dahsyatnya tulisan

mei ria
Karya mei ria Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 17 Februari 2016
dahsyatnya tulisan

Ini bukanlah tentang acara musik komedi alay di layar tivi setiap pagi. Ini adalah tentangmu, teman-temanmu. Dirimu hanyalah deretan aksara. Bermakna ketika dibaca. Dirimu hanyalah sekumpulan bentuk unik namun menggelitik. Berupa tapi tak bersuara. Karenamu, sejarah terukir, mendorong manusia untuk berfikir.

Tahukah engkau? Bagi sebagian orang mungkin tak berarti. Tapi bisa jadi merupakan provokator yang hebat. Rangkaian tulisan yang mengubah pikiran. Dirimu bisa jadi lebih unggul daripada orasi pileg saat kampanye, lebih bagus daripada khotbah menteri, lebih hebat dari sebuah nasehat.

Tidak percaya? Tengoklah apa yang ditimbulkan oleh Karl Marx melalui Das Kapital-nya. Dengan tulisannya yang mana penyebarluasannya tidak seviral sekarang, mampu mempengaruhi jutaan manusia di berbagai belahan dunia. Ia menanamkan paham sosialis yang akibatnya justru mengerikan mungkin tidak dibayangkan oleh Marx sendiri.

Dalam sejarah Indonesia pun tercatat beberapa orang ketiban sial karena tulisannya. Contohnya saja buku karya Ki Hajar Dewantara yang berjudul ? Andai Aku Seorang Belanda? sukses mengantarnya ke jeruji besi. Nasib sama pernah juga dialami oleh sastrawan Pramoedya Ananta Toer yang katanya mempunyai infiltrasi dengan partai komunis. Tak setragis mereka yang merasakan hotel prodeo, novel karya Dan Brown yang berjudul Da Vinci Code pun sempat di blacklist karena dianggap menyudutkan salah satu agama.

See....baru-baru ini perhatian sejumlah publik tersita akan kasus yang menggelitik. Ya....apalagi kalau bukan kasus pembunuhan seorang lady bermata sipit yang bermula dari jamuan kopi. Setelah melalui berbagai penyidikan, lagi-lagi, kabarnya, tersangka terinspirasi oleh sebuah komik detektif. Alamakkk....ternyata selain menghibur dengan thriller yang membuat deg-degan, tulisan tersebut juga bisa menggiring manusia ke tindakan kriminal atau setidaknya, menginspirasi ( halahh...inspirasi kok negatif ).

Bagi sebagian orang,apalagi yang dijuluki kutu buku, serangkaian tulisan lebih menarik sekalipun divisualkan dalam bentuk film.

Memang, adalah hak penulis untuk menuangkan apapun yang terbersit di otaknya. Kita sebagai penikmat harus pintar-pintar dalam menyeleksi. Bagi orang tua, mengedukasi anak tentang buku juga penting, mana yang berkualitas, mana yang menyimpang. Diskusikanlah. Apa yang kita baca tidak harus ditelan mentah-mentah. Semoga tidak ada kasus serupa, entah efek Sherlock Holmes, Detektif Conan, R.L Stine atau malah Agatha Christie??? Sebaliknya, marilah jadikan tulisan sebagai ladang amal, selain ladang rupiah tentunya. Jadilah penginspirasi, penebar kebaikan. Jika tak terucap kata-kata, sampaikanlah melalui aksara.

?

?

  • view 126