Paradoks

meilinda dwi pertiwi
Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Oktober 2016
Paradoks

Lintang baru pulang dari kantornya dan mendapati kamar Ayahnya berantakan. Ayahnya sedang duduk di pojokan kamar sambil memeluk lututnya. Lintang merangkul ayahnya, lalu mengajaknya ke tempat tidur.

“Semuanya baik-baik saja, Yah.”kata Lintang.

“Tidak ada yang baik-baik saja.”kata Ayahnya tajam. Lintang menghela napas.

“Tidurlah. Aku akan membereskan kamar Ayah.”kata Lintang sambil menyelimuti ayahnya. Lintang lalu mulai merapikan barang-barang yang kini berserakan di lantai. Ini bukan pertama kali ayahnya mengamuk. Lintang paham betul, kalau ayahnya seperti ini, berarti ia sedang teringat pada hal yang sangat ia benci di dunia ini; istrinya, yang tak lain adalah ibunya Lintang. Lintang tidak tahu apa yang membuat ayahnya begitu membenci ibunya. Lintang juga tidak kenal siapa ibunya. Yang ia tahu, sejak kecil ia tinggal bersama nenek dan ayahnya. Lintang diurus neneknya, karena ayahnya memang sudah terganggu jiwanya sejak Lintang bayi. Dua tahun lalu, neneknya meninggal dunia. Jadilah sekarang Lintang hanya tinggal dengan ayahnya.

Saat sedang membereskan buku-buku yang berserakan di lantai, Lintang menemukan secarik kertas kusam yang ujung-ujungnya sudah berwarna coklat. Ia membuka kertas itu lalu membacanya.

“Zamhari,aku meminta maaf padamu. Hari ini aku pergi dan tidak akan kembali. Jujur, aku muak hidup miskin seperti ini. Kau tidak pernah memberiku sedikit saja kebahagiaan. Sekedar membeli baju baru atau sepatu baru.

Aku tahu kau mencintaiku. Iya, kan? Kalau memang begitu, seharusnya kau membuatku bahagia. Biarkan aku bahagia dengannya. Dengan laki-laki yang bisa membuatku memiliki apapun yang aku mau.

Mungkin kau menyesal dengan pernikahan kita. Aku tidak pantas untukmu, Zamhari. Harusnya kau mencari perempuan yan bisa kau ajak susah. Perempuan yang mau tiap hari makan garam. Perempuan yang sanggup terlelap di antara himpitan hutang-hutang. Dan itu bukan aku.

Sekali lagi maafkan aku. Esok lusa, tak usah kau cari aku. Kutitip Lintang padamu.

-Midah.”

Lintang terpaku. Inikah alasan kenapa ayah begitu membenci ibunya? Sejahat itukah ibunya? Tidak tahukah ibu bahwa ayah menderita sejak ia hidup sendiri? Adakah ibu merindukan Lintang, anaknya? Lintang menelan ludah. Terasa getir. Bagaimana tidak, ia menelan kenyataan pahit yang selama ini tidak ia ketahui. “Seandainya Ibu tidak ada di dunia ini, mungkin ayah tidak akan segila ini.”gumam Lintang.

Setelah membereskan kamar ayah, ia pergi ke kamarnya. Surat yang tadi ia temukan diletakan di bawah bantalnya. Tubuh, hati dan pikirannya lelah. Tak lama setelah ia mematikan lampu kamarnya, ia terlelap.

Lintang terbangun karena ada suara bising di luar kamarnya. Ketika ia membuka matanya, ia merasa asing dengan lingkungan sekitarnya. Ia memang ada di atas kasur, tapi kamar ini, bukanlah kamarnya. Ia berjalan keluar dan mencari sumber keributan. Di ruang tak jauh dari kamarnya, ia melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan hamil sedang adu mulut. Lintang tidak kenal siapa mereka, tapi ia merasa familiar. Dua orang itu bertengkar lama. Lintang menyadari sesuatu, laki-laki yang sedang ribut itu adalah ayahnya.

“Astaga!”teriak Lintang. Ia terbangun dari tidurnya. Napasnya tak beraturan. Ia terlalu memikirkan ayah dan surat itu sehingga terbawa mimpi. Lintang mencoba menenangkan diri dan melanjutkan tidurnya. Tak lama, Lintang terbangun lagi. Tapi tidak berada di kasur, melainkan di balik pintu. Persis di tempat dimana tadi ia melihat dua orang bertengkar. Mimpinya berlanjut?

Lintang melihat laki-laki mirip ayahnya itu memukuli perempuan di depannya, “Midah, kau mau meninggalkanku?”bentak ayahnya. Midah? Itu nama perempuan yang ada di surat ayah. Tersadar ia, bahwa perempuan itu adalah Ibunya. Midah teriak kesakitan dipukuli. Lintang berlari mencoba melerai ayah dan ibunya. Tapi justru tangannya terkena tongkat sapu yang dipakai ayahnya untuk memukul ibu. Tangannya perih, kemudian semuanya gelap.

