Hukum Archimedes

meilinda dwi pertiwi
Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Oktober 2016
Hukum Archimedes

Aku sedang duduk di kantin saat Deva dan teman-temannya sibuk menggosipkan sesuatu. Awalnya aku cuek saja sambil menikmati semangkuk bakso yang kupesan. Sampai akhirnya, Deva menyebut-nyebut nama Tama, teman dekatku.

"Eh, si Nanda nantangin Tama buat duel."

"Duel apa?"tanya Salma.

"Berantem gitu. Katanya sih Nanda mau membuktikan siapa diantara mereka yang lebih jago berantem."

"Mereka berdua sama-sama bisa karate, ya? Wah, bakal seru tuh."timpal Risa.

"Iya, tapi si Tama ga mau."kata Deva.

"Lho kenapa?"

"Takut kali. Kalo kalah kan malu."

"Hahahahah..."Deva dan teman-temannya tertawa. Sambil makan, aku berpikir kenapa Nanda mengajak Tama duel, dan kenapa Tama menolaknya. Menurutku, Tama tak kalah jago dari Nanda yang baru saja mengharumkan nama sekolah karena juara karate. Aku harus mengkonfirmasinya dengan Tama.

Setelah menghabiskan baksoku, aku langsung mencari Tama. Aku menemukannya sedang duduk di koridor depan kelas.

"Hai, Ma."sapaku.

"Eh, Alin."

"Ngapain?"

"Lagi semedi."

"Semedi apaan di sini."kataku.

"Kamu darimana?"tanya Tama.

"Kantin. Eh, Ma, tadi aku denger katanya Nanda ngajakin kamu duel, ya?"

"Kamu tahu darimana?"

"Iya apa engga? Dia itu kenapa sih? Perasaan sejak kita masih kelas sepuluh, dia selalu saja cari gara-gara sama kamu."

"Biarin ajalah."

"Ngga bisa gitu dong. Kamu juga diam aja sih, dia ngelunjak, kan."

"Ya mau gimana lagi?"

"Dilawan dong!"

"Percuma. Dia akan tetap membenciku selamanya."kata Tama sambil menunduk.

"Kenapa sih, Ma?"tanyaku.

"Enam tahun lalu, aku dan ibuku sedang makan malam bersama teman ibu di sebuah restoran. Ibu menyuruhku memanggilnya Ayah, karena sebentar lagi mereka akan menikah. Waktu itu aku menurut saja. Aku senang akhirnya ibu menikah lagi. Sejak aku bayi, ibu sudah jadi janda karena ayahku meninggal sehari sebelum aku dilahirkan. Begitu aku tahu ibu akan menikah lagi, aku bahagia sekali. Itu artinya aku akan punya ayah baru."kata Tama. Aku mengangguk.

"Aku ingat sekali, belum habis makanan di piringku, tiba-tiba datang seorang wanita menggebrak meja makan kami. Aku kaget bukan kepalang. Wanita itu teriak marah-marah ke ibu dan calon ayah baruku. Tangan kirinya menggandeng seorang anak laki-laki seusiaku. Anak itu menangis. Dia adalah Nanda."

"Nanda?"tanyaku kaget.

"Iya, Nanda. Ternyata calon ayahku itu sudah punya istri dan seorang anak. Ibuku adalah selingkuhannya. Terlepas dari apakah ibuku tahu semua ini atau tidak, hubungan mereka adalah sebuah kesalahan fatal."cerita Tama. Aku masih diam menunggu lanjutan ceritanya.

"Entah kebetulan atau tidak, aku dan Nanda selalu bersekolah di satu sekolah yang sama. Dari SMP hingga sekarang SMA. Dan barang sekilas pun, tak pernah ia tersenyum kepadaku."kata Tama. Kepalanya mendongak. Aku tahu ia sedang menyembunyikan air matanya. Aku menepuk-nepuk pelan punggungnya.

"Aku tahu Nanda begitu dendam kepadaku juga ibuku. Aku tidak menyalahkannya, karena sudah sepantasnya kami dibenci. Kami telah merusak kebahagiaannya. Aku telah mencuri ayahnya."

"Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan dia untuk mengganggumu."kataku.

"Biarkan saja. Sampai dia puas. Sampai dia tahu, bukan hanya dia yang terluka. Aku juga tak pernah meminta pada Tuhan untuk memiliki kisah hidup seperti ini. Aku juga tidak mau."

