Perbedaan yang Saling Mengisi

Michael Andrew
Karya Michael Andrew Kategori Budaya
dipublikasikan 06 November 2017
Perbedaan yang Saling Mengisi

Dalam perjalanan pemikiran filsafat, manusia itu hadir sebagai makhluk yang "ada". Maksudnya adalah manusia adalah makhluk yang "eksis". Dalam perkembangannya memang tidak pernah manusia sebagai makhluk yang "ada" ("eksis") itu hanya ada begitu saja tanpa kehadiran orang lain. Orang lain justru menjadikan kita sebagai makhluk yang "ada" karena dari orang lainlah kita benar-benar memahami siapakah diri kita sendiri.

Dari kecil kita sudah dididik dengan adanya perbedaan. Perbedaan tersebut seringkali diajarkan entah dalam hal yang menyangkut pribadi maupun hal-hal umum. Misalnya saja perbedaan dalam suku, agama, ras, dan antargolongan. Akan tetapi, hal itu juga menyangkut perbedaan cara makan, hobi, kesenangan, dan lain-lain. Bahkan dalam perbedaan kelas sosial, sejak kecil sudah diajarkan tentang perbedaan. Misalnya adanya orang tua, guru, Pak RT, Pak RW, direktur, kepala cabang, dan lain-lain. Semua itu entah disadari atau tidak membentuk pola pikir kita tentang perbedaan.

Akan tetapi, seringkali kita menemukan bahwa perbedaan tersebut seringkali terbentuk tanpa adanya moderasi yang imbang juga. Alhasil yang terjadi adanya orang-orang seolah "menikmati" dalam persamaan mereka sendiri. Karena adanya perbedaan, justru mereka memilih untuk hidup "bersama". Bersama di sini pertama-tama dipahami bukan seperti persamaan karena adanya "perbedaan" melainkan bersama karena pada dasarnya "sudah sama". Tentunya hal ini sangat disayangkan bahwa kebersamaan itu akhirnya terbatas pada golongannya mereka sendiri. Meminjam istilah populer sosiologi, hal itu merupakan kuatnya perasaan "in-group feeling" dalam kehidupan kita.

Salah satu bentuk nyata dalam kehidupan sehari-hari tampak misalnya ketika kita bertemu di satu tempat yang mana tempat itu luas, misalnya saja ketika menghadiri sebuah resepsi pernikahan. Ketika kita duduk dalam resepsi pernikahan tersebut, tentunya ada kecenderungan dari dalam diri kita memilih untuk duduk atau berbincang dengan orang yang kita kenal, misalnya rekan kerja atau teman. Bukan berarti hal itu salah kaprah, tetapi seringkali justru dengan adanya perbedaan tersebut seringkali orang membuat dirinya semakin eksklusif.

Oleh karenanya, penting bagaimana orang untuk menyadari bahwa perbedaan bukan berarti sebuah hal-hal yang menakutkan. Justru dengan adanya perbedaan itulah saat yang penting bagaimana kita membuka ruang dialog dan ruang berpikir bersama dari sumber primer (aslinya). Banyak sekali orang berpikir dirinya selalu nyaman dengan persamaannya karena ia pikir bahwa ia dengan persamaannya ia dapat hidup tentram terus-menerus. Tentu pikiran tersebut adalah pemikiran yang kurang tepat. Justru semakin ia menutup diri dan tidak terbuka maka ia ibarat kura-kura yang selalu sembunyi dalam rumahnya atau katak dalam tempurung yang justru hidup dalam "kebodohannya" sendiri.

Untuk itulah setiap orang dipanggil menjadi "ada" bagi orang lain. Adalah seorang filsuf bernama Martin Buber mengatakan bahwa manusia itu memang makhluk yang "ada", tetapi ia tidak berhenti di situ saja. Sebagai makhluk yang "ada" ia tidak bisa hidup dan menghidupi dirinya sendiri tanpa "ada-yang-lain". Artinya, seseorang tidak bisa hidup tanpa orang lain seperti orang lain juga tidak bisa hidup tanpa orang tersebut.

Justru dalam perbedaan kita menemukan siapa diri kita masing-masing. Kita seringkali menggunakan pemikiran bahwa kita berbeda maka orientasi kita selalu mencari yang sama. Justru, ketika orang yang mulai sadar dan terbuka dengan orang lain akan memahami bahwa ternyata ada yang "kurang" dalam dirinya sendiri yang mana hal tersebut bisa saja "diisi" oleh orang lain. Justru hal ini adalah bentuk nyata bahwa dalam perbedaan kita harusnya bersatu dan bukan semakin mencari perbedaan yang berujung pada perpisahan.

  • view 66