Negeri Prayogi

meilinda dwi pertiwi
Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Desember 2016
Negeri Prayogi

Namaku Tita. Aku siswa kelas duabelas di salah satu SMA di Yogyakarta. Aku senang menggambar. Entahlah, aku merasa lebih mudah berbicara lewat gambar daripada bicara langsung. Setidaknya, melalui gambar aku tidak perlu susah-sudah merangkai kata agar dimengerti orang lain.

Sebenarnya aku sudah lama sekali punya niat ingin membuat komik. Tapi, niat tanpa dibarengi kerja, ya tidak akan ada hasilnya. Aku selalu merasa bosan di tengah pekerjaanku, lalu meninggalkannya begitu saja. Di samping bosan, aku juga kurang memiliki waktu luang. Tugas-tugas dari sekolah begitu banyak. Belum lagi bimbel dan les ini-itu menjelang Ujian Nasional. Semua itu hampir membuatku mati berdiri.

Sudah dua hari aku libur semester ganjil. Tidak sampai enam bulan lagi aku akan menempuh Ujian Nasional. Ayah dan Ibu tidak menjadwalkan pergi liburan kemanapun dengan alasan aku harus belajar. Itu tandanya selama liburan ini aku hanya di rumah saja. Aihh, membosankan sekali. Tapi, aku punya ide cemerlang untuk menghilangkan kejenuhanku. Aku membuka laci meja belajarku. Mengambil buku kecil berwarna pink, lalu membukanya. 

"Negeri Prayogi" gumamku membaca tulisan yang ada di lembar pertama buku itu. Aku ingat, dulu waktu kelas sebelas, aku berniat ingin membuat komik tentang dunia lain. Namun karena bosan, aku berhenti mengerjakannya di halaman ketiga.

Halaman pertama berisi judul, halaman kedua ada gambar sebuah pulau, yang tidak akan ditemukan di peta manapun. Aku membuatnya sembarang saja. Halaman ketiga adalah gambar sebuah rumah. Aku jadi berniat untuk melanjutkan komik ini. Aku mengambil pensil dan penghapus, lalu mulai mencoret sana-sini. Entahlah, apa yang aku gambar. Tanganku hanya bergerak sesuka hati. Hanya mengikuti kemana pikiran ini akan membawanya. Setengah jam kemudian, terciptalah sosok anak laki-laki.

"Hmmm, ganteng juga." gumamku. Aku memutar-mutar pensil di tanganku. Berpikir bagaimana alur cerita komik ini. Lama aku terdiam di depan buku itu, dan tak juga kutemukan ide. Aku jadi haus. Tanpa menutup buku itu, aku beranjak dari tempat dudukku, dan berjalan menuju dapur. Aku rasa otakku juga butuh minum agar bisa lancar berpikir. Hehe. Setelah mengambil sebotol air mineral di kulkas, aku kembali ke kamarku. Kulihat bukuku sudah tertutup. Aku ingat sekali tadi tidak menutupnya. Aku segera memeriksa buku itu. Membuka lembar dimana terakhir aku menggambar. Ya, Tuhan! Gambarku hilang.

"Halo." kata seseorang mengagetkanku. Aku menoleh ke sumber suara. Di kasurku, kulihat seorang laki-laki sedang duduk memeluk guling. "Aaaaaaaaaaaaaaaa!" aku berteriak kaget. Sosok itu berlari kearahku, mencoba membekap mulutku. Aku berontak.

"Siapa kau?" tanyaku.

"Lho, kok malah nanya? Justru aku mau nanya kekamu, nama aku siapa?" tanyanya. 

"Jangan bercanda, aku bisa teriak!"

"Aku ini buatanmu!"

"Apaan sih?" aku merasa dipermainkan. "Ib...." belum sempat aku memanggil Ibu, laki-laki itu membungkam mulutku dengan tangannya.

"Kamu benar-benar ga ngenalin aku? Aku yang barusan kamu gambar."katanya. Dheg! Aku tersadar sesuatu, dia begitu mirip dengan tokoh komik yang kugambar tadi. Apa....

