After Reading 'Kota Lama dan Sepotong Cerita Cinta

meida prastiwi
Karya meida prastiwi Kategori Buku
dipublikasikan 06 Agustus 2016
After Reading 'Kota Lama dan Sepotong Cerita Cinta

Akhirnya tuntas baca buku Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta. Untuk ukuran novel yang tipis, ini termasuk yang luama buanget *alay. Aku bacanya hampir 2-3 minggu. Hehehhe... lagi agak g mood baca kayaknya. Tapi kesannya membekas bangetttt. Buku ini kalo aku kategorikan itu sejenis fiksi sejarah. Jadi ada konten sejarahnya tapi dikemas sedemikian rupa dengan sentuhan fiksi.

You know ini sejarahnya siapa? RA Kartini. Wheeeew...

Sebenernya pemikiran tokoh utama, named Jenny, di buku ini mirip dengan apa yang aku pikirkan tentang Kartini:

  1. Kenapa dia (kartini) begitu istimewa –ini sih yang paling mirip
  2. Agak serba salah dengan perannya kartini karena sekarang jasanya kartini hanya dilihat sebagai alasan perempuan mengelu2kan emansipasi dan kesetaraan gender
  3. Bentuk perjuangan beliau itu gimanaaa

Dan novel ini, dengan sangat baik menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Unik dan aku suka. Jadi tokoh utama cerita ini (sekali lagi Jenny namanya) adalah perempuan mandiri, keras, selfish, dan agak sinis awalnya dengan kartini. Singkatnya, Jenny diajak untuk mengenal kartini person to person melewati waktu. Ia melakukan perjalanan melintasi waktu tanpa disengaja dan sampai di era kartini, dan lebih dari itu, Jenny jadi sahabat Kartini.

Aku tersentuh oleh beberapa part tulisan yang bikin aku inspired banget sama sosok Kartini, terlepas dari faktor apakah part itu adalah fiksi atau memang sejarah menulis demikian:

  1. Hobi kartini adalah menulis. Dan ketika ditanya tentang menulis kartini menjawab, “Siapa bilang menulis harus punya bakat? Selama kamu bisa baca-tulis dan bisa berpikir, maka kamu bisa menulis. Tujuannya bukan untuk dibaca banyak orang, kan? Tapi untuk mengeluarkan perasaan dan pikiranmu sendiri.” --> and I absolutely agree!!!!!!
  2. Ada dialog fiktif Kartini dengan Jenny yang membicarakan tentang jawaban Kartini atas pertanyaan Mr. Slingenberg tentang peningkatan pendidikan di Jawa, dan ini jawaban kartini, ”Disinilah peran penting kaum perempuan, kaum ibu secara alamiah dititahkan sebagai pendidik utama. Tetapi bagaimana para ibu dapat mendidik anak mereka kalau mereka sendiri tidak terdidik? Bangsa kami tidak mungkin bisa maju kecuali kaum perempuan diikutsertakan. Berilah kaum perempuan pendidikan dan mereka akan giat membantu membudayakan rakyat yang berjuta-juta jumlahnya.” -->  kutipan inilah yang bikin aku jadi makin tertarik dengan beliau.
  3. Kesan tentang Kartini: perempuan luar biasa. Beliau ada diantara segelintir pahlawan perempuan yang unik karena dia mewakili awal gerakan kebangkitan intelektual di negeri kita yang bahkan saat itu belum terbentuk.

Dari buku ini aku mengetahui bahwa secara fisik tidak banyak yang dilakukan kartini, dalam arti kartini benar-benar berjuang dengan pemikirannya yang ditumpahkan dalam tulisan2 menggugah. Kalaupun ada usaha secara fisik, ia sempat mendirikan sekolah kecil yang muridnya kurang dari 20 orang. Aku menangkap sesuatu. Untuk menjadi bermanfaat kita tidak harus jadi dikenal dulu, seperti pemikiranku sebelumnya *dan sekarang aku benar-benar benci bahwa aku pernah berpikir untuk jadi terkenal dulu baru bermanfaat. Melakukan hal sederhana sesederhana sekolah kartini, yang jaman dulu nggak pake broadcast bbm, WA atau instagram, tetap bisa menjadi bermanfaat, kita cukup melakukan apa yang kita bisa dengan apa yang kita punya untuk menjadi bermanfaat.

Disisi lain, aku sedih dan dilematis. Kartini pasti sedih liat tingkah kita perempuan-perempuan muda indonesia yang sekarang menyia-nyiakan kesempatan bersekolah yang dulu diperjuangkan mati-matian. Kebebasan berpikir dan berpendapat hanya untuk mengejar hits, popular, pacaran, atau sensasi lainnya. Para perempuan yang mengatasnamakan emansipasi untuk menyetarakan gender, membuat berbagai alibi yang mengaburkan tugas utama perempuan sebagai ibu demi karir dan ambisi.

Inti dari semua pemikiran yang aku pahami, dari yang diperjuangkan Kartini adalah perempuan tetap bisa menyalurkan ide, kreatifitas, pemikiran, ikut berjuang. Tapi, bagaimanapun, perempuan tetap tidak bisa lupa peran utamanya dalam keluarga, yakni menjadi ibu. Karena ibu adalah madrasah pertama di keluarga. Dan dari keluarga yang baik, lahir pula keturunan penerus bangsa yang baik.

Ah, aku juga ingin membuat tulisan yang bisa dikenang dan bermanfaat sepanjang masa, tentunya, seperti kartini.

 

Ditulis 29 Mei 2016

  • view 225