Tangisan pertama mama

Mian Sitohang
Karya Mian Sitohang Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 April 2017
Tangisan pertama mama

Kegagalan adalah awal dari keberhasilan. Proses pencapaian hidup tak lekang tanpa usaha dan kerja keras. Maju ? Sukses ? Cicipi dahulu pahitnya kehidupan. Yakinlah kesuksesan menunggumu didepan - Aku Terbangun dari tidur siangku yg begitu pulas. Aku segera mengecek ponselku. Disitu aku melihat hal yang menginsipirasiku. Aku bergegas menyalakan laptop sambil memutar lagu kesukaanku dan melakukan sesuatu yang telah lama aku tinggalkan. I come back. I’m writing again. Writing and writing. Always writing. Entah sampai kapan cita-citaku ini tercapai. Aku ingin sekali menjadi seorang penulis yg handal. Aku ingin karyaku telah sampai kemana-mana. Mimpi apa aku ini? But, in my heart "My Dream's must true". Karena menurutku, mungkin tidak sekarang tetapi suatu saat. Doakan apa yg ingin engkau lakukan, dan lakukan apa yg telah kau doakan. Kalimat itulah yg menginspirasiku untuk kembali mengembangkan bakat ini. Simple bukan? Aku membacanya disosial mediaku tepatnya diline. Aku suka sekali membaca hal-hal yg menurutku memotivasi hidupku. Pikirku "Terinspirasi, untuk menginspirasi". Kejadian ini benar-benar sudah lama. Mungkin jika aku tidak salah, ketika aku duduk dikelas XI SMA. Itu tangisan pertama mama. Seperti, mama telah kehilangan harapannya. Ini bukan tentang aku berasal dari keluarga yg broken home. Bukan! Aku berasal dari keluarga sederhana, tapi terhormat. Bukan nya aku ingin menyombongkan diri, tetapi itulah kenyataannya. Ayahku adalah salah seorang yg dihormati dikampung,digereja,dimasyarakat sekitar. Aku mengatakan yg seadanya. Tetapi, setelah kejadian itu aku merasa ayahku berubah menjadi org yg sangat kejam. Iyaa. Dia seakan membenci putra kandungnya sendiri. Bukan hanya ayahku. Bahkan aku pun telah terikut ayahku. Jika aku melihat dia, sekejap teringat padaku kejadian 3tahun yg lalu. Seakan kebencian telah menguasai diriku. Sekarang umurnya jika aku tidak salah, telah menjalani usia 24tahun. Dia kelahiran 3 November 1993. Sudah dewasa bukan? Dia putra lelaki yg paling tua dikeluarga kami. Ayah dan mamaku hanya mempunyai 2 orang anak laki-laki. Tetapi kaya perempuan. Kami ada 4 perempuan. Jadi, kami bersaudara ada 6 orang. Banyak bukan? Setengah lusin. Karena kata mamaku, pepatah org batak berhasil mencetuskan "Banyak anak, banyak rezeki. Ada juga"Anakko hi do hamoraon di au" yg artinya "Anakku adalah kekayaan bagiku". Itulah sebabnya kebanyakan keturunan batak memiliki anak-anak yg banyak. Bahkan ada yg mencapai 1lusin. Sore itu, mama baru pulang dari pekan baru bersama kakakku. Sekitar jam 17.00 sampai dirumah. Kutatap wajah mama, kurus,matanya bengkak,suaranya serak,tidak semangat. Dia seolah telah kehilangan harta yg paling berharga dari dalam dirinya. Tidak sanggup rasanya hati ini menyaksikan keadaan mama yg seperti itu. Mama tampak begitu tertekan. Aku bisa merasakan itu. Batin nya seakan perlahan-lahan dia siksa. Dia tidak mau makan. Dia hanya diam dan diam. Tidak mau diajak bicara oleh siapapun. Mengurung diri dirumah. Tidak seperti biasanya. Kepulangannya dari pekan baru membawa dampak yg begitu buruk untuk kesehatannya. Sejak itu, dia lebih menyukai kesendirian. Dia merasa ditenang ditengah-tengah kesunyian. Dia seperti memikirkan sesuatu. Setelah berkhayal, apa yg terjadi? Mama menangis dan menangis. "Tuhanku, sampai kapan mama begini?" Pikirku dalam hati. Kenapa mama begitu menyiksa dirinya? Bukan hanya itu, mama juga seperti telah kehilangan semangat dari dalam dirinya. Itu yg membuatku membenci abg kandungku sendiri. Benciku ini bukan benci yg buruk. Aku membencinya karena dia terlalu bodoh. Dia telah salah melangkah. Dia mengikhlaskan cita-citanya pergi jauh. Dia meninggalkan harapan-harapan keluarga kami yg telah ditaruh ayah dipundaknya. Dia berhenti kuliah