Untuk Perempuan yang Doanya Enggan Dikabulkan

meilinda dwi pertiwi
Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 November 2016
Untuk Perempuan yang Doanya Enggan Dikabulkan

Aku Arif, mahasiswa semester lima di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Aku jauh-jauh merantau dari Bengkulu untuk menimba ilmu di kota pelajar ini. Aku kuliah jurusan Akuntansi, tapi hobiku adalah menulis puisi. Merangkai kata menjadi sekuntum prosa yang wangi adalah keahlianku.  Setiap aku mengunggah puisi di blog, puluhan komentar bertebaran beberapa menit setelahnya. Puisi-puisiku juga rutin terpajang di mading kampus. Terakhir, puisiku dimuat di majalah sastra terkemuka di Indonesia. Teman-temanku bilang, aku salah jurusan. Aku menepisnya. Kubuktikan aku tak hanya lihai menyusun kata, tapi juga pandai menyusun laporan keuangan. Setiap semester, aku nyaris mendapat nilai A untuk setiap mata kuliah. Tak pernah ada satupun perlombaan Akuntansi yang aku lewatkan, dan tak pernah sekalipun aku pulang tanpa membawa piala penghargaan. Siapa yang tidak kenal aku? Arif mahasiswa Akuntansi yang pintar berpuisi, yang dengan kelembutan kata-katanya mampu meluluhkan hati gadis manapun. Arif, mahasiswa yang paham betul, mana yang harus di debit dan mana yang wajib di kredit, antara sajak dan senja. Arif yang begini, Arif yang begitu.

"Rif, acara Bulan Bahasa pendaftarannya mulai minggu depan."kata Putra, teman kost-ku. Kebetulan ia adalah panitia yang menyelenggarakan acara Bulan Bahasa di kampusku.

"Iya, tenang aja, aku pasti daftar."

"Hmmm, kalau kamu ikut, sudah ketebak siapa yang menangnya."

"Lha terus gimana?"tanyaku bingung.

"Kamu ngga usah ikut. Ahahaha." 

"Enak aja, 'kan lumayan kalau dapat satu juta. Tenang, nanti kamu kecipratan, kok."

"Iya, sih, tapi bosen aja, tiap tahun selalu kamu yang menang. Kayak nggak ada progress."

"Ya tugasmu, dong sebagai mahasiswa Sastra dan Bahasa Indonesia untuk menciptakan generasi yang puitis. Hahaha."

"Halah, opo kui?"

"Ngomong-ngomong temanya apa?"tanyaku.

"Bebas."

"Asyik, soalnya kalau ditentuin temanya, aku susah nulis."

"Kamu beneran mau ikut?"kata Putra sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Ya iyalah. Udah ah, aku mau jalan-jalan dulu."

"Mau kemana?"

"Nyari inspirasi. Demi satu juta, tidak ada santai-santai."kataku lantas keluar dari kamar. Putra menepuk jidatnya.

Sore ini Jogja diguyur hujan. Tidak deras memang, tapi cukup membuat orang-orang enggan keluar rumah. Senja dan aroma hujan membuat ribuan kata memberontak ingin keluar dari pikiranku. Begitu banyak cerita tentang senja di hatiku. Aku seolah tak pernah kehabisan kata untuk mendeskripsikannya. Tapi kali ini, aku tidak mau berpuisi tentang mereka. Aku ingin hal lain. Sesuatu yang belum pernah kutulis. Apa, ya?

"Ngeteh dulu, Mas."kata seorang nenek ketika aku melintas di lapak jualannya. Lapaknya kecil saja. Hanya meja kecil di pinggir jalan yang di atasnya ada toples berisi gula, teh dan kopi, serta termos berisi air hangat.

"Hujan-hujan gini enak yang anget-anget, Mas."katanya lagi. Antara kasihan dan benar-benar ingin meminum teh hangat, akhirnya aku berhenti di lapak nenek itu, "Teh angetnya satu, ya, Mbah."

"Nggih."

Nenek di depanku ini sudah tua. Keriput terlihat jelas di wajahnya. Rambutnya putih semua. Di usia senjanya, ia masih berjualan hingga senja. Kasihan sekali.

"Mbah, udah lama kerja begini?"tanyaku.

"Lumayan, udah tujuh tahunan."kata nenek itu sambil menyeduh teh.

"Wah, lama juga, ya. Emang untungnya banyak, Mbah?"

"Ya, tidak, Mas. Sehari laku lima gelas saja sudah untung."katanya. Aku menelan ludah.

"Lha, kalo untungnya sedikit, kenapa ngga nyari kerjaan lain aja, Mbah?"

"Mbah udah tua. Mau kerja apa, Mas. Susah." katanya. Aku mengangguk setuju.

"Ini tehnya."

"Makasih, Mbah,"kataku. "Mbah tinggal dimana?"lanjutku.

