After Reading 'Sehidup Sesurga'

meida prastiwi
Karya meida prastiwi Kategori Buku
dipublikasikan 29 Juli 2016
After Reading 'Sehidup Sesurga'

Somehow, bacaan sebenernya pengaruh banget sama apa yang ingin kita tulis. Nggak jarang sebenernya, dengan dengan baca aku menggelitik memori yang menyelip di otakku biar bisa keluar dan menyadari, sebenarnya memori itu juga perlu diungkapkan.

Malam ini, berhubung gak bisa-bisa tidur, aku baca buku Sehidup Sesurga. Awalnya aku agak males bacanya. Buku ini sampe hari jumat/sabtu minggu lalu (belinya online). Tapi aku baru baca ya malam ini. Banyak sebenernya tulisan bang Fahd di buku ini yang udah aku baca via tumblr-nya. Tapi book is everything. Hehehe.. Karena ketika kita lagi males scrolling di tumblr untuk berbagai hal yang sudah di post, repost, like, dsb, tapi kalo kita udah punya print outnya, problem solved! Dan lagi, baca itu perlu juga, karena menurutku bacaan adalah jawaban untuk segala pertanyaan yang sedang ingin atau tidak sedang ingin aku tanyakan. Hedeh, kacau ya kalo nulisnya tengah malam hahahahahha....

Ada banyak topik ya dalam buku ini, tapi aku mau bahas 2 hal aja. Pertama, tentang tulisan yang judulnya, ‘Niatlah Berhaji Selama Anda Tidak Mampu’. Di situ, bang Fahd ngaku kalo belum ada niatan berhaji karena penilaiannya tentang negara yang memanajemen haji yaitu Arab Saudi. Itu yang lebih paham bang  Fahd ya hehehe.. nah, di tulisan itu, mendadak bang Fahd mulai berniat haji setelah mendengar sebuah khutbah sholat jumat.

Begini kutipan khutbah yang ditulis bang Fahd, yang menggugahku juga, ”Anda semua yang saat ini belum menunaikan ibadah haji tak apa-apa, setiap orang memiliki ukuran kemampuan yang berbeda-beda. Dan mampu bukan sekadar materi atau fisik. Namun, mampu untuk menumbangkan ego dalam diri sendiri, mengalahkan pikiran-pikiran dan perasaan yang menunda Anda untuk pergi ke Baitullah. Mudah-mudahan Allah membukakan hati Anda untuk setidaknya memiliki keinginan menunaikan rukun Islam yang terakhir itu. Semoga Allah memampukan Anda semua.”

Nah, sekarang, ijinkan aku juga memaparkan pemikiranku tentang niat berhaji. Awalnya, aku juga belum termotivasi untuk berpikir bahwa niat haji itu penting. Nanti saja kalau aku sudah tua. Hal itu aku sadari ketika aku pernah chat dengan seorang teman dan membahas tujuan liburan. Namanya juga anak muda, hehehehe.. dia berpendapat bahwa sebelum kita liburan ke negara-negara asing, lebih baik kalau setidaknya berkunjung ke Baitullah lebih dulu. Umroh gitulah. Aku jawab pendek, ’iya sih’ dengan benar-benar terpaksa. Karena sejujur jujur jujurnya, saat itu aku belum punya motivasi atau keinginan ke sana. Aku bahkan sempat heran pada beberapa orang yang begitu merindukan Tanah Haram, lebih tepatnya iri, karena aku belum sama sekali merasakan yang demikian, kerinduan yang menggetarkan. Astaghfirullah..

Hingga akhirnya, suatu hari bapakku meminta untuk dicarikan informasi seputar pendaftaran haji dari bank syariah dan depag. Ketika petugas depag aku tanya, kira-kira kalau mendaftar sekarang, kapan berangkatnya. Dan petugas bilang, ”tahun 2040.” Gila! Kalo gitu itu, usia bapak 90 tahun dan mama 80 tahun, ya Allah. Aku sedih. Aku sangat takut bapak dan mama...

Aku sampaikan semuanya tanpa kurang. Setelahnya, mama dan bapak jadi begitu galau. Menyesal mengapa tidak mencoba lebih giat sejak awal. Masih sempatkah? Kami semua tidak mengharap yang buruk. Tapi, menjadi realistis itu perlu. Negaraku adalah negara berpenduduk islam terbesar di dunia. Jadi wajar kalo antriannya sedahsyat itu. Aku mencoba membesarkan hati mama dan bapak biar tetap berangkat. Dek ibnu, adekku, juga ikut menghibur. Mungkin kata-kata dek ibnu ini yang bikin mama dan bapak sedikit terhibur dan mantap, ”nanti insyaAllah, kalo aku punya uang, kita umroh sama-sama.”

Aku pikir itu juga bukan ide yang buruk. Setidaknya umroh adalah perjalanan ‘semi haji’ yang masih mungkin diupayakan tanpa berpikir tentang waktu antrian.

Aku jadi mulai sadar. Memang benar. Setidaknya kita perlu punya niat untuk mulai mencintai. Lalu mulai berusaha. Dan dengan semua itu biar Allah yang pantaskan langkah kita ke Baitullah. Ya Allah, sempatkanlah, pantaskanlah, panjangkanlah umur kami. Aamiin...

.

Tulisan kedua yang pengen aku ulas adalah “Keluargamu, Miniatur Kehidupan Sosialmu’. Disana, bang Fahd menuliskan,

Jauh sebelum kita membicarakan masyarakat, negara, organisasi internasional, dan struktur sosial yang lebih kompleks terlebih dahulu kita diminta memahami keluarga sendiri.

Singkatnya, bang Fahd menulis sebuah pengalaman pribadi yang dia alami sewaktu kuliah, saat melihat seorang bapak terpaksa mencuri hp karena seminggu dia di’cuekin’ sama anaknya yang merengek minta hp baru tapi bapak tersebut nggak punya uang.

Berapa banyak masalah sosial yang terjadi di sekitar masyarakat seperti pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, dll, sebenarnya bermula dari hal sepele di dalam keluarga?

Aku jadi ingat beberapa ‘siswa sulit’ yang aku ajar, yang tidak naik kelas, tidak sopan sama guru, bolos, dan semoga tidak lebih dari itu, meski kepuyengannya terasa lebih dari itu karena terlalu sering dan banyak pelanggaran. Setelah diselidiki dari home visit, mereka adalah anak-anak dari keluarga yang kurang harmonis. Yang orang tuanya sibuk kerja, yang ditinggal ayahnya menikah lagi. Kadang, sebagai guru aku ingin jadi ruangan lain tempat mereka bisa bergerak. Aku merasa gagal mendidik ketika aku melihat mereka tidak naik kelas karena masalah-masalah yang pernah mereka buat, meski aku  tidak bisa ikut turun tangan langsung karena aku bukan wali kelasnya.

Tapi dari kutipan diatas menyadarkanku, satu-satunya yang bisa benar-benar mengubah mereka adalah keluarga. Bukan guru, bukan teman. Guru, mungkin hanya bisa sebatas menjembatani siswa dan keluarganya untuk menemukan solusi. Ada juga siswa yang berhasil keluar dari masalah setelah wali kelas berbicara pada orang tuanya dan meminta sang ibu lebih mendampinginya.

Jadi mungkin, untuk membuat generasi yang lebih berkualitas, dimulai dari keluarga yang berkualitas juga.

Ditulis tanggal 29 Juni 2016

 

Pic source: https://www.instagram.com/p/BIKKr1djpem/ (ig @fahdpahdepie)