Mas-mas yang Gagah

meilinda dwi pertiwi
Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 November 2016
Mas-mas yang Gagah

20 Juli 1999

Pukul 05:00, mahasiswa dari Fakultas Ekonomi sudah berkumpul di depan kantin kampus. Jumlahnya ratusan orang. Aku menjadi salah satunya. Beberapa menit kemudian, mahasiswa dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Fisipol ikut bergabung dengan kami. Kami mengenakan jas almamater biru kebanggaan kampus. Berkumpul dengan misi yang sama. Bersatu atas nama kemanusiaan. Hari ini, seribu orang mahasiswa berkumpul memperjuangkan hak yang katanya ditahan oleh orang di balik kursi. Memprotes kenaikan uang kuliah dan menentang penggusuran kantin kampus untuk dijadikan ruang terbuka hijau.

Pukul 07:00 kami mulai bergerak menuju gedung rektorat. Sambil berjalan, kami meneriakkan yel-yel yang membakar semangat kami semua.

"Siapa yang tak punya nurani tunjuk tangan!"teriak orator memimpin kami di depan mengikuti irama sebuah lagu.

"Rektor!"teriak massa.

"Siapa yang ga mikir mahasiswa tunjuk tangan!"

"Rektor!"

"Kalau dia tak punya nurani, dan memangnya begitu, kalau kau tak berpikir, tunjuk tangan!"

"Rektor!"

"Uang kuliah tiap tahun naik, tapi fasilitas kampus makin kacau. Uangnya buat apa?"teriak orator.

"Jangan-jangan buat beli tas istri!"

"Huuuuuuuuu!"teriak massa.

Setelah beberapa menit berjalan, kami akhirnya sampai di depan gedung rektorat. Dua orang mahasiswa masing-masing dari Fakultas Ekonomi dan Fakutlas Kedokteran dipersilahkan masuk  ke gedung dan melakukan negosiasi dengan pihak rektorat. Beberapa massa membentangkan spanduk serta poster berisi tulisan-tulisan yang telah dipersiapkan. Aku mengeluarkan poster yang bertuliskan, "Save Kantin, Tolak Penggusuran." Aku sengaja membuat tulisan seperti itu. Aku kasihan kepada para pedagang di kantin. Kalau digusur, mereka akan jualan dimana?

Massa melakukan berbagai orasi. Mahasiswa dari Fakultas Fisipol menyuarakan kegelisahannya terhadap kampus yang tak lagi nyaman.

"Kami bayar mahal untuk panas-panasan di dalam kelas tanpa AC, bahkan kipas angin!"teriaknya. "Apakah uang yang telah kami bayarkan tidak mampu untuk membiayai perbaikan toilet yang airnya kadang muncul kadang hilang?"

"Betul!"massa mengamini.

"Jangan naikkan uang kuliah kalau masih berbanding terbalik dengan fasilitas yang kalian berikan!"

"Setujuuuuuu!"

Kini giliran perwakilan dari Fakultas Ekonomi. Aku maju ke depan, sambil masih memegang poster di tangan kiri dan toa di tangan kanan, "Kalau kantin digusur, kami makan di mana?"teriakku.

"Kantin adalah surga bagi kami anak kost. Makanan paling murah yang bisa dihutang. Tolak penggusuran kantin! Karena kami butuh gizi yang cukup untuk garap skirpsi!"

"Tolak penggusuran!"teriak massa.

"Kami tidak butuh ruang terbuka hijau! Kami butuh indomie murah Bu Sulis!"teriak yang lain.

"Turunkan harga es teh!"

"Tolak penggusuran, kami masih punya hutang!" 

"Tolak penggusuran kantin kampus, terima cintaku!" massa mulai ngelantur demi menghibur diri sendiri sambil menunggu para negosiator keluar dari gedung rektor.

Kemudian mahasiswa dari Fakultas Kedokteran maju ke depan. Aku memberikan toa yang kupegang. Ia mulai berorasi, "Kantin kita higienis! Kalau di gusur, kita makan dimana? Di pinggir jalan depan kampus? Apa rektor bisa menjamin itu sehat?"

"Tolak penggusuran! Tolak kenaikan uang kuliah!"