"Deket sini, Mas. Itu di belakang masjid."kata nenek itu sambil menunjuk masjid di seberang jalan.

"Oh, iya nama saya Arif, Mbah."kataku memperkenalkan diri.

"Panggil saja saya Mbah Juminten."

"Mbah Juminten di rumah tinggal sama siapa?"

"Sendirian, Mas. Anak saya udah lama menikah trus ikut suaminya ke Bandung. Kalau suami saya sudah lama meninggal."

"Oh, anaknya sering pulang ke Jogja?"

"Boro-boro pulang, ngabarin saja ndak pernah."kata Mbah Juminten dengan raut wajah sedih. Aku jadi tidak tega dan mengubah topik pembicaraan.

"Ini dagangannya punya Mbah sendiri apa jualin yang orang, Mbah?"

"Punya sendiri, Mas. Saya beli dulu di warung, baru dijual."

"Oh, gitu."

"Tapi kadang kalau lagi susah, ya ngutang dulu di warung."

"Bayarnya?"

"Kalau laku, ya langsung saya bayarkan. Kalau tidak, ya siap-siap saja telinga saya panas diomelin. Hehehe."kata Mbah Juminten sambil tertawa. Aku bingung mau ikut tertawa atau tidak.

"Sebenarnya dulu hidupku ngga begini, Mas."katanya. Aku mengernyitkan dahi tak mengerti.

"Sepuluh tahun lalu, suami saya kerja sebagai mandor yang berhasil membangun puluhan gedung di Jogja. Kami berkecukupan secara keuangan. Sampai seorang kawan menjatuhkan suami saya. Membuat suami saya tidak dipercaya orang lagi."katanya sambil menyeka air mata. Aku diam mendengarkan.

"Kawan kami itu bilang suami saya korupsi biaya pembangunan gedung. Dari uang korupsi itulah suami saya bisa membeli rumah. Padahal, Mas, uang buat beli rumah itu adalah uang yang tiap hari kami kumpulkan sedikit demi sedikit sejak pertama kami menikah. Kami difitnah."kata Mbah Juminten terisak.

"Tega sekali kawan kami itu."

"Mereka percaya?"tanyaku.

"Iya, mereka memakan bualan itu bulat-bulat. Kawan kami itu menunjukkan banyak sekali lembaran berisi angka-angka. Entahlah, memang karena kami bodoh, kami tidak tahu permainan ini. Suami saya tidak pernah kuliah tinggi-tinggi. Dia bisa dapat jabatan karena bos-nya suka dengan semangat dan etos kerja suami saya."terang Mbak Juminten.

"Lalu setelah itu bagaimana?"

"Suami saja tidak lagi dipercaya. Ia dipecat dan jatuh sakit setelahnya. Tiga tahun ia hanya bisa tertidur di kasur. Semua hilang dalam sekejap. Jabatan itu, uang itu, kepercayaan itu, semuanya mengkhianati kami. Sampai akhirnya ia meninggal dan meninggalkan saya beserta anak perempuan saya. Kami benar-benar kehilangan semuanya saat itu."cerita Mbah Juminten. Matanya kembali berkaca-kaca.

"Kamu kenal orang yang baru saja membangun mall di Jogja?"tanya Mbah Juminten tiba-tiba.

"Tidak, Mbah. Kenapa?"

"Dia itu kawan kami. Kawan yang merampas segalanya dari saya. Sekarang dia sedang berbahagia."kata Mbah Juminten tersenyum sinis.

"Mbah tau darimana?"

"Sejak suami saya meninggal, saya tidak pernah berhenti mencari tahu tentang dia. Sekarang saya tahu, dia sedang di atas awan."

"Hmmm, kalau dipikir-pikir kenapa, ya, orang jahat itu selalu dapat apa yang ia inginkan. Sedangkan orang yang baik minta ampun, kadang hidupnya susah sekali. Tidak adil."kataku. Kalimat itu muncul begitu saja dari mulutku.

"Awalnya saja juga berpikir ini tidak adil. Hmm, Mas, mau denger cerita?"tanyanya. Aku mengangguk saja.

"Allah menugaskan malaikat untuk menangkap doa-doa manusia, lantas membawanya kepada Allah. Suatu ketika, seorang hamba Allah yang jarang sekali beribadah dan selalu menyakiti orang lain datang berdoa. Setelah selesai berdoa, malaikat membawa doa-doa itu kepada Allah dan berkata, "Ya Allah, hambamu yang suka menyakiti hati orang lain datang berdoa. Apa Kau akan mengabulkannya?"

"Kabulkan saja."kata Allah. 

"Tapi, hamba-Mu yang ini sangat jahat."

"Biar saja. Kalau dia mendapatkan apa yang dia inginkan, pasti dia berhenti berdoa. Itulah yang aku mau. Aku tidak suka mendengar suara hambaku yang hatinya penuh kebusukan."

