membuang pandangan dengan pura-pura meminjam buku Psikologi yang dari tadi sudah ada di atas meja. Aku baca beberapa baris dan fikiranku tetap saja tak bisa fokus. Mungkin karena efek capek perjalanan yang kutempuh beberapa jam. Atau karena...., (ah, jangan di tafisirri secara baper. hehe).

Di sela-sela aku membaca buku, ku lirik ia sebentar. Namun, Vey tetap saja sibuk dengan ponselnya. Ia letakkan kedua siku tangannya diatas meja. Sambil senyum-senyum ke arah layar dengan daya batrai 3000 mAh. Dalam hati aku merasa seperti dikucilkan. Tapi, dari pada berfikir yang tidak-tidak, segera ku hilangkan perasaan negatif itu bersamaan dengan datangnya es kelapa muda yang sedari tadi sudah kami pesan.

“jadi gimana kak arti Psikopatologi itu?,” suaranya tiba-tiba membuatku sedikit terkejut.

Meski tak terlalu paham, aku coba menyampaikan sedikit dari yang telah ku pahami. Meski itu belum puas untuk menjawab pertanyaannya. Ku coba sedikit memancingnya agar mau berdiskusi (tepatnya q yang mendengarkan). Dan perlahan Vey pun berteori ala dosen yang baru dilantik. Aku kagum dengan cara dia menyampaikan. Tangannya bergerak kesana-kemari seperti dirigen biola. Aku hanya bisa tersenyum dihadapannya. Dan disaat tak sengaja dia berbicara menerangkan materi ngalor-ngidul,  diam-diam aku menatap wajahnya. Dan tanpa sengaja dia pun menatapku. Sontak aku alihkan pandanganku ke arah warung nasi yang tepat di belakangnya. Aku berharap ia tak menyadari hal itu. Aku memang tak biasa memandang wanita lama-lama (haha, sok alim). Tapi emang itu kenyataannya.

Entah mengapa aku coba menatapnya, dan saat dia menatapku balik aku selalu ingin mencoba menghindar. Dan untungnya dia tak menyadarinya (atau dia pura-pura menyembunyikannya juga).

Lama kita bercanda tawa bersama dicafe itu. Ya, duduk diatas dua kursi dan hanya terhalang oleh satu meja kecil. Walau diatasnya hanya ada empat tangan, dua gelas es kelapa muda, satu buku, dan ponsel, itu sudah cukup untuk aku dan kamu bertemu dan saling tersenyum. Walau beberapa sebelumnya kita sempat bertengkar. Entah karena kebodohanku atau kamu yang memang tak mau diganggu. Yang jelas malam itu aku hanya teringat meja kecil disudut cafe dan ada perempuan cantik berdialog disana.

Sebelum kita keluar dari cafe, aku sempatkan melayangkan pandanganku pada langit di luar jendela. Sedikit tersenyum aku merasa bahwa meja didepanku adalah meja yang paling sempurna. sebab, kebanyakan meja hanya memberikan suguhan makanan atau minuman yang kadang membuat perut mual. Atau asbak dan sebungkus rokok yang membuat nafas sesak. Tetapi, meja yang didekatku terlihat sempurna. sebab ada dua tangan gadis cantik yang membuat pandanganku tak tentu. Bila suatu saat aku melihat ada meja makan di dapur rumahku, aku berharap yang duduk di kursi itu adalah K***.

Sejenak kau menyadarkanku dari bayangan itu. dan kita berdua akhirnya keluar dari cafe dan kembali berjalan beriringan. Hingga ku hantarkan kamu kedepan pintu kos mu. Dan setelah itu kita pun hilang di terpa angin malam.  

  • view 53