Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 23 Oktober 2016   08:48 WIB
Gerobak Sayur Mbak Sumi

“Sayur-sayur!”

“Mbak Sumi, sayur, Mbak!”teriak Astri dari halaman rumah. Mbak Sumi menghentikan gerobak sayurnya.

“Monggo, mau nyari apa?”tanya Mbak Sumi ramah.

“Ada jamur tiram ndak, Mbak?”

“Ada, nih dipilih. Tapi mahal. Apa-apa sekarang naik.”

“Ya ndak apa-apa. Wong uang yang dipakai belanja, uang majikanku.”

“Ya sudah.”kata Mbak Sumi sambil merapikan dagangannya. Beberapa menit kemudian, Yani, Rina,dan Atik ikut nimbrung mengelilingi gerobak Mbak Sumi. Mereka semua adalah pembantu rumah tangga di kompleks perumahan ini.

“Selamat pagi. Monggo, mau nyari apa?” sapa Mbak Sumi.

“Ada udang ga, Mbak?”tanya Atik.

“Ada, nih tinggal ini.”

“Aku ambil semua deh. Majikanku itu, ditanyain mau makan apa, jawabnya terserah. Giliran udah dimasakin sambal ayam, malah minta sambal udang. Ealah, tobat.”keluh Atik.

“Kamu sih mending gitu. Lha aku, tiap hari masakan selalu diprotes. Yang keasinanlah, kurang pedeslah, inilah, itulah,”kata Yani sambil mengambil beberapa ikat kangkung. “Pernah, Nyonya bilang supnya kurang asin. Dia minta ganti, akhirnya aku bawa lagi ke dapur. aku cicipin, udah enak kok. Akhirnya aku ambilin lagi pakai mangkuk baru, ya tetap sup yang sama. Pas dia makan, eh dia bilang ini baru pas mantap. Lhadalah, padahal ga tak apa-apain, lho.”

“Hahaha, majikanmu labil berarti, Yan.”kata Mbak Sumi.

“Eh, tapi kalian tahu, nggak orang yang tinggal di rumah biru itu.”kata Rina menunjuk sebuah rumah diperempatan jalan.

“Pak Alam? Kenapa memangnya?”tanya Astri.

“Aku denger-denger, ya, dia itu bisa menggandakan uang.”

“Ah, mosok?”kata Atik tak percaya.

“Bener, yo. Mang Diman, supir majikanku yang cerita. Katanya waktu dia lagi nyuci mobil di teras, dia liat laki-laki dateng ke rumah biru itu. Lha terus ngasih uang seratus ribu ke Pak Alam. Terus tangan Pak Alam diletakin di belakang pinggangnya, eh uangnya jadi tiga ratus ribu.”terang Rina.

“Enak banget. Aku yo mau. Ndak perlu repot-repot jualan sayur keliling gini.”kata Mbak Sumi semangat.

“Ya, jangan gitu. Nanti kami-kami ini mau beli sayur dimana? Masa harus ke pasar?”protes Astri.

“Iya, mbok jangan pensiun dulu.”tambah Rina.

“Sebenarnya, aku itu udah lama tahu Pak Alam bisa menggandakan uang.”kata Yani kemudian.

“Tau darimana kamu?”

“Ya taulah. Tapi, Pak Alam itu pembohong. Dia itu ngga punya kekuatan. Semuanya cuma trik.”

“Trik bagaimana?”tanya Mbak Sumi penasaran.

“Jadi, begini....”Yani terdiam. Ia melihat Pak Alam sedang mengendarai mobil, keluar dari rumahnya. Yang lain juga terdiam kaku. Di depan mereka, Pak Alam menyapa,”Selamat pagi semuanya. Wah, lagi ngerumpi, ya?” Mereka semua hanya tersenyum, lalu menunduk.

Pak Alam berlalu, para pembantu dan tukang sayur itu kembali pada pembahasan mereka. “Dia ramah tu.”kata Mbak Sumi.

“Iya, ramah. Biar orang mau kerjasama dengan dia. Biar bisa diambil uangnya.”kata Yani sinis sambil mencari-cari bahan masakan yang kurang.

“Maksudnya gimana?”

“Gini, lho, Pak Alam itu ngga bisa menggandakan uang. Itu hanya trik. Jadi, kalau ada orang datang mau menggandakan uang, orang itu disuruh membawa kotak seperti peti kecil. Nanti petinya ditinggal di rumah Pak Alam. Besoknya tahu-tahu peti berisi uang sudah ada di depan rumah orang yang tadi mau menggandakan uang. Seolah-olah Pak Alam menggunakan kekuatannya untuk mengirim uang itu, padahal malamnya, pembantu Pak Alam mengendap-endap ke rumah orang itu untuk meletakan uang di sana.”jelas Yani panjang lebar.

“Lha terus uangnya dari mana? Uang Pak Alam? Ya rugi dong dia?”selidik Atik.

“Nah itu! Dia menipu orang lain. Gatau deh gimana caranya, tapi satu orang bisa ditipu sampai milyaran. Uang hasil tipuan itulah yang diputer lagi seolah-olah jadi uang hasil penggandaan. Pura-puranya.”

