Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 21 April 2018   21:12 WIB
Black Shadow

Aku bisa tahu kapan orang akan meninggal. Ya, aku serius. Orang bilang ini adalah anugerah, tapi menurutku ini adalah kutukan. Biasanya jika aku melihat bayangan hitam mengikuti seseorang, orang itu akan meninggal beberapa detik  kemudian. Karena hal ini, aku jadi takut pergi ke rumah sakit. Bisa kaubayangkan ada berapa banyak bayangan hitam yang bisa kulihat. Sungguh, ini membuatku ngeri. Hal lain yang aku takutkan adalah cermin. Aku takut kalau saja aku akan melihat bayangan hitam itu ada di belakangku. Menunggu waktu untuk menjemputku.

 Aku tinggal di sebuah kompleks perumahan bersama Mama Ami, Papa Bob dan Andrew. Jujur saja, mereka bukanlah keluarga kandungku. Dulunya, aku hanyalah anak jalanan yang tidak tahu siapa bapak dan ibuku. Aku terbiasa hidup terlutang-lantung. Kalau panas kepanasan, kalau hujan kehujanan. Hari-hari kujalani sendirian. Tidak ada rumah untuk melepas penat. Tidak ada teman untuk berbagi cerita. Tidak ada uang untuk melepas dahaga. Makan dari sisa-sisa di tong sampah? Sudah biasa. Dipukul dan ditendang karena dianggap mengganggu pemadangan? Sudah bukan hal baru bagiku. Hingga pada suatu sore, aku sedang duduk di lantai dekat pintu keluar pom bensin. Hari sudah mulai gelap, aku belum makan dari pagi. Perutku melilit sekali. Aku menangis. Sebuah mobil berhenti beberapa jarak di depanku. Seorang anak kecil keluar dari sana.

“Namamu siapa?” tanyanya. Aku diam saja. Ia menyentuh pipiku. Aku spontan mundur. Takut.

“Kamu ngapain di sini? Kok sedih?” tanyanya lagi. Aku masih diam.

“Kamu engga pulang? Bentar lagi malem, nanti kamu dicariin ibumu.” katanya. Aku menunduk sedih.

“Kamu gak punya ibu, ya?” tanya anak itu tiba-tiba. Aku masih diam saja. Anak itu kemudian lari ke mobilnya. Ia nampak berbincang dengan seorang wanita yang kuyakin adalah ibunya, Kemudian seorang wanita turun dan mengikuti anaknya ke arahku.

“Kasihan, Ma,”kata anak kecil. Wanita itu menatapku lama, kemudian berkata kepada anaknya, “Nanti dia dicariin mamanya.”

“Dia gak punya mama, Ma.”

“Kamu tahu dari  mana?”

“Tadi aku udah nanya sama dia.”

“Dia sendirian itu, Bu. Gak punya siapa-siapa lagi. Tiap sore sering ke sini” kata seseorang laki-laki menghampiri kami. Dia adalah Pak Bandi, petugas di pom bensin ini. Sesekali dia sering memberiku roti.

“Oh, gitu ya, Pak. Kasihan.”

“Ajak ke rumah aja, Ma. Biar aku ada temen,” wanita itu menatap Pak Bandi.

“Ya, kalau ibu memang mau dan mampu sih, gapapa. Silahkan aja. Sekalian beramal, Bu. Kasihan dia masih kecil harus berjuang hidup sendiri,” kata Pak Bandi. Wanita itu tampak bingung. Aku paham, melihat aku yang lusuh begini dan baru pertama kali bertemu, orang lain pasti akan berpikir dua kali untuk mengobrol denganku, apalagi mengajakku ke rumah. Siapa yang menjamin kalau aku ini baik? Bisa saja aku jahat, ya kan? Tapi karena anaknya terus merengek, akhirnya ia setuju. Aku digendong masuk ke dalam mobil. Kulihat ia sedikit jijik. Ya, aku wajar. Sejak hari itu, aku resmi diangkat menjadi anggota baru keluarga ini.

Di sini, aku jadi lebih terurus. Diberi makanan bergizi, dan suka diajak bercanda. Mama Ami, begitu dia menyuruhkku memanggilnya, jadi sangat sayang kepadaku, karena penampilanku yang tidak lagi kucel. Ini karena Andrew yang suka sekali mendandaniku.

“Kamu harus cakep, Dit. Lihat baju kita kembaran!” kata Andrew. Aku diberi nama baru oleh keluarga ini. Dito. Katanya, untuk memulai hidup yang baru, aku juga harus berganti nama. Lebih tepatnya karena aku tidak pernah menjawab waktu Papa Bob menanyakan namamu. Ya, karena memang aku tidak tahu siapa namaku. Tidak ada yang pernah memberiku nama. Aku terlahir tanpa nama.

“Ayo kita main ke lapangan, Dit.” ajak Andrew. Aku mengangguk kegirangan.

