Dari Bumi untuk Langit (Part 2)

meilinda dwi pertiwi
Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Juni 2016
Dari Bumi untuk Langit (Part 2)

16 Desember 2015

Hai, aku si Kecil. Setidaknya begitu orang tuaku memanggilku. Ayahku bekerja di sebuah bank swasta di Yogyakarta. Ia selalu berangkat pagi-pagi buta dan pulang setelah adzan Magrib dikumandangkan. Ibuku adalah ibu rumah tangga. Sehari-hari memasak, mencuci, menyiapkan pakaian untuk ayah dan membereskan rumah. Ia wanita yang kuat. Sanggup memasang galon, mengepel seluruh ruangan, memangkas rumput, membeli tabung gas dan pekerjaan-pekerjaan berat lainnya. Tapi, ibu juga orang yang penyayang dan lemah lembut. Setiap ayah pulang kerja, ibu selalu menyiapkan teh tanpa diminta. Ibu selalu mengusap rambut ayah saat ayah masih tertidur di pagi hari. Dan ketika ayah terbangun, ibu tak pernah lupa bertanya,”tidurmu nyenyak, Sayang?” lalu ayah akan mengecup kening ibu dan berkata,”selalu nyenyak kalau di sampingmu.”

Ayah dan Ibu menyiapkan kamar khusus untukku. Aku suka kamar ini. Kamar yang nyaman. Dari sini aku bisa lihat apapun yang dilakukan ayah dan ibu.

“Selamat tanggal enam belas yang ke sembilan belas, Sayangku.”sore itu Ayah pulang dari kantor membawa kue, mengagetkan Ibu yang sedang asyik nonton.

“Aduh, Candra!”teriak Ibu

“Sini pipinya.” Kata Ayah sambil mencium pipi Ibu.

“Kamu bikin kaget deh, katanya lembur.”

“Kan surprise!”

“Kuenya enak kayaknya.”

“Ayo makan bareng-bareng.” Kata Ayah semangat. Ibu langsung meletakkan kue di meja dan memotongnya. Tanpa dikomandoi, Ayah langsung memakannya.

“Jangan dihabisin, Can. Si Kecil juga mau.” Kata Ibu sambil mengusap kepalaku. Aku tersenyum.

“Iya, anakku juga mau kue ya?” Kata Ayah juga ikut mengusap kepalaku.

“Can, nanti malem ke Bukit Bintang, yuk.” Ajak Ibu.

“Waduh, aku udah ada janji sama bos. Ada yang mau diomongin.”

“Yah,,,”

“Diana sayang, jangan cemberut gitu, dong. Kita kesana tanggal enam belas bulan depan aja. Aku janji, deh.”

“Lama banget. Padahal si Kecil udah pengen banget kesana, ya, Nak?” tanya Ibu padaku. Aku mengangguk dan tersenyum.

“Kerjaan kantor lagi numpuk, Sayang.”

“Hmm, yaudah deh.”

“Jangan ngambek. Sini aku peluk dulu. Istriku yang paling cantik sedunia akhirat.” Demi mendengar pujian dari Ayah barusan, Ibu langsung luluh di pelukan Ayah. Begitulah keseharian Ayah dan Ibuku. Penuh cinta dan kasih sayang. Aku berharap ini takkan berakhir.

 

16 Januari 2016

Ayah sepertinya tidak lupa dengan janjinya sebulan yang lalu, yaitu mengajak aku dan Ibu pergi ke Bukit Bintang merayakan tanggal enam belas mereka. Jujur, aku sangat menunggu hari ini. Aku sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana Bukit Bintang itu. Tempat dimana mereka pertama kali bertemu. Tempat yang membuat kedua orangtuaku saling jatuh cinta. Tempat yang membuat cinta itu tumbuh subur.

“Can, si Kecil nanti kedinginan ga di sana?”

“Engga. Kamu tenang aja, aku bakal peluk dia, biar dia enggak kedinginan.”

“Kalo kamu meluk si Kecil, yang meluk aku siapa?”

“Aku juga. Nih liat, lenganku panjang kayak gini. Pasti cukup buat meluk kalian berdua.” Kata Ayah sambil merentangkan kedua tangannya. Aku tertawa tertahan melihat kelakuan ayahku.

“Kamu sih kayak kingkong. Badannya gede.” Ledek Ibu.

“Diana, kamu ngajakin ribut?”

