Perempuan dalam Ingatan

meilinda dwi pertiwi
Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 27 Oktober 2016
Perempuan dalam Ingatan

Perempuan di meja nomor empat belas itu, Dian namanya. Dia duduk sendirian. Tangan kanannya memegang pena, tangan kirinya memegang kertas. Di depannya secangkir kopi sudah dingin, menguap bersama ribuan tanda tanya.

Satu menit lalu, ia di rumahku. Membawa sebungkus roti keju dan susu. Mama mengatakan aku tidak pulang. Dian tidak percaya. Ia menungguku di teras rumah. Aku diam saja. Tangannya memainkan ujung kemejanya. Matanya liar menatap kiri dan kanan jalanan. Berharap aku muncul menemuinya. Lama ia menunggu, tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Kemudian ia pamit pulang.

Detik ini, ia berada di sebuah kedai. Tempat kami biasa menghabiskan malam. Tangan kanannya memegang pena, tangan kirinya memegang kertas. Di depannya secangkir kopi hitam dibiarkan dingin, menguap bersama kesabarannya. Seorang barista menghampirinya. Berkata ia, bahwa aku tidak akan datang. Dian tidak percaya. Ia tetap menungguku di meja nomor empat belas. Sampai habis kopinya, satu-satunya kata yang ia tulis adalah rindu. Rindu padaku. Pada satu-satunya lelaki dalam hidupnya.

Dibawanya selembar kertas berisi rindu itu ke sudut kota. Tempat dimana aku pertama kali mengenggam tangannya. Tempat dimana aku terakhir kali menatap matanya. Seorang pak tua menghampirinya. Berkata bahwa aku tidak akan kembali. Dian tak percaya. Lantas mencariku dalam kenangannya. Diobrak-abriknya semua kegelisahan. Ditelusurinya setiap kekhawatiran. Diselaminya ribuan kecemasan. Disembunyikannya titik-titik air mata. Aku membiarkannya tenggelam pada ingatan. Sendirian. Lalu, ia menangis. Sendirian.

 

Yogyakarta, 4 Februari 2015

***

Thumbnail by: Dian Ayu Puspitasari