Dimas Tak Waras

meilinda dwi pertiwi
Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Oktober 2016
Dimas Tak Waras

Namaku Dimas. Usiaku 12 tahun. Aku tinggal kecamatan kecil di pelosok provinsi Bengkulu. Aku terakhir pergi kesekolah dua tahun lalu, saat masih kelas 4 SD. Hari Jumat pagi, saat semua siswa berkumpul di halaman sekolah untuk melaksanakan senam pagi, aku dipanggil ke ruang guru. Di sana, Yuk Dewi*, kakak perempuanku duduk sambil menangis. Dia bilang bapak meninggal saat kerja menggali sumur. Aku langsung menghambur ke pelukan Yuk Dewi. Aku memeluknya erat, sangat erat. Dia adalah satu-satunya keluarga yang kupunya. Mamak meninggal setelah melahirkanku. Sanak saudara, entah kemana.

Setelah kepergian bapak, aku dan Yuk Dewi jungkir balik mencari uang untuk bisa bertahan hidup. Yuk Dewi bekerja di kebun pak Herman. Tiap pagi sebelum pergi ke kebun, Yuk Dewi menggoreng pisang untuk aku jual di sekolah nanti. Sehari, dua hari, tiga hari, daganganku memang habis. Tapi, hari berikutnya pisang goreng selalu bersisa, bahkan tak jarang masih utuh. Di hari ketujuh, aku pulang membawa dagangan dengan sisa lebih dari separuh, dan setelah itu, aku tak pernah lagi kembali ke sekolah.

Bu Yani, wali kelasku datang ke rumah untuk mengajakku kembali sekolah. Pihak sekolah membebaskanku dari biaya spp. Tapi, sedikitpun aku tidak memikirkan sekolah lagi. Hanya bagaimana mendapat uang, bagaimana mencari uang, dan bagaimana bisa makan, itu yang kupikirkan. Aku harus membantu Yuk Dewi.

"Saya mau kerja, Bu."kataku.

"Tidak usah memikirkan biaya. Semuanya gratis. Sekolah lagi, ya?"bujuk Bu Yani.

"Termasuk biaya makan dan biaya listrik?"tanyaku. Yuk Dewi menyikut tanganku. Bu Yani diam. Tampaknya dia kebingungan.

"Tidak apa-apa kalau tidak bisa menggratiskan semuanya, Bu. Saya mau kerja saja, bantu Ayuk."

"Baiklah kalau memamg itu maumu. Tapi, kalau suatu saat kamu mau kembali, pintu sekolah selalu terbuka untukmu."

"Baik, Bu. Terimakasih."

"Ya sudah, Ibu pamit dulu."

"Terimakasih, Bu."kata Yuk Dewi.                      

"Iya, Wi. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Bu Yani keluar dari gubuk kecil kami, aku terus memandangnya hingga ia hilang di pertigaan ujung jalan. Aku pasti akan sangat merindukannya. Beliau sangat baik dan memperlalukanku seperti anak sendiri. Aku merasa punya ibu.

"Nah, kalau sudah tidak sekolah, mau kerja apa kau? Jualan pisang goreng lagi?"tanya Yuk Dewi.

"Ikut Ayuk ke kebun."

"Kerja apa, kau?"

"Apa sajalah. Aku kan laki-laki. Gampanglah itu."

"Kalau kau pikir kerja tu gampang, tak susah Ayuk pergi pagi pulang malam, badan pegal-pegal."

"Ayuk perempuan. Wajar cepat lelah."

"Tengok besok saja. Jangan sok kuat."

***

Setelah shalat Subuh, aku dan Yuk Dewi sarapan nasi dan telur ceplok. Aku tidak biasa sarapan, tapi Yuk Dewi memaksaku karena nanti kerjaku butuh tenaga. Setelah sarapan, kami langsung berangkat. Jarak dari rumah ke kebun sekitar 500 meter. Kami jalan kaki sambil membawa beronang berisi bekal makan siang, arit, dan tak lupa caping di kepala. Sampai sana, Yuk Dewi langsung mengajakku membersihkan rumput di antara tanaman tomat dan kacang panjang. Sebelum Dzuhur, kami dan beberapa pekerja lainnya istirahat dan makan bekal yang tadi kami bawa. Selesai makan, kami lanjut bekerja hingga Magrib tiba. Kebun milik Pak Herman ini memang luas betul. Tak bisa aku bayangkan kira-kira berapa harganya kalau dijual.

***

Sudah hampir satu minggu aku bekerja di kebun. Aku akui, Yuk Dewi tidak bohong, pekerjaan ini berat walau terlihat sepele. Hari ini aku tidak ke kebun untuk mengistirahatkan tubuhku.

"Laki-laki ternyata lebih cepat juga lelahnya."ledek Yuk Dewi.

