Deja Vu

Deja Vu Deja Vu

            Namaku  Anis. Seorang mahasiswi yang biasa-biasa saja. Tidak terlalu cantik, tidak terlalu pintar,  tidak terlalu kaya dan tidak terlalu manja. Untuk mencukupi kebutuhan makanku yang luar biasa mengerikan, aku bekerja part time di sebuah mini market. Aku mengambil shift sore, dari jam 3 sampai jam 11 malam. Pagi harinya aku kuliah dengan mata panda. Hmm, tak apa. Ini salah saat perjuanganku demi jaminan kenyamanan perut. Hehe.

            Ini sudah masuk bulan Februari, tapi hujan masih rajin mengguyur jalanan. Membasahi atap-atap rumah dan membiarkan dirinya terserap tanah. Memang hujan itu anugerah, tapi aku sedikit banyak kesusahan kalau hujan datang sore hari. Hanya bermodalkan payung dari kos ke tempat kerja, tak jarang aku tetap kebasahan dan hampir mati kedinginan karena tempat kerjaku ber-AC. Tapi, tak apa. Sudah kubilang tadi, ini salah saat perjuanganku demi jaminan kenyamanan perut.

            Jam tanganku menunjukkan pukul 20:00. Tak banyak orang yang mampir kesini karena hujan masih terus turun disertai angin. Orang-orang pasti lebih memilih berada di kamarnya berbalut selimut sambil nonton acara kesayangan. Aku mengambil buku di tasku. Mencoba memahami kata per-kata yang disusun oleh penulisnya. Lusa aku ujian dan aku belum sempat belajar. Haihhh, untunglah hari ini tidak banyak pengunjung, jadi aku bisa belajar. Ternyata hujan itu memang anugerah. Baru dapat beberapa lembar, tiba-tiba ada yang membuka pintu. Aku segera menutup bukuku, berdiri dan menyapanya. “Selamat datang.”

            Laki-laki itu memakai jaket tebal. Kedua tangannya dimasukkan kesaku jaket. Ia juga memakai topi, seperti ingin menutupi wajahnya. Dan topi itu ditutupi lagi dengan hoodie jaketnya. Dia diam saja ketika kusapa. Orang ini mencurigakan. Aku terus mengawasinya lewat rekaman kamera pengawas. Gerak-geriknya membuatku berpikiran yang aneh-aneh. Tak lama, seorang ibu-ibu datang. Fyuhhh, aku merasa sedikit lega. Setidaknya aku tidak sendirian di sini. Aku berharap laki-laki tadi keluar  sebelum si ibu selesai. Tapi aku tersenyum masam, ketika si ibu membawa sebungkus roti tawar ke kasir. Selesai membayar, ibu itu langsung keluar. Aku masih terus mengawasi laki-laki itu lewat monitor di depanku. Sesekali matanya curi-curi pandang ke kamera di sudut-sudut ruangan. Aihh, sungguh menakutkan. Ia terlihat menyambar sesuatu dari rak dan segera memasukkannya ke saku jaket. Kemudian ia berjalan menuju pintu keluar.

            Aku berdiri di balik meja kasir. Tangan kiriku siap menekan panic button yang menempel di balik meja. Laki-laki itu semakin mendekat. Kepalanya menunduk. Kedua tangannya masuk ke saku celana. Apa yang ada di balik saku itu? Pisau? Pistol? Bom? Aihh, terserah saja. Kamu boleh mengambil apapun di sini, tapi jangan sakiti aku. Aku mohon.

            Dia terus berjalan dan berhenti tepat di depan meja kasir. Ia meluruskan pandangannya kearahku. Aku panas dingin. Telunjukku siap menekan tombol di balik meja. Dia melihat ke kamera di pojok atas kasir, kemudian melirik sedikit ke arah pintu keluar. Perlahan, ia mengeluarkan tangan kanannya dari saku. Jantungku nyaris berhenti. Kalau memang aku harus mati sekarang di sini, bagaimana? Aku belum menghubungi orangtuaku sejak seminggu yang lalu karena sibuk kuliah dan kerja. Mereka pasti akan sangat terpukul jika yang datang itu kabar duka. Pak, Bu, maafkan anakmu. Aku memejamkan mata.