Kemudian doa itu dikabulkan. Tak lama, seorang hamba yang rajin beribadah dan baik hatinya berdoa kepada Allah. Malaikat membawa doanya, dan berkata, "Ya Allah hamba yang tidak pernah terlambat shalat dan suka membantu tetangga, datang berdoa. Apakah Kau akan mengabulkannya?"

"Dia meminta apa?"

"Dia ingin agar keluarganya hidup berkecukupan."

"Buat dia kekurangan."

"Tapi, ya Allah, hamba ini baik sekali pekertinya."

"Justru itu, aku ingin dia terus berdoa kepadaku. Aku ingin dia terus meminta kepadaku. Aku tidak ingin  mengabulkan permintaannya sekarang. Aku ingin mendengar suaranya. Aku senang dengan suara hambaku yang baik hatinya."

"Baiklah, ya Allah."kata malaikat seraya melaksanakan apa yang diperintahkan Allah padanya. Dibuatnya hamba itu selalu kurang pendapatanya, selalu tak cukup untuk makan, sehingga tiap selesai shalat, berlinang airmata hamba itu mengadu pada Tuhannya."Mbah Juminten bercerita panjang lebar. Aku terdiam. Bukan karena tak mengerti, tapi karena ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.

"Mas, Rasulullah pernah bersabda, jika kalian melihat Allah memberi seorang hamba kenikmatan dunia yang diinginkannya sementara ia melakukan maksiat, maka ketahuilah sesungguhnya itu cuma istidraaj  atau pancingan."kata Mbah Juminten.

"Pancingan?"tanyaku.

"Ya, semacam ujian, apakah dia akan terlena atau teringat dengan dosanya."

"Terlena menganggap Allah mendengar semua doa-doanya?"kataku kemudian.

"Ya, Allah berfirman, maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa."jelas Mbah Juminten. "Sejak tahu itu, saya jadi takut kalau doa saya dikabulkan, jangan-jangan karena saya orang jahat. Saya jadi berprasangka baik sama Allah dan lebih senang kalau doa saya tidak dikabulkan. Karena dengan begitu, berarti Allah sedang mendengarkan saya berbicara."kata Mbah Juminten. Aku menaikkan sebelah alisku. Aneh saja dengan pernyataan Mbah Juminten.

"Duh, saya jadi ngomong banyak banget."katanya sambil tertawa.

"Ngga apa-apa, Mbah. Saya malah senang bisa tukar pendapat sama Mbah."

"Mas, sudah gelap, nih. Saya mau pulang dulu. Mas masih mau nongkrong di sini?"

"Hmmm, ya, Mbah, saya juga mau pulang."kataku. Aku membantu Mbah Juminten membereskan lapak jualannya. Setelah selesai, Mbah Juminten pamit pulang. Ia menyeberang jalan dan hilang di gang sempit sana. Aku masih terdiam di tempatku berdiri. Sesuatu yang mengganjal hatiku kian besar. Semua yang kudapatkan selama ini, semua kenikmatan ini, semua ketenaran ini, kepopuleran seorang Arif, semua yang aku minta, apakah benar karena Allah mendengar doaku? Atau karena Allah tak mau mendengar suaraku, lantas mengabaikanku? Ahh.

Aku berjalan pulang menuju kost dan sampai di kost setelah adzan Magrib berkumandang. Aku segera mengambil wudhu dan shalat. Airmataku berlinang menuruni kedua tebing pipiku. "Ya Allah, aku tidak meminta Kau mengabulkan doaku. Aku hanya ingin Kau mendengar suaraku. Jangan abaikan aku."

Ribuan kata berkeliaran di pikiranku. Tapi aku tidak bisa menuliskannya. Susah sekali. Kupejamkan mataku, kutarik napas dalam-dalam. Kubayangkan teh hangat buatan Mbah Juminten. Terasa olehku betapa tangguhnya perempuan itu. Penaku menari ke atas kertas putih.

Untuk Perempuan yang Doanya Enggan Dikabulkan

Biarkan mereka menghukummu

Biarkan mereka mengkhianatimu

Biarkan mereka dapatkan apa yang dituju

Biarkan semua berjalan, walau kau tak mau

Biarkan, biarkan, biarkan

 

Kau selalu dihukum, biarkan

Kau selalu dikhianati, biarkan

Mereka selalu dapat apa yang dituju, biarkan

Semua berjalan walau kau tak mau, biarkan

 

Tuhan mendengarmu

Tuhan menggenggam tanganmu

Tuhan merindukanmu

Biarkan citamu dibelenggu

Tuhan ingin bermanja denganmu

 

Bersabarlah

Setidaknya kau bisa berkencan dengan-Nya

Biarkan.

***

Thumbnail by: Catatan Dewi Santi