Aku Salah

meilinda dwi pertiwi
Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Desember 2016
Aku Salah

Telepon genggamku berdering ketika aku sedang makan malam bersama pacarku. Aku mengeluarkannya dari tas dan melirik layarnya. Begitu tahu siapa yang menelepon, segera kumatikan.

"Siapa, Ya?" tanya Dika, pacarku.

"Andre."

"Andre mantanmu?" tanyanya lagi. Aku mengangguk sambil melanjutkan makan.

"Kenapa ga diangkat?"

"Ga penting. Paling mau ngerecokin aku."

"Siapa tau ada keperluan."

Telepon genggamku berdering lagi. Dika mengisyaratkanku untuk mengangkat teleponnya. Dengan malas, kujawab telepon dari lelaki sialan itu.

"Ada apa?"

"Kamu dimana?"

"Memangnya kenapa?"

"Kamu ngga lagi sama Dika, 'kan?"

"Aku lagi sama dia, dan kamu mengganggu acara kami."

"Kamu harus pulang sekarang."

Klik. Kumatikan teleponya dan segera aku masukkan lagi ke dalam tas. Hhhh. Andre mengganggu saja. Ini bukan pertama kalinya ia mengusikku. Sejak aku memutuskannya empat bulan lalu, hmmmm tidak, tepatnya sejak Dika mendekatiku dua bulan lalu, Andre jadi sering kepo dan ikut campur urusanku. Mungkin ia masih belum terima kalau aku dimiliki orang lain. Aneh.

Pernah waktu itu saat aku sedang menunggu Dika di depan kampus, Andre tiba-tiba menghampiriku dan menarik tanganku agar ikut bersamanya.

"Aya, kamu harus ikut aku."

"Apaan sih, Ndre. Jangan macem-macem!"

"Kamu baiknya nurut sama aku."

"Kamu lupa, kita udah putus? Ngapain aku nurut sama kamu." kataku sambil mencoba melepaskan genggaman Andre. Namun genggamannya semakin kuat. Kemudian Dika datang dan segera melepaskan genggaman Andre kepadaku. Syukurlah.

"Apa-apaan kamu megang-megang cewekku?"

"Kamu jauh-jauh dari Aya!" teriak Andre.

"Sadar, Bro. Kamu itu cuma mantannya. Jangan sok ngatur-ngatur."

BUKK! Andre memukul pipi Dika. Aku kaget dan panik.

"Andre! Apa-apaan sih kamu?" kataku.

"Ya, mending kamu pulang sama aku sekarang."

"Nggak. Pergi sana. Pergi!!!" teriakku. Andre akhirnya pergi. Dika di belakangku memegangi pipi kirinya yang terlihat sedikit memerah. Sudut bibirnya berdarah.

"Mantanmu psikopat?" tanya Dika sambil tertawa.

"Mungkin." kataku ikut tertawa. "Ayo, ikut aku. Aku obatin dulu, berdarah tuh."

"Siap, Boss!"

Tak hanya itu, Andre juga pernah memaksa masuk ke toilet perempuan di sebuah pusat perbelanjaan karena mau menggangguku. Saat itu aku sedang menemani Dika mencari sepatu futsal. Dika memang suka bermain futsal. Aku juga sering menontonnya bermain setelah pulang kuliah.

Waktu mencari sepatu itu, entah kenapa aku seolah merasa ada orang yang mengikuti kami berdua. Tapi setelah dicek tidak ada siapa-siapa. Aku berpikir mungkin hanya perasaanku saja. Dika bertanya kepadaku kenapa aku celingkukan.

"Enggak, hmm, cuma nyari toilet aja. Kebelet. Hehehe." kilahku.

"Oh, itu toiletnya di sana." tunjuk Dika. "Sana kalo kamu kebelet. Daripada pipis di celana." kata Dika. Aku memukul lengannya pelan.

"Kamu tunggu sini, ya. Jangan kemana-mana."

"Iya. Gih."

Aku masuk kedalam toilet. Hhhh, mungkun aku terlalu banyak pikiran, pikirku saat itu. Aku mengeluarkan lipstik dari tas dan mengaplikasikannya ke bibirku.

Brakk! Tiba-tiba terdengar sesuatu dari luar.

"Andre!!!!!!" teriakku.

"Kamu harus ikut aku." kata Andre sambil berbisik.

"Ngapain kamu? Ini toilet cewek."

"Dengerin aku, kamu ga seharusnya..." omongan Andre terputus ketika dari bilik paling ujung seorang perempuan keluar membawa tasnya dan siap memukuli Andre.

"Dasar mesum!" teriak perempuan itu. Andre kabur dibuatnya. Aku bersandar di dinding dan mengatur napas.

"Mbak gak diapa-apain, 'kan?"

"Enggak, Mbak. Makasih ya. Kalo gak ada mbak tadi, gatau deh gimana."

"Sama-sama, Mbak. Hati-hati sekarang banyak psikopat berkeliaran."

"Iya, Mbak."

"Ya sudah, saya duluan, ya. Mbak hati-hati."

"Iya, Mbak. Sekali lagi terima kasih." 

Perempuan itu keluar dari toilet. Aku masih bersandar dengan lemas. "Sepertinya Andre memang psikopat yang berencana berbuat macam-macam denganku." gumamku. Aku segera merapikan kemejaku dan kembali menemui Dika.

