CINTA BUKAN SEKEDAR BAHAGIA (1)

mila La
Karya mila La Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Mei 2017
CINTA BUKAN SEKEDAR BAHAGIA (1)

Ada dua hal yang akan kita ingat sebelum berpisah. Yang pertama pertemuan dan yang keduanya ialah kenangan. Dan berbicara tentang pertemuan, aku tak menyangka telah bertemu dengan seorang wanita super cuek. Tak peduli perasaan lelaki. Maunya selalu menang. Tapi, dibalik perasaan wanita seperti itu, pasti ada mutiara yang akan kita kagumi. Percayalah!

 

“Vey”,

begitu aku memanggilnya, dia langsung menolehkan kepalanya. Sedikit melirikkan matanya.

“Ada apa manggil-manggil gak jelas”, ketusnya padaku.

“Galak banget, biasa aja ngomongnya”, balasku.

“Kalo gak suka dengan gaya bicaraku ya sudah, aku juga tak memaksa kamu harus menerima perkataanku”, sedikit marah dia membuang mukanya.

Perlahan aku tarik nafas dalam-dalam dari perutku. Mencoba mencari ketenangan dan sedikit memejamkan mata sambil bergumam. “sungguh wanita yang aneh”, begitu batinku.

Merasa pembicaraan kita gak kondusif lagi, aku pun diam. Dalam hati aku mengklarifikasi dan membenamkan diri sendiri. “Mungkin Vey lagi ada masalah, atau aku yang salah berucap”, sadarku mencoba menenangkan.

“Ya sudah, aku minta maaf Vey kalau salah berucap padamu, aku tak bermaksud membuatmu marah,” sambungku kepadanya setelah beberapa saat tadi kita saling diam.

“ya dimaafin,” sahutnya

Aku pun segera berlalu meninggalkannya tanpa tahu duduk perkara kemarahannya. Dan ia masih duduk bersama teman-temannya di teras depan kelas. Ku sempatkan menoleh dari kejahuan, namun dia sudah larut kembali bersama teman-temannya. Aku pun pergi, meski ada rasa tak terima di perlakukan seperti itu oleh seorang wanita. Tapi, aku masih punya sisi tuk menjelma menjadi rela. “Ah, aku ga boleh terlalu egois, mungkin aku memang mengganggunya,” rayuku dalam hati.

*****

 

Vera Rosita, begitulah nama lengkapnya. Aku tak tahu betul alasannya mengapa dia dipanggil Vey. Tapi aku suka memanggilnya seperti itu. umurnya belum genap 20 tahun, tapi dia single loh, kalo dibilang jomblo pasti bakal marah, sebab ga punya mantan, hehe.

Di kota Bandunglah pertama kali aku mengenalnya. Yang ku tahu, dia pernah satu sekolah waktu di SMA ku dulu. Meski satu sekolah, aku tak pernah bertemu dengannya. Karena jarak kita terpaut 3 tahun. Aku lulus SMA, dia baru masuk. Tak ku sangka, kita bisa melanjutkan kuliah di kota yang sama. Tapi beda universitas. Dia di UPI, sedangkan aku di UIN. Sekitar satu jam jaraknya untuk saling mengunjungi. Mungkin bisa dibilang lumayan jauh. Tapi tetap saja masih satu wilayah, Bandung.

Sebagai kakak kelasnya, aku seperti memiliki kewajiban untuk menjaga silaturahim di perantauan. Apalagi aku memang 3 tahun lebih lama tinggal di Bandung. Sudah selayaknya membagi sedikit pengalaman. Baik secara kultur atau bagaimana baiknya bersikap di kota perantauan ini.

Hari ini, aku berkunjung untuk pertama kalinya. Sebelumnya, kita hanya mengenal lewat sosmed. Chattingan atau sekedar telfon. Begitulah kita sedikit akrab di dunia maya. Padahal, di dunia nyata kita belum pernah bertemu. Aku tak berharap dunia nyata akan lebih mengakrabkan kita.

Naik angkutan umum jurusan terminal Ciaheum sekitar 20 menit dan dilanjut naik angkot jurusan Ledeng. Ku kira berangkat sore hari bakal mempercepat perjalananku sampai ke tempatnya. Ternyata aku baru menyadari setelah kejebak macet. “ah, aku lupa kalo hari ini weekand”, hardikku dalam hati. Aku chatting dia. Vey, maaf agak telat datangnya. Kejebak macet nih. Selang beberapa menit dia balas. Iya gak apa-apa. Tak ku balas lagi. Ku putuskan untuk memejamkan mata saja di dalam angkot. Berharap kemacetan ini tak terlalu lama. Dan semoga Tuhan merestui pertemuan pertama kali ku ini.

Satu jam lebih aku baru sampai. Dimana vey?. Begitu aku chatting lagi. Tunggu. Beberapa saat kemudian dia menjumpaiku.

 

“ini kak Djoko?” sapanya ketika sudah berada dekat denganku.

“oh iya, ini dengan Vey?” kataku sedikit gugup dan kaget.

