Dari Bumi untuk Langit

meilinda dwi pertiwi
Karya meilinda dwi pertiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Juni 2016
Dari Bumi untuk Langit

Yogyakarta, 16 Mei 2016

Aku duduk sendiri di sini, di Bukit Bintang. Dari atas sini aku bisa menikmati indahnya lampu-lampu Yogyakarta. Syahdu. Bintang dilangit muncul satu persatu. Bulan terang, bulat sempurna. Aku memetik kelopak demi kelopak mawar yang kutemukan di jalan tadi. Kelopaknya hampir habis seiring habisnya kesabaranku menunggu Candra yang tak kunjung tiba. Candra ada meeting di kantornya, jadi kami tidak bisa berangkat bersama. Seharusnya dia sudah ada di sini, tapi tiga puluh menit sejak aku di sini, batang hidungnya tak jua aku temui.

“Aduh, akhirnya sampai juga. Tadi di jalan ada tabrakan mobil, jadi jalannya macet.” Akhirnya Candra datang juga. Dengan terengah-engah, ia duduk di sampingku.

“Kebiasaan!” gumamku.

“Aduh, rame banget. Untung tempat favorit kita belum keduluan orang lain.” Kata Candra. Aku mengangguk.

Candra terdiam sebentar, menatap ke arah lampu-lampu di bawah sana. Entah apa yang dia pikirkan. Kemudian dia mendongak, matanya liar seperti sedang mencari sesuatu di langit sana. Suamiku memang aneh.

“Sekarang tanggal enam belas, ya, Na?” tanya Candra.

“Iya.” Jawabku singkat.

“Hari ini kita anniversarry. Ngga kerasa, ya udah dua tahun.”

“Iya, perasaan baru kemarin aku kenal kamu. Sekarang kita udah nikah ternyata.”

“Bagiku, dua tahun bukan waktu yang lama. Setiap waktu yang aku lewatin bareng kamu, rasanya cepet banget. Cepeeeeeeeet banget.”

“Hihi, kamu bisa aja.” Aku tersipu.

“Diana, kamu inget kapan pertama kali kita ketemu?”

“Inget, dong. Tahun baru.” Kataku mantap.

“Tanggal 1 januari 2014 pukul 00:16.”

“Dih, inget banget.”

“Aku nggak pernah lupa sama semua hal tentang kamu. Tentang kita.”

“Gombal.”

“Waktu itu pas perayaan tahun baru, aku sedang lesehan di pinggir jalan sama temen-temenku. Eh,  tiba-tiba kamu ikutan nimbrung dan kamu sibuk aja sama ponselmu.”

“Lagi update status, biar orang-orang pada tahu kalau aku lagi ikut perayaan tahun baru. Hehe.”

“Aku sama temen-temenku bengong ngeliat kamu. Secara kami nggak ada yang kenal sama kamu. Tiba-tiba ada yang manggil nama kamu. Kamu noleh ke arah suara itu dan kemudian melirik kami. Wajahmu langsung jadi ungu, terus kamu langsung ngacir ke temen-temenmu yang ternyata lagi duduk beberapa meter di belakangmu.”

“Ya biasanya aku nongkrong di sana sama temen-temenku. Nggak tahu kalo malem itu mereka pindah lapak. Duh, malu banget aku, Ndra.”

“Aku bukan tipe orang yang percaya pada cinta pandangan pertama. Bagiku, semua itu omong kosong. Tapi malam itu, semua opiniku terbantahkan dan terpatahkan oleh paras cantik milikmu. Iya, kamu.”

“Gombal lagi.”

“Serius, aku belum pernah jatuh cinta secepat ini. Tapi denganmu, aku merasa berbeda. Hanya hitungan detik.”

“Ciye, kamu naksir aku.”

“Saat itu, dengan malu-malu aku menghampirimu. Entah dari mana aku dapatkan keberanian untuk mendekati. Asal kamu tahu, aku termasuk lelaki yang payah dalam hal modusin perempuan.”

“Kamu emang payah. Payah banget malah.” Kataku sambil tertawa.

“Aku bertanya namamu. Diana, katamu. Aih, nama yang cantik. Secantik orangnya.”

“Makasih, Ndra,”

“Sejak kau menyebut namamu, aku jadi suka suaramu. Rendah, lembut, menenangkan. Aku ingin tiap saat mendengarkannya.”

“Mau? Bayar.”

“Kamu ingat, aku sering bertanya kenapa kau suka sungai Nil? Hampir setiap hari aku bertanya, kan?”

“Iya, aku sampai bosan menjawabnya.”

