Zenith dan Nadir

meilinda dwi pertiwi
Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Desember 2016
Zenith dan Nadir

Ada yang pernah bilang, "Seringkali, kita harus kembali ke titik nadir, meski telah memijakkan kaki di ketinggian."

Bukan karena kita tidak suka dengan ketinggian itu, hanya saja, berada lama di ketinggian bisa membuatmu lelah. Nyatanya, kita butuh jeda untuk berpijak ke bumi, sebelum akhirnya melangit lagi. Kita butuh interval untuk memastikan kita tak salah terbang (lagi). Kita butuh keberanian untuk meyakinkan diri bahwa hati telah siap melayang (lagi). Kita butuh ruang sendiri sebelum akhirnya membuka hati. Dan semua itu butuh waktu. Tak usah terburu-buru.

Maka sekarang, kuizinkan kau membuka ruang antara zenith dan nadirmu. Membumilah, dan ketika kau temukan keyakinan, silahkan terbang lagi.

 ***

Yogyakarta, 26 Desember 2016

Menuju kamu.