M(y)our Destiny

meilinda dwi pertiwi
Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 April 2017
M(y)our Destiny

“Demikian berita siang TVN, terima kasih telah menyaksikan!”

Klik, lampu dinyalakan.

“Terima kasih semuanya,” kataku kepada seluruh kru yang bertugas hari ini.

“Terima kasih, Emma. Sempurna, seperti biasanya,” kata Pak Ilham, direkturku sambil berlalu meninggalkan studio.

“Emma, sudah kubilang berhenti tidur larut. Kantung matamu mengganggu,”

“Itulah alasan kenapa kau ada di sini, Shinta. Kau bisa membuat kantung mataku tersamarkan, bukan?” kataku beranjak keluar studio. Shinta memutar bola matanya, sudah hapal tabiatku. Aku  membuka loker untuk mengambil tas yang kutinggal disana, ehh tunggu, apa ini? Amplop? Kenapa bisa ada di lokerku yang terkunci? Hhhhh, ada-ada saja. Kupikir nanti, aku sangat lelah sekarang. Aku segera menuju mess karyawan. Jam tiga sore nanti aku ada siaran lagi. Daripada menghabiskan waktu di jalan untuk pulang, lebih baik aku tidur di mess saja.

“Ouhh, hari yang melelahkan,” kataku sambil berbaring di kasur. Aku mencoba memejamkan mataku. Sudah berapa lama aku tidak merasakan kenikmatan seperti ini. Tapi, sesuatu mengganggu pikiranku. Tadi itu amplop apa, ya? Aku mengambilnya di dalam tas. “Kepada Emma Emilia.” Ya ini benar namaku. Aku membalik amplop tersebut. “Dari Emma Emilia.” Ha? Nama pengirimnya sama dengan namaku. Aku segera membuka amplop itu dan kutemukan sebuah buku. Ukurannya kecil berwarna kuning. Tidak ada nama atau apapun yang tertera di sampulnya. Aku membukanya.

Untuk diriku yang sedang kelelahan karena siaran berita. Apa kabar? Catatan ini kutulis dari masa depan. Tepatnya tujuh tahun dari saat kau membacanya.”

“Apa-apaan ini?” kataku bingung.

Kau mungkin menganggap ini tidak masuk akal, tapi ini memang benar. Aku memiliki banyak sekali penyesalan dalam hidupku. Itulah kenapa, kutuliskan catatan ini untuk diriku di masa lalu, karena kuharap diriku di masa lalu itu bisa menghapuskan rasa sesalku.”

“Tunggu, apa ini? Lelucon seseorang?”

14 Januari 2017,  aku sedang tiduran di mess. Dito menghampiriku. Dia meminta izin untuk pergi ke luar kota beberapa hari ke depan untuk merayakan ulang tahun temannya. Aku mengiyakan. Tapi, Emma, kali ini, tolong, jangan izinkan Dito pergi. Pastikan dia tidak jadi ke luar kota.”

“Haish, siapa sih yang kurang kerjaan begini?” kataku sambil menutup buku itu dan kembali merebahkan diri di kasur. Aku tertidur.

“Emma! Emma!” teriak seseorang.

“Ha?” aku terkejut dan terbangun.

“Oh, maaf, aku tidak tahu kau sedang tidur.” kata Dito merasa bersalah.

“Tidak masalah. Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa. Aku rindu,” kata Dito mencubit gemas pipiku.

“Aww!”

“Hmmm, aku mau ke luar kota.”

“Kapan?” tanyaku kaget.

“Sekarang.”

“Sekarang?”

“Ya, Tama berulang tahun dan kami akan merayakannya bersama-sama. Aihh, sayang sekali kau harus siaran,” kata Dito.

“Ini hanya kebetulan,” batinku.

“Boleh, ‘kan?”

“Tentu,” kataku mengangguk. Catatan itu hanya lelucon konyol, tidak masalah Dito pergi.

“Baiklah, aku akan berangkat sekarang. Yang lain sudah menunggu di parkiran. Aku hanya ingin pamit.”

“Ya, hati-hati di jalan. Jangan lupa kabari aku.”

“Siap!” kata Dito mencium keningku. Aku kembali tidur.

            Lima belas menit mencoba tidur tapi aku tidak bisa. Nyatanya aku terpikir kata-kata di buku tadi. Aku mengambil ponselku dan mengirim pesan ke Dito, “Dit, kamu baik-baik saja, ‘kan?”

            Tak lama, Dito membalas, “Iya, ini aku sedang di jalan.” Hufftt, syukurlah. Tidak ada yang perlu aku khawatirkan. Aku harus tidur sebentar. Aku tidak mau membuat Shinta marah-marah lagi karena mataku yang terlihat sayu.