***

Sudah beberapa bulan-bulan aku hidup bahagia dengan keluarga ini. Aku pikir, dengan hidupku yang sekarang, kutukan itu akan lenyap. Tapi ternyata tetap saja. Seperti pagi ini, aku sedang duduk di balkon. Andrew sedang mewarnai bukunya. Aku menatap taman kompleks yang ramai. Taman itu terletak di depan rumah kami. Ini hari Minggu, banyak orang-orang yang memanfaatkannya untuk berolahraga dan berkumpul bersama dengan keluarga dan tetangga. Aku sebenarnya ingin bermain kesana juga. Tapi Andrew masih flu, jadi ia minta ditemani mewarnai saja.

Di taman itu, di dekat ayunan, bayangan itu berdiri. Seperti mengawasi seorang anak perempuan yang sedang bermain. Kutebak,  anak itu akan jatuh dari ayunan dan meninggal. Benar saja, anak itu mengayun terlalu kuat dan tali ayunan tiba-tiba putus, si anak terpental. Aku spontan teriak ketakutan. Andrew yang kaget tiba-tiba menghampiriku.

“Kenapa?” tanyanya sambil memegang punggungku. Aku menatap ke arah lapangan. Andrew mengikuti pandanganku. Ia menutup mulutnya. Ia nampak gemetar. Kami berdua berpelukan.

Tak hanya itu, pernah ada bapak-bapak tukang servis AC datang ke rumah kami. Saat ia sedang bekerja, kulihat bayangan hitam berdiri di sampingnya. Aku takut untuk melihatnya, tapi mataku tak bisa lepas dari bayangan itu. Rasanya ingin sekali aku teriak agak bapak itu pergi dari sana, istirahat saja. Tapi tenggorokanku tercekat. Tak lama, bapak itu ambruk. Mama histeris, aku dan Andrew ketakutan. Papa segera memberikan pertolongan pertama, namun bapak itu tidak terselamatkan. Setelah ambulans datang dan membawa pergi jenazah, baru kutahu bapak itu terkena serangan jantung.

Kau tahu, menjadi saksi kematian orang-orang adalah derita. Apalagi kalau kau hanya bisa melihat, tanpa bisa membantu banyak. Mau bagaimana lagi? Mau dicegah? Kau bukan Tuhan. Bertahun-tahun aku hidup dengan penderitaan ini. Rasanya seperti akulah penyebab kematian mereka, walaupun bukan. Tapi rasanya aku ini pembunuh. Sakit sekali. Kalau bisa terlahir kembali, aku lebih memilih untuk tidak terlahir. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku bukan Tuhan.

***

Besok Andrew akan pergi outbond dengan teman-teman sekolahnya. Aku ingin ikut, tapi sedang tidak enak badan, jadi Mama tidak mengizinkanku. Tak apalah, aku akan menunggu Andrew pulang dan mendengarkan cerita tentang keseruannya. Kurasa itu sudah lebih dari cukup untuk menghiburku.

“Dit, aku gak sabar buat besok. Sayang kamu ga ikutan,” katanya Andrew sambil menyiapkan barang-barang yang akan dibawa besok. “Pasti asyik banget kalo ada kamu.” Aku cemberut, cemburu.

“Eh, kamu jangan sedih. Besok, deh, kalo kamu udah sehat, kita jalan-jalan bareng mama papa, oke?” hiburnya. Aku tersenyum.

“Ada yang ketinggalan gak, ya?” kata Andrew sambil bolak-balik mengecek barang-barangnya. Aku menatapnya sambil geleng-geleng kepala, dia bersemangat sekali. Dia terus saja berjalan seperti setrika dan aku masih menatapnya. Tiba-tiba apa yang aku takutkan selama ini, akhirnya terjadi. Bayangan itu, bayangan itu datang. Ia berdiri di sebelah meja belajar Andrew. Berjarak kurang dari sehasta dari Andrew. Aku terpaku menatapnya.

“Dit, kamu kenapa? Kok ngeliatin aku gitu?” tanya Andrew. Andrew kemudian duduk di kursi belajar. Mataku bergetar melihat Andrew. Aku tidak sanggup kalau harus melihat…. Ahhhh, aku tidak sanggup. Aku berlari ke arah Andrew. Memeluknya.

“Eh, eh, eh, Dit, kenapa sih? Tenang aja, lusa aku pulang, kok.” Andrew memelukku. Aku menangis dalam dekapnya. Menutup mataku.

“Meong…. Meong…. Meong.” Aku tak sanggup melihat Andrew mati.

“Duh, kenapa sih kamu? Masih sakit? Yaudah, besok sama Mama ke dokter hewan, ya.”

Aku masih menutup mataku, saat semuanya terasa ringan. Aku seperti terbang. Aku membuka mata, aku sudah melayang bersama bayangan hitam. Ternyata dia menjemputku.

“Dit, Dito kamu kenapa? Dit, apanya yang sakit? Dito? Mamaaaaaaaaaa, Dito gak gerak, Ma. Ditoooooooo, jangan mati.”

Karya : meilinda dwi pertiwi