Tak lama, akhirnya dua mahasiswa yang bernegosiasi tadi keluar. Ia berbicara di depan massa, "Teman-teman sekalian, hasil negosiasi saya dan rekan Ardi bersama pihak rektorat adalah...." Dia diam sejenak. Massa juga hening.

"Hasilnya Pak Rektor hanya akan menyatakan pernyataan kepada kita menggunakan microphone dari selasar Gedung Rektorat."katanya.

"Huuuuuuuuuu!"kami berteriak kecewa karena kami berharap Pak Rektor berbicara langsung di depan kami. 

"Mahasiswa sekalian."suara Pak Rektor menggema dari dalam gedung. Kami sama sekali tidak mau mendengarkannya. Kami kembali menyerukan yel-yel. Lebih keras dan membuat suara Rektor tenggelam. 

Dua jam kami berpanas-panas di halaman gedung, sedang Pak Rektor beserta jajarannya lebih memilih duduk manis di dalam ruangannya yang ber-AC dan nyaman.

"Ya begini kalau Rektor cuma mikir diri sendiri. Pak keluar! Ini lho, anak-anakmu mau ngomong!"teriak orator emosi.

"Jangan sembunyi di balik kursi, Bapakku sayang!"

"Modal duduk manis dalam gedung, kami juga bisa jadi rektor!"

Adzan Dzuhur berkumandang. Di pimpin Ardi dari Fakultas Ekonomi, kami bergerak mundur dari gedung rektor dan menuju lapangan untuk beristirahat, makan dan shalat.

"Ayo, kita sholat dulu. Berdoa kepada Tuhan, supaya hati Pak Rektor yang hilang dikembalikan!"

Kami mundur teratur. Sebagian mengambil wudhu, sebagian makan, dan sebagian lagi duduk-duduk di sekitaran tenda yang di buat mahasiswa kedokteran untuk antisipasi kalau-kalau ada massa yang sakit. Sedangkan aku langsung menuju kantin kampus. Begitu aku datang, beberapa pedagang langsung menghampiriku.

"Gimana, Mas?"tanya Pak Asep, tukang mie ayam langgananku.

"Pak Rektor belum mau keluar, Pak."kataku sambil menghempaskan tas ke meja. Pak Asep dan pedagang lainnya menghela napas.

"Terus gimana, Mas? Kita jadi digusur?" kali ini Bu Santi yang bertanya.

"Ya, belum tahu, Bu. Setelah istirahat kita mau demo lagi. Sampai beliau mau ngomong pokoknya."

"Kami tolong dibantu, ya, Mas."

"Saya usahakan, Pak."kataku.

"Mas, mau es teh?"tanya Bu Santi.

"Boleh, Bu."

"Ribut-ributnya udah selesai, Bu?"tanya seorang anak dari dalam kantin.

"Belum."jawab Bu Santi.

"Ribut apa sih? Apa bu guru ngga marah?"tanyanya. Ternyata itu Doni, anak Bu Santi. Pulang sekolah, ia langsung ke warung ibunya.

"Itu bukan ribut, Don. Tapi memperjuangkan hak."kataku.

"Memperjuangkan hak?"tanya Doni bingung. Aku baru sadar, teman bicaraku ini bocah SD kelas lima. Mana dia paham.

"Hmmm, susah dijelasin. Besok kalau kamu udah gede, kamu bakal tahu."

"Don, Ibu mau kamu jadi kayak Mas-mas dan Mbak-mbak di sana. Panas-panas gini teriak-teriak membantu orang susah kayak kita."kata Bu Santi. 

"Membantu gimana?"tanya Doni.

"Besok Ibu ga boleh jualan di sini lagi. Nah, mereka yang di sana itu membantu Ibu supaya Ibu tetep bisa jualan di sini."jelas Bu Santi.

"Kenapa nggak jualan di tempat lain, Bu? Di sini kan mas-masnya suka ngutang."Kata Doni. Aku batuk tersedak es teh. Kaget dan malu juga dengan perkataan Doni. Aku punya hutang mie ayam tidak, ya?

"Walaupun banyak yang ngutang, Ibu udah nyaman jualan di sini. Lagian kalo engga di sini, dimana lagi? Bayar sewa tempat, mahal. Mau keliling, Ibu sudah tua."

