My mother my hiro

Mega Sari
Karya Mega Sari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Januari 2018
My mother my hiro

Ibu adalah seorang malaikat yang tak bersayap

Wanita tangguh yang pantas dijadikan peran utama sebagai pahlawan

Kelembutan hatinya mengantarkan buah hatinya kepada kebahagiaan 

Kutulusan cintanya menjadi kehangatan bagi buah hatinya

Seorang yang rela Bekerja keras, membanting tulang hanya harapan ingin melihat anaknya bahagia

 Terlebih hanya ia sendiri tanpa dibantu sang suami

***************************************************

  Di desa kecil,hidup seorang anak yang berumuran 5 tahun dengan berpakaian yang sederhana tak terbilang baju dan celananya bagus yang penting  masih layak, anak itu bernama rara.Kondisi ekonomi yang lemah dan ayah yang pergi meninggalkan mereka dengan kata manis terakhir yang terdengar adalah"jika dia pulang dia akan mengadiahkan kemewahan untuk anak dan istrinya",tapi apalah daya, penantian dan doa yang dia titipkan pada suaminya tak kunjung terkabul, ntah kemana suaminya pergi dengan meninggalkan kata manis didengar itu, dari rara masih berumur 9 bulan hingga wanita itu melahirkan pun tak ada suaminya menjenguk ataupun menemani, anak semata wayangnya yang sudah tumbuh menjadi anak yang cantik inipun menjadi teman hidupnya,menjadi penyemangatnya disela kesedihan.

   Angin berhembus kencang, awan mulai menghitam,kilat menyambar tajam,rintikan air turun dari langit menuju bumi

 

  "ibu"(ucap rara sambil memeluk erat tubu ibunya) 

  "rara jangan takut ya sayang, kan ada ibu"(ucap ibu dan memeluk erat anaknya)

 

  Rara mengangkat kepalanya, ditatapnya wajah Keriput ibu sedang tersenyum kearahnya

 

  "ibu apa rara punya ayah?? "(tanya rara dengan nada lembut) 

 

  Berdegup kencanglah jantung wanita itu, mulai lah keringat dingin membasahi wajahnya, pikiran dia terbayang kepada suami yang tak tanggung jawab itu. 

 

  "punya sayang"(ucap ibu dengan nada tak sanggup) 

   "kalo rara punya ayah, kenapa ayah gak pernah ada bersama kita?"(tanya rara semakin penasaran) 

  "karena ayah lagi kerja sayang"(ucap ibu menyakinkan)

  "tapi rara gak pernah lihat ayah, rara lihat teman rara punya ayah yang mengendong dia"(ucap rara dengan nada sedih) 

 

  Tak sanggup rasanya wanita itu ingin berkata bohong lagi pada buah hati, tapi melihat kondisi yang belum memungkinkan tenang, dia mencoba mencari pikiran baru agar rara cukup berhenti menanyakan seorang ayahnya, tak salah dia bertanya tapi salah jika wanita itu terus berbohong.Sampai kapan kebohongan ini akan terus berbohong mungkin tak lama jika takdir sudah menyelimuti. 

"ayah nanti pulang nak,jadi bersabarlah"(ucap ibu mengelus rambut anaknya yang kusut)

   Berharaplah wanita tua itu jika suatu saat suami nya akan kembali di depan, tak perlulah untuk membawa kekayaan cukup menemaninya dan anaknya yang rindu kehadiran seorang ayah ini. 

    Pagi senin ini terasa hangat,terik matahari membuat tenggorokan kering, rara menghampiri ibunya sambil membawa boneka yang ada bekas jahit dikepalanya

 

    "ma..ma.. Rara mau ayam goleng ma"(ucap rara dengan nada manja) 

 

   Berpikir dua kali lah wanita tua itu, bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membelikan ayam goreng, dilihatnya anak nya yang sedang menatap nya erat seakan-akan menginginkan jawaban yang tidak mengecewakan, wanita itu tak tega rasanya lalu tersenyum lah dia

 

  "rara mau ayam goleng ya sayang, ibu cari dulu ya, rara harus tetap di rumah gak boleh kemana-mana ya sayang"(ucap ibu) 

 

   Rara mengangguk mengerti,pergilah wanita itu dan tak lupa kecupan manis di kening rara.Berjalan yang tak tahu ingin kemana hanya mengikut jejak kakinya saja, terik panas,keringat menetes semua itu biasa baginya, keliling kesana kemari letihlah dirinya, duduk dia di pohon yang rimbun, liriknya ada seseorang yang sedang bekerja mengangkat beras, pergilah dia menghampiri pemiliknya dengan harapan

