Tulus Memaafkan...Sekalipun Sakit di Masa Lalu

Meky Umbu Marapu
Karya Meky Umbu Marapu Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Mei 2016
Tulus Memaafkan...Sekalipun Sakit di Masa Lalu

Tulus Memaafkan

 

Tahun 2005, merupakan tahun kelam bagi keluarga kami. Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah Menengah Pertama di sebuah Desa terpencil di sudut Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Desa yang cukup jauh dari daerah perkotaan, sarana dan prasarana seadanya, tanpa penerangan listrik, tanpa jalan aspal, tanpa Puskesmas, tanpa swalayan, dan masih banyak lagi kekurangan yang ada disana. Rata-rata penduduknya adalah petani kebun dan sawah, dengan pendidikan tertinggi adalah tamat sekolah Dasar, termasuk orangtua saya. Orangtua saya sebagai petani sekaligus beternak 2 ekor kerbau kala itu.

Suatu malam, tepat pada tanggal 25 Maret 2015, keluarga kami dikejutkan dengan kehadiran sekelompok orang tak dikenal yang jumlah sekitar 12 orang, melempari rumah kami dengan batu, kami kaget dan terbangun dari tidur, karena waktu masih menunjukkan pukul 02.15 Wita. Dari luar rumah terdengar suara, “jika kalian berteriak atau keluar rumah, kami tak segan-segan membakar rumah kalian”. Kaget, takut, bingung, pusing, karena memang kami bangun secara tiba-tiba, adik-adik saya jatuh karena saling bertabrakan. Maklum karena tidak memiliki penerangan. Rumah kami bolong-bolong karena dilempari batu. Dalam hati saya kala itu, berkata “apa salah kami, selama ini kami sekeluarga baik-baik saja dengan tetangga, dengan siapa saja kami selalu beri makanan dan minumaan, orang yang tidak kami kenal sekalipun, sayur, ubi, keladi, kelapa, kopi, pinang kami beri secara sukarela kepada yang meminta” . Waktu itu, bapak saya, keluar rumah diam-diam, tapi sialnya mereka melihat Bapak saya, lalu mereka lempari dan Bapak jatuh tersungkur, lalu mereka ikat Bapak saya dengan tali. Kami menangis histeris melihat Bapak dari lubang jendela. Setelah itu mereka mengeluarkan kerbau 2 ekor dari kandang, ayam, anjing kesayangan kami yang menggonggong di lempari batu hingga mati. Tidak cukup itu, mereka juga mengambil 1 ekor babi dan pergi dengan berteriak-teriak. Tak satupun yang datang membantu kami, karena jarak rumah kami dengan tetangga masih jauh sekitar 5 kilo meter. Setelah kawanan perampok menjauh dari rumah, barulah kami keluar menghampiri Bapak yang berdarah dan melepaskan tali. Setelah itu, kami berteriak minta tolong, ternyata sia-sia, karena suara kami tidak terdengar dari tetangga. Mama, saya dan adik-adik focus mengompres luka-luka Bapak dengan seadanya, maklum kala itu kami masih awam sekali dengan merawat luka.

          Keesokan harinya, sekiar jam 0.5.00 Wita, barulah keluarga,  tetangga datang. Sedihnya, kala itu kendaraan masih menjadi barang langka di desa itu, kami bersama keluarga, membopong Bapak ke Puskesmas yang jaraknya sekitar 15 KM dari rumah untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Mama dan kami anak-anak sepakat, bahwa hewan yang diambil biarlah mereka ambil, yang penting Bapak tidak apa-apa. Singkat cerita, selang beberapa hari kejadian itu, mama dan saya mencoba menyelidiki motif perampokan itu. Dari hasil penyelidikan itu, didapatkan bahwa orang yang merampok itu murni karena cemburu melihat hewan peliharaan kami. Kami juga sepakat tidak melaporkan ke polisi, karena ternyata yang menyuruh perampok itu merampok di rumah adalah saudara sendiri dalam desa itu. Waktu saya mengetahui bahwa yang merampok itu adalah saudara sendiri, hati saya panas, saya menangis, saya menyesal, dalam hati berkata ‘’ seandainya saya sudah besar, saya akan mempolisikan orang itu” . untuk diketahui bahwa kantor polisi daerah kami waktu itu masih terpusat di Weetebula, sekitar 150 KM dari rumah kami.

Terakhir ini yang membuat saya terharu, Bapak, mama saya sepakat untuk tidak mendendam, mama mengatakan sebagai orang yang beriman Katolik harus saling memaafkan. Suatu hari, keluarga penunjuk jalan para perampok itu datang dirumah dengan menangis-menangis, mereka meminta maaf, dan terus terang bahwa mereka yang menyuruh perampok itu datang merampok dirumah. Dengan senang hati,Bapak dan Mama saya memaafkan dengan menikam satu ekor babi sebagai kurban saling memaafkan. Kerbau, ayam , anjing, dan babi yang diambil orang dianggap sebagai buang sial keluarga kami. Kami sekeluarga waktu dengan tulus hati memaafkan mereka hingga cerita ini ditulis dan dibaca oleh anda sekalian. Mari belajar saling memaafkan meski di masa lalu begitu menyakitkan. Puji Tuhan kami hidup dengan bahagia hingga sekarang.

  • view 129