Perempuan yang Ditinggalkan Zaman

meilinda dwi pertiwi
Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Oktober 2016
Perempuan yang Ditinggalkan Zaman

Minarsih. Begitu cantik namamu, indah parasmu, baik hatimu, santun perilakumu. Sayang seribu sayang, malang nasibmu.

Minarsih belum menikah. Usianya dua puluh tiga tahun. Ia hidup dengan ibu yang sudah renta dan ayah yang lumpuh di gubuk tua. Tak pernah berkecukupan. Makan sehari sekali saja sudah syukur. Beda dengan perempuan lain sebayanya yang sedang menggandrungi gadget terbaru, Minarsih malah tak kenal dunia luar. Yang ia tahu hanya jualan kerupuk hingga petang.

Sore itu, pulang dari berjualan kerupuk, Minarsih kaget bukan kepalang melihat Pakde Hanang ada di rumahnya. Pakde Hanang adalah orang kaya yang baik hatinya. Ibu Minarsih sudah sering sekali dipinjami uang olehnya, untuk berobat ayah atau sekedar beli makan. Lantas, kenapa Pakde Hanang ada di rumahnya sekarang? "Mungkinkah ia ingin menangih hutang-hutang ibu?"pikir Minarsih.

"Minarsih, sudah pulang, Nak?"tanya ibunya ketika melihat Minarsih di teras rumah.

"Sudah, Bu. Eh, ada Pakde."

"Duduk dulu, Pakde mau bicara."

"Ya, Pakde."

"Begini, teman Pakde sedang mencari tkw untuk ART di Malaysia. Kamu mau?"

"Malaysia?"Minarsih menatap ibunya. "Siapa nanti yang akan menjaga ayah dan ibu saya?"tanya Minarsih.

"Narsih, ibu sama ayah ndak papa kalo kamu pergi. Toh buat cari uang."kata Ibu.

"Iya, lagian di sini ada Pakde. Biar Pakde yang jaga."

"Bagaimana, ya?"aku bingung.

"Lagi pula, kau harus melunasi hutang-hutang ibumu. Hasil jualan kerupuk mana bisa buat bayar."kata Pakde. "Pakde bukannya memaksa, tapi Pakde juga lagi butuh uang. Kalau kalian tidak bisa membayar dalam waktu dekat, ya terpaksa rumah kalian Pakde ambil."

Dheg.

"Rumah akan diambil? Kami tinggal dimana?"pikir Minarsih.

"Apa tidak ada yang dekat-dekat saja, Pakde?"

"Tidak ada. Ya terserah kamu mau atau tidak. Tapi, hutang kalian harus dilunasi, karena ekonomi Pakde sedang kacau juga sekarang."kata Pakde sambil mengurut jidatnya.

Minarsih melihat ibunya. Ibunya diam saja, tapi dari sorot matanya, ia mengizinkan anaknya itu kerja di Malaysia.

"Hutang kalian tidak sedikit, lho. Butuh berapa bulan tahun untuk bisa melunasi kalau kamu masih jualan kerupuk saja?"

Minarsih berpikir Pakde ada benarnya juga. Alhasil, ia mengiyakan tawaran Pakde Hanang.

***

Setelah mengurus ini-itu banyak sekali, Minarsih diterbangkan ke Malaysia. Sebelum berangkat, ia mencium tangan keriput ayah dan ibunya. Ia akan merindukan mereka.

"Jaga diri baik-baik."pesan ibu. Hanya itu. Ayah menatap Minarsi dalam. Matanya berkaca-kaca, tapi ditahannya sekuat tenaga. Matanya memerah. Minarsih melangkah meninggalkan kampung halamannya.

***

Begitu sampai di Malaysia, dia langsung diantar ke rumah majikannya. Rumahnya besar beda sekali dengan gubuk tuanya. Di sana tinggal sepasang suami istri dan anak laki-laki.

"Halo, Minarsih. Aku Tuan Abdul ini isteri saye, panggil je Nyonya Abdul. Ini anak saye, Fahri."

"Saya Minarsih, Tuan, Nyonya."

