PULANG

Mila Savitri
Karya Mila Savitri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Juli 2016
PULANG

Duduk sendiri di samping jendela kereta api sambil mendengarkan “pulang”nya Float. Keadaan yang sangat eksotis menurutku, ditambah dengan gericik gerimis yang begitu harmonis di luar sana. Ya, berkendara kereta api memiliki kesan tersendiri bagiku, ada sensasi unik yang tercipta ketika dapat berdiri di depan pintu kereta yang melaju dan bisa merasakan sepoi angin sekaligus memanjakan mata dengan pemandangan pesawahan hijau nan anggun.

Untuk kesekian kalinya aku menuruti naluriku untuk me-refresh diri, bukan cuci mata di mall atau nongkrong di warung-warung kopi modern, melainkan membelokan stang motorku ke arah stasiun kereta api. Sore itu suasana stasiun Bandung selalu sama menurutku, kecuali jika mendekati masa mudik atau balik. Suasana yang sangat luar kota aku rasa. Kenapa luar kota?hehe, alasannya mungkin terlalu anak kecil karena alasan tersebut aku terapkan sejak aku masih kanak-kanak. Aku selalu berpikir, orang yang datang ke stasiun dan naik kereta api berarti akan pergi ke luar kota. Keyakinan itu sedikit goyah ketika aku benar-benar mengenal stasiun dan kereta api saat duduk di bangku sekolah menengah, pertama kalinya aku berani naik kereta api dan sendiri. Ternyata tidak harus ke luar kota jika kita ingin naik kereta api. Sejak saat itulah, aku begitu mengagumi kendaraan yang satu ini, bukan karena fisiknya, melainkan kenyamanannya yang selalu menggodaku untuk kembali duduk di samping jendela sambil menikmati alunan music dari MP3.

Namun, jangan membayangkan bahwa suasana kereta api selalu lenggang. Keramaian yang berirama karena penuh sesak penumpang atau riuh oleh suara penjual makanan dan barang pun sering aku temui selama petualanganku dengan kendaraan bebas macet ini, tapi sungguh, aku pun menikmati setiap skenario yang dituliskan dalam adegan yang ter-setting di kereta api. Seperti hari ini, aku harus berlari-lari kecil ketika melihat putaran jarum pada jam besar yang tergantung di atas gerbang stasiun. Waktu pembelian tiket KRD Patas jurusan Cicalengka dan waktu keberangkatan kereta tidaklah lama, hanya bersisa lima menit untuk mengejar posisi favorit, ya, dekat jendela.

Cicalengka menjadi tujuan paling “tepat” untuk dikunjungi olehku yang memang hanya ingin menikmati perjalanan, Cicalengka masih termasuk Kota Bandung, mungkin hanya memerlukan satu jam bahkan kurang untuk sampai ke sana dengan kereta api. Aku tidak pernah bosan dengan rute yang dilalui. Selalu ada cerita berbeda meskipun ritme dan rute yang dilewati selalu sama. Selalu ada orang baru yang tidak sengaja kunilai kepribadiannya hanya dengan melihat sikapnya selama berhadap-hadapan duduk di kereta, iseng memang, tapi justru itulah “ilmu” yang kudapat dalam penjelajahanku ini.

Akan aku ceritakan scenario kecil yang aku perankan di dalam stasiun dan kereta api. Aku akan selalu bersemangat mendatangi loket penjualan tiket dan menjulurkan lima ribu rupiah untuk tiket KRD Patas jurusan Cicalengka, setelah itu aku masuk dan duduk santai dengan bisikan-bisikan romantis Float, homogenic, atau maliq di tempat tunggu kereta. Aku akan bergegas ketika kereta jurusanku datang, dan seperti biasa, kucari kursi kosong dekat jendela. Aku akan sangat bersyukur karena dapat menikmati setiap perjalananku dengan alat transportasi romantis ini. Sampai stasiun Cicalengka aku akan langsung menuju loket dan kembali menjulurkan lima ribu rupiah, setelah itu, aku pun mencari tempat duduk strategis di stasiun Cicalengka untuk menunggu kereta jurusan Bandung. Dan ternyata, menunggu kereta jurusan Bandung itulah bagian yang sangat indah dari sebuah perjalanan, saat pulang.

 

 

 

 sumber foto : http://beritatrans.com/2015/04/08/ka-bandung-cianjur-kembali-beroperasi-dari-kiara-condong/

  • view 85