"Ayuk lebih tua, wajar kuat. Akukan masih kecil."

"Halah, dasar kau saja lemah."katanya. Aku melotot, tapi dia malah tertawa.

"Makan siang sudah di meja, jangan sampai kau pingsan gara-gara kelelahan dan kelaparan. Hahaha." kata Yuk Dewi sambil pergi menuju kebun. Aku manyun.

Matahari sudah naik, aku mulai merasa bosan. Tidak ada hal yang bisa kulakukan di rumah ini. Semua sudah bersih dan rapi. Ayuk Dewi selalu membereskannya. Setelah makan siang, aku memutuskan untuk keliling kampung saja. Sudah lama sekali rasanya tidak menyapa tetanggaku, karena selalu bekerja. Aku berjalan kaki melintasi jalanan kecil kampungku. Menyapa Om Gino yang sedang mengurusi ayam jagonya, menggoda Rehan, anak tetanggaku yang masih bayi dan lucu, atau sekedar senyum kepada orang-orang yang kutemui di jalan. Diujung sana, aku melihat beberapa teman-temanku yang juga putus sekolah sedang berkumpul. Akupun menghampiri mereka. Ternyata mereka sedang minum tuak. Ardi, salah satu temanku mengajakku untuk minum. Aku menolak. Beberapa dari mereka meledekku. Tapi aku lebih memilih diledek daripada nanti dimarah Yuk Dewi habis-habisan kalau tahu aku minum tuak. Akupun pamit melanjutkan perjalanan. Teman-temanku cuek saja.

Di jalan, aku bertemu Yuk Ami. Dia kakak kelasku di SD dulu. Rumahnya tepat di sebelah rumahku. Dia bersekolah di SMP kampung sebelah.

“Dimas, mau kemana?”tanya Yuk Ami.

“Jalan-jalan saja. Baru pulang sekolah, Yuk?”

“Iya. Ayuk duluan, ya. Sudah lapar sekali.”katanya sambil tersenyum.

“Iya, Yuk.” Aku dan Yuk Ami kembali berjalan, tapi dengan arah berlawanan. Tak terasa aku sudah sampai di perbatasan dengan kampung lain. Aku memutuskan balik lagi.

Teman-temanku sudah tidak ada di tempat tadi. Mungkin di usir Pak Camat, pikirku. Saat sedang berjalan, aku mendengar keributan dari dalam kebun karet di belakangku. Aku menoleh, tapi hanya sunyi. Mungkin hanya perasaanku saja. Sepersekian detik sebelum aku memutar kepala lagi, kulihat rerimbunan rumput bergerak-gerak. Awalnya kukira angin. Tapi, tidak, itu bukan angin karena pohon-pohon lain tidak bergerak. Agak jauh memang dari tempatku berdiri sekarang, tapi karena penasaran aku mendekatinya. Semakin dekat, jantungku berdegup kencang. Kudengar seseorang berteriak memaki. Aku tetap melangkah, semakin dekat jantungku mau copot. Aku bersembunyi di balik pohon besar sambil mengamati apa yang terjadi.

Di sana, kulihat Yuk Ami digotong oleh teman-temanku ke dalam kebun karet. Ardi merobek baju seragam yang dikenakan Yuk Ami, lantas mengikat tangan Yuk Ami dengan seragamnya. Teman-temanku memperkosa Yuk Ami bergantian. Mereka banyak sekali. Satu, dua, tiga, empat, lima, empat belas orang! Yuk Ami digagahi empat belas orang laki-laki yang sedang mabuk tuak. Yuk Ami berontak, namun teman-temanku malah memukuli badannya. Lututku benar-benar lemas. Semuanya terjadi begitu cepat. Mataku menabrak mata Yuk Ami yang sedang menatapku. Mata sayu penuh penderitaan.  Jantungku rasanya benar-benar mau copot sekarang. Aku takut, kasihan, marah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Teman-temanku mabuk, kalau aku membantu Yuk Ami, barangkali akan ada belasan pisau menancap di leherku.

Setelah menatapku, mata Yuk Ami perlahan tertutup. Kemudian dia diam. Tak melawan. Teman-temanku masih menyetubuhinya. Entah Yuk Ami masih ada atau tidak saat itu. Aku tidak tahu. Mataku berkunang-kunang. Belum hilang kagetku, tiba-tiba Yuk Ami digotong dan digulingkan ke dalam kebun itu. Setahuku disana jurang. Ya, Tuhan. Mati aku.  Aku langsung lari tanpa menoleh lagi.

