karekteristik Kedwibahasaan, sikap bahasa, ranah bahasa dan kebertahanan bahasa

Meti Neparasi
Karya Meti Neparasi Kategori Lainnya
dipublikasikan 19 Januari 2018
karekteristik Kedwibahasaan, sikap bahasa, ranah bahasa  dan kebertahanan bahasa

 karekteristik Kedwibahasaan, sikap bahasa, ranah bahasa  dan kebertahanan bahasa kupang pada generasi muda di kota kupang.

Meti E.Neparasi

Pendidikan bahasa dan sastra indonesia

Abstrak

Kedwibahasaan merupakan kemampuan berbicara dua bahasa dengan sama atau hampir sama baiknya. sikap bahasa orang muda di kota kupang sangat terkait dengan karekteristik dan tingkah laku seseorang dalam menggunakan bahasa itu sendiri. Ranah penggunaan bahasa juga sangat terkait dengan penggunaan bahasa kupang sebagai faktor-faktor yang menentukan pilihan bahasa apapun. Peranan generasi muda sangat berperan dalam mempertahankan bahasa kupang di kota kupang sebagai bahasa ibu atau bahasa lokal.

Kata kunci: Kedwibahasaan, sikap bahasa, ranah bahasa, peranan generasi muda.

Pendahuluan

Bahasa diproduksi oleh manusia dengan menggunakan alat – alat ucapnya, dipelajariidan gagasan, untuk berinteraksi secara verbal, dan untuk bekerja sama dengan orang lain, melalui perangkaian sistematis kata dan berbagai alat kebahasaan. Kata – kata adalah simbol – simbol bermakna yang diciptakan, diwariskan, dan digunakan oleh manusia dalam kehidupan sosial. Karena bahasa selalu digunakan dalam dimensi sosial, maka setiap ekspresi lingual sudah tentu memperlihatkan hubungan antarpelibat. Hubungan tersebut menggambarkan secara implicit bahasa dan penuturnya.

Kekayaan bahasa manusia bersifat unik karena bahasa melekat diotak, di bawa kemana –mana, bahkan hingga tidur, bermimpi, dan mengigau. Kecuali mati baru manusia tidak mengenal bahasa. Manusia dalam kehidupannya memerlukan keharmonisan hubungan antara dirinya dengan berbagai komponen di luar dirinya.

Sebagaimana pendapat Mackey ( dalam fisham, 1970: 554 )(mdl, sosiolinguistik:38), “ bilingualism is the property  of individuals,” maka dapat pula dipahami bahwa kedwibahasaan merupakan milik individu . meskipun demikian, kedwibahasaan maka menjadi nyata pada penyampaian pada konteks sosial.

Menurut Einar Haugen (1966), kedwibahasaan adalah kemampuan seseorang menghasilkan tuturan yang lengkap dan bermakna dalam bahasa lain. Kedwibahasaan masyarakat adalah masyarakat yang setiap anggotanya menguasai dan menggunakan dua bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Kedwibahasaan individu selalu di gunakan dalam masyarakat, sebaliknya kedwibahasaan masyarakat merupakan refleksi dari penguasaan bahasa oleh individu. Kondisi masyarakat dapat mempengaruhi perkembangan suatu bahasa, termasuk perkembangan kedwibahsaan di dalam masyarakat tutur.

Perbedaan bahasa berdasarkan kelompok usia kadang-kadang tidak disadari sehingga aspek-aspek yang mencirikan bahasa untuk kelompok usia tertentu sering terbaikan. Identifikasi terhadap hal ini memerlukan kepekaan sosial bahasa, dan diikuti dengan pengamatan secara cermat. Pembahasan mengenai bahasa dan usia sebagaimana dijelaskan diatas merupakan bagian dari aspek pembelajaran dan pemerolehan bahasa.pembahasan yang terpisah antara kelompok usia lebih menonjolkan ciri kematangan berbahasa masing-masing kelompok usia.

Variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok anggota  masyarakat pada suatu tempat atau daerah tertentu. Dan salah satu dialek yang digunakan dalam kelompok ini adalah dialek regional, dimana dialek ini merupakan dialek areal atau dialek geografis yang digunakan secara berbeda oleh suatu kelompok masyarakat di tempat tertentu.

