Goresan rinduku padamu

Mian Sitohang
Karya Mian Sitohang Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 April 2017
Goresan rinduku padamu

Sore itu, tatkala langit berubah menjadi gelap. Semua tampak berubah seketika. Mataku terlihat begitu sayu. Mungkin rinduku telah sampai pada puncaknya. Tuhan masih menitipkan nafas dan detak jantung yg degupannya otomatis bisa kurasa. Aku sangat mensyukuri itu. Disetiap perjalanan hidup, siapapun pasti tidak ingin dipatahkan rasanya, hatinya, serta harapannya. Iyaa, aku mencintai pria berkulit putih itu. Pria itu terkadang membuat amarahku seketika menaik, bahkan dengan cepatnya ia mampu meredahkannya jika dia ingin. Sikapnya terkadang membuat jengkel setengah mati. Suka bermain-main dengan ucapannya, padahal seperti yg kita ketahui setiap kata per kata yg kita lontarkan dari bibir adalah sebagian dari doa. Itu yg selalu menjadi masalah bagiku, jika dia mulai mengeluarkan kata-kata gila dari bibir nya yg merah itu. Dia teman SMA ku, teman tempatku berbagi beban, teman yg tau hampir seluruhnya ceritaku, teman untuk aku berbagi air mata, teman bersandar dikala duka, teman bahagia disaat suka, dia pacarku. Sudah 2 tahun kisah ini kami rintis bersama. Banyak perjuangan suka baik duka yang kami lewati berdua. Tapi, sangat disayangkan dia pernah pergi 3bulan lamanya. Iya, dia pergi. Pergi begitu saja meninggalkan banyak tanda tanya yg hingga kini menggores sesak hingga direlung kalbu. Sampai kini, meski ia sudah kembali, aku tidak pernah punya kesempatan untuk menanyakan hal ini padanya. Masih banyak tanda tanya yg lengket diotakku yg belum mampu terpecahkan olehku sebab belum ada jawabannya. Dia pergi tanpa alasan yg jelas. Dia pamit, pamit hanya untuk pergi. Tidak menyisakan alasan, dan menimbulkan tusukan demi tusukan yg berdarah dan membekas. Itu untuk perdana kalinya ada pria yg menjahatiku dengan perlakuan kejam seperti itu. Aku masih ingat kejadian itu. Sedikit pun tak ada memori yg kulupakan tentang itu. Jumat, 16 september 2016. Malam itu, kuraih ponselku. Kubuka bbmku, barangkali ada pesan masuk darinya. Dan ternyata aku salah. Tidak sama sekali. Dia begitu membuatku khawatir saat itu. Biasanya dia tidak pernah secuek itu kepadaku. Kupikir, mungkin dia sibuk dengan urusan kuliahnya. Barangkali, karena masih dalam keadaan sebagai mahasiswa baru. Kupikir kembali, tiba-tiba terlintas dipikiranku "Aku juga berstatus Mahasiswi baru, tetapi aku tidak sesibuk itu". Memang kusadari, setelah keberangkatannya kekota besar entah itu pengaruh teman, org sekitar, lingkungan, atau apalah itu, dia mulai lupa semuanya, bahkan dia tidak mau mengabari aku, saat aku belum mengabari dia terlebih dahulu."Oh Tuhan, ada apa ini? Apa yg harus kulakukan? Aku mulai resah." Kuraih kembali ponselku, setelah kira-kira 15menit yg lalu telah kuletakkan ditempatnya. Kubuka kontak, kutelepon dia, aku ingin menanyakan kabarnya. Syukurlah, saat itu dia baik-baik saja dan mengangkat teleponku. 