"Tidak mungkin!" kataku setelah berontak dan berhasil melepaskan diri darinya.

"Kau lihat gambar di bukumu sudah tidak ada, 'kan? Ya jelas, orang aku di sini." katanya.

"Aku datang untuk tahu siapa namaku. Kau belum memberiku nama." katanya kemudian. Aku menelan ludah. Apakah ini nyata? Aku mendekatinya. Sambil takut-takut, aku mencoba untuk menyentuh tangannya. Terasa hangat. Ia tersentuh olehku.

"Siapa kamu?"tanyaku.

"Lha, malah nanya lagi."

"Maksudku, kamu itu siapa? Orang mana?"

"Sini duduk dulu." katanya sambil menepuk-nepuk kasurku. Aku melotot. Aku menarik kursi belajarku dan duduk di sana.

"Aku tidak tahu siapa namaku. Seperti yang kukatakan tadi, kau belum memberinya tapi kau malah keluar kamar. Aku ini tokoh komikmu."

"Tidak mungkin." sanggahku.

"Ya sudah kalau tidak percaya." katanya sambil merebahkan tubuhnya di kasurku. Dianggapnya kamar ini kamarnya sendiri. Arggghh, aku mencoba mengabaikannya. Sambil terus waspada, aku membuka bukuku dan mencoba menggambar.

"Hidup di duniamu susah, ya." kata laki-laki itu. Aku menoleh ke arahnya, "Susah bagaimana?" tanyaku.

"Ya susah. Kalau mau ngomong bingung karena satu kata bisa banyak arti, tergantung gaya pengucapannya." katanya. "Misalnya nih, kamu ngomong oh ya. Kalau ngomongnya sambil teriak, itu artinya kamu marah. Kalau ngomongnya sambil mengangkat telunjuk, artinya kamu setuju. Kalau ngomong oh ya sambil menepuk jidat, tandanya kamu baru mengingat sesuatu."

"Oh, ya?" tanyaku.

"Nah, kalau bicara sepertimu, artinya kau tidak percaya. Sungguh susah hidup di duniamu."

"Memangnya kalau di duniamu bagaimana?" tanyaku cuek sambil melanjutkan menggambar. Aku mulai terbiasa dengan kehadirannya.

"Kalau di negeriku, kami tidak bicara. Cukup lewat pikiran, semua akan mengerti. Cukup aku melihat matamu, aku akan mengerti apa yang kau inginkan. Jadi, tidak akan ada salah paham." jelasnya.

"Memangnya di negeri mana kamu tinggal?"

"Negeri Prayogi."

"Negeri Prayogi?" kataku sambil mengingat sesuatu. Sepertinya aku familiar dengan kata itu.

"Iya, negeri yang kaubuat." katanya. Ya, Tuhan. Aku melihat ke lembar pertama buku ini, "Negeri Prayogi," aku membacanya. Arggghh, aku bisa gila. Apa-apaan ini?

"Itu apa?" tanyanya. Aku menoleh dan melihat apa yang ditunjuknya.

"Buku-buku pelajaran. Aku sebentar lagi akan ujian." kataku.

"Sebanyak itu? Semuanya kamu pelajari?"

"Ya."

"Di negeriku, setiap anak tidak diwajibkan mengikuti semua mata pelajaran. Mereka di perkenankan memilih pelajaran yang sesuai dengan passion mereka."

"Aku harus tahu banyak hal biar jadi pintar." kataku. Ia mengangguk.

"Lalu ini apa?"

"Buku tulis."

"Buat apa?" tanyanya. Sumpah, apa benar aku telah menciptakan makhluk bodoh seperti dia?

"Ya buat nulislah. Buat nyatet pelajaran."

"Di negeriku, kami tidak pakai buku tulis, karena kami hanya perlu mendengar dan otak akan merekam.  Hanya perlu memikirkan kata kunci saja,  ingatan akan muncul."

"Enak sekali." kataku.

"Iyalah. Tidak perlu capek nulis." katanya. "Kalau ini, apa?"

"Tissue."

