Untuk Bapak.

Melani Yana Putri
Karya Melani Yana Putri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Februari 2016
Untuk Bapak.

Hampir satu tahun yang lalu ya, Pak. Dan beberapa hal telah berbeda. Aku telah kehilangan Bapak, salah satu makhlukNya yang ditakdirkan menjadi salah satu orang yang paling aku sayangi.

Hmm, kehilangan? Ah, sepertinya kata itu kurang tepat. Aku lupa bahwa aku memang tak punya apa-apa, seharusnya aku tak perlu merasa kehilangan apapun. Karena ternyata, Bapak pun hanya titipanNya.

18 Februari 2015. Hari itu Bapak pulang. Pulang ke tempat dimana aku tak lagi bisa mencium tanganmu, tak bisa mendengar suaramu, atau memintamu membelikanku sebatang cokelat atau jus alpukat lagi.

Beberapa hal telah berbeda, Pak.

Seingatku, semenjak aku bukan lagi putrimu yang dengan mudahnya menangis karena tersandung batu, atau merengek karena menginginkan sesuatu, aku tak pernah lagi menangis di hadapanmu maupun Mamah. Ya mungkin hanya sesekali saja di suatu waktu, aku mengunci pintu kamar dan menangis di balik bantal. Entahlah, rasa malu ku terlalu besar untuk terlihat menyedihkan di hadapan kalian.?

Namun di hari itu, 40 hari sebelum tanggal 18 itu, benteng pertahanan?dalam hatiku telah roboh begitu saja, Pak.

Akhirnya tangisku pecah di hadapan manusia. Bukan hanya di hadapanmu, tapi juga ditonton banyak orang. Maafkan aku yang begitu lemah, Pak.

Beberapa hal memang telah berbeda, Pak.

Februari tahun lalu, masih sempat kucium punggung tanganmu yang mulai keriput. Saat itu aku meminta izinmu untuk menunaikan kewajibanku di luar kota. Dan kita pun saling mendo'akan.

Dulu, masih ada suaramu di ujung telepon yang menanyakan kapankah aku akan pulang.?Hmm...Februari sekarang akan berbeda, Pak. Namun aku takkan membencinya. Aku tidak akan membenci Februari.?

Bapak tahu? Setahun ini aku telah belajar. Aku belajar memahami, bahwa hidup tak selalu berisi pilihan-pilihan. Terkadang, hidup hanya butuh penerimaan.

Terkadang aku begitu membencimu karena beberapa alasan. Namun semua itu terekspresikan menjadi do'a. Karena entah bagaimana, di saat yang sama, aku selalu bisa mencintaimu tanpa memerlukan alasan.

Beberapa hal telah berbeda, Pak. Tidak semua, hanya beberapa.

Aku tetap anak perempuanmu, yang ingin membuat langkahmu meunju surga menjadi lebih dekat... :)

Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihii wa'fuanhu.

  • view 191

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Aku belajar memahami, bahwa hidup tak selalu berisi pilihan-pilihan. Terkadang, hidup hanya butuh penerimaan.// Terkadang aku begitu membencimu karena beberapa alasan. Namun semua itu terekspresikan menjadi do'a. Karena entah bagaimana, di saat yang sama, aku selalu bisa mencintaimu tanpa memerlukan alasan.// Aku tetap anak perempuanmu, yang ingin membuat langkahmu meunju surga menjadi lebih dekat...// Terharu membacanya...