Kertas Kecil di Buku Berdebu

meilinda dwi pertiwi
Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 November 2016
Kertas Kecil di Buku Berdebu

            “I hate when you treat me so special for one day, and next day I’m just nothing for you.”

            Pernah dengar kalimat itu? Atau pernah lihat, baca, atau bahkan pernah mengucapkannya? Aku pernah. Pernah baca dan pernah menuliskannya untuk seseorang.

            Lebih kurang artinya seperti ini, “ Aku benci ketika satu hari kamu memperlakukanku dengan sangat spesial, tapi di hari berikutnya, aku tak berarti apa-apa untukmu.”

***

            Semua yang terjadi di dunia ini sudah Tuhan atur. Bahkan gugurnya sehelai daun di hutan paling pelosok, jauh, dan terpencil pun sudah ditentukan oleh-Nya. Begitu juga dengan apa yang kulakukan waktu itu, pasti sudah digariskan Tuhan.

            Hari itu, tahun 2013, seseorang mengirim pesan singkat,”Besok pinjam bukumu,ya.” Aku mengiyakannya dan secara membabi buta merobek secarik kertas, lalu mulai menulis. Menulis sesuatu yang aku sendiri tak pernah menyangkanya. “I hate when you treat me so special for one day, and next day I’m just nothing for you.”

            Aku buka buku itu pada halaman 13 dan menyelipkan secari kertas tadi disana. Aku biarkan kertas itu bergabung dengan lembaran-lembaran berdebu. Aku pandangi sebentar, lalu aku tutup lantas kudekap buku itu. Aku peluk buku itu bersama sebuah harapan, dia akan membacanya.

            Esoknya, buku yang semalaman kupandangi sudah berpindah tangan ke seseorang itu. Sejak detik itu, aku tidak pernah tenang. Selalu gelisah menanti respon seseorang itu.

            Beberapa hari kemudian, antara senang dan kecewa, aku menerima kembali bukuku. Ia, seseorang itu mengembalikannya tanpa tanggapan yang berarti.

            “Terima kasih.” Just like that. Kecewa? Pasti. Tapi ada kebahagiaan menyelinap diantara puing-puing kesedihan itu. Entahlah apa sebabnya. Jangan tanyakan mengapa.

            Hhhh, kenapa sampai tidak ada respon begitu. Dia baca atau tidak kertas kecil itu? Atau jangan-jangan bahkan dia tidak membuka buku itu. Tidak membacanya? Lalu kenapa ia meminjamnya? Atau dia hanya pura-pura tidak tahu? Atau kertas itu terjatuh sebelum ada di tangannya? Atau aku lupa menyelipkannya?

            Aku buka lagi buku itu. Mencari kertas kecil di halaman 13. Sialan! Tidak ada. Jangan-jangan memang benar-benar jatuh dan hilang. Aku buka lagi lembar buku itu, bolak-balik dan terhenti di halaman 22. Ya, 22. Seseorang pasti telah memindahkannya. Adakah seseorang itu adalah dia yang kuharapkan membacanya? Oh, semoga. Aku selipkan lagi kertas itu di dalam buku.

***

      Jumat, 4 November 2016

Hujan membasahi Yogyakarta. Aku diam di kamarku menikmati aroma hujan bulan November. Ada yang datang dalam pikiranku. Sesuatu yang telah lama tak berkunjung. Aku mengambil dua novel di rak. Dua buku yang ditulis oleh Fahd Djibran yang berkolaborasi dengan Bondan Fade2Black. Buku yang tak hanya berisi cerita dari mereka, tapi juga ceritaku. Kubuka lembarannya yang telah berdebu. Kutelusuri tiap huruf, hingga kata-katanya membawaku pada sebuah kalimat. Kalimat yang sudah lama kucoba lupakan. Kalimat yang sudah lama kucoba hindari. Kalimat yang membuatku sakit setiap mengingatnya. Kalimat yang merupakan ceritaku dibuku itu, “I hate when you treat me so special for one day, and next day I’m just nothing for you.” Kertas kecil itu masih ada. Tidak ada yang berubah.

            Detik itu juga aku memejamkan mata. Membuang jauh-jauh rangkaian kata itu. Tapi semakin ku hapus, semakin kata-kata itu bersemangat ingin memelukku. Bukan hanya itu, sebuah khayalan tentang betapa inginnya aku terhadap seseorang itu, kini menyeruak kembali. Membujukku untuk menyambung khayalan yang dulu terputus.

            Dia menghampiriku, memberiku bunga, mengungkapkan perasaannya, kami jadian, dan menjalin kasih dengan penuh kebosanan.

            Membayangkan aku dan dia berpacaran saja sudah membuatku bosan. Ya, aku bosan. Tunggu, tunggu… sejak kapan aku bosan memikirkannya (lebih tepatnya memikirkan khayalan tentang aku dan dia) ? Sejak kapaaaaaaaaaaaaaaaaaaan? Entahlah.

            Tiba-tiba sebuah sinar menyilaukan mataku yang masih terpejam. Sontak aku membuka mata. Tapi bukan kamarku yang kulihat, melainkan sebuah ruangan besar sekali. Di sudut ruangan itu, aku melihat dua orang sedang bergurau, bercanda, berbincang, bahagia. Aku dan seseorang itu. Itu kami. Kami saat masih berteman akrab. Kami saat belum ada jarak yang memisahkan. Kami yang aku rindukan. Aku tersenyum. Baru  aku  sadar, yang kubutuhan hanya dia, sebagai sahabat terhebatku, tak lebih. Aku tak berharap jadi orang yang ia panggil ‘sayang’. Tak juga berharap menjadi pemilik hatinya. Aku lebih berharap kami bisa bersahabat seperti dulu. Seperti sebelum aku salah mengartikan perasaanku sendiri.

•••••••••••••••••••••

Lain kali kalau ia meminjam bukuku lagi, aku akan tulis begini...

I just wanted to let U know how glad i'm that we're friends and how much our friendship means to me. Thanks for everything you do that makes you such a special friend. ^^

 

  • view 272