Lima Dimensi

meilinda dwi pertiwi
Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 April 2017
Lima Dimensi

          “Hei, Peter, kau belum tidur?”

          “Aku harus menyelesaikan pekerjaan kantorku,” kataku. “Kau tahu, aku akan mengambil cuti menjelang hari pernikahanku. Aku harus menyelesaikan ini sebelum itu.”

           “Lihat apa yang kutemukan di gudang,” kata Hans menyodorkan sebuah kotak kecil berdebu.

          “Apa ini?”

          “Entahlah. Ada petunjuknya,”Hans mengambil selembar kertas usang yang terlipat di dalam kotak itu. “Di sini tertulis black hole, leburkan dirimu dan aku akan menunjukkan apa yang ingin kau lihat.”

         “Hah? Maksudnya?”

          “Tekan telunjukmu ke dasar kotak, kau akan berada di ruang lain. Di sana, kau bisa mengajukan pertanyaan apapun, yang jawabannya tak bisa kau dapatkan di bumi.”

         “Di bumi? Jadi maksudmu kita akan tersedot ke planet lain? Cih, omong kosong.”

          “Ayo kita coba.”

          “Sudahlah, Hans, jangan mengangguku. Aku ingin mengerjakan laporan.”

          “Peter, kau bilang kau ragu dengan Maria, apakah dia benar-benar mencintaimu atau tidak? Ayo kita tanyakan pada alat ini.”

          “Aku memang meragukan Maria, tapi aku masih cukup waras untuk tidak bermain konyol seperti itu.”

          “Ayolah, sekali saja.” bujuk Hans

          “Tidak, Hans!”kataku sambil melanjutkan pekerjaan di depan laptop. Aku dan Hans adalah kakak beradik. Aku anak pertama dan Hans anak kedua. Seminggu lagi, Aku akan melangsungkan pernikahan dengan Maria, perempuan yang sudah lima tahun ini menemani hari-hariku.

            Memang, lima tahun bukan waktu yang sebentar untuk saling memahami satu sama lain. Namun menjelang hari pernikahan, sudah bukan suatu keanehan jika akan ada rasa ragu yang menghampiri. Benarkah dia mencintaiku? Benarkah aku mencintainya? Benarkah dia adalah jodoh yang Tuhan kirimkan? Itulah mengapa belakangan aku selalu gelisah dan itulah sebabnya, Hans selalu mencoba memecahkan kegelisahanku. Termasuk melalui kotak aneh yang kuyakin dia sendiri yang membuatnya.

            “Hans, menurutmu, apakah aku dan Maria benar-benar cocok?” tanyaku  masih menghadap laptop.

            “Hans?” tak ada jawaban.

            “Hans?” aku menoleh ke belakang, tapi Hans sudah tidak ada.

            “Cih, diajak bicara malah pergi.” Kataku  melanjutkan pekerjaan. Tapi kemudian aku terdiam dan kembali menoleh melihat pintu kamar.

            “Aku tidak mendengar pintu kamar terbuka. Engsel pintu kamarku sudah karatan dan akan berbunyi berisik jika pintu dibuka.”pikirku. Aku segera beranjak dari tempat dudukku, keluar dari kamar dan mencari Hans.

            “Ibu, apakah Ibu melihat Hans?”

            “Tidak. Kukira dia di kamarmu.”kata Ibu yang sedang menonton tv tepat di depan kamarku. “Mustahil ibu tak melihat kalau memang Hans benar keluar dari kamarku.” Aku kembali masuk ke kamar mencari Hans ke kamar mandi, bawah kasur, dalam lemari, bahkan melongok ke luar jendela.

            “Hans, ini sama sekali tidak lucu.”kataku berharap Hans segera keluar dari tempat persembunyiannya.

            “Ah sudahlah, kalau dia capek, dia akan muncul sendiri.”gumamku kembali ke meja kerja.

            Jarum jam dinding terus berputar maju. Malam makin larut. Aku menyudahi pekerjaanku. Mataku sudah tidak bisa diajak kompromi. Setelah membereskan meja kerja, aku segera merebahkan diri di kasur.

            “Aduh, apa ini?” sesuatu sepertinya tertindih olehku. “Ini ‘kan kotak yang tadi di bawa Hans.” Aku membolak-balik kotak itu. Tidak ada yang aneh. Seperti peti harta karun, hanya saja ini ukuran mini. Aku jadi teringat, Hans belum keluar dari persembunyiannya. Apakah ia tertidur di suatu tempat atau jangan-jangan? Aku mengamati lagi kotak yang aku pegang. Apa kotak ini benar-benar membawa Hans ke planet lain? Aku mengambil kertas petunjuknya, “Tekan telunjukmu ke dasar kotak, kau akan berada di ruang lain.”

            Ragu, aku menekan dasar kotak itu. Lembut seperti ada spons di dalamnya. Kemudian aku bagai tersengat listrik bertegangan tinggi dan bug!!!

            “Peter!”seseorang meneriakiku.

