Tangisan Anak Negeri

Meky Umbu Marapu
Karya Meky Umbu Marapu Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Mei 2016
Tangisan Anak Negeri

Catatan dari Buraen

( Sebuah Renungan )

Ret – ret KMK Gizi St. Don Bosco di Wisma Fransiskus Xaverius Buraen Kecamatan Amarasi Selatan dari tanggal 4-6 September 2015, memberikan saya sebuah pengalaman berharga yang sangat baik demi merefleksikan arti sebuah kehadiran manusia di dunia. Kegiatan Ret-Ret ini bertepatan dengan bulan Kitab Suci Nasional tahun 2015 dengan tema “ Keluarga Melayani Seturut Sabda Allah “. Sebuah tema yang sangat – sangat bagus, dimana peran keluarga akhir – akhir ini semakin surut karena perubahan globalisasi yang semakin maju. Keluarga lebih sibuk dengan perkara – perkara duniawai ketimbang dengan perkara Sang Ilahi lewat sang Sabda. Masing – masing anggota keluarga sibuk dengan urusannya sendiri – sendiri, ibu sibuk mengurus bisnisnya, ayahpun demikian, kakak dengan segala alasannya keluar rumah dari pagi ketemu pagi dengan HP canggih di genggaman, akhirnya sang adik sibuk juga dengan urusan Televisi dan game – game menariknya. Peran keluarga sebagai guru utama dalam kehidupan seorang anak terabaikan begitu saja, padahal keluarga adalah “Ecclesia domestica” guru rumah tangga, orang pertama yang bertanggungjawab dalam mengenalkan berbagai hal kepada sang anak termasuk hal iman dan keyakinan lewat Kitab Suci. Pendidikan karakter, sopan santun, tanggungjawab, kedisiplinan dan sebagainya harus didapatkan dari ayah/ibu sebagai guru utama dalam hidup sang anak. Namun, apa daya jika sang guru utama sibuk “mengajar” di kebun, di kios, di pasar, di rantauan, di deker, di tempat proyek, pangkalan ojek, di kantor dsbnya. Anak – anakpun belajar sendiri, berusaha mengenali diri sendiri dengan mandiri dirumah, di deker, di kos teman, di tempat bermain, dan tidak sedikit yang terjerumus ke hal- hal negative. Saat anak-anak “jatuh” orangtua baru sadar, dan hal ini sudah terlambat karena anak-anak sudah terlanjur dibentuk oleh lingkungan yang buruk oleh karena kelalaian orangtua. Lantas dimanakah peran orangtua sesuai tema bulan kitab suci tahun 2015 ini? Saatnya keluarga berubah, kembali berefleksi sejauh mana peran orangtua bagi anak-anak, dan anak-anak bagi orangtua dan sesama, sehingga tema ini bukan hanya sloga semata tanpa realisasi apa-apa. Bukan saatnya lagi orangtua marah-marah kepada anak-anak, jadilah orangtua sebagai guru, teman, model bagi anak-anak. Mengakhiri renungan ini, saya mau mengajak anda membaca cerita penuh haru sekaligus memperihatinkan. Cerita ini adalah fakta bukan rekayasa.