"Ya ngga usah jualan kalau gitu. Di rumah saja temani aku buat tugas."

"Nggak bisa gitu. Ibu harus kerja biar uangnya bisa untuk kamu sekolah. Kamu harus sekolah tinggi, biar ngga kayak Ibu."kata Bu Santi. Anaknya mengangguk. Aku diam saja mendengarkan percakapan ibu dan anak itu.

"Ibu mau kamu jadi kayak mas-mas di sana. Gagah, kan? Teriak-teriak demi kesejahteraan orang."kata Bu Santi.

"Iya, Bu. Aku pasti jadi seperti mereka."kata Doni. Aku tersenyum. Lantas pamit dan bergabung kembali ke rombonganku.

Setelah istirahat, shalat dan makan, kami melanjutkan aksi demo. Akhirnya, Pak Rektor mau juga keluar dari ruangannya yang nyaman dan berpanas-panasan dengan kami di sini.

"Mahasiswa-mahasiswi yang saya banggakan, saya akan membacakan keputusan rapat terkait uang kuliah dan pengosongan lahan kantin yang kami adakan 18 Juli 1999. Adapun hasilnya yang pertama, bahwa uang kuliah tahun 1999 tidak mengalami perubahan kenaikan dari tahun sebelumnya."

"Yes!"teriak massa.

"Mohon perhatiannya. Yang kedua bahwa kontrak dengan para pedagang sudah selesai sejak bulan Mei lalu. Jadi, hingga saat ini, pedagang tidak memiliki hak untuk tetap berjualan di lokasi tersebut."

"Huuuuuuuuuuuu! Tolak penggusuran kantin!"

"Pak Rektor, anak kost makan di mana?"teriak massa. Tapi Rektor dan jajarannya terlihat masa bodoh.

"Sekian hasil keputusan rapat tanggal 18 Juli 1999. Kami sudah mempertimbangkan baik dan buruknya."kata Rektor. "Masalah kantin sebenarnya kami juga sudah mengajak bicara pedagang dan perwakilan mahasiswa dan keputusan sudah bulat."

"Mahasiswa yang mana yang kalian ajak bicara? Mahasiswa kampus sebelah? Ya jelas mereka setuju-setuju saja kantin di gusur."kata orator menggunakan toa.

"Sudah. Saya sudah melakukan apa yang kalian minta. Sekarang simulasinya sudah selesai, kan? Latihan demonya sudah kelar. Kalian boleh pulang."kata Pak Rektor. Mendengar kalimatnya itu, sontak seluruh massa geram.

"Ini bulan simulasi!!!"teriak kami. Tiba-tiba seseorang dari arah belakang merangsek maju kedepan. Merebut microphone yang dipegang Pak Rektor dan berbicara tepat di depan mukanya, "Menurutmu, semua ini simulasi? Baiklah, kalau begitu, anggap juga ini sebagai simulasi!"kata mahasiswa itu sambil melempar microphone ke arah pintu kaca gedung rektorat. Pot-pot bunga di sana dijatuhkannya. Demi melihat kelakuannya, entah kenapa kami semua tersulut api semangat, termasuk aku. Kami kesetanan. Aparat yang berjaga-jaga di belakang mulai mendekat dan menyiram kami dengan gas air mata. Kami kocar-kacir berlari sambil melempari aparat dengan botol air mineral. Kami terus melempar apapun yang ada didekat kami sambil lari menjauh dari gedung rektorat yang kini dipenuhi aparat kepolisian.

"Kalau kau menganggap ini simulasi, kami juga akan menganggapnya begitu!"teriak kami. Dihalau oleh gas airmata tak membuat kami gentar. Kami malah semakin membabi buta. Awalnya botol bekas air mineral lalu berubah jadi balok-balok kayu dan batu. Entah darimana asalnya.

"Ini sudah kacau!"gumamku. Aku terus berlari menghindari lemparan batu, menuju kantin untuk memberitahu pedagang agar segera menjauh.