 

   "pak apa saya bisa bekerja mengangkat barang-barang ini"(ucap wanita tua) 

   "bekerja?!!kamu itu wanita, mana mungkin kamu bisa mengangkat barang-barang ini, mengangkat 15 batu bata saja kamu tak mampu!! Enyalah"(usir pria yang berbadan tegap berwajah sangar) 

   "pak saya mohon,saya gak akan menghancurkan barang bapak, saya butuh uang untuk mengadiahkan anak saya sepotong ayam goreng pak"(ucap wanita tua dengan nada mengiba) 

  Lelaki itu mengangguk dengan tatapan sinis, senanglah hati wanita tua itu.Berajalan menghampiro barang yang ingin dipindahkan,1,2,3 barang membuatnya tak kuat, tapi mengingat anaknya yang sedang menunggu ayam goreng dia kembali bekerja.

   Baju yang dibasahi keringat,akhirnya semua barang sudah diangkat, duduklah dia dekat pinggir truk dengan nafas ngos-ngossan, pria yang membentaknya kini tersenyum sambil menyodorkan uang 50000,tak lupa wanita itu berterimakasih sebelum beranjak. 

    Pulang kerumah dengan tentengan ayam goreng membuat hatinya begitu girang. 

  "rara.. Ibu sudah pulang "(ucapnya)

Dibukakanlah pintu oleh anaknya, begitu senang ketika melihat tentengan ayam goreng yang dikemas diplastik putih,makanlah anaknya, dilihat kegirangan anaknya

   "bu,ini untuk ibu, pasti ibu lapar"(ucap rara menyisihkan makanan setengah) 

 "ibu sudah makan nak, makanlah"(ucapnya dengan tersenyum) 

 Rara melanjutkan makannya, begitu senang nya dia sampai cacing diperut sudah mendemo seperti massa,memang dia sudah makan dan terakhir makan adalah kemaren malam dengan 3 singkong kecil, sungguh luar biasa pengorbanannya.

     Hari demi hari

 Bulan,tahun berganti begitu saja bagi orang lain tapi tidak untuknya,tahun berganti dia sangat berterima kasih karena kerja kerasnya membuahkan hasil, rara tumbuh menjadi anak yang cantik,pintar dan berpendidikan. Dia sekolah di universitas negeri dengan mengambil kejurusan dokter, peluh, kerja keras ibunya lah mengantarkan dia sampai kependidikan tinggi tak lupa bersyukur kepada tuhan, dan tak lupa usaha anaknya sendiri.Rara merantau di negeri orang, tinggal sendirian di rumah tanpa kehadiran anaknya begitu sepi,waktu itu dia ingin mengirim surat tapi tak kunjung bisa, rara yang jauh menanti kewisudaannya karena ingin melihat senyuman bahagia seorang hironya.  

   Musim semi terjadi dan kewisudaan pun menghampiri, senangnya hati rara bisa lulus sebagai mahasiswa dengan gelar dokter,besar sekali nilainya hingga dia menjadi juara 1 di universitas nya.Pulanglah dia tergopoh -gopoh tak sabar rasanya bertemu seorang wanita yang sangat dia cintai,sejalan-jalan kesenangan menghampiri  dan ingin mengasih kejutan jika dia sudah kembali. 

   Beberapa langkah kaki berjalan tak kuat rasanya melihat depan rumah ditancap oleh bendera hijau yang menandakan seseorang sudah wafat, bergeraklah dia cepat, jantungnya berdetak hebat,segala pertanyaan muncul, ternyata ibunya,kejutan malah dia yang terkejut menangis lah rara sejadi-jadi tak percaya, rt yang melihat rara pulang langsung menghampiri 

  "ini surat dari ibumu, sudahlah lama dia menulisnya tapi mungkin tak kunjung terkirim"

 

  Dibukalah surat itu, dengan tulisan oleh seseorang yang sangat berati

  Untuk anakku rara

Rara kamu harus belajar yang rajin ya. Ibu tidak ingin masa depanmu seperti masa depan ibu, ibu pernah berbohong jika ayah bekerja, padahal ayah kamu pergi sebelum kamu melihat dunia, maafkan ibu yang berbohong hanya tidak ingin melihatmu sedih, ibu hanya ingin melihat mu bahagia sayang.

                                     Ibu rara

 

  Jatuh airmatanya membaca surat itu,memang benar ibu adalah seorang pahlawan dan lebih. 

   

  • view 86