RELA "DICULIK" DEMI TAKJIL GRATIS DI MASJID RAYA BANDUNG!!

Mila Savitri
Karya Mila Savitri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 April 2016
RELA

RELA "DICULIK" DEMI TAKJIL GRATIS DI MASJID RAYA BANDUNG!!


Apa makanan paling enak? Mungkin ayam goreng, pizza, donat, spagheti, dan lain-lain. Setiap orang punya selera berbeda, tidak bisa disamakan. Namun, sering ada plesetan bahwa makanan paling enak di dunia adalah makanan GRATIS! Yang rasanya biasa saja bisa jadi enak kalau gratis apalagi kalau rasanya enak, gratis pula.
Saya adalah salah satu orang yang sangat senang bila mendapat sesuatu secara gratisan, termasuk makanan. Bahkan, saat masih SMA dan kuliah, saya akan tambah semangat untuk mendatangi sebuah seminar atau acara bedah buku yang menyediakan snack gratis, memalukan sih ya. Alasannya bukan karena tidak mampu membeli makanan atau jajanan walaupun memang keuangan saat SMA dan kuliah tidak banyak karena masih meminta pada orang tua. Di rumah pun orang tua selalu menyajikan makanan. Entahlah, selalu ada kepuasan saat mendapatkan sesuatu/makanan dengan cara cuma-cuma.
Ada beberapa cerita unik ketika saya berburu makanan gratis, salah satunya ketika Bulan Ramadhan 2005 saat saya masih  kelas 3 SMA. Seperti biasanya, setiap Bulan Ramadhan, Masjid Raya Bandung yang terletak di alun-alun kota selalu menyediakan takjil untuk berbuka puasa bagi orang-orang yang berdatangan ke masjid tersebut.
Hari itu, sebelum berangkat ke sekolah, saya sempat membaca headline salah satu surat kabar tentang nasi goreng gratis di Masjid Raya Bandung. Kontan saja saya sang pemburu gratisan ini tertarik. Sesampainya di sekolah, saya mengajak sahabat saya untuk berbuka gratisan di Masjid Raya karena lokasi masjidnya pun tidak terlalu jauh dengan sekolah kami. Akhirnya setelah dirayu, sahabat saya pun mau. Saya sudah tidak sabar makan nasi goreng gratis di masjid saat berbuka nanti.
Sepulang sekolah, kami bergegas menuju Masjid Raya. Saat sampai di masjid, adzan ashar pun berkumandang dan kami melaksanakan sholat. Sekitar pukul 17.00, kami sudah dikoordinasikan agar duduk berbaris bersiap-siap menerima takjil gratis, tetapi tiba-tiba ada seorang wanita dewasa yang menghampiri kami dan berkata ingin meminjam salah satu sepatu milik kami. Tentu saja kami ragu. Kami tidak mengenal wanita itu dan sebentar lagi akan berbuka. Dia mengatakan bahwa sepatunya dibawa oleh adiknya yang menunggu di luar masjid dan sekarang entah ke mana, sedangkan dia harus kembali ke hotel yang lokasinya sekitar dua kilometer dari masjid.
Karena melihat keraguan kami, wanita tersebut menawarkan kesepakatan salah satu dari kami ikut dengannya ke hotel agar bisa langsung mengambil sepatu yang dia pinjam. Setelah berembuk, akhirnya sepatu teman saya yang ia pinjam dan artinya saya akan ikut ke hotel.
Mungkin karena sangat menyukai film bergenre thriller, sepanjang perjalanan mengawal wanita itu ke hotel, saya penuh kecurigaan. Jangan-jangan wanita ini mau menculik dan menjual saya dengan cara disekap di hotel, hiiii. Kalau saja tidak ingat sepatu teman, saya sudah ingin melarikan diri.
Akhirnya kami sampai di hotel, hotel tersebut tidak besar, bahkan berada di atas rumah makan padang. Tadinya saya ingin menunggunya di bawah saja, tapi dia memaksa ikut ke kamarnya, hal tersebut membuat pikiran dan hati saya semakin curiga dan takut. Tapi mungkin karena masih abg, saya nurut saja. Sampailah kami di depan kamarnya, saya memutuskan diam di dekat pintu sambil siap-siap lari, siapa tahu kecurigaan saya benar adanya. Tidak sampai lima menit, wanita itu sudah keluar sambil mengembalikan sepatu teman saya tanpa kresek. Ketika pamit kembali ke masjid, dia memaksa saya ikut dengannya ke pertokoan yang terletak di sebrang hotel untuk membeli sesuatu untuk berbuka. Saya yang biasanya tergiur dengan sesuatu yang gratisan, saat itu benar-benar tidak tertarik, apalagi jika harus ke pertokoan sambil menengteng-nenteng sepatu tanpa kresek, saya malu. Namun, wanita itu berhasil membujuk, jadilah saya memasuki pertokoan besar itu dengan menenteng sepatu teman saya. Tidak lama setelah memasuki supermarket, adzan maghrib berkumandang, wanita itu pun mempersilakan saya memilih minuman untuk berbuka. Setelah menghabiskan minuman, saya berpamitan dan bergegas kembali ke masjid.
Begitu sampai di masjid, dalam keadaan lelah karena harus berjalan lumayan jauh, betapa kagetnya saya karena tidak mendapati sahabat saya di dalam ataupun di halaman masjid. Saat itu saya sudah ingin menangis. Saya sudah tidak memikirkan takjil gratis dari masjid, saya hanya ingin menemukan sahabat saya dan pulang. Setelah putus asa mencari, saya pun berjalan ke luar halaman masjid, dan saat itu saya melihat sahabat saya turun dari becak dan berlari ke arah saya dengan mata yang berkaca-kaca dan kaki tanpa alas. Dia mengatakan bahwa dia khawatir dan memutuskan mencari saya sesaat setelah adzan maghrib. Dia mencari ke hotel dengan berjalan kaki dan tentunya tanpa alas. Ternyata dia punya pikiran yang sama dengan saya, dia takut saya diculik oleh wanita tadi. Akhirnya kami melanjutkan cerita di dalam becak saat perjalanan pulang. Di tengah-tengah cerita tentang kejadian menegangkan tadi, dia mengeluarkan roti yang kalau dilihat dari tampilannya tidak terlalu menarik, “ini takjil dari masjid, bukan nasi goreng” katanya. Kami pun tertawa. Apakah saya kapok? Tidak. Saat kuliah, saya malah makin sering berburu makanan gratis.

  • view 249