Pukul Tujuh

meilinda dwi pertiwi
Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Maret 2017
Pukul Tujuh

PERSALINAN

            Ando masih terlelap di atas kasur. Selimut tebal dililitkan ketubuhnya demi menekan udara dingin yang seolah ingin memeluk. Ando baru saja pulang dari rumah sakit tadi malam. Ibu mertuanya menggantikannya menjaga Tari, istrinya yang sedang opname. Ando terbangun setelah mendengar adzan Subuh berkumandang.

            “Hooooaaaaam.” Ia meregangkan otot-otot tubuhnya. Rasanya ia lelah sekali. Ia segera beranjak menuju kamar mandi dan mengambil wudhu. Setelah itu ia langsung menunaikan shalat.

            “Ya Allah, berikanlah kesehatan untuk istri dan anak hamba. Lancarkanlah persalinannya nanti. Berikanlah hamba anak yang sehat dan tak kurang suatu apapun. Aamiin.” doa Ando selesai shalat.

            “Aduh, aku lapar sekali. Tidak ada makanan, pula. Masak mie instan saja.” Gumamnya. Ia bergegas menuju dapur dan segera memasak mie. Lumayan untuk mengganjal perut, pikirnya.

            Jam dinding menunjukkan pukul 6:15. Ando masih bersantai di depan televisi dambil menonton acara berita, saat ibu mertua meneleponnya.

            “Ando, kamu bisa ke rumah sakit sekarang? Ibu lupa mau mengantar pesanan baju Bu Nurmala. Mau di pakai nanti jam 8.”

            “Oh, iya, Bu. Saya segera kesana.”

            “Syukurlah kalau begitu. Assalamualaikum.”

            “Waalaikumsalam.”

            Ando beranjak dari duduknya, mematikan televisi, mngunci pintu dan segera berangkat ke rumah sakit menggunakan mobil. Pagi hari, ditambah hari Senin, jalanan kota macet. Ini menjadi hal lumrah mengingat semua masyarakat tumpah ruah menggunakan jaan. Mulai dari orang kantoran, anak sekolah, tukang ojek, ibu-ibu mau ke pasar dan masih banyak lagi. Jadilah Ando kesal sendiri di dalam mobilnya.

            “Haihhh, tahu begini tadi aku berangkat Subuh-subuh.”gumamnya. Sudah duapuluh lima menit berlalu, ia belum juga sampai di rumah sakit. Masih jauh malah. Padahal kalau lancar, perjalanan bisa di tempuh dalam waktu lima belas menit saja. Tak lama Ibu mertuanya menelepon lagi.

            “Ya, halo, Bu?”

            “Ando, kamu dimana?”

            “Masih di jalan. Macet.”

            “Bisa cepet sedikit, ngga? Ini Tari udah mau ngelahirin.”

            “I..iya, Bu. Saya bentar lagi sampai.”

            Telepon dimatikan. Karena arus lalu lintas semakin padat, Ando memilih menggunakan jalan tikus. Memang lebih memutar jalan, tapi setidaknya jalannya lancar. Beberapa menit kemudian teleponnya berbunyi lagi.

            “Ando, istrimu pingsan. Dia gak kuat ngeden. Dia manggil kamu terus.”

            “Iya, Bu bentar. Saya juga udah ngebut ini,” kata Ando, “Aduh jalannya sempit banget, ah bodo lah. Darurat juga.” Lanjutnya.

            “Kamu dimana?”

            “Di jalan, Bu.”

            “Cepat!”

            Telepon dimatikan.

***

SEGELAS KOPI

“Mak!” teriak Udin dari dalam kamarnya. “Maaaak!”

Karena teriakkannya tak bersahut, ia akhirnya keluar kamar mencari emaknya.

“Mak, dipanggilin, bukannya jawab.”katanya saat melihat emak di dapur.

“Apa?”

“Ah elah.”

“Elu, tu, ye, masih pagi udah teriak-teriak aja. Kerja lu sono. Udah tua juga. Sampai kapan lu mau nganggur gini? Mana ada cewek yang mau jadi istri lu!”

“Lhaa, emak masih pagi udah ngomel-ngomel aja. Bikinin kopi napa?”

“Bikin sendiri!”

Udin pergi keruang depan, menyalakan televisi dan duduk tenang disana. Hari masih pagi, ia bisa mendengar tetangganya sedang sibuk mengurus anaknya yang akan berangkat sekolah. Ayam-ayam di pekarangan rumahnya juga sedang sibuk memakan nasi sisa yang diberikan emak. Sementara itu, pembawa berita di televisi sibuk membacakan berita-berita yang satu bulan belakangan ini tak pernah berganti. Itu saja yang dibicarakan.

“Mak, kopi Udin mana?”

“Eh, Din, lu kagak denger gue bilang apa tadi? Bikin sendiri!” teriak emak dari dapur. Udin menghela napas panjang. Dengan enggan, ia menuju dapur dan membuat kopi.

“Lho, Mak, kok kopinya habis?”

“Lu ngerti?”

“Ya elah, Mak, kenapa bisa kehabisan gini?”