            ***

            Alarm di ponselku berbunyi dan aku terbangun. Entah aku yang salah menyetel alarm atau aku yang tidak dengar, yang pasti aku dalam masalah. Lima belas menit lagi siaran dimulai dan aku masih di atas kasur. Gelagapan, aku segera bergegas bersiap-siap dan kembali ke studio.

“Emma, apa yang kamu lakukan?” teriak Pak Ilham.

“Maaf, Pak.”

“Go...go...go...”

“Selamat sore, pemirsa. Bersama saya Emma Emilia, inilah sekilas info.”

“Terjadi kecelakaan beruntun di tol. Reporter kami akan melaporkan dari tempat kejadian perkara.”

“Terima kasih, Emma. Baik, pemirsa, sekarang saya sedang berada di tol, dimana di sini baru saja terjadi kecelakaan beruntun. Diduga mengalami pecah ban, sebuah truk menabrak pembatas jalan dan tergelincir ke jurang. Dilaporkan sebelum tergelincir, truk ini menabrak sebuah sedan yang sedang melaju di depannya. Dari hasil laporan pihak kepolisian, tiga orang mengalami luka-luka dan dua orang lainnya tewas. Korban tewas adalah supir truk yang diketahui bernama Purno dan seorang penumpang sedan bernama Dito. Sekian informasi yang bisa saya sampaikan, kembali ke studio, Emma.”

“Emma...”

“Emma, kembali ke studio.”

“Ah, eh, baiklah pemirsa, demikian sekilas info. Bertemu lagi satu jam ke depan.”

Klik, lampu dinyalakan. Aku ambruk.

***

Aku terbangun dan ada di mess. Shinta berada di sampingku. Kepalaku pusing sekali.

“Emma, kau sadar?”

“Shin, Dito...Dito...” kataku sambil menangis. Shinta memelukku.

“Aku seharusnya mencegahnya pergi.”

“Ini sudah takdirnya, Ma.”

“Seharusnya aku bisa mengubahnya,” isakku. “Shin, bisa kau tinggalkan aku sendiri?”

“Ha, kau benar tidak apa-apa?”

“Ya, aku ingin sendiri.”

“Baiklah, kalau ada apa-apa, hubungi aku,” kata Shinta. Aku mengangguk. Tak lama setelah Shinta keluar, aku mengambil buku catatan misterius di tasku.

“Kalau kau berhasil mencegahnya pergi, aku ingin mengucapkan terima kasih.”

“Maaf, aku tidak bisa menghapus satu penyesalanmu,” kataku tersedu.

***

Hariku terus berlanjut, dengan buku catatan di tanganku. Sudah banyak penyelasan yang berhasil aku hapuskan. Aku mengikuti semua yang dikatakan aku di masa depan, karena aku tidak mau mengulang kesalahan. Seperti saat aku membiarkan Dito meninggal.

“10 April 2017, hari ini Pak Ilham mendatangi meja kerjaku. Aku pikir dia akan menggodaku dan melecehkanku. Jadi, aku berteriak di hadapannya. Dia diam mematung. Kali ini, pastikan kau tenang, Emma. Diam sejenak, tunggu ia berbicara dan jangan menyela.”

Untuk apalagi Pak Ilham menghampiriku kalau tidak mau menggangguku? Sudah kupastikan dia akan menggodaku seperti biasanya. Apalagi dia tahu kalau sekarang aku tidak punya pendamping setelah Dito meninggal. Tapi, karena catatan ini mengatakan aku harus tenang, baiklah.

Ternyata benar, Pak Ilham datang ke mejaku. Aku sudah waspada. Siap melakukan perlawanan sebagai bentuk pertahanan. Tapi kutahan sebisa mungkin.

“Selamat pagi, cantik,” sapanya. Aku hanya tersenyum sedikit. Seperti biasa, dia mulai duduk di mejaku. Mati-matian aku menahan kesabaran. Lama ia terdiam, aku juga diam. Menunggu sesuai perintah catatan.

“Emma...” katanya, “Aihh, bagaimana, ya mengatakannya.” Aku mengernyitkan dahi, curiga. Pak Ilham mencondongkan dirinya ke arahku. Aku refleks berdiri dan menjauh.

“Kemari, ada hal yang harus aku katakan, dan aku tak mau orang lain dengar,” katanya. Aku mendekat sedikit.

“Kau tahu, apa hadiah yang bagus untuk anak perempuan? Anakku besok ulang tahun, tapi aku bingung mau memberi hadiah apa,” katanya. Aku menghela nafas.

“Semua barang sudah dia miliki. Jadi aku harus belikan apa?”

