Anomali

meilinda dwi pertiwi
Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Desember 2016
Anomali

Aku terbaring di atas kasur di sebuah ruang gelap dan bersekat. Di pergelangan tangan kananku dipasang infus. Belasan kabel yang tak kuketahui gunanya, tersusun menyesakkan dadaku. Pundak bagian kananku nyeri sekali, seperti ada yang menghantamnya dengan benda keras. Mataku terbuka sedikit. Tak ada yang bisa kulihat di ruangan gelap ini selain tubuhku sendiri. Samar-samar, sesosok wanita datang mendekatiku. Hanya siluetnya yang terlihat olehku, tapi aku tahu itu Ibu. Wanita itu mendekatiku tanpa bicara sepatah katapun. Dipandanginya aku lama. Tatapannya tajam menyayat persendianku. Tubuhku semakin ngilu. Beberapa menit ia hanya mematung di sampingku. Aku tahu, ada kecewa dalam wajah tuanya. Aku mengerti, ia ingin teriak memaki diriku. Ingin sekali ia menampar kedua pipiku. Rasanya ia tak mau mengakuiku sebagai anak yang telah dididiknya duapuluh tahun. Tapi ditahannya semua itu. Ditenggelamkannya amarah dalam kesabaran. Dirangkulnya rasa kecewa dan ia menggenggam tanganku, masih dalam diamnya.

Aku merasakan kulitnya bergesekan dengan kulitku. Rasanya masih sama. Hanya saja, tangannya makin keriput. Selain itu, semuanya masih sama. Tak ada yang berubah. Ia menghangatkanku lewat sentuhannya. Genggaman tangannya menentramkan hatiku. Selalu begitu. Sama seperti tigabelas tahun yang lalu, saat ia menggandengku. Mengajakku jalan-jalan ke pasar malam. Waktu itu, aku dan Ibu duduk di sebuah kursi di depan gerobak arum manis. Ibu duduk diam menikmati suasana malam, sedang aku di sebelahnya memandang takjub keramaian itu.

"Bu, itu apa?" tunjukku kesebuah rumah yang ramai di kerumuni orang-orang.

"Itu rumah hantu." kata Ibu.

"Rumah hantu?" aku bergidik ngeri.

"Lihat, ada hantu berjubah hitam di sana."

"Kenapa orang-orang malah ke sana, Bu?"

"Itu hanya hantu mainan, Sayang. Rumah hantu itu bagian dari pasar malam ini. Kamu mau kesana?"

"Nggak. Aku takut."

"Masa jagoan ibu takut?" goda ibuku. Aku tersipu malu.

"Bu, hantu itu ada atau tidak?" tanyaku kemudian.

"Hantu yang seperti apa?"

“Memangnya hantu itu ada berapa?”

“Hantu itu ada dua. Pertama, yang seperti di rumah hantu itu. Tapi ibu tidak tahu persis. Ibu belum pernah melihatnya.”

“Yang kedua?” tanyaku.

“Yang kedua, hantu berwujud iblis yang tinggal di hati manusia.”

“Iblis di hati manusia?”

“Ya. Di setiap hati, ada iblis yang sangat jahat. Tapi, iblis itu terkurung. Barangsiapa yang tetap menjaga hatinya, iblis itu tak akan muncul. Sebaliknya, orang yang tidak mampu menjaga hatinya, maka iblis akan terbebas dan menghitamkan hatinya.”

“Bagaimana cara menjaga hati, Bu?”

“Lakukanlah sebanyak mungkin kebaikan. Kalau kamu terus berperilaku baik, maka hatimu akan bersih dari iblis dan hidupmu akan selamat. Ati suci marganing rahayu.”

“Ati suci marganing rahayu.” ucapku kemudian.

“Kamu harus mengalahkan mereka.” kata Ibu.

“Mengalahkan siapa, Bu?”

“Iblis di hatimu. Nanti, ketika ibu meninggalkanmu, pasti mereka mendatangimu. Pasti.”

“Kenapa?” tanyaku mulai takut.

“Mereka semua sudah membuat rencana. Mereka pasti akan mendatangimu dan mengajakmu pergi bersama.”

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Jangan ikuti mereka. Ingatlah Ibu dan selalu ucapkan ati suci marganing rahayu ketika mereka mendekatimu.” kata Ibu. Aku menatapnya dengan mata berkaca. Ibu lantas memelukku.

“Kalau kau besar nanti, jadilah penyelamat untuk setiap rasa sakit. Jangan jadi anak buah iblis yang malah memberi rasa sakit. Sayangi semua orang. Anggap mereka adalah satu-satunya orang yang kaupunya di dunia ini.” Ibu memelukku erat. Aku mengangguk. Kulirik rumah hantu di ujung sana. Rasanya malam ini seperti gelap sekali.

