Untuk Ayah

Mian Sitohang
Karya Mian Sitohang Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 April 2017
Untuk Ayah

Sejak siang tadi, aku hanya berada didalam kamar kostku yg sederhana. Tidak ditemani oleh siapa-siapa. Tidak pergi kemana-mana. Hanya ada dua boneka lucu dan ponsel yg selalu setia menemaniku. Dan ini sudah larut malam, aku terbangun dari tidurku. Padahal, besok aku harus kekampus jam 07.30. Kupaksa untuk tidur lagi. Kututup kedua mataku ini selama 7menit, dan aku belum berhasil untuk tidur lagi. Kuambil ponselku, kuputar musik. Kupikir, agar kedua mataku boleh tertidur lagi. Kuputar lagu, yg kebetulan pertama kali dalam galeri musik adalah lagu Abied G Ade yg berjudul "Titip Rindu Buat Ayah". Sungguh, ini tidak kusengaja. Musik berputar, kututup kedua mataku dengan harapan aku dapat tertidur. Entah apa yg kurasakan, tanpa diduga-duga aku bukannya tertidur, aku malah menghayati makna dari setiap lirik lagu, air mataku menetes. Mungkin aku merindukan ayahku yg ada dikampung. Kembali kupegang ponselku, kubuka galery kupandangi gambar ayah sambil menikmati makna dari lagu Abied G Ade. Air mataku mengalir dengan derasnya begitu mataku terpusat pada rambut ayah yg ada difoto tersebut. Kataku dalam hati "ternyata, kau sudah tua. Rambutmu seluruhnya hampir memutih. Tuhan, bagaimana nasibku kelak?" Sudah pukul berapa ini, aku bahkan lupa kalau ini sudah seharusnya waktuku untuk tidur. Dan aku lebih memilih untuk menulis dan menulis. Ya aku menulis lagi. Ayah? Seandainya kau tau, hari ini ada banyak event-event yg ingin kuceritakan kepadamu. Aku Rindu nasihatmu. Ada sejuta asa yg ingin kuberi tahu kepadamu. Ada setumpuk sesak didada yg ingin kuungkapkan kepadamu. Ayah, bisakah kau coba untuk mengerti? Aku rindu setiap momentku saat ada bersamamu meski itu hanya hitungan jam, menit, bahkan detik sekalipun, dan aku merindukan itu lagi. Ayah, tugasku banyak. Aku lelah kuliah. Menuntut ilmu tak semudah yg aku kira. Ada banyak tantangan yg datang menghampiriku saat aku telah jauh darimu. Tidak ada satu orang pun yg merasa peduli padaku disini. Semua cuek padaku. Ayah, mengapa tak kau coba untuk mengerti? Suruh aku pulang, dekap aku, beri aku asupan yg bergizi, nasihati aku. Aku sudah tidak tahan dengan setumpuk rinduku ini padamu. Meski dulu kau adalah salah satu org rumah yg paling jarang dirumah, tapi nyatanya kau adalah sosok superhero yg paling kurindukan dikala jauh. Ayah, apa kabar dirimu dikampung? Ingatkah kau kejadian ketika dibulan oktober yg lalu ditahun 2016? Iyaa, saat itu aku sakit. Karena begitu khawatirnya mendengar beritaku sakit ditanah org, kau menyuruhku mengambil libur pribadi dari kampus agar segera pulang kekampung. Saat itu, saat berada didalam bus tak henti-hentinya kau meneleponku menanyakan sudah berada didaerah mana aku. Terngiang dibenakku, ternyata kasihmu tidak kalah dengan kasih yg dimiliki seorang ibu. Bahkan ketika aku sampai, kau dan mama telah mempersiapkan air bercampur dedaunan yg kata org tua dulu adalah obat untuk segera kumandikan. Begitu turun dari bus, kau jemput aku dari pinggir pasar, ibu memeluk dan menciumku, kau pun tak ingin kalah. Jika aku flashback akan hal itu, aku menyesal dulu pernah menjadi anak yg paling nakal. Ayah, sudah makan kah kau? Aku rindu kau bentak. Meski setiap kau bentak yg ada aku malah menangis, tapi aku rindu itu ayah. Mengingat usiamu yg kini sebenarnya sudah tidak pantas lagi untuk banting tulang, aku begitu khawatir. Ayah, bagaimana mungkin aku bisa membahagiakanmu dengan cepat sementara aku baru memulai semuanya dari awal? Ayah, tolong jaga kesehatanmu. Aku takut aku sakit. Ayah, masih banyak mimpimu yg harus kubuat menjadi real. Meski kau tidak pernah meminta apa-apa, tetapi aku bisa melihat dan merasakan. Karena aku puterimu, darahmu telah bersatu didalam tubuhku, sifatmu bahkan telah menurun kepadaku. Ayah, saat ini menurutku dunia begitu kejam kepadaku. Kapan aku bisa meraih semua keinginanku? Bahkan guratan senyum itu sudah tidak pernah lagi terpancar dibibir kecilku. Karma apa yg sedang kuterima? Ayah, bisakah aku pulang sejenak melepas rinduku ini padamu? Tolong beritahu kepada Tuhan, jangan terlalu lama mengujiku, karena aku harus cepat-cepat membahagiakanmu bukan? Tenanglah Ayah. Kau adalah alasan kenapa aku bisa bertahan sampai sejauh ini. Aku pasti pulang membawa sebuah kehormatan bagimu. Doakan aku puterimu agar selalu berada didalam lindungan Tuhan. Kelak, keringatmu akan kubayar dengan sejuta kebahagiaan. Ayah, kutitip setumpuk rindu ini kepada Tuhan lewat doa. Kau adalah motivasiku melangkah untuk maju kedepan dan pantang mundur. Jaga dirimu dan kesehatanmu ya. Salam hangat untukmu. Jangan pernah lupa untuk tersenyum. Tuhan memberkatimu.
Ayah. Hai guys, kita sama-sama berjuang ya buat bahagiakan Ayah kita. Menurutku, peran Ayah juga tidak kalah penting dengan ibu. Keduanya sama-sama berarti. Ingat, ayahku adalah pahlawanku. Dia menanti kesuksesanmu disana. Selamat berjuang untuk ayahmu. Semoga bermanfaat. Thanks a lot guys.

Dilihat 62