"Buat apa?"

"Buat lap ingus." kataku sekenanya.

"Kalau di negeriku, lap ingus ngga pakai tisu, tapi pakai ijazah."

"Ijazah?" tanyaku kaget. "Ijazahkan penting buat cari kerja besok!"

"Di negeriku cari kerja ga pakai kertas, yang penting mau kerja dan ada kemampuan." katanya. Aku menelan ludah. Konsentrasiku benar-benar kacau. Sejak tadi, belum ada gambar yang berhasil kubuat. Aku beranjak dari meja belajar dan menghidupkan televisi.

"Kamu nonton aja. Ini remote-nya." kataku. Laki-laki itu antusias. Aku kembali ke meja belajar dan mengumpulkan semangatku.

"Aih, ini kenapa?" teriaknya. Aku kaget dibuatnya.

"Apa sih?" kataku kesal.

"Itu lho berita ribut-ribut."

"Itu orang-orang yang demo melindungi Tuhannya."

"Melindungi Tuhan? Memang bisa?" tanyanya. Aku mengangkat pundak. 

"Manusia sekecil itu mau melindungi Tuhan yang menciptakan alam yang besar ini?" katanya masih tak percaya.

"Kalau di negeriku, sih, Tuhan ngga butuh perlindungan. Ia bisa melindungi diri-Nya sendiri." katanya.

"Ah, bosan. Aku ganti, ya?" katanya. Aku mengangguk saja sambil melanjutkan menggambar.

"Ini siapa?"

"Itu penyanyi dangdut yang digosipkan selingkuh dengan pembawa acara yang terkenal itu." jelasku.

"Di negeriku, artis-artis tidak ada yang digosipkan begini-begitu, karena warga kami tidak suka bergosip."

"Berarti kau tidak tahu bagaimana asyiknya bergosip." kataku.

"Memang tidak tahu, dan tidak mau tahu." katanya cuek sambil mengganti channel  televisi.

"Wah, banjir!" teriaknya kencang. Kali ini aku benar-benar kaget sampai membuat gambarku tercoret pensil.

"Biasa aja, dong! Memangnya di negerimu ngga ada banjir?"

"Engga ada. Di negeriku, kalau hujan, airnya ditampung dan diproses sedemikian rupa oleh mahasiswa, hingga berubah jadi bahan bakar kendaraan."

"Wow," kataku mulai tertarik. Aku memutar kursiku dan menghadap ke arahnya.

"Di negerimu ada berapa musim? Apa ada salju?" tanyaku.

"Tidak ada. Di negeriku hanya ada dua musim. Musim hujan dan musim hajatan."

"Musim hajatan?"

"Iya. Enam bulan musim hujan, kemudian enam bulan sisanya tidak hujan dan dimanfaatkan warga negeriku untuk melaksanakan berbagai kegiatan. Itulah mengapa kami menyebutnya musim hajatan."

"Apa tidak ada musim kemarau?" tanyaku lagi.

"Tidak. Kemarau malu pada hijaunya negeriku."

"Aku jadi penasaran dengan negerimu." kataku sambil membayangkan bentuk negeri tempat laki-laki ini tinggal.

"Ini apa?" tanyanya menunjuk sebuah frame foto di meja belajarku.

"Bahkan kau tak tahu ini apa?" tanyaku heran. Ia menggeleng.

"Itu fotoku dengan sahabatku, Rina. Dia sudah meninggal setahun yang lalu." 

"Untuk apa foto itu?"

"Ya, kalau aku kangen Rina, aku bisa mengajaknya mengobrol lewat foto itu."

"Memangnya di foto itu ada alat komunikasinya?" tanyanya.

"Tidak ada." kataku sedikit kesal.

"Lalu, bagaimana kau bisa mengobrol dengan temanmu itu?"

"Dia bisa mendengarkanku langsung."

"Kalau bisa mendengar langsung, untuk apa foto ini?" tanyanya membuatku makin kesal.

"Arghhh, tidak tahu." kataku membuang muka.

"Apa aku membuatmu kesal?" tanyanya. Aku menghela napas. Menggeleng.