“Iya. Sini kalo berani. Wekkkk.” Alhasil sore itu Ayah dan Ibu asyik kejar sana-sini. Pukul sana-sini. Gelitik sana-sini, sambil sesekali tertawa mengusap kepalaku. Duh, ini jadi ke Bukit Bintang ngga, sih?

“Stop! Sayang, stop. Aku nyerah, ayo kita berangkat sekarang aja, nanti kesorean.” Kata ayah menghentikan perang.

“Hahaha! Masa sama aku kalah.”

“Kamu sih ototnya kayak otot sapi.”

“Maksudmu?!”

“Engga. Ga maksud apa-apa. Ayo berangkat.” Kata Ayah langsung merangkul Ibu. Kami bertiga bergegas menuju Bukit Bintang. Ayah memacu mobil dengan kecepatan penuh karena Ibu sudah sewot takut ketinggalan momen sunset.

Beberapa menit kemudian, kami sampai. Aku terpesona melihat indahnya Jogja dari sini. Sungguh, bukan omong kosong jika Ibu sering bilang kepadaku, betapa romantisnya tempat ini.

 

4 Februari 2016

Ibu membuat kamarku jadi lebih besar. Tidak banyak memang. Hanya sedikit perluasan ke kiri dan kanan dindingnya. Kamarku jadi tambah nyaman. Aku betah sekali di sini. Ibu begitu memperhatikanku. Jadwal makanku tidak pernah terlambat. Susu, vitamin, buah-buahan, semua tersedia sesuai kebutuhanku.

Setiap jam satu siang, setelah Ibu selesai membereskan rumah, Ibu selalu memutar lagu-lagu kesukaannya. Aku juga suka. Kadang, aku sampai tertidur saat mendengarkannya dan baru terbangun saat Ibu mengajakku untuk jalan-jalan sore di sekitar rumah. Biasanya Ibu mengajakku kerumah tante Dinda. Ibu bisa mengobrol panjang dengan tante Dinda. Membicarakan banyak hal yang tidak aku pahami. Entahlah apa yang mereka bicarakan. Mungkin aku masih terlalu kecil untuk paham istilah-istilah aneh yang tante Dinda ucapkan.

Sepanjang Ibu dan tante Dinda mengobrol, aku lebih tertarik memperhatikan rumah tante Dinda. Rumahnya lumayan besar. Pintu dan jendelanya banyak. Aih, pasti asyik kalau bisa main-main di sini.

Di ruangan ini, ada kasur, lemari, kursi dan meja. Itu pasti meja belajarnya tante Dinda. Besok aku akan meminta ibu untuk menambahkan meja di kamarku. Biar aku bisa belajar menulis di sana. Di dalam lemari kaca ada banyak sekali bungkusan. Sepertinya permen. Ada berbagai macam bentuk dan warna. Tapi mayoritas berbentuk bulat. Enak sekali tante Dinda punya permen sebanyak itu. Aku boleh minta atau tidak, ya?

 

16 Maret 2016

Hari ini Ayah pulang lebih awal. Bukan untuk merayakan tanggal enam belas mereka, tapi karena Ibu sedang sakit. Sejak dua hari yang lalu, perut Ibu bermasalah. Aku juga kurang tahu sakit apa. Ibu jadi enggan makan. Katanya mual kalau nasi masuk ke mulutnya. Ayah menemani Ibu di kamar. Sejak pulang dari kantor, tak kulihat sekalipun Ayah melepaskan genggaman pada tangan Ibu. Ibu pun tertidur sambil menahan rasa sakit.

Ayah menatap kearahku. Mengusap kepalaku lembut seolah berkata,”semua akan baik-baik saja. Ibu hanya kelelahan.” Ayah mencoba menenangkanku saat dirinya sendiri kalut. Ayah memberiku semangat saat dirinya sendiri kehilangan tenaga. Aku melihat kesedihan di mata Ayah. Tangannya yang gemetar, aku mengurungkan niatku untuk memberitahunya soal kamarku. Sepertinya ada sedikit kerusakan di kamarku. Aku jadi tidak nyaman.

 

16 April 2016

Ibu sudah sehat. Ayah sudah semangat lagi, dan kerusakan pada kamarku juga sudah hilang. Sekarang kamarku malah jadi tambah lebar. Aku rasa mungkin akan muat jika memasukkan satu meja ke kamar ini. Tapi, besok-besok sajalah. Aku lagi butuh ruang luas untuk bermain. Aku dan Ayah sedang suka bermain sepak bola di kamarku. Ibu kadang sampai marah-marah begitu tahu Ayah mengajakku main bola di kamar.