***

Ibu masih berdiri di samping tempat tidurku. Tangannya masih menggenggam tanganku. Sesuatu menetes di punggung tanganku. Ibu menangis. Aku membiarkannya saja. Biarkan dia menangis sepuasnya, aku takkan menghentikannya. Biar ia keluarkan semua beban dalam hatinya. Ibu sudah terlalu tua untuk memusingkan kelakuanku. Biarlah ia menangis dan biarkan tubuhku makin ngilu melihatnya. Tak apa, lagipula memang ini salahku. Aku mengingkari janjiku pada ibu tigabelas tahun lalu. Janji untuk menjadi penyelamat dari rasa sakit dan janji untuk tidak menjadi anak buah iblis. Hari ini, aku mengingkarinya. Aku malah memberi rasa sakit pada ibu, juga pada anak kecil itu.

Tadi pagi, aku berjalan sendirian di jalan desaku. Aku sedang pusing sekali. Warung kopi tempat biasa aku bekerja akan tutup. Itu artinya aku akan jadi pengangguran. Tak hanya itu saja, minggu lalu aku membeli handphone keluaran terbaru punya temanku. Bekas memang, tapi masih bagus. Aku membelinya secara kredit. Kalau aku jadi pengangguran, aku mau melunasinya pakai apa? Mau cari pekerjaan lain, tidak ada. Jangankan untuk aku yang hanya tamatan SMA, di desaku puluhan sarjana hanya diam di rumah dan menatap nanar ijazah yang selama ini mereka perjuangkan. Aku benar-benar pusing.

Saat sedang berjalan itulah aku berpapasan dengan anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahun. Dia anak Pak Herman, orang kaya di desaku. Iblis yang selama ini terpagar dengan kata-kata ati suci marganing rahayu, kini menerobos keluar dari hatiku. Aku menarik tangan anak kecil itu ke sebuah jalan buntu. Aku membekap mulutnya dengan tanganku agar dia tidak berteriak.

“Bang, ampun, Bang.” katanya sambil menangis.

“Sssttt, diam!” bentakku. Demi melihat aku yang kesetanan, anak itu diam menunduk. “Sini uangmu!”

“Ngga ada, Bang.”

“Bohong. Sini!” kataku sambil mencengkram erat lengannya. Dia menangis tertahan.

“Sini tasmu atau kamu aku bunuh!”

“Jangan, Bang. Ampun.” katanya sambil menyerahkan tas berwarna merah jambu. Aku membuka tas itu dan mengeluarkan semua isinya. Kotak nasi, botol minum, buku pelajaran, buku tulis, kotak pensil, dan tidak ada uang sama sekali. Aku berang.

“Mana uangmu?” bentakku.

“Aku udah bilang tadi, aku ngga ada uang, Bang.” tangisnya. Aku merogoh paksa kantong baju dan roknya. Benar-benar tidak ada. Kesal, aku menendang perut anak itu, hingga ia terlempar ke belakang.

“Woi!” seseorang berteriak. Aku menoleh. Pak Agus dan Mang Diman tetanggaku berlari kearahku. Aku berlari menjauh. Tapi aku lupa, ini jalan buntu. Mati aku.

“Woi, jangan kabur!” Pak Agus sudah dekat sekali denganku. Kemudian, brukkk, tubuhku dihantam tubuh Pak Agus. Mang Diman dengan gerakan cepat langsung menendang dadaku. Berkali-kali. Aku tak berkutik. Mendengar ada ribu-ribut, beberapa warga mendekat.

“Dia mau memperkosa Putri, anak Pak Herman.” kata Mang Diman. Aku tersentak. Belum hilang kagetku, tiba-tiba sebuah tinjuan mendarat di pipi kananku. Aku mencoba bangkit dan kabur, namun seseorang menghantam pundak kananku dengan balok kayu. Aku roboh, tendangan dan pukulan itu masih ada. Makin banyak, makin brutal, makin tak terasa.

Entah siapa yang membawaku kesini. Begitu sadar, aku sudah ada di ruangan ini. Di pergelangan tangan kananku dipasang infus. Belasan kabel yang tak kuketahui gunanya, tersusun menyesakkan dadaku. Pundak bagian kananku nyeri sekali. Sungguh, aku menyesal sekali telah membiarkan iblis itu merdeka di dalam hatiku. Seandainya tadi pagi aku ingat Ibu, mungkin iblis tak akan memakan habis kebaikanku. Aku bukan lagi penyelamat dari rasa sakit. Aku pemberi sakit itu sendiri.

