Kokkuri-san

meilinda dwi pertiwi
Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 November 2016
Kokkuri-san

"Bu... Ibu!" aku berteriak memanggil Ibu. Andi, adikku berulang kali mengetuk pintu rumah namun tak ada jawaban. Aku berjalan ke pintu samping dan mencoba membukanya. Ternyata pintunya tidak dikunci.

"Andi, lewat sini." teriakku pada Andi yang masih mengetuk pintu di depan.

"Apakah ibu sedang tidur?" tanya Andi.

"Entahlah, ayo kita masuk. Kakak sudah kangen sekali dengan Ibu." kataku seraya melangkahkan kaki kedalam rumah. Andi mengikutiku. Liburan sekolah kemarin, aku dan Andi memutuskan untuk mengunjungi rumah Mbah Uti di Klaten, Jawa Tengah. Aku meyakinkan ibu jalau membawa motor sendiri dari Jogja ke Klaten tidaklah membahayakan. Itu bisa ditempuh dalam waktu satu jam saja. Akhirnya ibu mengizinkanku dan Andi pergi sendiri. Tiga minggu kami tinggal di rumah Mbah Uti. Sebenarnya kami masih punya waktu satu minggu lagi, tapi entahlah, aku merasa semacam ada panggilan agar aku kembali ke rumah hari ini. Mungkin karena aku sudah rindu ibu. 

Aku mencari ibu di kamarnya, tapi aku tidak menemukannya. Jendela kamarnya juga tertutup. "Mungkin ibu sedang arisan dan menutup jendelanya agar tidak ada orang mengintip ke dalam rumah."pikirku. Aku membuka jendela itu. Huh, sedikit susah. Pengaitnya seperti berkarat. Ada-ada saja.

"Ibu." panggil Andi dari luar kamar.

"Ibu tidak ada. Mungkin sedang arisan. Biasanya, 'kan hari minggu ibu arisan sama ibu-ibu kompleks."

"Ah, bisa jadi."

"Ayo kita lihat kulkas, barangkali ada makanan."

"Iya, aku lapar sekali, Kak." kata Andi sambil berjalan menuju dapur.

"Mungkin ibu sedikit kelelahan mengurus rumah besar ini sendirian. Lihatlah, lantainya belum disapu. Habis makan, kita beres-beres, oke?" kataku. 

"Aihh, kulkasnya kosong. Apa ibu tidak menyiapkan makanan untuk kita?" kata Andi kesal. Aku menengok ke dalam kulkas. Hanya ada sebotol air mineral. Aku mengambilnya. 

"Airnya tidak dingin. Mungkin kulkasnya rusak, makanya ibu tidak menyimpan makanan di sini." kataku sambil mencari makanan di lemari biasa ibu menyimpan mie instan. Aku menemukan tiga bungkus mie dan segera memasaknya.

Tak lama, hujan turun. Aku membawa dua mangkuk mie ke ruang tengah, tempat dimana Andi sedang menonton.

"Wah, kakak emang kakak paling hebat sedunia. Hujan-hujan begini asiknya memang makan mie. Hmmmm." kata Andi. Aku mengusap rambutnya. 

"Ndi, kenapa kursinya basah?"kataku menunjuk kursi di kiri Andi. Andi menoleh. Aku melihat langit-langit. "Bocor!" teriakku, "Cepat ambil baskom."kataku. Andi segera ke dapur mengambil baskom besar.

"Tumben sekali."gumamku. Setelah meletakkan baskom di kursi, aku mengambil mangkuk mie-ku dan melahapnya. Begitu juga dengan Andi.

Hari semakin sore. Hujan tak kunjung reda. Malah semakin deras disertai angin dan petir. Andi beringsut mendekatiku.

"Aku takut."

"Tenang saja, kita aman di rumah."

"Kak, bagaimana ibu pulang hujan gini?"

"Nanti juga reda."