Selesai misa pagi di Gereja Paroki St. Yohanes Pemandi Buraen mahasiswa/i Gizi diberikan kesempatan untuk memberikan penyuluhan kesehatan bagi orangtua yang memiliki bayi/balita dan  anak sekolah. Namun setelah misa orangtua satu persatu pergi, tinggal anak-anak sekolah yang masih bertahan menerima materi tentang gizi seimbang, jajanan sehat dan menyanyi. Menariknya disini dibangku tengah ruangan gereja itu, masih sisa seorang ibu yang tengah meminumkan susu formula bagi anaknya. Tergerak oleh jiwa ingin melayani, saya mendekati ibu itu. Tanpa basa-basi saya langsung menanyakan umur anak itu, ternyata sudah 10 bulan, namun BBnya hanya 5 kg dan PBnya kira-kira 60 cm. Badan kurus, pendek dan batuk-batuk. Saya semakin penasaran, akhirnya saya menanyakan saat dilahirkan diberikan apa saja, pertanyaan ini saya lontarkan demi mengetahui riwayat pemberian ASI dan MP-ASInya. Jawaban sang ibu ini membuat saya terharu, ternyata anak ini bukan anak kandungnya melainkan anak dari adik iparnya yang meninggal dunia saat melahirkan bocah ini akibat pendarahan yang hebat. Dari cerita ibu ini saya ketahui bahwa adik iparnya itu hamil diluar nikah pada saat umur 14 tahun di tambah lagi pada saat melahirkan ditolong oleh dukun kampung. Akhirnya anak ini hidup dengan susu formula, dan dari penuturan sang ibu asuh ternyata pada usia 2 bulan sudah diberikan makanan lumat sebagai pendamping susu formula. Maklum saja karena keterbatasan ekonomi, belum lagi harga susu yang semakin meningkat, apa boleh buat, mau tidak mau sudah diberikan MP-Susu Formula Dini. Ibu asuh ini memiliki 5 orang anak yang masih kecil-kecil, sementara sang suami pergi merantau ke Negeri Jiran sejak beberapa bulan yang lalu. Tinggallah ibu ini dengan anak-anak sebagai ibu sekaligus sebagai ayah bagi anak-anak. Mencari nafkah lalu memasak bagi diri dan anak-anak. Pekerjaan yang berat. Bocah malang ini sementara batuk-batuk sejak 2 bulan yang lalu, sudah beberapa kali berobat ke Puskesmas namun belum kunjung-kunjung sembuh. Wajar saja jika batuk karena menurut pemahaman saya jelas sekali karena anak ini tidak mendapatkan ASI sama sekali yang banyak mengandung anti bodi, belum lagi MP-ASI dini, dan hasil kajian saya ternyata MP-ASInya hanya bubur nasi saja tanpa campuran apa-apa, kebutuhan protein dan lemak, vitamin mineral yang berasal dari daging, sayuran dan buah tidak didapatkannya karena kondisi ekonomi belum lagi pengetahuan sang ibu asuh yang hanya tamatan SD. Mungkin bocah ini satu dari sekian banyak anak NTT yang mengalami nasib naas, korban hawa nafsu duniawi, korban pergaulan bebas, korban kemerosotan iman manusia, korban kurangnya pengetahuan orangtua, masalah ekonomi dsbnya. Siapa peduli? Yang jelas adalah kembali lagi peran keluarga yang perlu di dukung oleh banyak pihak. Ibu yang mengasuh anak malang ini dengan serba keterbatasan pengetahuan, ekonomi dan tenaga. Bagaimana tidak, ia harus mengurus sendiri anak-anaknya, dan saya yakin perannya sebagai keluarga yang melayani seturut sabda Allah sangat-sangat kurang karena keterbatasan itu. Namun sikap pelayanannya terhadap sesama lewat bocah malang ini telah menunjukkan kepada kita bahwa pelayanan keluarga dengan keterbatasan tidaklah menjadi persoalan yang berat baginya. Lalu bagaimana dengan kita yang dalam tanda kutip sejahtera? Mari kita belajar ikhlas melayani dalam situasi dan kondisi apapun. Belajar menjadi sosok guru sejati bagi diri sendiri, keluarga dan gereja. Belajar bersyukur karena Tuhan, karena Dia sudah memberikan kepada kita berkat yang berlimpah. Semoga saran-saran saya untuk ibu asuh itu memberikan masukkan yang berarti bagi dia untuk berjuang menafkahi generasi-generasi titipan Tuhan. Selamat berjuang Bocah Juan.

Catatan kecil dari Buraen, Oleh Melkianus Ndara Bengo.

  • view 314