Pada masyarakat Kota Kupang bahasa atau dialek yang digunakan adalah dialek melayu Kupang, yakni Beta (saya), sonde(tidak), katong(kita),  basong(kamu),dan lu(kau), dan lain sebagainya. Bahasa-bahasa tersebut lebih dominan  digunakan oleh kaum muda dalam berinteraksi dalam lingkungan masyarakat. Sehingga dalam penulisan karya tulis ini akan membahas mengenai beberapa hal yaitu tentang karekteristik Kedwibahasaan, sikap bahasa, ranah bahasa  dan tentang kebertahanan bahasa kupang pada generasi muda kota kupang.

Bagian inti

  1. Karakteristik kedwibahasaan generasi muda di kota kupang pada berbagai ranah pemakaian bahasa

Salah satu bahasa yang terorganisir dengan baik atau memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan bahasa lain. Semua masyarakat memiliki bahasa dan tidak ada suku yang di temukan tanpa bahasa. Terdapat beberapa karakteristik  umum dalam semua bahasa, ada dan punah, tertulis atau tidak tertulis. Selain itu karakteristik umum lain dari bahasa adalah terdiri atas vocal dan konsonan.

Penggunaan bahasa atau dialek melayu kupang jelas mengandung makna dan tujuan. Selain konteks yang dibangun, bahwa dialek melayu kupang merupakan salah satu bahasa asli dari suku Helong.  Yang merupakan bahasa ibu bagi masyarakat kota Kupang, bahasa tersebut tidak selamanya menjadi bahasa pertama (BI) bagi sebagian orang. Dengan demikian dapat di katakan bahwa tidak semua dialek melayu Kupang menjadi bahasa ibu, dan sebaliknya bahasa Indonesialah yang merupakan bahasa ibu.

Ranah pemakaian bahasa di kota kupang khususnya tidak terlepas dari dialek yang di pakai oleh penutur  asli kota kupang, baik masyarakat dari luar kota kupang  yang berdomisili sebagai masyarakat pendatang dan menjadi masyarakat kota kupang akan menggunakan bahasa melayu kupang sebagai bahasa pertama.

 

Dalam dialek melayu kupang bahasa hadir karena adanya penutur asli yang menggunakan dalam berkomunikasi, sehingga masyarakat atau orang pendatang menyesuaikan diri atau beradaptasi sesuai dengan lingkungannya. Sehingga bahasa tersebut dengan sendirinya berkembang di tengah – tengah masyarakat dan digunakan sebagai alat interaksi oleh anggota masyarakat.

  1. Sikap bahasa generasi muda kupang di Kota Kupang berdasarkan ciri kedwibahasaan yang ditampilkan

Sebuah bahasa yang terorganisir akan memiliki  sikap atau karakter yang  berbeda dengan bahasa lain. Semua generasi muda kupang di kota kupang memiliki bahasa. sikap berbahasa merupakan cara-cara penggunaan bahasa yang mengambarkan hubungan dalam berkomunikasi. Dalam sikap berbahasa khususnya generasi muda kupang, memiliki sikap santun dan sikap tidak santun. Kesantunan bahasa yang mereka pakai di dasarkan secara fakta bahwa persoalan kesantunan berbahasa selalu berdikotomi dengan ketidaksantunan berbahasa. Kesantunan berbahasa dalam generasi muda kupang dalam berbahasa dapat berupa sikap positif dan negatif , dimana sikap positif bahasa tanpak pada perilaku pribadi dan sikap terhadap perilaku berbahasa dengan orang lain. Sikap bahasa dapat di amati melalui perilaku berbahasa  atau perilaku tutur.

Jika seseorang berikap positif terhadap suatu bahasa, maka ia akan menggunakan dialek  yang di anggap sebagai dialek standar, karena setiap suku akan memperlihatkan ciri dialek kelompoknya.

