Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 16 September 2016   10:24 WIB
Nil dan Mesir

Fahri : "Sebelum aku kesini, sebenarnya ada 2 hal yang bikin aku kagum sama     Mesir. Yaitu Al Azhar dan Sungai Nil, karena tanpa sungai Nil, tidak ada Mesir dan tidak ada AL Azhar.”
Maria: "Aku juga suka sungai Nil, kalau tidak ada sungai Nil, pasti tidak ada Mesir, tidak ada peradaban, yang ada hanya gurun pasir. Kamu percaya pada jodoh, Fahri?"
Fahri: "Ya, setiap orang memiliki…."
Maria: "... jodohnya masing-masing. Itu yang sering kamu bilang". "Aku rasa sungai Nil dan Mesir itu jodoh, senang ya kalau kita bisa bertemu dengan jodoh yang diberikan Tuhan dari langit"
Fahri: "Bukan dari langit, Maria, tapi dari hati, dekat sekali"
***
    Itu percakapan antara Fahri dan Maria di tepi sungai Nil di suatu sore. Entah bagaimana, aku seolah terbius oleh campuran estetika Nil dan percakapan dua makhluk Tuhan itu. Aku setuju, aku rasa memang Nil dan Mesir itu berjodoh. Kalau tidak ada sungai Nil, tidak ada Mesir, tidak ada peradaban, yang ada hanya gurun pasir. 
    Mesir itu karunia Nil. Tanpa Nil, Mesir hanyalah dataran tandus nan gersang. Tidak akan ada kehidupan di sana.
    Nil dan Mesir itu jodoh. Aku mau jadi Nil, jadi sumber kehidupan bagi Mesir. Jadi sumber kebahagiaan bagi jodohnya. Enak ya, kalau kita bisa ketemu jodoh.
***
    Kamu percaya jodoh? Aku percaya. 
    Semua yang ada di bumi ini diciptakan berpasangan oleh Tuhan. Dilahirkan berjodoh oleh Tuhan. Setiap orang memiliki jodohnya masing-masing. Hanya saja kita tidak tahu siapa jodoh kita.
    Ketidaktahuan itulah yang kadang justru malah membuat kita semakin jauh dari jodoh; sekalipun katanya jodoh takkan kemana. Kadang kala, kita mati-matian memperjuangkan seseorang karena menganggap ialah jodoh kita. Tak ada yang salah dengan perjuangan itu. Hanya saja, rasanya kurang sopan jika kita sok tahu tentang apa yang sudah digariskan Tuhan untuk kita. Entah dari segi mana, kaca mata kita melihat bahwa dia-lah jodoh kita. Padahal hanya Tuhan yang tahu mutlak tentang semua itu.
    Nyatanya, kalau orang yang kita perjuangkan itu bukan jodoh yang Tuhan turunkan dari langit, kita bisa apa? Tak bisa kita tetap diam di sana, tetap memeluknya. Kita harus melepasnya dan mundur. Mundur bukan berarti putus asa-mu. Mundurlah sedikit untuk bisa maju ke jodoh yang Tuhan kirimkan dari hati; dekat sekali.
    Pernah dengar kisah peradaban Mesir? Ini tentang Nil, yang menjadi bagian kecil dari Mesir. Dulu ketika zaman jahiliah, jika Nil berhenti mengalir, orang-orang Mesir kuno memberikan tumbal seorang perawan untuk membuat Nil tetap mengalir. Tapi saat Islam datang, kebiasaan itu dihapuskan. Sampai suatu ketika, sungai Nil kering. Nil itu menjadi kering oleh Mesir yang telah berubah. Saat itu penduduk Mesir mendatangi 'Amr bin 'Ash dan melaporkan bahwa sungai Nil kering sehingga mereka harus melempar seorang perawan ke sungai itu untuk dijadikan tumbal. Namun 'Amr menolak karena Islam tidak mengajarkan itu. Lagi pula, jodoh Nil itu Mesir. Ia tak butuh yang lain. Tuhan sudah menetapkan, Nil dan Mesir itu berjodoh. Tak perlu dirayu dengan perawan dan keindahannya. Nil takkan tergoda oleh apapun tanpa izin Tuhan-nya.
    Maka, selama 3 bulan sungai Nil kering dan Mesir menderita, benar-benar menderita oleh Nil yang tak lagi mengalirinya dengan kesejukkan. Gurun itu bertambah tandus. Nil tak lagi mampu memberi setetes kehidupan untuk Mesir yang malang. Sungguh, jodoh itu saling merasa.
Melihat itu, 'Amr menulis surat kepada Khalifah 'Umar bin Khattab, menceritakan Mesir yang terpuruk tak berdaya sebab Nil-nya hilang. Diceritakan pula kepada 'Umar bahwa penduduk Mesir berencana memberi persembahan berupa seorang perawan untuk Nil. 
    Dalam surat balasannya, 'Umar mengamini sikap 'Amr yang menolak ritual penyerahan tumbal itu. Kemudian bersama surat balasan itu, 'Umar menyertakan secarik kertas dan menyuruh 'Amr membuang kertas itu ke Nil.
'Amr tersenyum sesaat setelah membaca apa yang 'Umar tulis di secarik kertas itu. Seperti merasa lega karena ada harapan mempersatukan kembali Nil dan Mesir. Tanpa buang tempo, 'Amr segera melempar kertas itu ke sungai Nil. 
    Malam itu, Mesir makin nelangsa. Bagaimana tidak, setelah Nil meninggalkannya, kini giliran penduduk Mesir meninggalkannya. Ya, malam itu penduduk Mesir tengah bersiap-siap pergi dari Mesir untuk mencari kehidupan lain. Mesir ingin menangis, tapi ia tak bisa. Hanya pasrah, berharap pada takdir. Semoga Tuhan mengembalikan jodohnya. Semoga Tuhan mengembalikan Nil kepada Mesir. Mengembalikan peradaban.
    Esoknya, saat penduduk Nil telah bersiap meninggalkan Mesir, ternyata Allah SWT telah mengalirkan sungai Nil enam belas hasta dalam satu malam. Subhanallah! Jodoh memang takkan kemana. Tuhan telah mengembalikan Nil kepada Mesir, mengembalikan jodohnya.
    Hei, kau tahu apa yang ditulis 'Umar untuk Nil di kertas itu? Isinya sederhana, "Jika kamu mengalir karena dirimu sendiri, maka jangan mengalir. Tapi jika Allah yang Maha Esa dan Perkasa yang mengalirkanmu, maka kami mohon kepada Allah yang Maha Esa dan Perkasa untuk membuatmu mengalir."
    Itu jodoh!
    Saat kau mencintai orang karena hasratmu sendiri, maka jangan kau perjuangkan dia. Namun jika kau mencintai orang karena Tuhan, maka biarkan Tuhan menjadi sutradara dalam skenario hidupmu.
    Nyatanya, kalau orang yang kita perjuangkan itu bukan jodoh yang Tuhan turunkan dari langit, kita bisa apa? Tak bisa kita tetap diam di sana, tetap memeluknya. Kita harus melepasnya dan mundur. Mundur bukan berarti putus asa-mu. Mundurlah sedikit untuk bisa maju ke jodoh yang Tuhan kirimkan dari hati; dekat sekali.
    Bukan tentang siapa jodohmu, tapi tentang bagaimana kau dengan lapang menerima apa yang Tuhan takdirkan. Layaknya Nil dan Mesir. Aku ingin menjadi Nil dan semoga Tuhan memberi kau sebagai Mesirku.

 

Karya : meilinda dwi pertiwi