Tentang Passion

M Misbachul Huda
Karya M Misbachul Huda Kategori Motivasi
dipublikasikan 16 Juni 2016
Tentang Passion

Wangi lumpur sawah seolah masih terasa ketika aku mengingat masa kecilku. Mencari ikan di saluran air sawah adalah dulu hobiku. Ya meskipun suka kebawa juga sampai kuliah. Ada lagi kesukaanku adalah mengumpulkan batu yang bentuknya unik. Atau mendaur ulang nikel/timah dari kemasan pasta gigi atau mainan untuk menjadi kerajinan tangan. Aku sering bertanya pada diriku, mengapa aku sekarang jarang (tidak) melakukannya? Padahal itu dulu hal yang kusuka setidaknya.

Ketika masih bocah semua yang dilakukan serba enteng. Ketika ingin bermain bola, maka kemudian bermain bola saja. Ketika ingin berpetualang, maka berangkat saja. Ketika ingin pergi mencari ikan, maka jalan saja. Semua itu terasa enteng karena tidak banyak pertimbangan, tidak banyak analisis mana yang lebih baik dilakukan mana yang tidak. Segalanya sesederhana

if we love it, we will do it

Bahkan sekalipun itu adalah acara yang terdengar tidak masuk akal ataupun terlihat konyol.

  • Mungkin sekedar mengoleksi batu yang unik yang ditemukan dijalan?
  • Atau mencoba membuat rokok-rokokan dari kertas buku yang digulung dan dibakar terus dihisap?
  • Atau membuat pakaian superhero dari kardus dan dipakai?
  • Atau setidaknya pernah menaruh aqua gelas di jeruji sepeda untuk membuat bunyi seperti motor kan?
  • …. bisa dilanjutkan sendiri dengan kegiatan aneh sewaktu kecil.

Semua itu dilakukan dengan mudah, se-“begitu saja”. Semua itu dilakukan dengan rasa penasaran dan ingin tahu. Hal terbaiknya adalah, ketika dalam membuat pakaian superhero kemudian tidak menyukainya, maka penyelesaiannya adalah berhenti.Sesederhana itu? Iya sesederhana itu tanpa ada pertanyaan seperti:

  • Apakah benar membuat pakaian superhero adalah kegiatan yang harus aku lakukan ketika itu?
  • Banyak teman yang tidak membuat pakaian superhero, apakah yang kulakukan adalah suatu keanehan?

Anyway sudah berapa lama tidak menjadi bocah? kadang-kadang kangen jadi bocah ya, untuk beberapa sisi.

Banyak sekali hal yang disukai yang disebut passion lahir dari masa kecil. Hal-hal yang kadang begitu megahnya sehingga menjadi cita-cita.

Namun, setelah masa bocah sudah lewat, seiring dengan berjalannya waktu, apalagi ketika sudah akan mulai masuk usia berkerja, sering didapati bahwa beberapa dari kita sudah mulai kesulitan mengejar sesuatu yang kita sebut passion.

Bahkan ada yang mulai kabur dengan apa yang menjadi passionnya. Kemudian mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa passion ku? Sejak passion adalah nasib masing-masing, maka susah jika ditanyakan kepada orang lain. Siapa pun akan bingung jika ditanya, apa passionku? dimana aku harus mencarinya? dsb.

Ada beberapa orang di planet ini  yang masih merasa ‘tidak menemukan’ passionnya. Padahal selama 16 jam diluar tidur melakukan sesuatu, membicarakan sesuatu. Pasti ada topik yang mendominasi ketika browsing, percakapan, atau aktifitas ketika waktu senggang yang mungkin tanpa sadar atau tanpa effort berlebih telah dilakukannya. Setidaknya cobalah mendaftar apa saja kegiatan yang dilakukan ketika waktu luang.

Semua passion itu telah hadir dalam hidup kita, namun ada yang menolak keberadaan mereka. Dengan berbagai macam alasannya, ada yang menolaknya, menganggapnya tidak ada. Kemudian mengatakan pada diri sendiri, “Umm saya suka jalan-jalan. Tapi itu tidak perlu dihitung, karena jalan-jalan tidak menghasilkan uang.

Oh tentu semua orang ingin passionnya bisa menyambung hidup. Menjadi jalan rejeki sehari-hari. Pastinya dengan harapan tiada bosan terjadi. Namun seiring dengan usia, pertimbangan menjadi hal yang wajar terjadi. Yang ketika bocah begitu mudahnya melakukan sesuatu, menjadi begitu banyak pertimbangan melakukan sesuatu.