            “Hans!”kataku, “Dimana kita?” kulihat sekeliling. Ini seperti ruangan, tapi tak memiliki dasar, tak juga berbatas, tapi aku merasa disekat.

            “Ini adalah ruang lima dimensi.”

            “Ha?”kataku bingung. “Hans!”teriakku, “Kita melayang?”

            “Yups.”

            “Kita di luar angkasa? Whoaaa!”

            “Simpan kagetmu, Peter, ada hal yang lebih menakjubkan lagi.”

            “Apa?”

            “Hei, semesta, apakah Maria adalah jodoh Peter?”kata Hans. Seketika, kubus-kubus berterbangan disekelilingku, membentuk sebuah dinding. Bak layar di bioskop, dinding itu menampilkan sebuah siluet. Makin lama makin jelas. Seorang perempuan tua duduk di kursi goyang. Pandangannya kosong. Kerutan memenuhi wajahnya, tapi aku bisa mengenalinya. Maria! Sebuah frame kuno di dekapnya. Sesekali di lihatnya foto itu. Matanya seperti sesak menahan tangis. Itu fotoku! Kenapa Maria menangisiku? Mungkinkah saat itu aku sudah meninggal? Ya, tak heran, Maria sudah kelihatan sangat tua, apalagi aku. Mungkin aku sudah sakit-sakitan lalu meninggal.

            Tunggu, ini artinya Maria adalah jodohku. Kami menikah dan tak terpisahkan hingga tua, dan hingga maut merenggutku. Aih, aku bahagia melihatnya. Ternyata aku tak salah pilih. Maria adalah jodohku.

            “Apalagi yang ingin kau ketahui, Peter? Tanyakan saja.”kata Hans.

            “Aku ingin melihat Maria menggunakan gaun di hari pernikahan kami.”kataku. kubus-kubus itu kembali bergerak tak beraturan, kemudian berhenti dan menampilkan siluet sosok perempuan cantik menggunakan gaun yang kami pesan beberapa minggu lalu. Maria sedang berkaca di depan cermin kamarnya.

            “Kau adalah pengantin perempuan tercantik yang pernah kulihat, Maria.” Gumamku. Tak lama seseorang masuk kekamar Maria, “Ayo, Maria.”katanya sambil menuntun Maria keluar dari kamar. Ya, ini adalah saat dimana Maria akan pergi menemuiku yang sudah menunggu.

            “Hans, kaulihat itu? Maria adalah jodohku.”

            “Ya, aku tahu.”

            “Baiklah, sekarang apalagi?”tanyaku.

            “Entahlah, ayo kita coba.”

            “Hans, apakah kita bisa pulang? Tapi tidak ke rumah. Kita ke rumah Maria. Tiba-tiba aku rindu.”

            “Aih, yang benar saja. Menurut petunjuknya, bisa. Kita hanya perlu menekan tombol di gelang tangan kanan dan memikirkan kemana tujuan kita.”

            “Gelang?”tanyaku. aku melirik ke tangan kananku, “Wah, sejak kapan aku memakai gelang ini?”

            “Gelang itu otomatis terpasang ketika kita masuk ke dalam dimensi ini. Alat untuk pulang.”

            “Oh, begitu. Ayo kita coba.”

            “Baiklah.” Aku dan Hans menekan tombol di gelang itu serentak sambil memikirkan rumah Maria.

            Bug!!!

            Sip, ini pintu kamar Maria. Alat ini benar-benar ajaib.

            “Apa tidak apa-apa tengah malam menyelinap di rumah orang seperti ini?”

            “Tenang saja. Lagipula ini rumah calon mempelaiku.”kataku kepada Hans. Pelan-pelan aku membuka pintu kamar Maria. Kulihat Maria duduk di sebuah kursi goyang, membelakangiku.

            “Maria....”

            “Maria, ini aku Peter.”kursi itu berhenti bergoyang. Maria pasti kaget kenapa aku di rumahnya malam-malam begini.

            “Maria...” panggilku lagi. Maria berdiri dan berbalik. Ahhh, dia bukan Maria.

            “Oma, maaf, aku pikir Maria sedang di kamar.”

            “Peter?”  kata perempuan tua itu.

            “Ya, Oma, aku Peter, calon suami Maria. Oma kapan ke sini? Maria tidak bilang kalau Oma-nya datang.”

            “Peter?” mata perempuan itu berkaca-kaca. Kulihat tangannya gemetar memegang sebuah frame foto. Bukankah itu fotoku?

            “Peter, rasanya aku tidak asing dengan semua ini,” bisik Hans di belakangku.

            “Peter? Bagaimana mungkin?” kata Oma.

            “Kenapa Oma?”tanyaku. “Oh, maaf kalau kau terganggu. Ini memang salahku, malam-malam tanpa permisi masuk ke rumah.”

            “Peter, ini aku Maria,” kata perempuan itu.

            “Ma...Maria?” kataku bingung. Aku melihat Hans, dia kelihatan tak kalah bingung denganku.