Lagi, Lintang tersadar dari mimpinya. Tapi ada yang aneh. Tangannya seperti mati rasa. Dilihatnya pergelangan tangan kanan dan ia menemukan kulitnya lecet seperti tergores sesuatu. “Ada yang salah. Ada yang salah,”pikirnya.

“Tidak ada yang salah,”kata seseorang mengagetkannya. Di sampingnya telah duduk laki-laki berjubah putih. Lintang kaget bukan kepalang. Ia loncat dari kasurnya dan segera mengambil tongkat baseball yang ia gantung di balik pintu.

“Siapa kau?”teriak Lintang.

“Tidak perlu tahu siapa aku. Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu,”kata laki-laki itu membenarkan posisi duduknya. “Kau baru saja pergi kemasa lalu. Masa lalu orang tuamu.”

Lintang bingung. Tapi tidak bisa berkata apa-apa.

“Barangkali, ada hal yang bisa kau perbaiki di masa lalu.”

“Maksudmu apa? Siapa kau?”

“Sudah kubilang tak perlu tahu siapa aku. Tapi, kuberi kau kesempatan untuk memperbaiki apa yang seharusnya diperbaiki.”laki-laki berjubah itu kemudian hilang. Lintang terduduk di lantai. Tangannya masih memegang tongkat baseball. Semua begitu nyata. Pertengkaran orang tuanya, laki-laki berjubah, juga luka di tangannya. Jelas ini bukan sekedar  mimpi.

Hari itu pukul 03:00 pagi. Lintang tidak bisa tidur lagi. Ia terpikir kata-kata laki-laki berjubah. Barangkali, ada hal yang bisa kau perbaiki di masa lalu.

“Ayah begini karena ibu. Mungkin kalau Ibu tidak ada, ayah akan bahagia. Sudah seharusnya ibu tidak ada di dunia ini.”pikir Lintang. “Tapi apa mungkin aku bisa memperbaiki masa lalu?”tanyanya dalam hati.

Tak terasa, matahari sudah meninggi. Lintang terbangun ketika ayahnya membangunkannya.

“Lintang, tidak kerja?”

Lintang membuka mata. Kepalanya sakit sekali. Matanya juga susah untuk terbuka. “Aku tidak enak badan, Yah.”

“Mau Ayah ambilkan obat?”

“Tidak usah. Aku tidur saja. Nanti siang kalau masih sakit, aku akan ke dokter.”

“Lintang, tanganmu kenapa?”tanya ayah. Lintang membuka mata, lantas menatap ayahnya. “Berarti luka ini nyata.”katanya dalam hati.

“Tidak apa-apa, Yah. Kena gagang pintu di kantor.”jawab Lintang sekenanya. Ayah menyelimuti Lintang, lalu pergi. Lintang tertidur lagi. Namun, baru beberapa menit terpejam, ia terbangun. Suara berisik mengganggunya. Ia ingat suara ini. Pertengkaran ayah dan ibu. Ia segera bangun dan berjalan mengendap-endap menuju sumber suara. Dilihatnya ayah sedang duduk termenung di ruang tamu. Sedang ibunya di kamar sedang memasukkan pakaiannya ke dalam tas besar. Di luar rumah, seorang laki-laki sedang bersandar di mobil bagusnya, menghadap ke arah rumah. Wajahnya menjijikan. Entah kenapa, Lintang benci wajah itu.

Diam-diam Lintang berjalan menuju kamar ibu. Ia menghampiri meja makan dan mengambil pisau yang tergeletak di sana. “Kalau Ibu mati, Ayah pasti tidak akan menderita seperti sekarang ini.”pikirnya.

Lintang sudah di dalam kamar. Ia berdiri di belakang ibu yang sedang sibuk mengemasi barang-barangnya. Matanya menatap punggung ibu dengan penuh dendam. Tangan kanannya menggenggam erat pisau. “Tak apa aku jadi pembunuh. Asal Ayah bahagia.” Sedetik kemudian, dengan gerakan cepat, dihunusnya pisau ke pinggang ibunya. Wanita itu berteriak kesakitan. Demi membungkam mulut ibunya, ditancapkannya pisau tadi ke leher wanita itu. Kemudian, wanita itu terjatuh bersimbah darah. Lintang terdiam. Nampak sekali tangannya gemetar. Dari luar kamar, ayah memanggil ibunya,”Midah, kenapa?” Tiba-tiba semuanya gelap. Lintang tertelan waktu.

“Apa yang kaulakukan?”seseorang berjubah putih itu kembali lagi.

“Kau...kau siapa?”teriak Lintang, “Dimana aku?”

“Aku menyuruhmu memperbaiki masa lalu. Kenapa kau malah jadi pembunuh?”

“Itu satu-satunya cara agar Ayah bahagia!”

“Bahagia?”