"Kita ngapain sekarang? Aku bosan. Padahal aku sudah semangat sekali menceritakan pengalaman kita sama Mbah Uti.

"Bagaimana kalau kita bermain game saja?"

"Game apa?" tanya Andi antusias.

"Kokkuri-san." kataku.

"Apa itu? Aku baru dengar."

"Itu adalah permainan dari Jepang. Mirip jailangkung. Jadi, kita bisa bertanya apapun kepada makhluk halus lewat media kertas."

"Ah, aku tidak berani."

"Ayolah, ini mengasyikan daripada hanya diam saja."

"Aku tidak mau!"

"Baiklah kalau kamu tidak mau, kakak akan meninggalkanmu di sini sendirian."

"Kakak mau kemana?"

"Aku akan ke kamar dan mengunci pintunya dari dalam." aku mengancam.

"Hmm, baiklah, aku akan ikut bermain. Tapi apakah aman?"

"Tenang saja, kita hanya akan mengobrol dengan mereka."

"Baiklah, bagaimana cara bermainnya?"

"Kamu tunggu di sini. Kakak mau ambil kertas dulu."

"Oke."

Aku masuk ke kamarku lalu mencari kertas dan pensil. Setelah mendapatkannya, aku segera kembali ke ruang tengah. Sebenarnya aku belum pernah bermain ini, aku hanya membacanya di sebuah artikel di internet. Menurut penulisnya, permainan ini bisa membuat arwah Kokkuri-san datang dan berbicara dengan yang memainkannya. Berbekal ingatanku, aku segera mempersiapkan peralatannya. Aku menggambar sebuah garis sederhana seperti gerbang kuil atau dalam bahasa Jepang disebut torii di bagian tengah atas kertas. Konon, gerbang kuil itu akan menjadi jalan bagi Kokkuri-san untuk masuk kepermainan ini. Sisi kiri gerbang itu aku tulis kata YA sedangkan sisi kanannya aku tulis TIDAK. Kata tersebut akan dipakai oleh Kokkuri-san untuk menjawab permintaanku: apakah ia ingin bermain atau tidak. Kemudian di bawahnya aku menuliskan huruf dari a sampai z dan angka dari nol sampai sembilan. Kokkuri-san akan menjawab pertanyaanku dengan menunjuk satu persatu huruf itu menggunakan koin. Dalam permainan sebenarnya, huruf yang dipakai adalah huruf hiragana, tapi aku menggantinya agar aku mengerti.

"Andi, kamu punya uang koin?"

"Tidak, Kak. Uangku kertas semua."

"Kita butuh sesuatu mirip koin untuk memainkan permainan ini."

"Kak, pakai cincinmu saja."

"Ahh, iya benar juga. Baiklah, mari kita mulai."

"Kak, apa tidak apa-apa? Bagaimana kalau hantunya akan mengikuti kita seumur hidup?"tanya Andi was-was.

"Sudah tenang saja. Setelah ini selesai, kita akan membakar kertasnya. Jadi Kokkuri-san tidak bisa datang lagi, karena gerbang kuilnya sudah terbakar." kataku. 

Aku duduk menyila di depan kertas. Andi duduk berseberangan denganku. Jujur, aku sedikit deg-deg-an juga. Hujan makin deras, langit malam makin gelap. Aku menarik napasku dalam-dalam. Andi memperhatikanku dengan cemas. Kuletakkan cincin tepat di atas gambar gerbang kuil dan kutekan dengan telunjukku. Aku mengisyaratkan Andi untuk meletakkan telunjuknya juga. Dengan takut-takut, ia meletakkan jarinya di atas jariku. Permainan siap dimulai.

"Ah, tunggu sebentar." kataku lantas berjalan kearah pintu.

"Kenapa?" tanya Andi. Aku yakin dia kaget sekali.