10 menit setelah kami berbicara, dia mengatakan "Ada yg ingin kubicarakan padamu, tapi tidak sekarang. Besok malam saja". Aku penasaran, dia mau bilang apa. Kupaksa dia dengan sejuta caraku, dan ternyata aku gagal, dia tidak mau jujur malam itu. Tiba-tiba mematikan telepon, tidak seperti biasanya, karena biasanya dia tidak akan pernah mematikan telepon sebelum berakhir dengan kata syalom. Saat itu, aku berketakutan yg sangat panjang. Kutelepon lagi, ternyata dia reject teleponku, kutelepon lagi dia sibukkan nomornya, kutelepon lagi untuk yg terakhir kalinya dia menonaktifkan ponselnya. Saat itu, hanya ada aku dirumah yg cukup besar. Aku menangis kencang. Kuluhapkan perasaanku padanya dengan berteriak sambil menangis sekuat-kuatnya. Aku tidak tidur semalaman karena masalah itu. Sabtu,17 september 2016, sekitar jam 06.00 aku yakin dia sudah bangun. Kuraih kembali ponselku. Kucoba untuk menelepon lagi menanyakan apa yg sebenarnya terjadi. Dan ternyata tidak kuduga, dia mengangkat teleponku. Kutanyakan padanya, apa yg ingin dia katakan seperti ucapannya yg semalam telah berlalu itu. Tiba-tiba dia mengeluarkan kalimat yg tidak akan kuduga dia mampu mengucapkannya. Saat itu aku seperti ditikam oleh asa yg begitu tajam, aku seperti ditusuk duri yg begitu runcing, jarum seperti seketika masuk kedalam tubuhku dan bekerja didalam perutku. Apa yg dia katakan sehingga aku sebegitu panik? "Aku gak kuat LDR, Aku mau fokus belajar aja dulu, Aku mau fokus kuliah, kau juga yaa. Lagian kau bereku. Aku janji, 4tahun kuliah aku gak akan pacaran". Kata-kata itu masih kuhapal, masih lengket dimemoriku. Apa salahku? Seolah aku penghalang untuknya sukses. Seakan selama ini aku tidak pernah memotivasinya untuk tetap fokus ke masa depan. Keluargaku begitu mengenalnya dengan dekat. Itu yg membuatku seakan ragaku hilang setengahnya begitu saja. Setelah dia mengucapkan itu, aku hanya bisa diam dan menjadi pendengar yg budiman baginya. Apa yg bisa kujawab untuk membalas semua perkataannya? Aku menangis saat itu. Kuakui aku sangat menyayanginya. Kusanggah berkali-kalipun toh sama sekali dia akan bersikeras pada keputusannya. Dan bahkan dia memintaku untuk melupakannya. Sejenak kuterdiam "Benarkah ini Tuhan?" Bahkan aku tidak seperti wanita lain yg menyumpahkan "Semoga adik perempuannya atau kakaknya bahkan anak perempuannya nanti, merasakan hal yg sama denganku kelak. Tidak. Aku tidak pernah menyumpahkan hal itu padanya" Mungkin ini adalah sebuah ketulusan. Begitu tulusnya aku mengasihinya. "Sanggupkah aku move on?" Itu yg menjadi pertanyaan besar bagiku. Minggu,18 September 2016, aku bersama sahabatku, Mario Nicholas siahaan pergi kegereja. Saat itu juga, aku menceritakan semua permasalahku padanya. Dia turut sedih mendengar musibah asmara yg lagi menimpaku saat itu. Dia mencoba memotivasiku. Satu hal yg kuingat dari kalimat per kalimat yg dia katakan kepadaku. "Dari sini, kau harus fokus belajar. Kau harus tunjukkan kau bisa lebih sukses darinya, buat dia menyesal udah bertindak bodoh,move on Mianhe" Haha, pikirku teman gilaku itu tidak bisa memotivasiku, ternyata saat itu aku tertegun mendengarnya. Dan kupikir, itu benar. Aku harus bisa dan pasti bisa. Saat itu aku bertekad untuk melupakannya. Seminggu, aku menangis dan mogok makan dikost bahkan sakit hanya karena dia. Bagaimana mungkin secepat itu aku mampu melupakan semua tentangnya yg hampir 2tahun lamanya? Dikamarku penuh barang-barang pemberiannya. Ada boneka-boneka lucu, bahkan jacket couple, dan bajunya pun ada dikamarku. Sanggupkah aku? Caranya meninggalkan seolah membunuhku secara perlahan. Balutan luka itu membuatku menangis dan tidak semangat. Dia meninggalkanku disaat-saat yg tidak tepat, ya saat itu menjelang uts. Apa yg terjadi? Nilai uts ku jeblok semua. Padahal jika