“Sebenarnya aku tahu alasanmu, bahkan sudah hapal. Itu hanya trik saja agar aku bisa mendengar suaramu, suara saat kau berbicara tentang sungai Nil. Semangat, ceria, dan buatku melayang.”

“Sekarang aku yang kaubuat melayang mendengar pujianmu.” Kataku malu-malu.

“Aku suka sungai Nil, kalau tidak ada sungai Nil, tidak ada Mesir, tidak ada peradaban, yang ada hanya gurun pasir. Aku rasa sungai Nil dan Mesir itu jodoh. Enak, ya kalo kita bisa ketemu jodoh.” Kata Candra masih dengan menatap langit.

“Candra, kamu sempurna menirukan gaya berbicaraku. Kata-katanya, bahkan intonasinya. Eh, sebentar itu sebenarnya bukan kata-kataku. Itu kutipan dialog antara Fahri dan Maria di tepi sungai Nil di film Ayat-ayat Cinta.” Kataku semangat.

“Aku mau jadi Nil.” Lanjut Candra.

“Dan semoga Tuhan memberikan kamu sebagai Mesirku.” Sambungku. Sekarang Candra tertunduk.

“Oh, iya aku bawa sesuatu.” Candra membuka tasnya.

“Apa?” tanyaku penasaran.

“Ingat ini?” Candra mengeluarkan sebuah gelang. “Ini kamu yang beliin.” Lanjutnya.

“Iya, dan nggak pernah kamu pakai.” Aku cemberut.

“Bukannya tidak suka. Aku hanya, hmmmm, tidak suka.” Candra tersenyum mengejek. Aku makin cemberut.

“Oke, sekarang akan aku pakai,” Candra mengenakan gelang itu dipergelangan tangan kanannya. “Gelang ini kamu kasih ke aku sehari setelah kita menikah. Katamu biar hati kita semakin terikat. Aneh, deh kamu.”

“Kamu yang aneh!”

“Januari kita kenalan, Mei baru aku berani mengungkapkan rasa yang hampir lima bulan aku pendam dan kau menerimanya.”

 “Hari-hari setelah kita menikah terasa menyenangkan. Aku tak pernah sebahagia ini.”

“Aku juga, Ndra.”

“Kamu mengajarkanku banyak hal. Tentang kesabaran, misalnya.”

“Aku emang sabar banget ngadepin kamu.”

“Aku inget dulu waktu sebelum kita menikah, pagi-pagi kamu dateng ke rumahku bawa kue hasil les memasak sekalian kamu mau jenguk aku, karena hari itu aku bilang kalau aku sakit. Pas sampai di rumahku, ternyata kamu ketemu Mama, dan Mama bilang kalau aku barusan pergi bareng Arif.” Candra diam sebentar. “Kamu langsung telepon aku dan nanya aku dimana. Aku yang nggak tahu kalo kamu ada di rumah aku, bilang aku lagi tiduran di kamar. Kamu Cuma ber-oh aja.”

“Sumpah aku kesel banget.” Potongku.

“Hari itu aku emang ikut Arif nonton tanding futsal di sekolah dari pagi sampai sore. Pas aku pulang, aku kaget banget liat kamu ada di ruang tamuku lagi. Mau kabur, tapi kamu udah terlanjur ngeliat aku dan manggil aku. Akhirnya, takut-takut aku nyamperin kamu.”

“Nyebelin.” Potongku lagi.

“Aku nanya ngapain kamu di rumahku. Kamu menunjuk kue di atas meja yang tadi kamu bawa. Sambil tetap tersenyum, kamu nyuruh aku buat nyobain kue pertama yang kamu buat.”

“Dan maaf, lilinnya udah habis, soalnya udah aku bakar dari pagi.” Sambungku.

“Duh, Na, kamu niat banget nungguin aku dari pagi sampai sore. Padahal udah aku bohongin juga.”

“Kurang gimana lagi aku? Istri idaman, kan?” kataku mempromosikan diri.

“Aku salut banget sama kesabaranmu. Udah capek, dibohongin, masih juga senyum. Beruntung banget aku dapetin istri kayak kamu.” Candra memegang gelang yang tadi dipasangnya. “Sejak saat itu, aku janji nggak bakal bohongin kamu lagi. Aku janji.”

“Makasih, Sayang.”

“Na, ingat janji kita di Parangtritis, nggak?”

“Janji kita? Aku nggak janji. Kamu aja yang janji sama aku. Hahaha.”