"Sudah waktunya kau melawan, Ma. Dia tak akan pernah sadar kalau tidak disadarkan. Membiarkannya seperti ini sama saja membuatnya makin besar kepala."kataku berapi-api. "Apa susahnya menerima tantangannya. Kamu jago bela diri juga kan? Jangan biarkan dia berkoar-koar di sana sambil mengejekmu. Ini waktunya kamu untuk melawan, Ma."

"Lin, kamu inget ga pelajaran Fisika, tentang hukum Archimedes?"kata Tama membuatku bingung.

"Jangan mengalihkan pembicaraan!"

"Aku tidak mengalihkan. Kamu tahu bagaimana bunyi hukum itu?" tanya Tama. Aku diam saja.

"Jika sebuah benda dicelupkan ke dalam zat cair, maka benda tersebut akan mendapat gaya yang disebut gaya apung atau gaya ke atas sebesar berat zat cair yang dipindahkannya.”kata Tama. Aku mengangguk setuju.

"Bila benda dicelupkan ke dalam zat cair, maka ada tiga kemungkinan yang terjadi yaitu tenggelam, melayang, dan terapung,"lanjut Tama.

"Tenggelam kalau massa benda lebih berat dari massa air, melayang kalau massa keduanya sama, dan terapung kalau massa benda lebih ringan daripada massa air."kataku. Aku masih ingat materi ini. Pak Ayat, guru fisikaku baru dua hari lalu menjelaskan tentang hukum Archimedes.

 "Ya, betul. Sekarang analogikan benda itu sebagai manusia."kata Tama. Aku mengernyitkan dahi tak mengerti. Namun penasaran dengan arah pembicaraan ini. Tama memang selalu punya sejuta pemikiran yang tak pernah bisa aku bayangkan.

"Analogikan gimana?"tanyaku.

"Kalau kemampuan seseorang sedikit daripada keegoisannya, ia akan cenderung banyak bicara. Ia tampil di permukaan, layaknya benda yang memiliki massa lebih kecil tadi, dan ia terapung lalu terombang-ambing pada lautan ocehannya. Kemudian orang yang kemampuannya sama dengan perasaan egoisnya akan memiliki proporsi yang seimbang antara mendengar dan didengar, layaknya benda melayang. Orang yang memiliki kemampuan yang lebih bedar daripada egoisnya, akan lebih memilih diam dan mendengarkan dari dasar sebuah wadah: tenggelam, tak terlihat."jelas Tama.

"Jadi, maksudmu orang yang suka koar-koar seperti Nanda sebenarnya kemampuannya kecil dan egoisnya besar?"tanyaku.

"Bukan aku yang bilang begitu, tapi hukum Archimedes,"Tama membenarkan posisi duduknya, "Aku memilih diam saja, tak pernah menanggapinya, bukan berarti aku takut kalah. Kamu tahu sendiri, kan bagaimana track record-ku di dunia bela diri?"

"Jadi karena massa kemampuan bela dirimu lebih besar dan kamu tidak egois, akibatnya kamu berada di dasar dan tak terlihat? Dan itu terjadi sebaliknya pada Nanda?"tanyaku lagi. Aku sungguh pusing dibuatnya.

"Bukan aku yang bilang begitu. Hukum Archimedes."

"I see. Aku dapat poinnya. Selama ini kamu diam menghadapi Nanda bukan karena kamu takut, justru karena diam itu adalah perlawanan terkeras yang bisa dilakukan manusia."

"Bukan aku yang bilang begitu. Hukum Archimedes."kata Tama. Aku memukul lengannya.

"Oh, iya, Lin, sama seperti yang sudah kujelaskan tadi, kadang orang yang diam justru memiliki perasaan cinta yang begitu besar dalam hatinya. Rasanya lebih besar dari apapun di dunia ini. Dia diam dalam doanya dan tak terlihat oleh mata. Tenggelam. Sedangkan beberapa orang yang terlihat dipermukaan, memujamu, kadang rasa di hatinya lebih kecil."kata Tama tiba-tiba keluar dari topik pembicaraan kami.

"Ha?"aku bengong menghadapi perubahan topik yang begitu cepat. Tama beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke kelas. Aku menatap punggungnya. Bingung. Baru saja kami membicarakan Nanda dan hukum Archimedes, kenapa sekarang jadi cinta dan hukum Archimedes? Hmmm, ngomong-ngomomg, apakah Tama adalah orang yang massa cintanya lebih berat dari apapun di dunia ini sehingga ia tak terlihat olehku? Argghhh, ini lebih rumit dari belajar Fisika sungguhan.

  • view 305