  1. Implikasi karakteristik kedwibahasaan terhadap kebertahanan bahasa Kupang pada generasi muda kota Kupang.

Semua bahasa yang hidup di dunia terbuka terhadap bahasa lain karena penuturnya dapat menerima penutur bahasa yang lain dari satu atau lebih bahasa. fungsi suatu bahasa dapat di tetapkan  suatu masyarakat dapat beraneka ragam. Sehubungan dengan itu, ranah kedwibahasaan dan kebertahanan bahasa pada genarasi muda kota kupang dapat di asumsikan sebagai berikut :

  1. Pada ranah-ranah atau tingkat-tingkat tertentu pada dialek melayu Kupang mempunyai peran yang sangat penting dan lebih tinggi serta lebih luas pengaruhnya jika di bandingkan dengan bahasa daerah lain yang ada dan hidup dalam masyarakat Kota Kupang. Kedwibahasaan yang di kuasai para kaum muda di kanal dengan sebutan logat Kupang, kewibahasaan ini bersinonim dengan bahasa Indonesia (bahasa melayu). Penyebutan dan penggunaan bahasa kupang tidaklah sulit untuk di pelajari, terutama bagi pendatang yang tinggal di kota Kupang, misalnya kata “panggil” dalam bahasa Indonesia tidak jauh berbeda dengan kata “pangge” dalam dialek bahasa Kupang. Jika  pada ranah lingkungan (lingkungan pemakaian) tertentu memegang peranan paling luas dari pada bahasa daerah lain. Muncul asumsi lain, yaitu pada ranah (lingkungan pemakaian) tertentu logat kupang berfungsi sebagai bahasa paling utama (linggua franca) dalam berintegrasi bagi para kaum muda.
  2. Bahasa daerah / logat kupang di beri arti bahwa berdasarkan hubungannya dengan bahasa Indonesia maka, bhasa melayu kupang merupakan bahasa ibu, bahasa yag ikut membentuk perkembangan kaum muda. Hal tersebut merupakan fungsi pertama dalam bahasa Kupang, ia akan ikut meletakkan dasar-dasar kepribadian yang berawal dari keluarga Dialek melayu Kupang dalam level pilihan eksistensinya sudah lebih besar  merupakan bahasa kebudayaan masyarakat kota kupang, atau lebih tepatnya bahasa yang terus bertahan dalam era globalisasi seperti sekarang ini. Ia di perlukan dan bahkan menjadi keharusan dalam pilihan bahasa eksistensi kaum muda. Dengan kata lain, melayu kupang di gunakan dalam perkembanganya, baik secra individu, atau kolektif. Sebab bahasa melayu Kupang  merupakan salahsatu sarana penting bagi transformasi diri kaum muda dan juga masyarakat di Kota Kupang
  3. Upaya-upaya yang dilakukan untuk mempertahankan dan memberdayakan bahasa Kupang sebagai bahasa lokal sekaligus bahasa ibu pada generasi muda kota Kupang

 

Bahasa lokal adalah bahasa yang pertama-tama digunakan oleh pemakai bahasa di suatu daerah tertentu. Bahasa lokal atau bahasa ibu yang dipakai oleh kaum muda Kupang merupakan bahasa yang harus tetap dipertahankan oleh kaum muda di kota Kupang agar tidak  hilang di era globalisasi seperti sekarang. Mempertahankan bahasa ibu sebagai upaya untuk meningkatkan ketahanan budaya. Melihat kondisi bahasa ibu,maka sangat diperlukan upaya untuk memperahankan bahaa ibu sebagai wujud ketahanan budaya,keadaan seperti ini terjadi bukan hanya di Indonesia melainkan di seluruh penjuru dunia.Oleh karena itu,pada tahun 1951 UNESCO  merekomendasikan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar pendidikan dan menetapkanari b 21 februari sebagai bahasa ibu internasional.Hal itu merupakan langkah konkret pemertahanan dan pemberdayaan bahasa ibu.Crystal (1997) mendefinisikan pembertahanan bahasa (language maintenance) sebagai upaya pertahanan bahasa adalah sebagai berikut:

  1. Mewujudkan diversitas cultural
  2. Memelihara identitas etnis
  3. Memungkinkan adaptabilitas sosial
  4. Secara psikologis menambah rasa aman bagi anak
  5. Meningkatkan kepekaan linguistis

 