***

Malam itu rumah Yuk Ami ramai. Ayah dan Ibunya bingung kenapa putrinya belum pulang juga hingga malam begini. Besoknya pun, Yuk Ami belum juga ada di rumah. Warga disekitar rumahku akhirnya mencarinya keliling kampung hingga ke sekolahnya. Yuk Dewi menyuruhku untuk ikut mencari Yuk Ami. Tapi aku menolak, aku bilang badanku sedang tidak enak. Sungguh aku tidak kuat. Aku tahu dimana Yuk Ami, tapi takut untuk kesana. Beberapa hari kemudian, akhirnya polisi dibantu warga berhasil menemukan Yuk Ami di jurang kebun karet. Persis di tempat dimana kemarin aku melihatnya meregang nyawa. Mayat Yuk Ami ditemukan telah membusuk dalam keadaan mengenaskan, tanpa busana dan tangan terikat.

***

Satu bulan setelah kejadian itu, semua pelaku sudah tertangkap. Dan aku masih juga terperangkap. Yuk Ami, perempuan cantik, baik, pintar, ramah dan periang harus menerima takdirnya yang teramat pedih. Lalu aku sebagai laki-laki, hanya bisa melihatnya kesakitan. Yuk Ami sudah pergi dari dunia ini, tapi sedetikpun ia tak pernah meninggalkan pikiranku. Aku melihatnya di kamarku, di kebun karet, di jalan, diteras rumah, di semak belukar, dimana saja. Ia hanya diam. Tapi matanya seakan protes,”Kenapa kau tak membantuku, Dimas? Aku tidak kuat. Sakit sekali.”

Aku berteriak ketakutan.

 

Saat sedang bekerja di kebun Pak Herman, tiba-tiba Yuk Ami duduk di dekat kakiku, tangannya terikat. Lalu ia menangis,”Kamu meninggalkan aku sendirian. Aku tidak kuat. Sakit sekali. Mereka jahat. Kamu juga.”

 

Aku berteriak.

 

Aku pasrah. Mungkin ini memang salahku. Aku pantas menerima hukuman ini. Tiba-tiba, Yuk Dewi mendekatiku, "Ayuk tahu, kau ada disana saat kejadian. Kenapa kau tinggalkan dia sendirian? Bagaimana bisa kau tega melakukannya? Bayangkan kalau itu Ayuk. Apa kau juga tetap diam? Haaaa? Jawab!” teriak Yuk Dewi emosi. Aku menutup telingaku rapat-rapat. Aku menangis. Yuk Dewi mencengkram kedua pundakku. Aku berteriak.

"Dimas! Bangun, Dim!"

Ahhh, aku terbangun. Tanganku masih di telinga. Keringat membasahi bajuku. Aku mengatur napas.

"Mimpi buruk?"tanya Yuk Dewi. Aku belum bisa menjawab. Jantungku tak karuan. Yuk Ami tertawa melihatku dari pojokan kamarku. Tatapannya sayu. Aku berteriak lagi.

***

Namaku Dimas. Usia 12 tahun. Aku tinggal kecamatan kecil di pelosok provinsi Bengkulu. Aku terakhir pergi kesekolah dua tahun lalu, saat masih kelas 4 SD. Jangan dekat-dekat. Aku sudah tidak waras.

 

*Ayuk atau Yuk adalah sapaan untuk kakak perempuan.

Tokoh dalam cerita ini adalah fiksi.

Thumbnail by Septian Wahyu Candra.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan:

    Cerpen yang akan membuat siapapun merasakan pedih secara maksimal. Karya yang sangat jujur, membuat kita tak sanggup lagi menghindar bahwa apa yang Dimas alami hanya satu dari sekian banyak dari yang ada di masyarakat. Pesan yang ingin diangkat oleh kreator Meilinda Dwi Pertiwi sangat kuat; tentang kejahatan seksual yang kian marak terjadi. Diangkat dari sudut pandang seorang saksi, Dimas, cerpen ini terasa unik.

    Efek berantai dan panjang dari peristiwa sangat getir ini pun ‘menyiksa’ Dimas sebab dia merasa bersalah tak menolong kawannya sendiri. Ditulis dengan gaya orang pertama, cerpen ini terasa ‘sangat dekat’, mengobrak-abrik perasaan siapa pun yang membacanya hingga di akhir cerita kita pun merasakan ‘lubang’ dalam hati. Begitulah cerpen ini sukses membawamu ke dalam kisah dan menyelami kalbu Dimas dan lainnya. Luar biasa Meilinda.

    • Lihat 1 Respon

  • Fifi Syahrir
    Fifi Syahrir
    1 tahun yang lalu.
    entah kenapa setelah membaca ini aku merinding sendiri. bagus sekali kak, salut.

  • Yoprian -
    Yoprian -
    1 tahun yang lalu.
    (y)

  • Muhamad Rizki Abdiansah
    Muhamad Rizki Abdiansah
    1 tahun yang lalu.
    Edun pisan, Mantep mee

  • adam isal
    adam isal
    1 tahun yang lalu.
    good,, like it..