"Pak, Bu, cepat lari. Yang demo rusuh. Ribut sama polisi!"teriakku. Belum sempat mereka lari, kericuhan itu sudah sampai dan menyebar di kantin. Semua benda-benda terlempar entah darimana asalnya. Semua orang panik. Bu Santi terlihat ketakutan merangkul Doni sambil beristighfar di kolong meja. Bahaya kalau terjebak di kericuhan ini, tapi kondisi tidak memungkinkan jika harus berlarian kesana-kesini. Akhirnya aku ikut berlindung di bawah kolong meja bersama Bu Santi dan Doni. 

Semuanya diluar ekspektasi. Tidak ada agenda melempar batu siang ini. Tidak ada acara disembur gas air mata hari ini. Semuanya di luar kendali. Keadaan semakin brutal. Polisi terus maju dan beberapa mahasiswa tangguh terus melawan. Tiba-tiba suara tembakan terdengar. Tembakan peringatan. Aku kaget setengah mati. Doni menangis dalam pelukan ibunya.

"Ini simulasi, keparat! Mana ada simulasi pakai senjata sungguhan!"teriak salah seorang mahasiswa. Polisi terus maju. Mengusir kami dari lingkungan kampus. Lalu seorang mahasiswa berlari kencang mencoba menembus barikade. Namun sia-sia.

"Sampah! Mati saja orang sepertimu!"katanya sambil menunjuk gedung rektorat.

"Heh, jaga bicaramu. Seperti ngga berpendidikan saja!"bentak seorang polisi.

"Saya dididik oleh sampah seperti dia. Kalau saya begini, salahkan dia! Jangan salahkan saya!"teriak mahasiswa itu. "Ayo kawan-kawan, bakar saja kampus kita!"

"Heh! Saya bisa menembakmu karena kamu jadi provokator!"ancam seorang aparat.

"Tembak saja. Mana ada yang peduli. Siapa saya? Kalau yang kau tembak orang yang berlindung di balik gedung itu, baru ramai berita di televisi. 8Sampah!"umpatnya. Polisi mengarahkan pistolnya ke mahasiswa itu. Tapi tak kunjung di lepaskannya pelatuk. Mahasiswa geram. Di rebutnya pistol polisi, tapi polisi dengan sigap merengkuh tubuh kurus itu, kemudian, dooorrr!

***

"Doni, ngapain?"tanyaku saat bertemu Doni di kantin kampus pagi itu. Setelah tragedi demo yang ricuh itu, akhirnya pihak kampus menyetujui kantin tetap ada di sana. Pak Rektor juga sudah meminta maaf kepada seluruh mahasiswa karena berkata aksi kami saat itu hanyalah simulasi belaka.

"Ngga apa-apa, Mas. Mau lihat-lihat saja. Sudah lama ngga ke sini."kata Doni. Aku mengajaknya duduk dan membelikannya es teh.

"Kamu ngga sekolah?"tanyaku. Ia menggeleng.

"Ngga ada uang. Lagian aku malas sekolah. Buat apa."

"Jangan begitu, Don. Kamu lupa, ibumu mau kamu sekolah tinggi, biar bisa teriak-teriak memperjuangkan kesejahteraan orang lain."kataku mengikuti kata-kata Bu Santi seminggu yang lalu.

"Aku tidak mau sekolah lagi. Aku tidak mau jadi seperti mas-mas yang kemarin teriak-teriak."katanya sambil menunduk.

"Lho, kenapa? Bukannya kemarin kamu bilang kamu mau jadi seperti kami?"tanyaku.

"Iya, sebelum kalian membunuh Ibu."katanya getir.

"Mas-mas yang gagah dan teriak-teriak itu sudah membuat ibu meninggal."kata Doni.

"Kalau tahu ia akan mati ditembak mahasiswa, pasti Ibu tidak akan mengizinkanku jadi mahasiswa. Itulah mengapa, aku jadi malas sekolah." Ia menangis. Aku merangkulnya. Sungguh, aku tidak bisa berkata apa-apa. Kejujuran anak kecil ini membuat hatiku ngilu. Kami yang katanya berjuang atas nama kemanusiaan, ternyata juga membunuh banyak mimpi secara bersamaan. Bu Santi yang kehilangan mimpi untuk menjadikan Doni mahasiswa yang gagah, dan  Doni yang kehilangan mimpi untuk bisa membuat ibunya bangga melihat ia jadi mahasiswa yang teriak-teriak memakai jas memperjuangkan hak.

***

Thumbnail by: Kompas.com