Kelima point tersebut satu sama lain saling berkaitan dengan konteks kebudayaan.Oleh karena itu,untuk mewujudkan ketahanan budaya perlu diadakan upaya pemertahanan bahasa daerah (sebagai bahasa ibu)dengn langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Generasi muda Kupang harus tetap menggunakan bahasa lokal tersebut sebagai sarana komunikasi dalam berbagai ranah dan tingkat-tingkat tertentu.
  2. Generasi muda Kupang menggunakan bahasa lokal sebagai wujud identitas etnis yang dapat menggambarkan karakteristik budaya.
  3. Bahasa para lokal akan bertahan jika prestasi dan prestise para penuturnya berkibar minimal diranah daerahnya sampai keranah nasional bahkan internasional. Salah satu upayanya yaitu menerjemahkan karya sastra daerah ke bahasa Indoessia dan bahasa Inggris.
  4. Bahasa lokal bertahan jika kemakmuran para penuturnya unggul secara kolektif minimal di daerahnya.
  5. Bahasa lokal akan bertahan jika para penuturnya aktif menggunakannya dalam media tulis.Oleh karena itu, membaca,mengkritik dan menulis ulang bahasa lokal sangat perlu untuk dilakukan.
  6. Bahasa lokal akan bertahan jika para penuturnya aktif menggunaka teknologi elektro untuk mengimbangi bahasa lokal dan bahasa asing para penutur bahasa lokal perlu memanfaatkan teknologi.Kehadiran TV lokal yang tersebar di Indonesia merupakan potensi yang perlu dikembangkan dengan mengepankan bahasa lokal sebagai bahasa pengantarnya.
  7. Bahasa lokal akan bertahan jika bahasa pengantar dalam pendidikan menggunakan bahasa lokal.
  8. Bahasa lokal aan bertahn jika tujuan pelajaran bahasa lokal di sekolah-sekolah diorientaasikan kepada kefasihan.Yakni pembiasan komunikasi bukan ketepatan dalam struktur bahasa lokal.
  9. Generasi muda saat ini cenderung malas menggunakn bahasa lokal karena ada perasaan takut salah mengaplikasikan struktur bahasa lokaal karena takut melanggar aturan-aturan dan nilai-nilai yang komplek.

Penutup

Kesimpulan / Saran

Pemilihan bahasa (language choice) lazimnya lahir akibat penggunaan bahasa dalam suatu masyarakat bilingual (dwibahasa) atau multilingual (multibahasa). Dalam pemilihan bahasa, kekeliruan dalam peristiwa pemilihan bahasa atau ragam bahasa yang cocok dengan situasi komunikasi itu tidak dapat dihindari, dan kekeliruan tersebut dapat berakibat kerugian bagi peserta komunikasi. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kondisi masyarakat dapat mempengaruhi perkembangan suatu bahasa,termasuk perkembangan kedwibahasaan didalam suatu masyarakat tutur. Kedwibahasaan berimplikasi pada pemilihan bahasa. Pemilihan dilakukan berdasarkan ranah (domian) yang menentukan dan membatasi pemilihan bahasa. Setiap individu memilki kompetensi kebahasaan (linguistic competence).Kompetensi kebahasaan tercermin di dalam repertoar kebahasaan para penuturnya.

Tinggi rendahnya kedudukan bahasa tercermin dari ciri kebahasaan,sikap penutur,cara perolehan,intensitas,ranah,fungsi pemakaian,di samping politik bahasa yang dianut oleh suatu suku bangsa ataupun suatu bangsa.

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUK

Bawa,I Wayan,dan Cika, I Wayan.2004. Bahasa dalam Perspektif Kebudayaan.

Universitas  Udayana

Ola,Simon,Sabon.2010. Modul Sosiolinguistik.The dogge press.Yogyakarta.

Lambert, W. E. A. Social Psichology Of Bilingualism. Journal Of Social Issues 23.

Chaer, A. Dan Leoni Agustina. 2010. Sosiolinguistik. Jakarta: Rineka Cipta.

Garvin, P.L Dan M. Mathiot. 1968. The Urbanization Of The Gurani Language : Problem In Language And Culture.

Kartomiharjo, S. 1988. Bahasa Cermin Kehidupan Masyarakat. Jakarta: Dikbud.

 

 

 

 

  • view 24