"Apa di negerimu juga ada yang namanya patah hati?" kataku mengalihkan pembicaraan.

"Tidak. Hati kami bertekstur lembut dan lentur. Tidak akan patah meski diberi luka. Beda dengan hati manusia di negerimu yang keras. Sekali dihantam langsung patah jadi dua." katanya.

"Benarkah? Berarti negerimu tidak pernah bersedih, ya?"

"Siapa bilang? Memangnya sedih hanya karena patah hati saja? Melihat negeri tetangga yang amburadul, negeriku bisa jadi sedih, lho."

"Oh, ya?"

"Nah, sekarang oh ya-mu itu artinya apa?" tanyanya. Aku tertawa mendengarnya. Laki-laki itu ikut tertawa.

"Aku jadi penasaran dengan negerimu. Aku ingin sekali ke sana." kataku.

"Suatu saat nanti, kau pasti akan menemukan negeriku. Atau mungkin malah kau sendiri yang akan mengubah negerimu ini menjadi seperti negeriku."

"Ahh, semoga saja. Ngomong-ngomong, kita belum kenalan. Aku Tita. Salam kenal." kataku sambil menjulurkan tangan. Laki-laki itu menjabat tanganku, lantas berkata, "Salam kenal juga. Tapi aku tidak tahu siapa namaku. Kau belum memberinya di halaman tiga tadi."

Aku tertawa, "Baiklah, kau begitu, kuberi kau nama Satria. Bagaimana? Apa kau suka?"

"Wah, Satria. Nama yang gagah. Terima kasih, Tita."

"Sama-sama."

"Oh, iya. Aku sudah terlalu lama di sini. Aku harus kembali ke negeriku." katanya.

"Baiklah. Titipkan salamku pada orang-orang di negerimu."

"Oke."

"Tapi, bagaimana caranya kau pulang?"

"Hmmm, kau harus keluar dari kamar ini, seperti yang tadi kaulakukan sebelum aku datang."

"Oke. Aku akan keluar. Mainlah ke sini kapanpun kau mau. Kita bisa diskusi tentang apapun."

"Oke." katanya. Aku berjalan menginggalkan kamar menuju dapur. Aku rasa otakku butuh minum agar bisa lancar berpikir lagi. Hehe. Setelah mengambil sebotol air mineral di kulkas, aku kembali ke kamarku. Satria sudah tidak nampak batang hidungnya. Aku duduk di meja belajarku. Buku pink itu sudah penuh dengan gambar tak beraturan.

"Negeri Prayogi dengan tokoh utama bernama Satria yang berkelana ke negeri tetangga. Hmm, bagus juga untuk dibuat komik." kataku sambil meregangkan otot-otoku. Menggambar kadang membuatku lupa waktu. Seperti hari ini, tak terasa dari pagi hingga malam begini, aku terus menggambar. Ahhh, aku butuh tidur. Kututup buku itu lantas melangkah ke kasur. Aku tahu apa yang akan kugambar. Aku tahu kemana alur komikku. Semoga besok pagi semangatku masih sama. Aku harus menyelesaikannya sesegera mungkin.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    11 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Cerpen fantasi yang sarat pesan serius dan terkadang nasionalisme yang sangat asyik dibaca. ‘Negeri Prayogi’ menjadi khayalan si penulis yang cukup menyindir kondisi negara kita saat ini. Dibalut dengan bahasa yang ringan, cerpen ini menyenangkan untuk dinikmati sambil tetap bisa mengambil pesan yang disampaikan. Negeri yang dibicarakan oleh Satria, tokoh buatan Tita, sungguhlah luar biasa untuk ditinggali jika memang benar-benar ada. Penduduknya tidak suka bergosip, tidak suka ribut dan memiliki cara komunikasi yang tidak ribet. Keren imajinasimu, Meilinda!

  • Shanti Agustiani
    Shanti Agustiani
    11 bulan yang lalu.
    Melinda, ide-idemu selalu luar biasa! SALUT!

    • Lihat 4 Respon