“Walah, baru tahu aku. Kamu yakin bener ga ini ceritanya begini?”tanya Rina.

“Yakin seyakin-yakinnya, orang majikanku udah kena tipu tiga miliyar kemarin.”kata Yani.

“Lha, kok ngga dituntut?”

“Mana aku tahu. Aku ndak ”kata Yani.

“Wah, ga bener ini.”Mbak Sumi menimpali sambil menghitung belanjaan keempat pembantu itu.

“Iyalah, dia bisa merusak nama baik perumahan. Nanti bisa-bisa semua yang ada di sini kena imbasnya.”

“Penipu kayak gitu sih bagusnya dikucilkan dari masyarakat. Biar kapok.”

“Aku sih ngga mau ya tetanggaan sama penipu. Penjahat lho itu.”timpal Rina.

”Tapi kok ngga ada yang menuntut, ya?”tanya Atik.

“Belum aja kali. Mungkin pada malu mau lapor ke polisi. Orang-orang pendidikan tinggi, kok percaya sama penggandaan uang.”kata Mbak Sumi.

“Wah ini ngga bisa dibiarin, nih. Harus dilapor kepolisi secepatnya. Sebelum makin banyak korban.”saran Atik.

“Siapa yang mau melapor?”tanya Yani.

“Ya, kita, siapa lagi?”kata Atik semangat.

“Kan kita ndak ada bukti.”kata Yani.

“Majikanmu aja suruh melapor, Yan,”kata Atik. “Rin, Mang Diman pernah liat, kan? Suruh jadi saksi aja.”lanjut Atik lagi.

“Mbak Sum, ini tadi belanjaanku jadi berapa?”tanya Rina tiba-tiba.

“Jadi tujuh puluh ribu.”

“Ayo, Rin kita laporkan aja. Katanya kamu ngga mau tetanggaan sama penipu, kan?”

“Wah, aku ngga ikut-ikutan deh. Ngga berani.”kata Rina,”Aku duluan, ya.”Rina berlalu menuju ke rumah majikannya.

“Yan, ayo kita lapor. Paling nggak, ke RT atau RW.”ajak Atik.

“Lha, ngapain?”

“Tadi katanya dia bisa merusak nama baik perumahan ini?”

“Iya, sih, tapi aku kan cuma pembantu di sini. Ngapainlah ngurus begituan. Biar orang-orang pinter aja yang beresin.”

“Gimana mau beresin, orang mereka aja malah percaya sama Pak Alam?”

“Ya, intinya aku gamau ikut campur.”kata Yani,”Nih, Mbak Sum uangnya. Semuanya, duluan, ya.”Yani pulang. 

“Astri.”panggil Atik.

“Ya?”

“Kamu setujukan, kalau Pak Alam dikucilkan dari masyarakat?”tanya Atik. Astri menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Gimana, ya, ini rahasia kita aja, ya. Sebenarnya majikanku pengikut Pak Alam juga. Lha kalo Pak Alam di penjara, majikanku juga, dong. Nanti aku kerja sama siapa?”

“Tapi, kan....”

“Aku duluan, ya, Tik.”kata Astri memotong kalimat Atik. Atik mengehela napas panjang. Kemudian ia melirik Mbak Sumi. Hanya ada dia dan Mbak Sumi sekarang.

“Gimana, Mbak?”

“Aku sih cuma tukang sayur. Kalau melawan orang besar, takutnya malah gerobakku hancur dilindas kekuasaan.”

“Jadi?”

“Jadi....”Mbak Sumi terdiam. Atik juga diam menunggu jawaban Mbak Sumi.

“Jadi, aku mau lanjut jualan saja. Mana sini belanjaanmu, tak hitung dulu.”

“Bukannya kata Mbak, ini nggak bener?”

“Orang kecil ngga usah kepo urusan orang gede. Kamu mau ditindih sampai gepeng? Badanmu udah kurus gitu.”

“Ya, tapi, kan...”

“Mbak mau keliling lagi. Keburu siang. Udah, ya.”

Atik menelan ludah. Baru ia saksikan hari ini, orang-orang yang tidak berkutik di depan, tapi di belakang banyak gaya. Menentang keburukan, tapi tetap membiarkan semuanya berjalan. Mereka bicara sampai berbusa. Tapi kau tahu busa? Cepat sekali hilangnya. 

Hari ini baru ia paham, gerobak sayur Mbak Sumi adalah tempat paling demokratis di dunia. Tempat dimana semua pendapat bisa diterima walaupun berbeda. Sayangnya gerobak Mbak Sumi tidak bisa menetap dan diam di sana. Gerobak itu terus berlalu, mengubah demokrasi menjadi otoriter, dimana kebebasan berpendapat hanya sebuah kiasan dan isi hati kaum minoritas dianggap basa-basi. Gerobak itu membuat tempat yang baru saja ditinggalkannya, menjadi tempat paling kejam yang pernah ada. Demokrasi hidup dari gerobak sayur Mbak Sumi dan mati di tangan petinggi. Entah siapa yang harus disalahkan. Mbak Sumi yang membawa gerobaknya pergi, atau....

***

Thumbnail by: Muhamad Rizki Abdiansah

Karya : meilinda dwi pertiwi