Sadarkah ketika masih bocah, SD, atau SMP, atau SMA, atau awal kuliah lah, untuk mengadakan kumpul-kumpul begitu mudahnya. Masih mudahkah sekarang? yang dulunya ketika menghubungi teman langsung telp, sekarang harus tanya dulu, sibuk nggak? Poin saya adalah, semakin kesini, beberapa menjadi terlihat lebih sulit dari sebelumnya karena banyaknya pertimbangan.

Oh pertimbangan itu bagus, menandakan persiapan yang serius. Namun coba lihat keluar, jalan-jalan jika ditekuni juga bisa menghasilkan uang kok. contohnya banyak, banyaaak (pake nada ala tokopedia).

Apakah sudah dicoba?

Masalahnya bukanlah tentang passion. Ini adalah soal sudut fikir. Ini adalah masalah presepsi. Ini adalah perihal penerimaan. Ini adalah soal perlindungan terhadap ketidakmampuan mengatasi tantangan.

Masalahnya adalah, “Sudah umur sekian, masa masih suka jalan-jalan, apa kata orang tua?”, atau “Pilihan untuk menekuni passion jalan-jalanku adalah tidak rasional”, atau “berapa lama aku harus mengumpulkan modal untuk membeli kendaraan jika aku menekuni passion jalan-jalanku

Masalahnya bukanlah passion. Ini adalah tentang Prioritas.

Menyalahkan bidang yang bukan passionnya untuk mempertanggungjawabkan kurangnya produktivitas. Merasa menderita karena melakukan pekerjaan yang tidak passionnya. Well, itu adalah sebuah kekeliruan, lagu lama, menurut saya setidaknya.

Sebenarnya, tidak harus kok mencari penghidupan dari apa yang disukai. Apakah tidak boleh orang yang bekerja sebagai software engineer punya hobi menulis buku sastra? Ada waktu luang kok jika dianggarkan.

Dan setiap pekerjaan itu pasti menemukan sebuah masa yang membosankan, atau titik jenuh. Sekalipun itu pekerjaaan yang diidam-idamkan. Jangan berfikir bahwa kejenuhan tidak muncul dari pekerjaan yang dicintai. It will come.

Ya mungkin seperti ini cara hidup bekerja.

Saat mendapatkan pekerjaan yang disukai, seolah-olah bisa bekerja 70 atau 90 jam seminggu. Ekspektasi semangat kerja yang tinggi yang seperti ini sungguh akan menjadi bumerang di kemudian hari. Sadarilah bahwa 16 jam waktu diluar tidur itu tidak hanya untuk bekerja. Sediakan juga waktu untuk muhasabah diri, tholabul ilmi, silaturahmi, dan yang lain lagi.

Dalam sebuah forum, saya sempat berkenalan dengan salah seorang founder startUp di Indonesia. Beliau menceritakan membangun startUpnya dengan bekerja 80jam per minggu di kantor, dan sekitar 15jam per minggu dirumah. Setelah beberapa bulan terasa capeknya, kemudian beliau bertanya setelahnya apa yang telah dilakukannya. Keluarganya menjadi kurang terurus, dan masalah-masalah sosial mulai muncul.

Hal terpenting yang harus diketahui adalah, bahwa kehidupan kita itu dipenuhi dengan ketidaktahuan.

Yang menyedihkan adalah, bahwa kita juga tidak tahu, apakah hidup akan menjadi lebih baik jika kita mengerjakan apa yang kita sukai atau tidak. Hanya karena kita melakukan sesuatu yang kita suka, bukan berarti kehidupan kita akan menjadi lebih baik kan?

Ada yang meninggalkan kesukaan dalam menulis buku untuk bekerja sebagai karyawan sebab ada Orang tua yang menjadi prioritas untuk mendapat uang kiriman. Akan ada banyak cerita di sekitar kita, cerita orang-orang yang meninggalkan passion untuk mengejar prioritas yang telah ditetapkan. Salut dengan orang-orang seperti itu. Namun jika mereka malah bisa mengembangkan minat dan kesukaannya atau bahkan bisa mengejar mimpi-mimpinya, itu akan sangat berharga untuk didengar ceritanya.

Soal kebahagiaan dan kesenangan, itu akan berjalan berdampingan. Bukankah membuat orang lain bahagia dengan hasil kerja juga merupakan kebahagiaan? Membuat orang-orang disekitar merasakan manfaat dengan adanya kita.

Jangan hanya mempertimbangkan kesenangan dalam memilih. Timbang juga apakah kiranya akan menyesal dikemudian hari.

Sederhanalah dalam berbahagia seperti ketia kau masih belia, dan seriuslah dalam mengejar pengutamaan seolah esok kau tiada.

Semoga tidak salah memilih prioritas.

  • view 88