***

"Si Andre masih sering menghubungi kamu?" tanya Dika setelah aku menutup teleponnya.

"Engga, sih. Itu juga gak pernah aku jawab."

"Ah, masa?"

"Kamu ga percaya sama aku?"

"Percaya ga ya?"

"Ihhh, apaan sih. Udah belom makannya? Pulang yuk."

"Okedeh, ayo kita pulaaaaaaaaang." kata Dika sambil tersenyum senang. Duhh, aku dibuatnya jatuh cinta setiap kali melihat senyumnya.

"Kamu tunggu di sini dulu. Aku mau bayar."

"Oke."

Dika berjalan menuju kasir. Aku duduk sambil menikmati jalanan yang terlihat dari dalam.

"Psssssttt...."

"Psssssstttt...."

"Pssssstt...."

Aku menoleh ke sumber suara. Andre! Aku langsung berdiri. Di meja yang berjarak lima langkah dari mejaku, Andre duduk mengenakan jaket dan menutup wajahnya topi. Ia menbentangkan koran dihadapannya.

"Sssstt, tenang. Aku gak mau ngapa-ngapain. Cuma mau ngasih ini." kata Andre sambil menunjuk lipatan kertas di atas meja Andre.

"Kamu harusnya ikut aku." bisik Andre.

"Gila kamu." kataku. Andre langsung mengangkat korannya dan berpura-pura membaca ketika Dika memanggilku.

"Ayo, sayang, kita pulang."

"Ayo." kataku. Ketika melewati meja Andre, aku ragu apakah akan mengambil kertas itu atau tidak. Aku melirik Andre yang juga melirikku. Kusambar lipatan kertas itu dan segera kumasukkan dalam saku.

***

Di perjalanan pulang, kami kehujanan. Meskipun sudah mengenakan jas hujan, tetap saja Dika kebasahan. Aku menawarkannya untuk mampir ke rumah. Dengan sedikit memaksa, aku menariknya masuk ke dalam rumah. Hujannya deras sekali. Aku khawatir akan berbahaya jika nekat menerobos hujan menggunakan motor.

"Nih, pakai baju kakakku." kataku sambil menyerahkan sebuah kaos oblong.

"Aku boleh sekalian numpang buang air besar, ga?"

"Gak boleh!"

"Lhaa?"

"Ahahaha, iya iya. Tau kan dimana kamar mandinya. Kalo udah buruan kesini. Aku bikinin teh dulu."

"Oke."

Dika masuk ke kamar mandi sedangkan aku ke dapur membuat dua cangkir teh hangat. Aku berharap aku dan Dika akan segera menikah dan tinggal serumah. Aku akan membuatkannya sarapan, menyiapkan pakaian, menemaninya lembur. Aihh, aku sudah tidak sabar.

Aku kembali ke ruang tengah. Dika belum keluar dari kamar mandi. Sepertinya perutnya sakit karena tadi makan pedas. Padahal sudah aku peringatkan. Dasar bandel.

Aku menyeruput tehku pelan-pelan. Lalu aku teringat sesuatu. Aku mencari jaketku dan merogoh kantongnya. Surat dari Andre. Apa, ya, isinya? Perlahan kubuka lipatan kertas itu. Ini tulisan tangan Andre. Ada-ada saja ulah lelaki itu.

"Jakarta, 2000

Hati. Hatiku terluka ketika kau putuskan aku. Aku tahu ini memang salahku, mengabaikanmu saat kau ada. Mengacuhkanmu saat kau setia. Hingga kini kau pergi, aku terabaikan.

Hati. Hatiku perih ketika tahu kau sudah ada yang punya. Secepat itukah aku terlupa?

Di depanmu mungkin aku terlihat gila. Ya memang benar aku gila. Gila karena cinta. Aihh, bodohnya.

Ada sesuatu yang aneh ketika aku melihatmu bersamanya. Sesuatu dalam dadaku. Aku rasanya ingin sekali membunuh lelakimu.

Psikopat barangkali kau memanggilku begitu. Aku psikopat? Haa? Aku?

Ingin sekali aku kembali ke masa lalu. Masa dimana kita masih menyatu. Masa dimana kita kau tak ragu bermanja denganku.

Melukaimu. Tapi aku tahu aku telah melukaimu. Mengabaikanmux mengacuhkanmu. Maafkan aku."

Aku menghela napas panjang. Apa-apan ini. Apa maksudnya? Laki-laki itu sepertinya memang sengaja mau mengusikku karena belum terima putus denganku. Hhhh, aku harus menyembunyikan kertas ini. Kalau di baca Dika, bisa gawat.

Aku melipat kembali kertas itu. Tapi, gerakanku terhenti ketika kutemukan ada tulisan kecil sekali di sudut kertas itu. Aku harus mendekatkan mataku kekertas agar bisa membacanya.

"Baca kata pertama dari setiap paragraf!"

Glek! Aku menelan ludah. Apalagi ini? Andre benar-benar gila. Kubuka kembali kertas itu dan kubaca kata pertama dari setiap paragrafnya. Aku lemas. Aku merasa tulang-tulang dalam tubuhku hilang begitu saja. Perlahan, kulihat depanku. Dika pacarku, berdiri di sana. Tangannya di belakang memegang sesuatu. Ia menyeringai. Mati aku.

 

 

  • view 230