Merayakan Keheningan

meilinda dwi pertiwi
Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Juni 2017
Merayakan Keheningan

Namaku Arai. Bersama keempat temanku, aku menjalani hari-hari yang menyenangkan di sekolah. Tio, Sam, Panji dan Delon. Kami dipertemukan di kelas X.5. Dua belasjam dalam sehari kuhabiskan waktuku bersama mereka. Pulang dari sekolah biasanya kami mampir ke warung samping sekolah. Kalau bosan, kami bermain ke studio musik. Teman-temanku jago bermain musik. Tio memegang gitar, Sam memainkan keyboard, Panji vokal dan Delon drum. Aku? Aku hanya duduk santai mendengarkan mereka bemain. Aku memang tidak bisa bermain alat musik. Satu-satunya yang bisa kumainkan adalah pianika.

Kami bukan anak pintar, tapi tidak bisa juga digolongkan sebagai siswa bodoh. Nilai-nilai kami standar. Cukuplah untuk membuat ibu tidak mengomel melihat rapotku. Kami bukan anak baik, tapi bukan juga anak nakal. Kenakalan kami wajarlah. Nakal anak baru gede. Tio langganan masuk sekolah lewat tembok. Ia selalu datang sepuluh menit setelah bel masuk berbunyi. Selalu. Mengasah ilmu rock climbing katanya.

“Bukannya malas datang tepat waktu, aku cuma mau sekalian olahraga aja.”

“Olahraga mbahmu!”kata Sam sambil melempar tutup bolpen ke Tio.

“Lha, iya. Selesai rock climbing dengan medan yang sulit, aku harus langsung lari zig-zag di antara tiang-tiang koridor kelas. Jadi sehat, pagi-pagi olahraga.”

“Iya dan Pak Sueb ngejar di belakang.”

“Nah, berarti aku juga buat Pak Sueb sehat. Seharusnya dia berterima kasih.”

“Sekali aja coba, kamu masuk lewat gerbang depan.” kata Panji.

“Aku udah pernah nyobain, kok. Tapi langsung mual-mual dan besoknya opname.”

“Wong gemblung!”kata Delon. Kami tertawa.

Lain Tio, lain pula Sam. Sam ini anak orang kaya. Dia paling kaya di antara kami berlima. Tapi, sungguh penampilannya seperti anak gembel. Lusuh, dekil seperti kurang gizi. Untungnya Sam memiliki senyum yang manis sejak lahir. Jadi cukup untuk memaafkan penampilannya yang urakan. Yang bikin geleng-geleng kepala, Sam ini orang yang paling sering jajan bakwan lima, bilangnya dua. Dan karena senyumnya yang aduhai melelehkan itu, Bu kantin percaya saja. Sungguh, aku ragu apakah Sam benar-benar anak orang kaya.

Mbok jangan pelit-pelit, Sam. Harta bapakmu nggak akan habis cuma untuk bayar bakwan.” Aku menasehati.

“Aku memang gak bayar sekarang, tapi apa yang aku makan selama ini selalu aku catat. Dan besok waktu kelulusan, bakal aku lunasi semuanya. Biar surprise gitu.”

“Ah, yang bener?”

“Ya bohong, lah. Masa bener.”

“Yeeee, ini anak!” hari itu habis Sam dicekoki bakwan 20 biji dan membayar seharga 40 biji.  Anak itu pasrah.

Kalau Panji beda lagi. Anak yang nggak pernah kekurangan makan ini, agak sedikit mesum. Otaknya dipenuhi khayalan-khayalan absurd yang kadang membuat ngeri. Pun demikian, dia adalah anak yang paling peduli dengan teman-temannya.

“Ke rumahku, yo!”

“Ibu masak menu apa?”

“Nggak masak. Lagi nggak ada pesenan.”

“Yah, kalo gak ada makanan, ngapain ke rumahmu.”

“Aku ada film baru. Dijamin hot. Pemainnya cantik.”

“Sarap, nih bocah.”

“Woi kalau mau ke nereka, pergilah kau sendiri.”

“Kalian kenapa, sih? Inikan demi kebahagiaan kalian. Aku tahu kalian lagi pusing banget abis ujian tadi. Makanya, ayo refreshing!”kata Panji bersemangat. Hmmm, aku tidak tahu, apakah ini bisa dikatakan sebagai bentuk kepedulian Panji terhadap kami atau tidak.

Berbeda dengan Sam yang jajan jarang bayar, Delon adalah orang yang paling sering membayari jajanan kami. Dia bukan anak orang kaya, tapi kalau masalah teman, dia akan selalu ada.