“Hans, apakah kita kerumah Maria di masa depan? Aku meminta kita kembali ke awal. Tahun 2017. Sebelum aku menikah dengan Maria”

            “Aku juga tidak paham, Peter,” kata Hans.

            “Menikah?” tanya perempuan yang mengaku Maria itu. “Bahkan kita belum menikah, Peter?”

            “Belum?”

            “Ya, kamu menghilang tepat seminggu sebelum hari pernikahan kita. Sore itu kau bilang tidak bisa menemaniku menonton di bioskop karena kau ingin lembur menjelang cuti kerjamu. Malam itu kita tidak jadi nonton, dan pagi harinya ibumu mengabarkanku bahwa kau dan Hans pergi entah kemana.”

            “Aku....aku ke ruang lima dimensi.”

            “Aku pikir kamu menghindari pernikahan kita.”

            “Tidak, Maria.”

            “Kalau tidak, kemana kau selama ini? Kau sudah pergi enam puluh empat tahun tanpa pernah muncul di hadapanku. Selama itu juga aku hanya bisa duduk menantimu, memandangi fotomu. Bukankah itu artinya kau meninggalkanku?”

            “Enam puluh empat tahun? Aku hanya pergi tujuh menit, Maria. Tujuh menit lalu aku masih di kamarku.”

            “Omong kosong macam apa ini?’ tangis Maria.”Dan juga, kenapa kalian berdua tidak menua?”

            “Bagaimana mungkin menua, Maria, sudah kubilang aku hanya pergi tujuh menit yang lalu.” jelasku.

            “Hentikan, Peter! Ahh, aku mungkin sudah gila. Tidak mungkin kau masih semuda ini,” kata Maria kembali duduk di kursi goyangnya.

            “Tapi, aku melihatmu mengenakan gaun pernikahan kita.”

            “Ya, aku sangat berharap bisa memakainya untuk menemuimu. Tapi apa daya, kau tak datang. Aku sengaja memakainya sebelum membakarnya di belakang rumah. Setidaknya sekali seumur hidup, aku tahu bagaimana rasanya mengenakan gaun pernikahan!”

            “Hans, apa-apaan ini?” tanyaku gemetar. Hans terpaku membaca kertas petunjuk.

            “Satu menit waktu bumi sama dengan delapan tahun waktu black hole.

            “Arggghhh, sialan. Kau tak memberitahuku sebelumnya, Hans!” teriakku.

            “Aku juga tidak tahu.”

            “Berarti kita sudah melewatkan enam puluh empat tahun masa hidup kita,”kataku frustasi.

            “Ya, ada harga yang harus kaubayar untuk segala perjalanan ruang dan waktu, dan itu seharga satu fase kehidupan.” Hans kembali membaca tulisan yang tertera di kertas petunjuk.

            “Shit! Kalau begitu ayo kita mundur ke enam puluh tahun lalu.”

            “Peter, kau tahu teori relativitas?” tanya Hans membingungkanku. “Waktu itu relatif, dia bisa memanjang, bisa juga memendek, tapi....”

            “Tapi apa?” tanyaku tak sabaran.

            “Tapi waktu tidak bisa berjalan mundur.”

            “Cihh, aku juga tidak pernah melihat detik di jam tanganku berkurang atau bertambah satu digit. Tapi nyatanya waktu bisa bertambah puluhan tahun. Berarti waktu juga bisa mundur.” Kataku optimis. “Kita coba gunakan gelang ini sa....Hans, gelangku tidak ada?!” kataku panik.

             “Gelangnya sudah hilang. Gelang itu fungsinya sebagai alat untuk pulang, dan sekarang kita sudah pulang.” Hans tertunduk, aku terduduk. Aku menyesali keputusanku tujuh menit yang lalu untuk lebur ke ruang lima dimensi. Bagaimana aku menjalani hidupku sekarang? Haruskah kutekan lagi telunjukku ke kotak itu? Menunggu menit demi menit di ruang lima dimensi dan kembali saat waktuku di bumi habis.

 


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    6 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan yang sekali lagi eksperimen menarik dari Meilinda. Ia kembali memainkan elemen waktu, kali ini secara lebih sedikit rumit. Alur ia buat bercampur antara kenyataan dan dalam ‘mesin’. Lalu tiba-tiba waktu bergulir secara cepat, yang ada bayangan masa depan yang cuma sekian menit dalam alat yang disebut di dalam artikel.

    Pesan tulisan ini pun dalam dan mengambil tantangan orang yang hendak menikah. Ragu-ragu dan kekhawatiran menyelimuti si narator jelang hari bahagianya. Akhirnya ia mengikuti rasa penasarannya terhadap alat tersebut lalu hilang semua kebahagiaan yang sebenarnya tinggal menunggu dia dalam hitungan hari. Pelajaran yang bisa dipetik: berhati-hatilah dengan bisikan hati atau godaan yang belum tentu akan membuatmu senang. Keren lah, Meilinda!