tanpa sepengetahuan keluarga. Padahal sudah semester 6, 2 semester lagi, seharusnya dia sudah bergelar petani berdasi. Dan seharusnya dia sudah mengenakan toga mewah dan menyandang gelar sarjananya. Seharusnya saat itu juga ada sukacita luarbiasa yg dialami oleh keluarga kami, dan nyatanya terbalik. Sebuah kekecewaan. Padahal, Ayah dan mama telah berharap banyak padanya. Siapa yg tidak frustasi akan hal seperti itu? Telah banyak uang yg habis untuk hal yg sia-sia. Aku bahkan sempat berfikir, bahwa dia seorang pengkhianat didalam keluarga kami. Dia telah begitu lamanya sesat. Seakan dia membunuh mama secara tidak langsung. Saat mengetahui itu, aku masuk kedalam kamar. Kutumpahkan kepedihan yg telah menimpah keluargaku saat itu juga "Tuhan, mengapa jadi begini? Ini sesuatu yg memalukan keluarga, mengapa kau beri cobaan luarbiasa untuk keluargaku" Rasanya ini sebuah ketidakadilan. Saat itu aku mengatakan diluar kesadaranku bahwa "Tuhan tidak adil". Hari demi hari setelah kejadian itu, mama mulai belajar menerima kenyataan walau pahit. Saat itu, mama duduk sendiri diruang tamu. Adikku yg paling kecil datang menghampirinya. Kutatap dari balik jendela, tidak tahu kenapa mama tiba-tiba memeluk adikku dengan erat seerat-eratnya. Saat itu aku bisa membaca pikiran mama. Mungkin mama sudah sadar. Bahwa apa yg dia lakukan selama ini adalah kesalahan besar dan justru malah menyiksa dirinya. Apa yg membuat mama sadar? Siang itu, sekitar pukul 14.00 sebelum ayah berangkat kerja, dia berpesan pada mama. Agar tidak pernah memikirkan itu lagi. Ayah bilang "Diluar sana, banyak yg sukses meraih gelar, bahkan sudah kerja, dan akhirnya meninggal. Jadi kita termasuk kalangan yg harus bersyukur anak kita tetap sehat". Itu lah kalimat yg membuat mama bergairah lagi. Superheroku berhasil menghidupkan semangat mama lagi. Dan sekarang, abgku itu telah berada dijakarta mengadu nasibnya. Aku yakin, mungkin yg kemarin itu bukan dirinya. Sekarang, dia sedang membangun jati dirinya dirantau. Dia mulai lagi dari start. Dan semoga dia menemukan dirinya yg telah lama keliru. Jika itu perdana tangisan mama karena perbuatannya, dia juga harus mengakhirinya dengan goresan kebahagiaan. Aku percaya itu. Dan dari hal itu juga aku belajar, bahwa tak selamanya apa yg ingin kita raih dengan mudah kita dapatkan. Aku berdoa, semoga dalam mengejar mimpiku, aku tidak salah arah. Aku tau banyak tantangan dan godaan yg harus kulewati. Itu sebabnya aku berhati-hati dalam memilih teman dan menyeleksi sahabat. Dari situ aku juga belajar, tidak baik hidup bebas ditanah orang. Disini aku tidak menyukai hunting, hangout kesana kemari, makan dicafe-cafe mewah, belanja kemall-mall besar. Bulshit to the words it. Tohh juga yg kupakai duit orangtua. Buat apa? Disini telah kutekatkan, tugasku kuliah, kebutuhan pokokku adalah belajar. I must timely graduation. Iyaa. Aku harus wisuda tepat waktu. Untuk apa lama-lama? Aku tidak suka dikatain mahasiswa abadi. Targetku 3tahun saja disini. Jika berhasil kucoba tahun ini, aku siap mengulangnya kembali. Masa depanku masih panjang dan harus cerah. Bagiku sukses itu, ketika aku berhasil berkeliling-keliling dunia bersama keluargaku. Haha. Iyaa itu salah satu target yg harus kucapai. Kekorea, paris, jerman, jepang, roma itu mimpiku. Must true. Karena kebahagiaan orangtua adalah ketika anaknya sukses. Kemarin mama telah kehilangan harapannya, dan suatu saat mama akan mendapatkannya kembali. Dan aku adalah org yg paling goblok ketika aku mengutarakan "Tuhan tidak adil". Aku menyadari itu. Sebenarnya Tuhan itu adil dan bahkan sangat adil. Hanya saja, aku mudah menyerah. Aku tunggu surprise terbaik darimu lagi Tuhan. Aku percaya itu.
Hello guys, Semoga tulisanku yg kesekian kalinya ini menginspirasi yaa. Maaf jika ada kata yg menyinggung para pembaca sehingga tidak tertarik membacanya. Aku hanyalah manusia biasa. Thank you so much guys.

  • view 132