“Ya lu taunya ngopi mulu. Sekali-kali lu yang beli sana.”

“Ngomong dari tadi, kek, kalo gak ada kopi.”kata Udin seraya melengos keluar rumah.

“Din, mau kemana, Lu?”

“Pergi.”

“Bocah! Sini, Lu.”

“Beli kopi dulu sana, Mak, baru panggil Udin pulang.”

Udin tak kelihatan lagi punggungnya. Emak masih diam di tempatnya. Rasanya ingin sekali ia memarahi Udin, tapi ia takut Udin akan pergi. Udin satu-satunya keluarga yang ia punya saat ini. Mati-matian ia jaga, walaupun yang terjaga tak menyadarinya.

Dibereskannya masakan yang belum selesai, dikunci pintu rumahnya. Berjalan ia menuju warung, menambah akun hutang dicatatannya. Demi segelas kopi di pagi hari untuk anaknya.

***

TEMPAT PENGADUAN

            “Pagi, Pak Haji!”sapa Imron.

            “Pagi juga. Udah disini aja, Lu?”

            “Iya, Pak Haji. Mau narik, tapi sarapan dulu, dong.”

            “Nih, gorengan baru diangkat. Masih anget.”

            “Siap. Kopi hitam jangan lupa, Pak.”

            “Iya. Gimana kerjaan, lancar?”

            “Alhamdulillah, walaupun yang naik angkot gak sebanyak dulu, tai masih cukuplah untuk hidup sehari-hari.

            “Bagus dah. Jangan ngoyo banget, Lu. Ntar malah sakit.”

            “Wah, wah, pagi-pagi udah rame aja, nih.”

            “Eh, Pak Dedi. Cuma dua orang begini, kok rame.”

            “Suara lu kenceng banget. Jadi keliatan rame. Hahaha.”

            “Kopi, Pak?”

            “Iya, Pak Haji. Yang manis, ya.”

            “Siap, Pak.”

            “Mau ke kantor, Pak?”

            “Iya. Sarapan dulu. Istri lagi kurang enak badan, jadi ngga sempat masak.”

            “Enak, ya, Pak Dedi udah nikah, ada yang nyiapin makan.”

            “Makanya, lu buruan nikah, Im. Jangan narik angkot aja.”kata Pak Haji sambil meracik kopi.

            “Siapa tahu salah satu penumpang lu itu jodoh lu, Im.”tambah Pak Dedi.

            “Lhaa, kita kagak tahu, Pak. Belum waktunya nikah aja mungkin.”kata Imron.

            Imron dan Pak Dedi menikamti gorengan hangat dan kopi hitamnya. Tiba-tiba Udin yang belum membasuh muka, datang dengan tergopoh-gopoh.

            “Darimana, lu, Din?”

            “Dari rumah. Kopi pahit, Pak Haji.”

            “Bentar.”

            “Lu belum mandi, Din?” tanya Pak Dedi.

            “Hehe, belum, Pak.”

            “Gimana lu mau dapet kerja kalo jam segini masih males-malesan. Iler lu tu masih nempel.”

            “Ah, Pak Dedi sama kayak emak gue. Bawel.”

            “Wajar emak lu bawel. Tampang lu minta dibawelin, sih.” Imron ikut-ikutan.

            “Diem, lu. Gue lagi pusing.”

            “Pusing kenape?”

            “Gak ada kerjaan, gak ada pacar. Cuma kopi yang selalu ada dan setia sama gue,” kata Udin. “Tapi sekarang kopi udah mulai mau mengkhianati gue.”

            “Kok bisa?”

            “Kopi di rumah habis, Pak Dedi. Dia ninggali gue.”

            “Eh, Din, mending lu mandi dulu, sana. Biar otak lu beres.”

            “Berisik, lu, Im!” kata Udin ingin memukul Imron. Imron dengan sigap langsung berdiri dan bersiap kabur.

            “Ini uangnya, Pak Haji.  Gue mau narik dulu.”katanya langsung tarik gas.

            “Ya sudah, Pak Haji, saya juga mau berangkat dulu. Udah siang, takut telat. Assalamualaikum.”

            “Walaikumsalam.”

***

MENUNGGU

“Raka, tumben jam segini udah rapi?”

“Iya, Ma. Ada kuliah pagi.”

“Sarapan dulu, nih. Udah mama masakin nasi goreng.”

“Asik, enak nih, kayaknya.”

“Kalo tahu kamu berangkat pagi, tadi barengan Papa. Lha bisanya kamu hari Senin kuliah siang.”

“Iya, Ma. Ini dosen minggu kemarin minta kuliah hari ini ganti pagi aja.”

“Ya, bagus, deh. Kamu jadi bangun pagi.”

“Yahh, si mama.”

“Kamu pulangnya jam berapa?”

“Jam sepuluh udah kelar kok, Ma. Kenapa?”

“Bantuin Mama beres-beres rumah. Hihihi.”

“Hahaha, siap, Ma.”

“Oke. Buruan dihabisin, udah siang, nanti telat, lho.”

“Iya, Ma.” Raka menghabiskan sarapannya dengan lahap. Setelah makananya habis, ia segera berangkat ke kampus.