“Aku rela bayarin kalian karena aku sadar, persahabatan lebih berharga daripada sekedar uang.”ujar Delon.

“Luar biasa.”

“Delon, aku padamu. Unchh, unchh.”

“Apaan unch, unch, cuk?!”

“Lope-lope di udara pokoknya.”

“Udah-udah, ayo kita makan. Pada mau pesen apa ini? Aku yang traktir.”

“Aku terserah kamu aja yang mau bayarin, Del. Tapi kalau bisa yang paling mahal.”kata Sam.

“Aku yang murah juga nggak apa-apa. Asal banyak.”

“Aku yang mahal dan banyak.”

“Aku yang mahal tapi murah.”

Karepmu!”

Delon adalah orang yang paling royal diantara kami. Sesuai prinsipnya tadi, persahabatan lebih berharga daripada uang. Aku selalu bersyukur punya teman seperti dia. Setidaknya ia selalu ada walau tanggal tua. Memberi ketentraman pada perut-perut kami. Hehe.

“Udah, makannya? Yuk, cabut.”

“Udah dibayar, ‘kan?”tanya Sam.

“Emangnya kamu makan gak pernah bayar!” Panji menoyor kepala Sam. Kami semua tertawa.

“Eh, guys, kayaknya dompetku ilang, deh.”kataku saat menyadari dompetku tidak ada di kantung celana.

“Yang bener?”

“Iya, sumpah.”

“Coba cari lagi.”

“Nggak, ada.”

“Ini, Rai?” kata Delon sambil menyodorkan dompetku.

“Lha, kok di kamu?”

“Iya, tadi buat bayar makan, aku ngambil uangnya dari dompet ini.”

Anjir, Delooooooooooon!” teriakku. Delon lari tunggang langgang. Yang lain tertawa terpingkal-pingkal. Kuralat kalimatku tadi, Delon adalah orang yang paling anjay diantara kami. Aku selalu bersyukur punya teman seperti dia, jadi aku bisa kapan saja menendang bokongnya!

***

Sekarang, kami sudah duduk di kelas duabelas. Kami semua berpisah kelas saat kenaikan setahun lalu, Aku dan Tio masuk ke jurusan IPA. Sam, Panji dan Delon masuk jurusan IPS. Tapi kami masih bersama-sama. Seperti dahulu, duabelas jam dalam sehari kuhabiskan waktuku bersama mereka.

Hari-hari dipenghujung SMA jadi makin sulit. Persiapan UN, ujian praktik bahkan ujian masuk PTN nyaris membuat kami muntah darah. Doktrin-doktrin tentang ujian nasional yang mengerikan sudah tertanam di benak kami. Dan bayangan tentang kegagalan semakin sering datang. Kami makin menjadi gila karenanya.

“Ngadem dulu, yuk!”

“Ayok, lah. Stres, nih.”

“Kemana?”

“Musik aja, yo.”

“Boleh.”

Sampai di studio musik, mereka langsung mengambil alat masing-masing. Tio memegang gitar, Sam memainkan keyboard, Panji vokal dan Delon drum. Seperti biasa, aku duduk menikmati permainan musik mereka. Panji mulai bernyanyi.

Sahabat sejatiku

Hilangkah dari ingatanmu

Di hari kita saling berbagi

Dengan kotak sejuta mimpi

Aku datang menghampirimu

Kuperlihat semua hartaku

Kita s'lalu berpendapat

Kita ini yang terhebat

Kesombongan di masa muda yang indah

Aku raja kaupun raja

Aku hitam kaupun hitam

Arti teman lebih dari sekedar materi

 

Mendengar Panji bernyanyi, aku jadi terbayang perjalanan persahabatan kami. Pertemuan, kasih sayang, kepedulian, keterbukaan, kebahagiaan. Susah, senang, kami lewati semua itu bersama-sama. Tak terasa, masa itu sudah hampir habis, dan kami akan menjalani hidup masing-masing. Takkan semudah ini untuk bertemu. Barangkali takkan segampang ini untuk berjumpa. Aku harap waktu ini tak berlalu. Berhenti dan diam pada titik ini, sampai nanti.