“Hadiah, tak melulu soal barang, Pak. Anda bisa memberinya kenangan. Quality time. Aku tahu anda sangat sibuk. Anda lebih sering di kantor daripada di rumah. Tak ada salahnya mengajak putri anda liburan,”

“Liburan! Sempurna. Emma, kau cantik dan juga pintar,” katanya sambil berlalu. Aku tertawa geli. Andai saja aku tak punya catatan itu, sudah pasti sudah kuteriaki dia di awal tadi.

***

“14 April 2017, kuharap kau bisa menghapus penyesalan terakhirku ini. Sebenarnya ini bukan peyesalan terakhir, justru ini awal dari penyesalan-penyesalan yang lainnya. Jadi kuharap, kau bisa menghentikannya.”

“Entah kenapa, istri Pak Ilham tidak menyukaiku. Mungkin karena pak Ilham sedikit genit denganku. Tapi sungguh, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Kudengar, saat liburan merayakan ulang tahun anaknya, mereka berdua ribut. Istri Pak Ilham bersikeras bahwa Pak Ilham sudah selingkuh. Kabar terakhir, mereka bercerai. Secara tidak langsung bisa kukatakan, aku penyebabnya (walaupun tidak begitu).”

“Setelah kupikirkan matang-matang, aku memilih resign. Kukira dengan keluar, aku jadi terhindar dari semua masalah ini. Ternyata aku salah. Mantan istri Pak Ilham, dengan semua kekuasaannya, berhasil membuatku terbuang. Tak ada satu stasiun televisi-pun yang mau mempekerjakanku. Sekarang aku jadi pengangguran.”

“Berbulan-bulan aku hanya diam di rumah. Aku malas menghadapi kemunafikan dunia luar. Dan karena hal itu, Ibu kepikiran, sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal. Secara tidak langsung bisa kukatakan, aku penyebabnya.”

“Emma, ini penyesalan terakhirku. Aku menyesal telah jadi benalu di rumah tangga Pak Ilham (walaupun sebenarnya tidak). Aku menyesal telah membebani ibu. Aku sangat menyesal. Seandainya saja aku tidak pernah dilahirkan. Hmmm, bukan, andai saja aku mati sebelum Pak Ilham terus-terusan menggodaku, dia dan istrinya pasti takkan ribut. Andai saja aku mati sebelum aku jadi pengangguran, Ibu pasti tidak akan kepikiran.”

“Jadi, Emma, tolong hapuskan penyesalan terakhirku. Pastikan aku mati sebelum aku mengacaukan kehidupan orang-orang di sekitarku.”

“Dari aku, untuk aku.”

Klik, lampu meja kerjaku tiba-tiba mati. Aku terdiam sesaat. Semua pikiran memenuhi kepalaku. Kalau aku tidak melakukan apa yang tertulis di buku ini, akan ada hal buruk yang terjadi. Seperti saat Dito kecelakaan. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi lagi dan aku harus menghentikan penyesalanku di masa depan. Ya, harus.

Aku beranjak dari kasurku, masih membawa buku catatan, berjalan menuju jendela kantorku. “Demi aku di masa depan.” Kemudian aku melayang. Tinggi, tinggi, sangat tinggi. Tak terjangkau.

***

“Sekilas info. Seorang perempuan terjatuh dari lantai tujuh gedung kantor TVN. Di tempat kejadian, di temukan pula buku catatan yang diduga milik korban.  Buku kosong tersebut dibawa oleh pihak kepolisian untuk dilakukan penyelidikan.”


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    3 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Kreatif dan brilian. Meilinda memang belakangan getol bereksperimen dengan ‘time lapse’ dimana cerpennya kali ini benar-benar yang paling berhasil dari sebelumnya. Tak hanya runut mengacak plot, fiksi ini juga mulus mencampurkan alur masa depan dan masa kini sehingga tak ada kesenjangan atau sesuatu yang hilang dari keseluruhan alur yang Mei bangun.

    Fiksi ini berkisah tentang Emma dan surat dari masa depan yang ia terima. Pada awalnya ia kurang mempercayai isi surat tersebut saat tertulis orang yang ia kasihi, Dito, akan meninggal dunia jika Emma tidak mencegahnya. Ternyata benar. Emma tidak mencegahnya lalu Dito tewas dalam kecelakaan. Maka sejak saat itu, Emma percaya isi surat tersebut, bahwa prediksi di dalamnya benar. Lalu ia pun memilih bunuh diri demi mencegah musibah yang akan terjadi pada ibunya gara-gara dirinya. Bagian terakhir fiksi saat pengumuman meninggalnya Emma sebagai lintasan berita membuat fiksi ini total sendu dan tragis. Bagus sekali, Mei!