Sepatu

meida prastiwi
Karya meida prastiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Juli 2016
Sepatu

Alkisah, hiduplah sepasang sepatu. Si kanan dan si kiri. Keduanya tak terpisahkan. Bagaikan sepasang kekasih, saling melengkapi satu sama lain. Tak pernah terbayang bagi mereka akan berpisah walau sekejap saja. Berdua, mereka begitu setia menemani tuannya. Tak terasa empat tahun lamanya. Meski rupa mereka kumal, tapi bagaimanapun, si tuan juga tak jua melirik sepatu lainnya. Mereka terasa begitu hangat dan nyaman. Kemanapun si tuan pergi, mereka menemani. Ke gunung ataupun pantai, jalan berlumpur atau berpasir, landai ataupun terjal, hujan atau terik mereka berdua begitu kuat bersama. Saking setianya, sepasang sepatu itu tau semua rahasia dan isi hati tuannya. Sejak pertama kali mereka bertemu dengan si tuan, mereka sudah tau bahwa si tuan telah jatuh hati pada seorang gadis. Parasnya menenangkan, tutur katanya lembut menawan. Gadis yang setiap senja mereka tunggu kehadirannya sekedar lewat di depan masjid usai shalat maghrib berjamaah selesainya mengajar mengaji TPQ. Gadis itu akan melewati mereka dalam perjalanan pulangnya. Setiap hari, tak pernah tidak.

Hingga suatu senja, sang gadis tak tampak. Gadis yang setiap hari selama empat tahun itu melewati pelataran masjid hari itu tak jua kelihatan batang hidungnya. Kecemasan hati si tuan didengar oleh sepasang sepatunya. Sakitkah ia? Ada hal apa yang membuat dia tak nampak hari itu. Hari itu memang sedikit berbeda dari hari biasanya. Masjid mendadak ramai. Banyak musafir yang mampir di masjid mereka. Entah rombongan darimana itu. Tapi cukup membuat si tuan sepatu tertutup pandangannya dari si gadis. Menyerah mencari setelah setengah jam mencari diantara ramai orang, si tuan memutuskan pulang, mencari sepasang sepatunya. Hilang. Di hadapannya kini penuh sesak dengan rombongan kloter kedua yang mengantri hendak shalat maghrib. Si tuan sepatu kehilangan jejak dari sepatu-sepatunya. Lalu, bagaimana dengan mereka—sepatu-sepatu itu—sekarang? Mereka meneriakkan panggilan tak terdengar. Teriakan yang hanya mereka berdua yang tau. Kini hanya senja yang bisu yang tau, bahwa si sepatu jkanan ada di utara dan si sepatu kiri adal di selatan. Sementara si tuan sepatu sedang menerobos kerumunan rombongan asing itu dari bagian tengah masjid, berusaha menemukan sepasang sepatunya. Berjalan menunduk, cermat mencari. Tak terbayang bila harus pulang tanpa alas kaki diatas tanah berbatu.

Jeduk! Kepalanya menabrak sesuatu. Tepatnya seseorang. Dengan jilbab warna pastel lembut menjutai ke dada. Gadis itu masih menunduk sambil mengusap-usap kepalanya dengan berkali-kali mengucap maaf. Begitu pula dengan si tuan sepatu. Masih membungkuk sambil berulang mengucap maaf. Tak sengaja, si tuan sepatu melirik orang yang tak sengaja menabraknya itu. Seketika ia jadi salah tingkah. Gagal fokus. Lupa bila sedang mencari sepatu-sepatunya. Tak menyadari bahwa sepatu kanannya berada tepat di bawah kaki si gadis. Si gadis yang merasa diawasi akhirnya menoleh. Ada suasana kikuk diantara mereka. Membuat keduanya kembali menunduk. Si tuan melihat ke arah bawah kaki si gadis. Sepatu kanannya. Ia berusaha mengatkan sesuatu, tapi mulutnya bungkam.

Senja itu, bahkan karena sepasang, bukan, dua pasang sepatu, dua orang terpaut hatinya.

Ditulis 4 Mei 2015