Pegang pundakku, jangan pernah lepaskan

Bila kumulai lelah, lelah dan tak bersinar

Remas sayapku, jangan pernah lepaskan

Bila kuingin terbang, terbang meninggalkanmu

 

Delon pernah berkata kepadaku, jika nanti hari itu tiba, hari dimana tidak ada kami, dia berharap bisa memendekkan waktu. Menjadi pendek sependek-pendeknya. Karena ia tak akan tahan kalau harus tanpa kami sepanjang waktu. Dulu aku tertawa mendengarnya. Tapi sekarang baru aku paham maksudnya, dan aku ingin ikut bersama Delon memendekkan waktu. Kulihat Delon disana bersemangat memukul drum. Laki-laki menyebalkan itu, ternyata aku sangat menyayanginya seperti keluargaku sendiri.

Suara drum tiba-tiba melemah, hingga akhirnya terhenti, Delon terdiam di sana. Teman-teman yang lain masih terus bermain musik. Aku menatap Delon bingung. Kenapa dia? Apa dia sakit? Dia tetap diam di sana, menatap kosong stik drumnya. Lambat laun, tubuhnya menghilang. Aku tertegun, tak percaya. Panji masih bernyanyi. Mereka masih bermain musik tanpa dentuman.

Ku s'lalu membanggakanmu

Kaupun s'lalu menyanjungku

Aku dan kamu darah abadi

Demi bermain bersama

Kita duakan segalanya

Merdeka kita, kita merdeka

Semakin lama, permainan keyboard Sam makin tak teratur. Nadanya timbul tenggelam. Ia seperti kesulitan memainkannya. Sepersekian detik kemudian, denting itu memudar bersamaan dengan hilangnya Sam dari pandangan. Aku panik. Panji masih bernyanyi. Mereka masih bermain musik tanpa dentingan.

 

Pegang pundakku, jangan pernah lepaskan

Bila ku mulai lelah, lelah dan tak bersinar

Remas sayapku, jangan pernah lepaskan

Bila ku ingin terbang, terbang meninggalkanmu


Belum hilang kagetku, petikan gitar Tio menjadi sumbang. Dia seperti orang yang baru belajar bermain gitar, yang jari-jarinya belum kapalan sehingga suara yang dihasilkan sangat memekakkan telinga. Meskipun mengganggu, aku berharap suara sumbang itu tidak menghilang. Tapi nyatanya, Tio lenyap tepat digenjrengan terakhir. Aku linglung. Panji masih bernyanyi. Ia masih bermain musik tanpa iringan gitar.


Tak pernah kita pikirkan ujung perjalanan ini

Tak usah kita pikirkan ujung perjalanan ini

Dan tak usah kita pikirkan ujung perjalanan ini *)

 

Suara itu akhirnya melemah juga. Bagai bernyanyi di tepi pantai, suaranya terkalahkan oleh deburan ombak.  Seperti menenangkanku, suara itu makin merdu, meskipun terus bertambah kecil. Makin samar, makin tak terdengar. Aku kelimpungan. Panji sudah tidak bernyanyi lagi. Mereka sudah tidak bermain musik lagi. Semuanya sunyi. Hanya napasku yang memburu.

Ting!

Keyboard itu berbunyi. Aku tersadar dari lamunanku. Kulihat sekililing, studio ini kosong. Hanya ada aku dan beberapa alat musik yang dari tadi hening. Kupandangi satu-persatu alat-alat itu. Benar-benar tidak ada yang tersisa. Aku beranjak dari kursi, berjalan menuju keyboard. Kusentuh semua sisinya, kubayangkan siapa yang sering memainkannya. Air mataku mengalir. Ada kenangan yang memaksa menyeruak dalam hatiku.

Bermodalkan pengalamanku bermain pianika saat SMA, 63 tahun lalu, aku mulai menekan tuts. Perlahan, penuh kesedihan.

Sol mi fa sol sol mi do do si do la sol mi sol fa mi re do re

 

 

 

  • view 178

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    6 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Jika tidak membaca sampai akhir tentu pembaca akan terkecoh bahwa pada ujungnya fiksi Meilinda ini berupa kenangan semasa sekolah yang sungguh indah. Begitulah Meilinda piawai merangkai kata-kata dalam alur cerita yang mengalun mulus.

    Fiksi ini meninggalkan bekas yang cukup mendalam sebab si kreator berhasil memadukan rasa riang, keceriaan dan kekonyolan semasa sekolah secara asyik. Dialog dibuat sedemikian rupa dimana segala kenakalan semasa remaja tergambar secara jelas. Lalu secara perlahan saat mereka berpisah si kreator sedikit demi sedikit menghapus keriangan tersebut hingga mencapai klimaks pada kalimat-kalimat terakhir. Keren sekali, Meilinda!