Aku menutup mataku yang tadi terbuka sedikit. Sekarang semuanya benar-benar gelap. Gelap yang tak biasa, seperti saat suatu malam di pasar malam. Tangan ibu masih menggenggam tanganku. Rasanya sekalin kuat saja. Kencang sekali. Tanganku diremasnya. Tapi detik berikutnya genggaman itu mengendur. Semakin halus, semakin tak terasa dan hilang. Ibu tak lagi menggenggam tanganku. Aku membuka mata. Benar, tanganku tak lagi dipegang Ibu, bahkan Ibu sudah tida ada di samping kasurku. Bola mataku menyusuri ruangan gelap ini. Di pojok dekat pintu, aku melihat Ibu sedang berdiri berdua dengan seseorang. Seseorang dengan jubah hitam.

“Kau tak akan pernah bisa mengalahkanku.” kata orang berjubah hitam itu pada ibu. Ibu hanya diam saja.

“Ayo, cobalah terus memenjarakanku dalam hatimu. Tapi, perlu kau tahu, aku adalah bom waktu yang kapan saja bisa menghancurkan hatimu. Hahahaha.”

“Pergilah, kau, iblis! Tobatlah pada Tuhan.” teriak Ibu.

“Sudah ribuan kali kau menyuruhku bertobat, tapi apa, kau tak pernah bisa membuatku melakukannya. Tak akan pernah bisa.”

“Terkutuklah kau!” kata Ibu sambil menangis.

“Jangan halangi aku. Ini memang tugasku. Biarkan aku memainkan bagian ini. Kau hanya perlu lihat dan dengarkan.”

“Tidak! Tidaaaaaak!” ibu histeris. Orang berjubah itu berjalan mendekat kearahku. Ibu mencoba mencegahnya, tapi orang itu malah melempar ibu ke luar ruangan. Aku ketakutan setengah mati. Tidak ada siapa-siapa lagi di sini. Hanya kami berdua.

“Si...siapa kau?” tanyaku terbata-bata.

“Halo, Nak. Aku adalah apa yang ada di hatimu.”

“Tidaaaaaaak. Tidak mungkin.”

“Teriaklah yang keras, Nak. Teriak sampai semua orang mendengarmu. Tak bosankah kau hidup dalam ketidakpedulian orang-orang?”

“Pergi. Jangan dekati aku!”

“Pergi katamu? Aku ini bagian darimu. Bagaimana mungkin aku bisa pergi.”

“Bunuh saja aku. Biar mati sekalian iblis dalam hatiku!” teriakku sambil terisak.

“Sayangnya, walaupun kau hancur dan kalah, iblis dalam hatimu akan tetap hidup dan berkembang. Terus berkembang sampai tidak ada lagi kebaikan yang terlihat di muka bumi ini.”

“Iblis terkutuk!”

“Baiklah, cukup bincang-bincangnya. Ini saatnya kita bermain .”

“Apa maksudmu?” tanyaku panik.

“Aku tak perlu menjelaskannya. Tapi sebelumnya, aku mau mengucapkan maaf, karena ini akan sedikit sakit.” kata orang berjubah itu. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Diusapnya lembut pipiku. Sangat lembut. Kemudian dengan gerakan cepat, diangkatnya tubuhku hingga berdiri. Kabel-kabel di dadaku copot. Napasku jadi sesak, pundakku sakit sekali.

“Bergabunglah dengan kami. Ketempat dimana kau akan kekal.” Katanya sambil memelukku erat. Kuat sekali.

“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!” teriakku. Kemudian semuanya menghilang. Aku ditelan iblis dalam hatiku. Meninggalkan sebait mantra yang terlupa, “ati suci marganing rahayu.”


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    11 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Nilai jual tulisan ini adalah memasukkan filosofi bijak “atining suci marganing rahayu’, yang kemudian menjadi ide dasar bagaimana alur cerita mengalir begitu apik, pilu sekaligus berbunyi nyaring. Kreator Meilinda Dwi Pertiwi mengangkat kisah yang sangat mengharu biru tentang tantangan seorang anak manusia mengalahkan sifat jahat pada dirinya sendiri, yang sebenarnya potensi itu ada pada setiap anak Adam.

    Sang tokoh utama akhirnya kalah akibat terdesak oleh kebutuhan hidup hingga akhirnya berujung menjadi korban massa. Menarik dialog imajinatif yang ia lakukan bersama sang ibu yang telah mewanti-wanti agar bisa menjaga diri secara baik. Lalu ada pula percakapan dengan malaikat maut jelang kematiannya yang menjadikan cerita ini cukup ‘ngeri’ sekaligus bisa jadi pelajaran penting buat siapa pun yang membacanya. Dahsyat, Meilinda!