“Disaksikan matahari tenggelam, aku berjanji untuk selalu di sampingmu, apa dan bagaimanpun kondisimu. Mungkin Nyi Roro Kidul tertawa mendengar janji yang terdengar seperti bualan itu.”

“Hush, ntar disamperin lho.” Aku menempelkan telunjuk di bibirku sambil melirik kesana kemari.

“Diana,” panggil Candra. Dia membenarkan posisi duduknya. “Kamu lihat bintang itu, nggak?” tunjuk Candra ke langit. Aku mengangguk.

“Menurut kamu, mereka kesepian nggak?” tanya Candra.

“Nggak lah, mereka rame-rame kok.” Celotehku.

“Terkadang, mungkin ada saatnya kita merasa kesepian di tengah keramaian, Na. Seperti aku, kalau aku sedang jauh darimu, aku merasa sepi walaupun di sekitarku banyak orang.”

“Aku juga.”

“Enak, ya jadi bintang. Tempatnya tinggal tinggi, bisa ngeliat apapun yang nggak bisa kita lihat dari bawah sini.”

“Emang bintang punya mata?” tanyaku cuek. Aku tahu, itu pasti akan membuat Candra mencubit pipiku, seperti yang selama ini selalu dia lakukan kalau sedang gemas.

“Diana, kamu pernah takut kehilangan, nggak?” tanya Candra. Dugaanku salah. Ternyata dia tak menghiraukan pertanyaan bodohku tadi.

“Pernah.” Jawabku sekenanya.

“Aku pernah. Aku takut banget kehilanganmu, Diana. Aku takut nggak baka nemuin kamu lagi. Aku takut nggak bisa nerima sms bawel dari kamu lagi. Aku takut.”

Aku hanya diam.

“Kamu takut, nggak kalau suatu hari saat kamu terbangun dari tidur, kamu nggak nemuin aku lagi di dunia ini?”

“Kok ngomongnya gitu?” tanyaku penuh selidik.

“Kadang aku mikir, gimana kalau salah satu dari kita harus pergi duluan. Yang ditinggalkan harus bagaimana?”

“Nyusul.” Aku ngawur dan memukul kepalaku sendiri demi menyadari pernyataan bodohku barusan.

“Menunggu untuk pergi juga atau, uhmmm, mencari cinta yang lain?” tanya Candra. Dhegg, hatiku ngilu.

“Kalau aku yang pergi duluan, aku akan membiarkanmu mencari lelaki yang lebih baik dari aku, karena bagiku, cinta bukan sekedar aku milik kamu, kamu milik aku.” Kata Candra.

“Maksudmu?”

“Cinta lebih dari itu. Cinta tak melulu soal memiliki, tapi juga mengikhlaskan yang dicinta untuk bahagia dengan cinta sejatinya.”

“Benarkah?”

“Bagaimana menurutmu, Na?”

Aku diam lagi. Candra kembali menatap langit yang bintangnya mulang menghilang.

“Diana, kamu bisa dengar aku, kan? Aku harus bagaimana agar kamu bahagia? Katakan, Diana.” Cantra tertunduk. Aku mengusap pundaknya. Pundak yang selalu memberiku kenyamanan.

“Diana....” Dia memanggilku lagi.

“Iya, Ndra.” Jawabku. Sayang ia tak bisa mendengarku.

“Kenapa secepat ini? Apa kamu bahagia meninggalkanku di sini?”

“Bahagia? Bahagia katamu? Bodoh!”

“Dosakah aku jika aku menyalahkan Tuhan yang telah mengambilmu dariku.”

“Jangan limpahkan kekesalanmu pada Tuhan. Tuhan baik, justru dengan aku meninggalkanmu, mungkin kamu, hmmm, akan dapat yang lebih baik dariku.”

“Kamu lihat aku, nggak, Na?’ Kamu dimana? Apa salah satu bintang di langit itu kamu?”

“Tidak, Ndra, terlalu jauh. Aku di sini, di sampingmu.”

“Andai kamu di sini, Na. Aku rindu kamu. Aku belum siap jika harus menghadapi kesepianku. Aku belum mampu. Aku rindu kamu.”

“Aku juga rindu.”

“Diana, sekarang tangga 16 Mei. Happys anniversarry, Sayang. Semoga kamu dengar aku.” Candra beranjak dari duduknya. Menatap langit sejenak, mungkin berharap menemukanku di sana.

"Kepada bintang, titip salam untuk Diana-ku, dari bumi yang akan tetap rindu," gumamnya, kemudian ia melangkah pergi. Pergi meninggalkanku yang telah lebih dulu meninggalkannya.

Happy anniversarry, Sayang.