CITA-CITA DAN RODA

Melda Taspika
Karya Melda Taspika Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Maret 2016
CITA-CITA DAN RODA

Buatku, cita-cita adalah kumpulan mimpi yang membentuk roda. Putarannya tergantung pada gaya yang bekerja : motivasi. Suatu ketika dia statis, saat lain dia dinamis. Kadang rotasinya beraturan, diwaktu lain random tak menentu. Walau begitu, mimpiku tetap pada poros : nurani.

Cita-cita pertamaku adalah guru. Dari kacamataku saat itu, profesi guru sangat berkelas. Sosok dengan pakaian sederhana-kala itu hijab dan gadget belum ada. Guru mengajariku menulis dan membaca. Saat pelajaran menggambar, tangannya kotor oleh kapur tulis berbagai warna. Bagiku terlihat begitu mempesona.

Waktu berputar, aku tak lagi belajar menggambar. Kelas seni mewajibkanku membuat berbagai jenis prakarya. Asbak dari tanah liat, pot bunga dari buah maja (di kampungku namanya labu air), hingga bunga dari daun karet, sedotan, sabun mandi, kertas jagung, dan sisik ikan. Bukan hanya itu, aku pernah membuat tas dari kardus bekas. Jari-jariku memerah karena menjahit sepanjang hari. Kamarku penuh dengan guntingan berbagai jenis kertas. Aku merasa ingin jadi seniman saja.

Lalu aku ingin jadi dokter. Padahal aku takut jarum suntik. Seragam putih bertulisan bakti husada membuat dokter jadi pahlawan desa. Mereka terlihat begitu apik dengan box berisi berbagai jenis obat. Suatu sore, aku melihat ibu membantu telur ayam yang hendak menetas. Perlahan dan telaten, ibu mengupas kulit telur yang sudah retak karena patukan sang induk. Dari balik cangkang, muncul sosok berbulu yang sangat lemah. Terdengar rintihan kecil dari tubuhnya yang basah dan sedikit berlumur darah. Mendadak aku ingin muntah. Cita-citaku kembali berubah.

Melepas seragam merah-putih, aku ingin jadi chef. Suka makan adalah alasan utama. Bacaanku berubah, dari teenlit?menjadi kumpulan resep. Setiap ada kesempatan, aku membuat dapur berantakan. Pudding, cake, soto, nasi uduk, lemper, dan banyak lagi yang pernah aku buat. Di suatu pagi menjelang siang, tanganku kecipratan minyak panas, saat membuat telur mata sapi. Aku meraung kepanasan. Melihat kulitku menjadi coklat kemerahan, aku tak lagi mau menjadi chef.

Ada hari saat gambar mikroskopku mendapat pujian dari teman-teman. Mendadak aku ingin jadi ahli biologi. Nilai biologiku meningkat drastis, membuatku jadi kandidat olimpiade biologi tingkat provinsi. Saat aku tahu buku campbell tidak hanya bercerita tentang mikroskop, ahli biologi tak lagi menarik di mataku. Semuanya dinamai dengan rumit. Aku bingung membedakan Bos sondaicus (banteng) dan Bos indicus (sapi india). Bagaimana bisa banteng dan sapi dinamai hampir sama. Kata guruku, karena mereka punya marga yang sama. Tetap saja, otakku tak bisa menerima.

Lalu aku menyukai matematika dan fisika. Alasannya sederhana, aku akan populer karena banyak teman yang bertanya. Katanya, ini pelajaran tersulit di dunia. Aku mulai suka angka-angka. Segitiga rumus begitu mudah untuk dicerna. Penyelesaiannya sederhana, ada cerita, konversi dalam persamaan matematika, dapat angka, lalu analisa. Kegilaan ini memberiku nilai sempurna untuk pelajaran matematika di akhir studi SMP-ku. Kala itu aku berpikir : cita-citaku takkan jauh dari mereka.

Masa putih abu-abu kulewati dengan cita-cita yang terus berubah dari waktu ke waktu. Karena kepandaianku dalam matematika, semua orang berkata : aku pantas jadi anak eksakta. Angka saja tak cukup bermakna, aku ingin sesuatu yang berbeda. Ahli nuklir, sebuah profesi yang sangat bergengsi di mataku kala itu. Gabungan hampir semua eksakta : fisika, kimia, dan matematika. Sepertinya mereka belum banyak di Indonesia. Kata teman dan guruku : wanita yang terpapar radiasi memiliki resiko menjadi mandul. Aku ketakutan, cita-citaku berganti lagi.

Aku ingin jadi ahli pengukuran saja, masuk teknik fisika. Mungkin, nanti aku jadi kontraktor atau sejenisnya. Lalu ibuku bicara, ?Sebaik-baiknya wanita adalah mereka yang selalu ada untuk keluarga. Pendidikan tidak untuk membuatmu menjadi kaya-raya. Lebih dari itu, apa yang bisa kau berikan pada sesama.? Intinya, ibuku ingin aku jadi guru saja. Aku berkata, ?Ibu, guru adalah cita-cita masa lalu.? Sebenarnya, itu bukan alasan utama. Gengsiku terlalu tinggi untuk masuk jurusan pendidikan. Aku tidak ingin ditertawakan teman-teman, ?Loh? Kamu mau jadi guru? Masa iya, anak dengan nilai seperti itu hanya ingin jadi guru. Lagian kamu ga sabaran. Kasihan murid-muridmu. Kamu ga cocok jadi guru.? Lagi-lagi, aku mengganti cita-citaku.

Mungkin aku jadi peneliti saja, menuliskan nama di jurnal ternama. Tapi, aku masih bingung mau jadi peneliti apa. Aku mulai belajar menulis. Karena masih SMA, aku nulis cerita saja. Kata temanku : aku berbakat jadi penulis. Aku tidak ingin masuk jurusan sastra. Aku anak eksakta. Begitulah cita-cita, penuh dinamika. Demi menghargai orang tua, akhirnya aku masuk fisika. Fisika dan teknik adalah tetangga.

Berada di tahun kedua menjadi mahasiswa, aku ingin punya bisnis bimbingan belajar. Sepertinya bisnis membuatku cepat kaya. Lagi-lagi ibuku berkata : ilmu tidak hanya untuk mencari harta. Lalu aku melupakannya. Aku bergabung dengan lembaga, mengajar agar aku tidak lupa. Lalu murid-muridku berkata : kakak cocoknya jadi dosen, bukan guru SMA. Mungkin mereka benar juga, aku jadi dosen saja. Dosen juga meneliti. Peneliti juga menulis.

Melepas toga, aku punya banyak cita-cita. Aku bingung mau menjadi apa. Ahli fisika, peneliti, penulis, dosen, atau pembuat kue seperti dulu yang pernah aku angan-angankan. Aku tidak tahu harus menjadi apa untuk Indonesia. Negara ini sudah punya semua profesi yang pernah aku mimpikan. Mungkin sebaiknya aku belajar saja. Biarkan cita-cita itu terus berputar pada poros nurani : kejujuran, saling menghargai, ikhlas memberi, dan tidak sibuk memikirkan keuntungan pribadi. Sepertinya hanya ini yang belum lahir dari rahim ibu pertiwi.