dipikir-pikir nilai uts itu 20 persen dari ip, Aku begitu bodoh karenanya. Badanku pun kurus karenanya. Aku tidak mau makan bahkan tidak peduli dengan kesehatanku. Aku malas ke kampus. Aku tidak mempunyai gairah dan semangat ke kampus. Aku berubah menjadi org yg paling malas dan sangat malas. Hingga akhirnya, aku didekati pria yg berasal dari fakultas hukum aku masih menolak saat itu. Padahal katanya, aku adalah cinta pertamanya. Lama dekat dengannya. Tapi aku masih bersikap biasa saja padanya, karena aku belum sepenuhnya bisa move on?. Sementara dia tidak pernah berhenti untuk tau kabarku lewat pc line. Aku cuek akan hal itu. Apa yg bisa membuatku move on? Sahabat-sahabatku. Iya, mereka pada akhirnya mampu membangkitkan ku. Sahabatku willy mengatakan, "Sampai kapan kau move on dari org yg udah nyakitin kau? Terima aja anak hukum itu, aku setuju. Sepertinya dia tidak kalah jauh lebih baik dari mantanmu. Ibarat kau baca novel, kau udah tau akhirnya, tapi kau baca lagi. Bodoh gak sih? Sahabatku buha bilang "Tanamkan dihatimu, sekali kudapat takkan kulepas, sekali kulepas takkan kucari lagi. Intinya gak usah berharap lagi. Heri bilang "Udah move on, tohh juga suatu saat dia bakalan sadar". Akhirnya utty bilang "Masih belum mau move on? Masih mau menangis? Masih nunggu org yg gak pasti? Udah dengar kan dari mereka? Masih belum percaya?". Dan pada akhirnya aku bertekad untuk melupakan semua tentangnya. Aku hapus semua memori tentangnya yg masih kusimpan diponselku. Sudah saatnya aku bangkit. Memang kuakui aku belum bisa melupakannya, tapi aku mau belajar hingga aku bisa. Tapi untuk menerima sianak hukum, aku belum siap. Aku takut menyakiti hatinya. Saat itu, tidak hanya dia saja yg mendekatiku. Ada banyak. Tapi aku lebih memilih sendiri dulu. Aku trauma. Aku takut ditinggalkan tanpa alasan yg jelas lagi. 26 Desember 2016, ada natal muda-mudi digerejanya. Kebetulan kami sama-sama khatolik. Dan ternyata sudah setengah tahun lamanya tidak ketemu, aku berjumpa dengannya saat itu digerejanya.saat itu, aku tau dia sedang memandangiku dari balik jendela gereja. Tapi aku berpura-pura tidak tau saja. Hingga setelah kami tampil, aku memilih langsung pulang. Aku dan adikku membawa motor. Adikku mengambil motor diparkiran, tiba-tiba ketika digerbang gereja, dia menyatakan kebiasaannya. Dia membunyikan bibirnya sambil bersiul, aku masih ingat hal itu. Itu cara dia memanggilku semasa SMA. Kusuruh adikku memberhentikan motor karena saat itu aku yakin dia ada disekitar itu. Dan akhirnya dugaanku benar. Dia menghampiriku, menyuruh adikku pulang, dan menawarkan ingin mengantarku pulang. Saat itu, aku merasakan hal yg aneh. Kenapa dia datang lagi? Padahal, aku kan sudah move on walau rasa itu masih sama. "Tuhan, apa lagi ini?" Pikirku�. 29 Desember 2016, ada kejutan yg sengaja kubuat padanya. Aku ingin, jika memang semua berakhir biarlah akhirnya baik. Kebetulan itu sehari sebelum hari kelahirannya, aku telah menempah bolu yg bertuliskan happy birthday diatas bolu dari jauh-jauh hari. Aku berikan padanya ditanggal 29 padahal dia lahir tanggal 30. Saat itu dia datang main kerumahku karena ada planning dengan adikku yg paling kecil, pikirku ini adalah kesempatan baik untukku. Setelah kuberi surprise itu, sejenak dia terdiam. Mungkin ada sekumpulan pertanyaan dipikirannya ingin dia katakan tetapi aku, dan aku tau itu. Kusuruh dia meniup