Catatan Desember

meilinda dwi pertiwi
Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Desember 2016
Catatan Desember

13 Desember 2015

Dear diary, tiga hari lagi waktu itu akan tiba. Waktu yang aku tunggu sejak dulu. Tiga hari lagi Rozy akan menikahiku. Ya, Rozy satu-satunya lelaki yang bisa membuatku jatuh cinta setiap hari. Satu-satunya lelaki yang membuatku selalu merindukannya bahkan saat dia ada di sampingku. Ahh, Rozy betapa aku mencintainya.

Aku dan Rozy berpacaran sejak aku kuliah semester dua dan dia semester enam. Kami dipertemukan lewat senja di kampus tercinta. Senja dimana Rozy serius menjelaskan tentang ekonomi makro dan aku mendengarkannya dengan kagum. Rozy asisten dosen. Hampir sepanjang semester itu dia yang mengisi pertemuan, karena dosen pengampu mata kuliah itu sedang cuti sakit. Rozy telah berhasil membuatku jatuh cinta pada ekonomi makro sekaligus, uhmmm, dia.

"Jadi, mekanisme harga itu adalah suatu proses gaya tarik menarik antara produsen dan konsumen yang bertemu di pasar sehingga muncul harga." Jelas Rozy.

"Kalau proses tarik menarik antara aku dan kamu yag bertemu di kampus sehingga muncul rasa, itu mekanisme apa?" kataku, dalam hati tentunya. Aku masih cukup waras untuk tidak bertanya hal bodoh seperti itu. Di akhir perkuliahan, Rozy meminta nomor hp ketua kelas untuk mengabari kalau-kalau suatu hari ia tidak bisa hadir. Dan ketua kelas itu adalah aku. Ya, Tuhan, aku yakin ini bukan kebetulan.

Awalnya memang percakapan kami di sms memang tentang perkuliahan, namun seiring waktu berjalan, sms itu berubah jadi suatu bentuk perhatian. Aku dan Rozy semakin dekat. Perhatiannya, kebaikkannya, kedewasaannya makin membuatku tergila-gila. Aku sering minta diajarkan oleh Rozy dan dia dengan senang hati mengajariku. Sebenarnya aku sudah paham materi ekonomi makro. Aku hanya pura-pura tidak mengerti agar bisa selalu mendengar suaranya. Suara yang berhasil buatku jatuh cinta, lagi, dan lagi. Jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama. Aih, Rozy, betapa aku mencintainya.

***

Senja jingga di kampus tercinta. Sudah sepi, hanya beberapa mahasiswa yang terlihat lalu lalang. Di dekat lapangan basket, di atas bangku kayu di bawah pohon yang daunnya mulai menguning, kami duduk berdampingan. Matahari bersinar dari sisi kanan kami. Daun-daun yang kering berjatuhan, bergedek memunculkan suara yang menabah kesyahduan senja kali ini. Kutatap Rozy di sampingku. Akankah cintaku bersambut? 

"Dik, aku mau ngomong." Rozy membuka pembicaraan.

"Ya?"

“Aku tidak tahu ini apa. Aku tidak tahu rasa ini apa, Rozy diam. Aku hampir semaput menahan napas. Yang aku tahu, setiap di dekatmu, aku merasa hidup. Aku merasa tidak sendirian, Dik." Lanjutnya. Aku tersenyum.

"Dik, maukah kau menjadi sumber cintaku? Jadi faktor kebahagiaanku?" tanya Rozy. Kalau saja situasinya sedang tidak menegangkan seperti ini, aku sudah tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat Rozy. Pemilihan katanya aneh sekali.

"Maksud, Mas?" aku pura-pura tidak paham. Lagi.

"Kita udah lama sama-sama. Aku mau kamu jadi pacar aku. Apa kamu bersedia?"

"Aku..."

"Katakan, Dik!"

"Sabar dong, Mas. Ini juga lagi mau ngomong," kataku dalam hati. "Iya, aku mau, Mas." Jawabku mantap. Aku tersenyum.

Senja itu, aku merasa jadi orang paling beruntung di dunia. Aku tak takut pada apapun. Bagaimana mungkin aku merasa khawatir menghadapi dunia, kalau di sini, di sampingku, ada orang yang selalu melindungiku. Orang yang selalu buatku nyaman dan selalu berhasil membuatku tertawa. Sunggguh aku merasa istimewa.

***

14 Desember 2015

Dear diary, dua hari menjelang hari kebahagiaanku, hari suciku, hari keramatku, hari keberuntunganku mungkin. Semoga. Aku masih tidak percaya sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri. Akan jadi pendamping hidup Rozy yang amat sangat aku sayangi. Padahal rasanya baru kemarin kami kenalan. Baru kemarin pacaran seperti anak SMA. Sekarang kami sudah mau mengikrarkan janji suci dan saling bertanggung jawab atas janji yang telah, sedang, dan akan terucap. Aku akan jadi seorang istri.

Aku jadi ingat, dulu Rozy pernah berjanji. Janji yang sampai sekarang masih kuingat dan akan terus kuingat. Janji yang buatku bertahan untuk sabar saat kami sedang bersitegang. Janji yang buatku percaya, bahwa pilihanku ini benar.

"Mas, lihat bulannya. Cantik banget."

"Dik, nanti aku mau bikin rumah di sana."

"Dimana?"

"Di sana!" Rozy menunjuk bulan.

"Mana bisa."

"Bisa dong. Nanti aku mau bikin rumah di bulan. Rumah kedua. Kalau nanti di suatu pagi salah satu di antara kita pergi, kita akan bertemu di sana."

"Maksudnya?" kali ini aku benar-benar tidak paham.