            “Cepet, Mbak.”kata laki-laki itu. Aku tersentak kaget dan membuka mata. Dia menyodorkan sesuatu dan meletakkannya di meja kasir. Aku menelan ludah.

            “Mbak, malah bengong. Buruan, nanti kelihatan sama orang.”

            “I...iya, sebentar.” Aku mengarahkan sesuatu itu ke scanner barcode. Laki-laki itu membayar dan segera ambil langkah seribu. Aku terduduk dan masih bengong. Tak lama aku, tertawa sendiri.

            “Aihh, yang benar saja. Aku pikir dia perampok. Ternyata, aihhhhhh.” Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Konyol sekali. Untung aku belum menekan panic button yang terhubung ke kantor polisi terdekat. Kalau iya, aihh entahlah apa jadinya.

            Hujan masih berlanjut. Aku sudah enggan melanjutkan membaca buku pasca kejadian tadi. Fokusku sudah hilang. Aku diam saja mengamati air yang turun secara statis sejak sore tadi.

            “Di dunia ini, ada tidak ya orang yang sama persis denganku? Yang sekarang juga sedang menjaga kasir dan berpikir apa ada orang yang sama dengannya.”kataku dalam hati.

            “Kalau ada, dia dimana ya? Di Jepang? Di Arab? Di India? Di Zimbabwe? Hmmm, siapa yang tahu kalau di ujung dunia sana ada juga yang perilaku, pikiran dan kegiatannya sama persis denganku. Ah, kembaranku sedang apa ya sekarang?”

            “Kalau memang ada, berarti sekarang orang itu juga sedang memikirkanku, dong. Hihihi.”kataku cekikikan. Hmm, kau tau, orang yang kurang tidur dan berpikiran konyol sepertiku, adalah orang yang punya penyakit gila nomor 22.

            Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Teman penjaga shift malam sudah datang. Aku pamit pulang. Sampai di rumah, aku segera tidur, karena besok aku akan masuk shift pagi. Rani yang seharusnya jaga, memintaku untuk bertukar jadwal. Karena hari ini ia kakaknya mau lamaran. Tidak mungkin ia tidak ikut. Aku yang kebetulan tidak ada kelas, mengiyakan tawaran Rani. Daripada tidak ada kerjaan, kan?

            ***

Alarm hp-ku berbunyi. Aku mengaturnya jam 6. Setelah beres-beres dan bersiap, aku langsung berangkat kerja. Sama seperti biasanya, hari ini hujan. Pagi-pagi begini tidak banyak pengunjung datang. Orang-orang pasti sibuk berangkat kerja, sekolah atau bahkan masih mencari kehangatan di balik selimut. Aku mengambil buku di tasku. Mencoba memahami kata per-kata yang disusun oleh penulisnya. Besok aku ujian dan aku belum sempat belajar. Tadi malam hanya baca beberapa lembar saja. Haihhh, untunglah hari ini tidak banyak pengunjung, jadi aku bisa belajar. Ternyata hujan itu memang anugerah. Ehm, tunggu dulu, sepertinya ini bukan bukuku. Aku melihat sampulya. Ya, ini bukan bukuku. Bagaimana bisa ini ada di tasku. Buku siapa yang terbawa olehku? Tiba-tiba hp-ku berdering ada telepon masuk. Eomma.

“Jigeum bakkui nalssiga eottaeyo?”tanyanya

“Biga naerigo, barami bureoyo.”jawabku. Kemudian ada pengunjung yang datang. Aku menyudahi telepon dari Ibu. Tumben sekali ia meneleponku pagi-pagi begini hanya untuk bertanya cuaca. Aku segera mematikan hp dan menyapa laki-laki yang datang, “Annyeong haseyo”