lilin angka 19 tahun itu dibolu. Dia tidak mau. Katanya besok dia datang lagi. Dia berusaha membuat hal yg lucu ditengah-tengah suasana yg menegangkan. Dia katakan " Bila perlu, hingga pagi aku akan disini. Karena jam segini, aku belum lahir. Mamaku masih sakit-sakitan mengandungku". Aku tertawa lepas mendengar ceritanya itu. Huh, ternyata dia belum berubah. Dan pada akhirnya aku suruh dia pulang, dan dia janji besok akan datang lagi.Aku simpan bolu itu dilemari es. Setelah pulang dari rumah dan mungkin dia sudah sampai dirumahnya. Dia meneleponku, sengaja tidak kuangkat. Aku takut bila rasa ini menyiksaku lagi. Aku ingin lupakan semua itu. Dia sms aku "Aku tau kau belum tidur, aku enggak bisa tidur mikirin kau dan apa yg telah kau buat tadi sry". Dia telepon aku dari hp mamanya. Aku hafal itu no mamanya. Tapi aku tidak mengangkat. Dia sms lagi "Ini aku sry, aku pakai hp mama, angkat sri aku mau ngomong". 30 Desember 2016, aku ucapkan selamat ulang tahun padanya. Dan malam tiba, dia datang menepati janjinya. Mengajakku dan kedua adikku makan diluar. Kami jumpa dengan kakak senior semasa SMA, namanya kak Herti Sirait yg kebetulan itonya. Aku salam kakak itu. Dia melihat ada boku diatas meja. Kakak itu bertanya "Kalian udah dari SMA pacaran kan dek?" Aku terdiam seolah tak bisa menjawab apa-apa. Silelaki gila itu malah menjawab "Iya kak(Sambil tersenyum). Kakak itu bilang "Langgeng lah yaa". Membuatku ingin menangis� Sudah pukul 21.00 malam, kami pulang kerumah. Kukira dia ingin langsung pulang, dia singgah dulu dirumah. Kami duduk bercerita pengalaman kuliah. Intinya kami sharing. Dia bercerita, sambil memegang tanganku. Jantungku seketika berdegup kencang. Astaga, apa yg dia lakukan? Kami seperti mengulang masa lalu. Dia tarik hidungku jika aku mulai menentang pendapatnya. Iya itu juga salah satu kebiasaannya jika ditentang. Jam 22.30 dia pamit pulang. Dan sesampainya dirumah, dia bbm aku dan mengatakan sudah sampai dirumah. Aku merasa seolah masih sebagai pacarnya, padahal sudah mantannya. 31 Desember 2016, dia minta maaf untuk semuanya. Tanpa kuduga, dia mengajakku flashback. Gila bukan? Dia pergi tanpa alasan, tiba-tiba ingin datang lagi dan masuk lagi kekehidupanku. Aku pun tidak bisa menolaknya. Karena aku memang masih menyayanginya. Padahal, dia cerita sudah sempat dekat dengan wanita disana. Tetapi, dia lebih memilih untuk pulang. Sesuatu yg mengharukan. Dan sejauh ini semua masih baik. Kuharap baik sampai kapanpun. Dan saat itu aku menyadari bahwa betapa baiknya Tuhan bagiku. Dia mampu membangkitkanku dari kegagalan. Bahkan dia menggantikan air mata ku menjadi senyuman luar biasa. Dia mendengar doa-doaku setiap saat. Bahkan pun, dia tidak pernah bosan mendengar namamu yg selalu kuceritakan kepadanya.
 
 
Rumit bukan masalah asmaraku? Ini nyata loh guys. Ingin kunovelkan tapi aku belum pantas. Jadi, jangan pernah takut kehilangan karena ditinggalkan. Jika dia memang yg terbaik, ketika dia menyadari tulusnya kamu, ia akan ingat pulang dan kembali lagi ketempatnya yg dulu. Dia akan merasakan, bahwa ketenangannya adalah saat bersamamu. No matter what may be happening today, God has amazing things in store for your future� Apa yg terjadi hari ini, Tuhan telah menyediakan hal luar bisa untuk masa depanmu. Terimakasih sejauh ini telah menjadi pembaca yg budiman bagiku. Semoga memotivasi yaa guys.�

  • view 98