“iya,” jawabnya singkat

Beberapa saat dia terlihat diam. Lalu ku ajak dia singgah di warung terdekat. Jujur saja, aku merasa sedikit canggung. Entah karena kita belum pernah ketemu secara langsung atau memang dia yang terlihat sedikit bad mood. Sampai di warung, ku pesankan beberapa makanan dan minuman. Duduk berhadapan tapi tanpa saling berpandangan.

 

“Bagaimana di Bandung, betah?,” kataku coba memecah suasana malam

“ya gitu lah,” balasnya sambil masih memegangi handphone androidnya. Bahkan tanpa memandangku. Sampai pesananan makananpun akhirnya datang.

Sampai makanan dan minuman habis, tak ada lagi pembicaraan diantara kita. Dengan diliputi rasa kecewa, sebelum kita putuskan untuk kembali pulang, ku sempatkan membuka pembicaraan sedikit.

 

“Vey, aku tak memintamu menyambut kedatanganku. Bahkan aku ke mari juga tak kau minta. Ini memang murni keinginanku. Tapi setidaknya hargai aku sebagai tamumu. Aku bertemu denganmu di dunia nyata. Bukan di dunia maya lagi. Mengapa kau mengacuhkan kedatanganku dan sibuk dengan handphonemu. Maafkan aku yang harus mengatakan ini. Aku hanya peduli padamu. Jangan jadi orang cuek yang nyaman dengan diri sendiri,” kataku dengan sedikit kesal.

“Kalau kamu gak suka dengan caraku ya terserah. Aku memang seperti ini orangnya. Gak usah sok nasehati lah, mentang-mentang kau kakak kelasku,” jawabnya tiba-tiba marah.

“Maaf kalo aku terlalu banyak bicara,” balasku sambil meninggalkannya. Dengan sedikit kecewa, aku pun pulang.

Di tengah perjalanan, aku tak henti-hentinya mengutuk pertemuan ini. Rasa kecewa yang tiada tara ku rasakan menusuk hati bertubi-tubi. Bahkan sampai rumah aku menyumpah tak kan menghubunginya lagi. Namun, setelah istirahat beberapa jam di kamar, aku mulai membuka tirai kekacauanku. "mengapa aku langsung men-just dia yang jelek-jelek ya, mungkin dia lagi ada masalah. Atau memang waktnya yang ga sesuai dengan suasana hatinya saat itu,” gumamku dalam hati. Vey, maaf jika aku terlalu sok bijak. Kirimku lewat chat. Namun tak ada balasan lagi.

Dan setelah saat itu, dia seperti membenciku. Bad mood kalo ketemu aku.

*****

 

Sebagai mahasiswa jurusan Psikologi, aku merasa tertantang untuk mendekati dan mengajaknya berteman kembali. Bukankah aku sudah sedikit banyak mengenali karakter orang. Ku akui, Vey memang wanita cantik. Apalagi ditambah dia cuek orangnya. Sungguh sesuai dengan kriteria perempuan idamanku. Meski aku belum lama mengenalnya, namun hatiku seperti sudah berabad-abad mengenalnya, mungkinkah di alam roh aku sudah pernah menemuinya?. Entahlah, jangan-jangan aku sedang terhipnotis dengan kesan pertama?. Jujur. Dia memang beda dengan wanita yang pernah aku temui.

Sejak hari-hari terlewati, aku pun berusaha untuk meminta maaf kepadanya. Meski aku merasa tak salah. Tapi apa salahnya meminta maaf. Bukankah meminta maaf adalah sesuatu yang sulit dilakukan oleh orang saat ini. Senangnya membela diri sendiri. Itulah kodrat manusia yang tak peduli. Dan Vey pun sedikit demi sedikit mulai tak acuh lagi padaku. Dan kita akan merencanakan pertemuan lagi di kampus UpI besok, dan kebetulan aku memang lagi ada tes toefl di sana. Jadi ku sempatkan menemuinya. Dan aku sudah siap untuk menjinakkan sikap cueknya.

Sembari malam ini aku lelah mengerjakan soal-soal latihan toefl, ku sempatkan sedikit membuka catatanku. Dan menuliskan beberapa kata yang sering aku lakukan di buku diary ku.

 

Vey, sejak pertama kali bertemu denganmu, rasanya aku seperti orang bodoh yang sengaja kau permalukan. Tanpa batas usia yang lebih tua darimu, kau acuhkan aku. Namun, entah mengapa aku tak berhenti untuk memperdulikanmu. Meski kadang hanya sebatas doa yang ku ucapkan.

 

Vey, kamu memang sudah memesan perasaanku di warung itu. Dimana itu adalah kesan pertama menemuimu. sungguh tak mudah untuk menerima ke-cuek-an mu. Tapi tanpa itu, aku tak tahu bakal mengagumimu.

 

Vey, kini ku yakin. Cinta bukan sekedar bahagia. Tapi ia juga bisa menjelma menjadi kesan yang berbeda. Ku yakin kau pun pasti punya kesan untuk ku juga. Meski bukan di hari kita pertama bertemu.

Bandung, tth

 

Ku tutup kembali catatan pribadiku. Dan siap untuk ku bercerita kembali bagaimana kita akan bertemu nanti. Aku pun memejamkan mata dan larut dalam senyumku sendiri.

  • view 71