“Nanti kalau kamarnya ada yang rusak gimana? Ketendang terus dindingnya ambrol?”

“Ya, enggaklah, Diana sayang. Nendangnya pelan-pelan juga kok.”

“Ngeyel.”

“Ayo, anak Ayah, tendang bolanya kesini. Ya, kiri. Eh, kanan...kanan!”

“Aduh, Can.”

“Ayo, tendang terus!”

“Ampun, deh. Bapak sama anak, sama aja.”

“Gooooooooooool...” teriak Ayah tak peduli Ibu cemberut kesal. Aku tertawa menikmati permainan ini. Tapi kasihan juga melihat Ibu manyun. Jadi jelek. Hihi. Akhirnya aku memutuskan istirahat dan tertidur dipelukan Ibu.

 

5 Mei 2016

Pagi ini, aku merasakan kamarku bermasalah lagi. Aduh, jangan-jangan apa yang di khawatirkan Ibu benar. Gara-gara sering aku tendangi pakai bola, dindingnya jadi ambrol. Aduh, gimana ini?

Di waktu yang bersamaan, Ibu mengeluhkan perutnya sakit lagi. Kali ini lebih sakit dari yang sebelumnya. Ayah panik dan langsung membawa Ibu ke rumah sakit. Akupun diajak. Sampai di rumah sakit, Ibu dimasukkan di suatu ruangan tertutup. Ayah tidak diperbolehkan masuk. Tapi aku boleh masuk. Mungkin karena aku masih kecil. Beberapa orang menggunakan seragam berwarna hijau langsung mengerumuni Ibu. Mereka semua menutup wajahnya menggunakan masker. Salah satu dari mereka menyuntikkan cairan ke tubuh Ibu. Aku tidak kuat melihatnya. Pandanganku buram, tubuhku lemas, aku tak sadarkan diri.

Sebuah sentuhan membangunkanku. Mataku sayup-sayup melihat sekeliling, mencoba mengenali tempat aku berada. Ini kamarku. Ya, ini kamarku. Oh, astaga. Bagian atas kamarku telah hancur. Dindingnya telah roboh. Apa yang harus kukatakan pada Ibu? Ini pasti salahku. Tiba-tiba sebuah alat mendekati dinding kamarku. Seketika alat itu membuka sempurna kamarku. Tunggu dulu. Itu bukannya tante Dinda? Kenapa tante Dinda menghancurkan kamarku? Jahat sekali.

Tangan tante Dinda meraih tubuhku dan mengangkatnya. Sedetik sebelum pengelihatanku hilang, mataku menangkap sosok Ibu sedang tidur di atas kasur. Perutnya terbelah; berdarah. Lalu semuanya gelap, kemudian hilang.

 

16 Mei 2016

Aku dan Ibu menunggu Ayah di Bukit Bintang. Dari atas sini aku bisa menikmati indahnya lampu-lampu Yogyakarta. Syahdu. Bintang dilangit muncul satu persatu. Bulan terang, bulat sempurna. Ibu memetik kelopak demi kelopak mawar yang ia temukan di jalan tadi. Kelopaknya hampir habis seiring habisnya kesabaran Ibu menunggu Ayah yang tak kunjung tiba. Ayah ada meeting di kantornya, jadi kami tidak bisa berangkat bersama.

Setelah menunggu tiga puluh menit, akhirnya Ayah datang. Aku tidak bisa mengartikan ekspresi Ayah. Terlalu datar untuk sebuah kebahagiaan, tapi terlalu kuat untuk sebuah kesedihan. Tak butuh waktu lama, Ayah dan Ibu terlibat obrolan yang panjang lebar. Walaupun aku tahu, mereka tak saling mengetahui apa yang sedang dibicarakan. Hanya langit, bulan, bintang, dan kenangan yang mengerti.

Malam semakin larut, Ayah beranjak dari duduknya. Menatap langit sejenak, mungkin berharap menemukan aku dan Ibu di sana. Lalu Ayah melangkah pergi. Sampai punggungnya hilang di ujung jalan itu, aku tak berhenti melambaikan tangan dan berteriak,”Sampai jumpa tanggal enam belas bulan depan, Ayah. Aku dan Ibu mencintaimu!”

 

 

  • view 294