            Laki-laki itu memakai jaket tebal. Kedua tangannya dimasukkan kesaku jaket. Ia juga memakai topi, seperti ingin menutupi wajahnya. Dan topi itu ditutupi lagi dengan hoodie jaketnya. Dia diam saja ketika kusapa. Orang ini mencurigakan. Aku terus mengawasinya lewat rekaman kamera pengawas. Gerak-geriknya membuatku berpikiran yang aneh-aneh. Tak lama, seorang ibu-ibu datang. Fyuhhh, aku merasa sedikit lega. Setidaknya aku tidak sendirian di sini. Aku berharap laki-laki tadi keluar  sebelum si ibu selesai. Tapi aku tersenyum masam, ketika si ibu membawa sebungkus roti tawar ke kasir. Selesai membayar, ibu itu langsung keluar. Aku masih terus mengawasi laki-laki itu lewat monitor di depanku. Sesekali matanya curi-curi pandang ke kamera di sudut-sudut ruangan. Aihh, sungguh menakutkan.

            Tunggu, sepertinya ini tidak asing. Seperti pernah terjadi. Aku mencoba mengingat sesuatu. Ahh, ini seperti kemarin. Ya, baru kemarin kejadian seperti ini. Aku berdiri di balik meja kasir. Tangan kiriku siap menekan panic button yang menempel di balik meja. Tapi kemudian kujauhkan tanganku dari tombol itu. Aku tahu apa yang akan terjadi nanti. Si laki-laki itu akan mengeluarkan “sesuatu” yang kemarin nyaris membuatku mati ketawa. Baiklah, tidak ada yang perlu dicurigai ataupun dikhawatirkan.

Dia akhirnya kembali ke meja kasir. Perlahan, ia mengeluarkan tangan kanannya dari saku. Aku senyum saja menunggu dia mengeluarkan sesuatu. Aku menunduk untuk menyembunyikan tawa yang tak tertahan ketika aku mengigat kejadian kemarin terulang lagi.

            “Ppalli.”teriak laki-laki itu. Aku tersentak kaget dan melihatnya. Dia mengarahkan pistol tepat di depan wajahku. Aku menelan ludah. Kenapa? Kenapa berbeda? Laki-laki itu terus berteriak di depanku. Mataku buram, aku tidak bisa mencerna satu katapun yang ia katakan. Sampai akhirnya, pelatuk dilepaskan. Aku limbung.

            Sebelum napasku benar-benar putus, aku menyadari hal ini. Aku, ibuku dan laki-laki itu berbicara dengan bahasa Korea. Bagaimana mungkin aku bisa bahasa Korea, sementara selama ini aku bekerja di Semarang dan sama sekali tidak menyukai drama atau lagu-lagu Korea. Jangankan mengerti, mendengar saja tidak pernah. Dan, buku yang ada di tasku, bukan buku tentang Ekonomi Makro. Entahlah buku apa, tulisannya pakai alfabet hangeul. Mungkinkah ini adalah kehidupan seseorang yang memiliki perilaku, pikiran dan kegiatan yang sama denganku? Aishh, ternyata kamu di Korea. Sayang, nasib kita tidak benar-benar sama.

 

meilinda dwi pertiwi

Deja Vu

Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 15 Februari 2017
Ringkasan
"Di dunia ini, ada tidak ya orang yang sama persis denganku? Yang sekarang juga sedang menjaga kasir dan berpikir apa ada orang yang sama dengannya?"

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    2 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Meilinda selalu menarik perhatian kami berkat upayanya yang mencoba berbagai tema tulisan, dan yang terkhusus adalah ia getol mencoba menulis dengan banyak teknik. Contohnya tulisan ini dimana dia belajar menerapkan teknik penceritaan yang sesuai judulnya, berulang-ulang dengan banyak kesamaan. Cukup sulit sebenarnya mempraktekkan gaya penulisan seperti ini. Dan Meilinda lumayan sukses menerapkannya.

    Berkisah tentang si narator, Anis, dan pertemuannya dengan seorang pria misterius saat bekerja di sebuah toko, cerpen ini mengisahkan angan si tokoh utama. Ia membayangkan apa yang dilakukan oleh orang yang “sama persis dengan dirinya” yang mungkin tinggal di beda negara. Mengejutkan saat mengetahui bahwa ternyata walau plot di awal sama pada akhirnya dua orang yang mungkin sama ternyata berbeda nasib. Bagus, Meilinda!


  • Trias Abdullah
    Trias Abdullah
    2 bulan yang lalu.
    aiiih ceritanya asik.