“Ma, Raka berangkat dulu.”

“Naik apa, Nak?”

“Angkot, Mah. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Raka berjalan ke gang depan dan menunggu angkot di sana.

***

PUKUL TUJUH

            “Aduh jalannya sempit banget, ah bodo lah. Darurat juga.”kata Ando sambil terus memacu kendaraannya dengan cepat di jalan tikus.

            “Untung  jalannya sepi, jadi bisa ngebut.” Ando menambah kecepatan mobilnya. Teleponnya berbunyi lagi. Ia berusaha menggapainya saat emak Ijah tahu-tahu keluar dari salah satu gang sempit. Ando terkejut dan tida sempat menghindar. Mau menghindar kemana juga, jalan ini habis untuk mobilnya.

            “Woi, tabrakan, woi!”

            “Heh, lu gimana sih? Kaga liat di depan sana tanda mobil dilarang lewat sini?” seseorang menggedor-gedor kaca jendela mobil Ando. Ando diam terpaku.

            “Keluar, lu, tong!” teriak yang lain.

            “Panggil ambulans atau apa kek. Ini mak Ijah kasihan.” Seseorang kemudian berlari ke ujung jalan mencoba mencari pertolongan.

            “Stop stop, berhenti!” orang itu menghadang angkot yang lewat.

            “Kenapa, Bang?”

            “Bang Imron? Kebetulan, Mak Ijah ditabrak. Tolong bawa ke rumah sakit, Bang.”

            “Oh, iya iya. Dimana, bawa kesini.” Imron dan orang tadi segera berlari ke tempat kejadian dan membawa Mak Ijah ke rumah sakit menggunakan angkot.

           "Lu jadi kaga narik, Bang?"

           "Biarin, dah, nyawa orang nih."

            Ando sudah keluar dari mobilnya. Ia masih terkejut. Beberapa kali warga yang emosi mendorong tubuhnya. Untunglah Pak RT datang dan mengamankannya ke salah satu rumah warga. Telepon genggamnya terus berbunyi, Ibu mertua tak henti-henti memanggil. Barangkali Tari, istrinya sudah melahirkan, atau belum. Entahlah.

Masih di dalam angkot, Mak Ijah setengah sadar dipangkuan salah seorang warga. Mulutnya terbuka seperti ada yang ingin disampaikan.

            “Apa, Mak?”

            “Ko...ko...”

            “Kenapa? Apa yang sakit? Sabar, Mak, sebentar lagi sampai rumah sakit.”

            “Ko...ko...kopi.”

            “Kopi?”

            “Mak mau kopi? Ampun, Mak, nantilah. Kita obati dulu luka Mak ini, baru nanti kita minum kopi di warung Pak Haji, ya.” Emak hanya diam.

            Sementara Raka, masih menunggu angkot yang menuju kampusnya. Tapi angkot tak kunjung tiba. Aneh sekali, pikirnya. Tak biasanya angkot lama datang seperti ini. Sudah jam tujuh lebih, ia bisa telat sampai kampus. Akhirnya ia memesan ojek online. Sedikit lebih mahal memang, tapi apa mau dikata, daripada telat. Tak lama kemudian ojek yang dipesan datang, Raka meminta driver untuk ngebut. Alhasil tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di kampus.

            “Lho, Put, pada mau kemana?” tanya Raka ketika melihat Putra da beberapa teman lainnya jalan keluar dari gerbang kampus.

            “Pulang, bro!”

            “Lhaa?”

            “Bu Tari gak masuk. Dia lagi lahiran. Tuh pengumuman ada di depan kelas.”

            “Astagfirullah, kenapa gak dari kemarin-kemarin pengumumannya?”

            “Bagian operasional kampus lupa kali. Maklum, mereka juga manusia.”kata Putra. Raka menepuk jidatnya.

            “Bang, mau pulang, gak?” tanya driver ojek yang tadi dinaiki Raka. Ternyata dia belum pergi.

            “Dihh, si Abang bisa bener liat peluang. Bentar gue order lagi.”

            “Siap.”

            “Udah, Bang.”

            “Oke, berangkat! Eh, salah, oke pulang!”

            “Sialan, nih, Abang.”


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    6 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Lagi-lagi Meilinda mencoba menerapkan teknik kepenulisan yang beda dari yang biasa dia lakukan. Kali ini tulisan dia terasa berjalan cepat, semua terjadi pada pukul 7 pagi. Beberapa karakter mempunyai kegiatan berbeda yang sama-sama dilakukan pada jam tersebut. Bak menyaksikan film dengan banyak tokoh dengan kehidupan pribadi berbeda namun pada akhirnya saling menemukan titik temu pada akhir certa.

    Cukup menegangkan, kocak pada bagian dialog Udin dan emaknya. Terasa asli dengan dialek Betawi, lucu namun ada getir sebab tersingkap isu kemiskinan di dalamnya. Walau tak begitu memoles gaya penulis yang biasanya terbaca indah dan ‘berat’ cerpen ini tetap sangat layak dibaca. Dari luar terbaca ringan tetapi banyak pesan berat terkandung. Bagus sekali, Meilinda!