"Pintu harus buka. Menurut artikel yang kakak baca, pintu rumah harus dalam keadaan terbuka agar arwah Kokkuri-san bisa masuk." kataku menjelasnya. Andi terlihat menelan ludah. Aku kembali ke depan kertas dan meletakkan jari ke cincin diikuti Andi.

"Bagaimana caranya?"tanya Andi.

"Aku akan memanggilnya. Kokkuri-san, Kokkuri-san, Kokkuri-san. Apakah kau ada di sini?" 

Cincinnya tidak bergerak sama sekali. Tidak ada tanda-tanda sesuatu yang hadir. Aku menulanginya, "Kokkuri-san, Kokkuri-san, Kokkuri-san. Apakah kau ada di sini?" masih belum juga. Kami melepaskan telunjuk dari cincin.

"Mungkin Kokkuri tidak mau datang. Mager. Yang benar saja, dari Jepang ke Jogja, 'kan jauh." kata Andi. Aku tertawa mendengarnya. Andi juga tertawa. Tiba-tiba cincinnya bergerak, membungkam tawa kami.

"Kak...." Andi melirikku takut.

"Yess, berhasil!" ucapku girang. Cincin itu bergerak menunjuk huruf demi huruf. Aku menyuruh Andi mencatatnya.

"Kamu siapa" Andi membaca susunan huruf yang ditunjuk oleh cincin itu.

"Hah?" aku bingung.

"Ini tidak sama dengan jailangkung, Kak. Kalau jailangkung, kita yang bertanya pada hantunya. Kalau ini, hantunya yang bertanya pada kita."

"Oh, ya?" kataku masih bingung. "Baiklah, mari kita jawab." kataku sambil mengarahkan cincin ke huruf-huruf itu membentuk kata Lina dan Andi. Tak lama cincin itu bergerak lagi.

"Apa kau mau menjawab semua pertanyaanku" baca Andi.

Aku menggerakkan lagi cincin itu membentuk kata "tentu".

Cincin bergerak lagi, "Bagaimana kalian bisa mati"

Dheg! Apa-apaan ini? Aku dan Andi berpandangan bingung. Seharusnya kami yang bertanya seperti itu. Dengan takut-takut aku menggerakkan lagi cincinnya, "Apa maksudmu"

Cincin kembali bergerak, "Lina dan Andi kami sudah selesai kalian bisa pulang ketempat asal kalian"

Aku segera mengarahkan cincin itu ke kata TIDAK di sebelah kanan gerbang kuil. Jantungku berdetak cepat sekali. Andi gemetaran. Tiba-tiba dari gambar gerbang kuil muncul api. Entah darimana datangnya. Api itu akhirnya membakar habis kertas permainan yang kami buat.

***

Tiga orang laki-laki berusia sekitar tujuh belas tahun berlari terengah-engah dari dalam sebuah rumah. Ketiganya kelihatan sangat ketakutan. Mereka terus berlari hingga sampai ke sebuah angkringan di perempatan jalan.

"Pak, es teh tiga." kata salah satu dari mereka. Penjual mengangguk sambil membuat es teh.

"Ahhh, aku takut sekali."

"Mereka cepat sekali datangnya."

"Mungkin karena kita memanggilnya di rumah mereka sendiri."

"Aku yakin arwah mereka, siapa namanya tadi?"

"Lina sama Andi kalau ngga salah."

"Ya, Lina sama Andi. Aku yakin sekali mereka marah."

"Mungkin mereka tidak suka ditanya sebab kematiannya."

"Mereka tidak mau pulang, apakah ini aman untuk kita?"

"Tenang saja, kita sudah membakar kertasnya."

"Ngomong-ngomong, rumahnya kotor sekali, ya. Pengap, lagi."

"Ya jelas, sudah tiga tahun dibiarkan kosong. Ibu pemilik rumah itu pindah segera setelah kedua anaknya meninggal."

"Hmmm, aku makin penasaran kenapa mereka bisa meninggal." 

"Monggo, es tehnya." kata penjual di angkringan.

"Terima kasih, Pak."