“Kalau Ibu tidak ada di dunia ini, Ayah tidak akan pernah tersakiti olehnya. Itulah kenapa aku membunuhnya.”

“Begitu? Lihat saja nanti, apa ayahmu bahagia karena kau telah membunuh istrinya, atau....”

“Atau apa??”

“Tidak ada gunanya membunuh ibumu.”

“Kau tahu apa, haa?”teriak Lintang emosi.

Laki-laki berjubah putih itu belum menjawab, tapi sudah hilang. Bukan. Bukan laki-laki itu yang menghilang, tapi Lintang yang kembali tertelan waktu. Lintang berada di kamarnya. Benar-benar di kamarnya. Di tangan kanannya, ada bercak darah yang sudah mengering. Jantungnya berdetak cepat sekali. Belum hilang kagetnya, ia mendengar ayahnya berteriak-teriak dari dalam kamarnya. Lintang segera berlari ke sana, dan mendapati ayahnya mengamuk lagi.

“Apa yang terjadi? Bukannya aku sudah menghilangkan Ibu dari dunia ini? Kenapa Ayah masih seperti ini?”tanya Lintang kebingungan. Ia memeluk ayahnya sekuat tenaga. Namun laki-laki tua itu memberontak. Tenaganya kuat sekali, hingga Lintang terhempas ke belakang. Tatapannya kabur, samar-samar laki-laki berjubah putih datang menghampirinya.

“Sudah kukatakan, tidak ada gunanya membunuh ibumu. Semua akan tetap sama. Atau bahkan bertambah parah.”

“Kenapa begini?”isak Lintang frustasi.

“Paradoks.”kata laki-laki itu sambil menatap ayah Lintang yang sekarang terduduk memeluk lututnya di pojokan kamar.

“Paradoks?”tanya Lintang.

“Paradoks adalah sebuah situasi dimana manusia menolak takdirnya dan akan menciptakan sebuah kontradiksi yang berkepanjangan dan tak pernah terhenti. Seperti kau sekarang ini.”

“Apa maksudmu?”

“Kau menolak takdirmu memiliki ayah yang kehidupannya seperti ini, lalu menciptakan konflik dengan membunuh ibumu. Konflikmu sebenarnya tidak pernah terjadi.”

“Aku tidak mengerti satu katapun yang kau ucapkan!”

“Kau membunuh ibumu dan dia mati sebelum melahirkanmu, maka dalam kenyataan, kau tidak pernah dilahirkan sebelumnya. Jika kau tak  pernah lahir, maka peristiwa pembunuhan yang barusan kau lakukan tidak akan pernah terjadi juga, karena kau tidak dilahirkan. Ibumu masih hidup, kau tetap lahir dan ayahmu tetap tersakiti.”jelas laki-laki itu. Lintang menangis. Ia menyadari sesuatu hal sekarang. Paradoks. Ya, paradoks.

“Sudahku bilang, tidak ada gunanya membunuh ibumu. Aku menyuruhmu memperbaiki masa lalu!”

“Bagaimana caranya? Tolong aku, tolong!”kata Lintang sambil menangis.

“Percuma kuberi tahu. Kesempatanmu sudah habis.”

“Beri aku satu kesempatan lagi. Aku ingin membuat Ayah bahagia.”

“Tidak bisa. Kau hanya diberi satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu dan kau sudah menggunakannya untuk membunuh ibumu.”laki-laki itu kemudian hilang. Lintang menangis sejadi-jadinya. Ia baru saja melakukan hal yang bodoh yang membingungkan dan nyaris membuatnya gila; paradoks. Ia mendekati ayahnya. Memeluk erat tubuh sang ayah. Bercak darah sudah tidak ada di tangannya. “Seharusnya aku membuat ibu tidak pernah mengenal ayah. Bukan membunuhnya.”gumam Lintang.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Meilinda berani melakukan eksperimen dalam menulis, hal yang membuat tulisannya ‘mencuri’ perhatian dari kami. Setelah tuntas menguras emosi dalam ‘Dimas Tak Waras’, Meilinda mencoba memainkan alur, masa kini, imajinasi dan masa lalu kedua orang tuanya. Menyenangkan bagaimana ketiga alur ini saling membentuk jalan cerita walau perpindahan di antara tiga masa tersebut kurang mulus dan mendadak. Hal ini menyebabkan pembaca bisa kaget dengan perubahan yang tiba-tiba.

    Keuntungan menerapkan teknik ini adalah pembaca menjadi penasaran hingga mau membaca cerita sampai selesai, apalagi si penulis meninggalkan ‘jejak’ mimpi pada Lintang; luka dan kondisi psikologisnya yang mulai aneh. Akhir kisah pun ‘nendang’, cukup meninggalkan rasa sesak. Terus berani mengeksplor kemampuan dirimu, Melinda!

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    kereen.
    jadi mikir, kalo saya kembali ke masa lalu, hal apa yang akan saya perbaiki. *eh