“Ternyata kau tidak hanya bodoh di ekonomi makro. Tapi juga bodoh pada hal-hal romantis seperti ini." ejek Rozy. Aku mencubit lengannya. Ia meringis.

"Dik, aku janji, apapun yang terjadi aku ga bakal ninggalin kamu, andai emang aku harus meninggalkanmu, aku tak akan melupakanmu," Rozy diam sebentar. "Tunggu aku datang ke rumahmu bersama orang tuaku." Katanya mantap. Aku tersipu.

"Bantu aku untuk tetap terus berdiri menunggumu di muka rumahku, Mas." Kataku sambil menggenggam tangan Rozy. Malam ini semua terlihat terang. Semua terlihat jelas. Aku paham kemana harus melangkah. Aku tahu kemana tujuan terakhirku.

Malam semakin larut. Bintang mulai bermunculan semakin banyak. Bulan kian terang. Hatiku kian bahagia. Aku tak ingin mengakhiri semua ini. Biarlah semua tetap begini. Aku dan Rozy bergandeng tangan menikmati pesta sang bulan. Tenggelam dalam hembusan angin yang sejukkan pikiran. Tiba-tiba ada rasa takut dalam benakku. Aku takut kehilangan Rozy. Ahh, betapa aku mencintainya.

***

15 Desember 2015

Dear diary, satu hari lagi menjelang hari pernikahanku. Jantungku berdegup kencang setiap kali membayangkannya. Satu-satunya yang terlintas di benakku kini bukan lagi Rozy, tapi Mama. Perempuan yang dengan hebatnya merawatku dari kecil hingga sebesar ini. Sebentar lagi Mama akan melimpahkanku kepada lelaki pujaanku. 

Aku bisa dibilang anak mama. Tidak bisa tidur nyenyak kalau tidak di samping Mama. Tapi aku harus belajar. Bagaimanapun, aku akan jadi istri Rozy dan itu berarti saat malam, bukan lagi Mama yang kulihat terakhir kali dan bukan lagi Mama yang kulihat pertama kali. Yang akan kutemukan adalah suamiku, Rozy. Dia yang akan menemani malam panjangku, bukan lagi Mama.

Aduh, Mama, besok anakmu ini akan jadi istri orang, Ma. Aku takut, sedih, cemas, haru, senang, ahh gado-gado. Bagaimana kalau besok acara tidak lancar? Bagaimana kalau besok tiba-tiba aku sakit? Bagaimana kalau besok Rozy diare? Bagaimana kalau besok mati lampu? Bagaimana kalau besok banjir? Jalan macet? Angin topan? Gempa bumi? Tanah longsor? Tsunami? Kiamat? Bagaimana kalau besok antara aku atau Rozy ada yang berubah pikiran? Bagaimana kalau aku tiba-tiba ragu? Bagaimana? Bagaimana? Ahh, sudah-sudah. Hari ini aku harus tenang. Aku harus amat sangat tenang. Aku tidak boleh panik. Tidak boleh gelisah. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang. Tenang!!!!

NB: Mungkin ini tulisan terakhirku. Malu, dong nanti masa sudah menikah masih nulis diary. 

***

16 Desember 2015

Hari yang aku tunggu tiba. Hari yang hanya akan terjadi sekali seumur hidupku. Kulihat sudah ramai orang berdatangan. Ada teman-teman, saudara dan tetangga. Ada Mama dan Rozy beserta keluarganya. Mata Mama terlihat sembab. Mungkin tadi malam Mama menangis karena haru anak tunggalnya akan segera menikah. Di seberang sana, kulihat Rozy, calon suamiku. Rozy benar-benar menepati janjinya untuk datang kerumahku bersama kedua orang tuanya. Ia mengenakan setelan jas lengkap. Wajahnya tegang dan kaku. Aku tahu, dia pasti sangat gugup menghadapi hari besar ini. Rozy, aku ingin sekali berlari memelukmu. Betapa aku mencintaimu.

Detik-detik berlalu. Waktu yang ditunggupun tiba. Semua orang bersiap-siap. Semua terlihat tegang. Akupun begitu, tiba-tiba diliput rasa tak karuan. Perlahan, tubuhku di masukkan ke dalam liang lahat. Papan-papan mulai diletakkan, menutupi pandanganku. Ini kali terakhir aku melihat Rozy, sampai akhirnya tumpukkan tanah benar-benar menimbun tubuhku di lubang ini. Sempurna menutup semua pandanganku. Sampai bertemu di bulan, Mas.

***

Rozy masih mematung dengan tatapan kosong. Wajahnya kian kaku menatap gundukan tanah di hadapannya. Di sana, terbaring sang kekasih yang pergi meninggalkannya di hari pernikahan mereka. Sebelum Rozy sempat mengucap ijab kabul, sebelum Rozy menghalalkan hubungan mereka yang telah terjalin selama lima tahun, Fitri dilarikan ke rumah sakit karena penyakit kanker otak yang dideritanya. Lama Fitri mencoba bertahan melawan penyakitnya itu. Namun di hari pernikahannya, ia tergenggam juga oleh takdir kematiannya. Rozy masih terdiam. Tangan kanannya memegang buku berwarna ungu. Itu buku diary Fitri.

"Ternyata buku ini benar-benar jadi tulisan terakhir kamu, dan ternyata kamu benar-benar tenang di hari pernikahan kita, Dik. Tunggu aku di rumah bulan kita."

Rintik hujan membasahi tanah. Semakin lama, semakin deras. Sederas air mata Rozy yang kehilangan sang pujaan hati. Semoga bulan benar-benar menyediakan rumah bagi Fitri untuk menunggu calon suaminya datang.