"Kamu istirahat je, nanti lepas Magrib aku bagi tahu ape-ape yang harus kau kerjakan di rumah ni."

"Baik, Nyonya."

Minarsih masuk ke kamar yang sudah disiapkan. Ia segera membereskan pakaian-pakaiannya dan duduk dipinggir tempat tidur. Ia ingat ayah dan ibu.

"Kak, betah-betah ye kat sini."tiba-tiba Fahri muncul di depan kamarnya, membuyarkan lamunan Minarsih. Minarsih tersenyum, Fahri pergi dari sana. Entah kemana. Tuan dan Nyonya Abdul kelihatannya baik. Fahri juga anak yang periang dan supel. Usianya mungkin tiga atau empat tahun di bawah Minarsih.

Malamnya, Nyonya Abdul memberikan petunjuk tentang apa yang harus, yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan Minarsih. Ia mendengarkan dengan seksama. Mengingat sedetail mungkin karena tak mau membuat kesalahan suatu hari nanti.

***

Hari berganti minggu menggenapkan bulan. Minarsih betah kerja di rumah ini. Majikannya baik dan pengertian. Ia melupakan kesedihannya karena meninggalkan orang tuanya, tapi rindu itu tetap ada. 

"Fahri, kakak boleh tak pinjam telepon. Kakak nak menghubungi ibu kakak."kata Minarsih memberanikan diri.

"Boleh lah, Kak. Pakai je. Jom ikut."Fahri mengajak Minarsih keruang tengah. "Silahkan kalau kakak mau menelepon." kata Fahri. Minarsih tersenyum. Ia segera menekan nomor telepon Pakde Hanang, tentu saja. Tidak ada telepon di gubuk tuanya.

Sekali, dua kali belum tersambung. Minarsih mencoba sekali lagi.

"Kenape, Kak?" tiba-tiba Fahri bertanya sambil memeluk Minarsih dari belakang.

"Astagfirullah!"Minarsih memberotak. Telepon terlepas dari genggamannya dan terjatuh kelantai.

"Kak, ayolah. Kite berdue je kat sini. Jangan malu-malu." Fahri mendekap Minarsih. Yang didekap berteriak minta tolong. Fahri seperti kesetanan, mencoba menjatuhkan Minarsih di sofa. Minarsih terus berontak hingga keduanya terduduk di lantai. Fahri menatap buas kearah Minarsih. Tatapan yang menjijikan.

"Janganlah malu-malu. Dah lame aku tunggu mase ni. Ayo, sini, Sayang!"

Minarsih kalap, ia melempar apa saja yang diraihnya. Tapi sia-sia, Fahri dengan kuat langsung memegang tangannya. Minarsih kalah. Ia tak bisa bergerak. Melihat korbannya kelelahan, Fahri perlahan melepaskan genggamannya. Tak ambil tempo, Minarsih meraih bolpen yang terjatuh dari meja telepon dan blassss.

Fahri mengerang kesakitan. Ia memegangi mata kanannya yang kini terasa nyeri sekali. Minarsih langsung berdiri dan mengambil asbak kaca di meja, lalu menghantamnya kekepala Fahri berkali-kali. Sekarang Minarsih yang kesetanan. Ditendangnya tubuh laki-laki itu sekuat tenaga. Fahri berteriak dan detik berikutnya hening. Baik Fahri maupun Minarsih tak ada yang bergerak.

***

"Pembunuh! Mati kau perempuan!"teriak Nyonya Abdul saat Minarsih keluar dari ruang persidangan. Minarsih dihukum 20 tahun penjara dengan tuduhan pembunuhan.

"Aku bukan pembunuh! Aku hanya melindungi diri dari laki-laki bejat! Aku bukan pembunuh! Anakmu saja otaknya mesum. Aku bukan pembunuh!"

Bukkk!

"Sesuatu menghantam kepala Minarsih. Semuanya jadi gelap. Ayah dan ibu menangis di kepala Minarsih.

"Mampus kau, pembunuh!"

Minarsih. Begitu cantik namamu, indah parasmu, baik hatimu, santun perilakumu. Sayang seribu sayang, malang nasibmu.