Seperti apakah warna bahagia ?

Mashel D. Wakey
Karya Mashel D. Wakey Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Agustus 2017
SEPAYUNG RINDU

SEPAYUNG RINDU


"Menunggu saja sudah ku lakukan, mengapa aku bisa percaya kepadamu ? entahlah, aku hanya dengan kepercayaan ini.

Kategori Fiksi Remaja

271 Hak Cipta Terlindungi
Seperti apakah warna bahagia ?

Kesepian ini adalah anugerah yang sangat ku nikmati dan syukuri, aku selalu membisikkan namamu di setiap pori pori oksigen yang bertebaran di udara. entahlah, apakah kau akan mendengarkan atau tidak, yang lebih penting dari itu adalah, aku selalu bahagia ketika namamu ku bisikkan kepada mereka.

aku sekarang berada di garis berwarna hitam yang sangat panjang, berjalan diatas garis ini dan kurasakan keras, bagaikan menghalangiku untuk mengetahui lebih dalam, apa yang berada di balik aspal hitam ini. apakah di baliknya terdapat kebahagiaan yang hakiki tanpa mencacinya, ataukah kesunyian yang selalu aku rindukan saat alam semesta dan seisinya  menjauhiku. dan aku harus melangkah di luasnya dunia seorang diri, dengan payung berwarna merah darah, sebuah nuansa yang romantis ketika aku berjalan diantara rumitnya masalah dan berjalan diantara orang orang ini. walaupun sepiku terasa sempurna dengan payung ini, dan bahagiaku saat kita berdua pernah berada di bawah payung ini dan hujan berada ditengah tengah kita. lalu kau memelukku erat dengan cinta disetiap sentuhannya, aku pun merasakan hangat hatimu telah menyentuh kalbuku yang kalut dalam asmara dunia.

langkahku terasa ringan dengan sepatu yang membuatku bertambah tinggi 13 centimeter, keramaianyang  berada di sepanjang jalan telah meredam suara indah dari ketukan sepatuku ini, dan bunyi si kuda besi yang memadati jalanan, semakin menambah suasana sepiku di keramaian.

Aku terus berjalan melewati setiap pertokoan di samping jalan, tak akan kusapa siapapun yang berada di dekatku. untuk apa ? untuk sebuah alasan apa aku harus menyapa setiap orang yang tak aku kenal di jalan ini. terkadang aku harus menyimpan suaraku yang berada di dalam tenggorokanku, di sebuah kotak berukuran sedang berwarna cokelat tua dan terbuat dari kulit sapi yang sudah disembelih. aku tak ingin menyapa orang yang aku kenal dan pembicaraan apa yang harus ku keluarkan jika aku tak menyimpan suara berhargaku di kotak itu.

angin sore sudah mulai kurasakan dalam kulitku yang berwarna kuning langsat, kurasakan angin menyapa dan menggodaku untuk menutup tubuhku, dengan mantel bulu yang aku pakai sekarang, padahal aku sudah memakai dress berwarna merah menyala, agar aku bisa berkamuflase dengan darah yang sudah mengalir di dalam tubuhku ini.  kesunyian ditengah tengah kota telah kurasakan dan jiwaku tenang dalam keramaian, sunyiku telah ku paksa untuk menemani. aku pun terus berjalan menuju tempat yang mengundangku untuk datang kesana.

sudah lebih dari seribu detik aku berada di jalanan dan hampir sampai ke tempat yang menjadi tujuanku untuk datang ketempat ini. sepatuku seperti mengajakku untuk melangkah cepat, karena tempatnya sudah terlihat dan dia ingin aku segera sampai ditempat itu, maka ku ikuti apa yang sepatu ini mau. ku berjalan dengan cepat dan sampai ditempat ini.

Sampailah aku berada di tempat yang banyak orang kunjungi, bangunan yang terlihat kuno dan ketinggalan jaman, dengan aksesoris dari masa napoleon dan albert einstein, menambah kesan jaman dulu. barang barang jadul terpasang di dinding yang berwana cokelat moka dan kursi yang terlihat tak modern dengan jaman sekarang, semakin tak selera aku untuk duduk bersama mereka. riuh suara manusia yang berada di dalam bangunan ini menambah kesan muak dengan lintas dimensi yang aku lakukan sekarang. dengan sangat terpaksa dan bukan karena keinginanku, maka aku pun dengan berat hati harus duduk di kursi yang terbuat dari kayu yang berasal dari jaman purba kala.

aku pun menunggu di kursi ini, dan mencoba untuk melihat buku menu yang berada di hadapanku. ku mulai membuka buku berwarna merah muda, dengan gambar bunga tulip dari belanda yang berada di cover menu. setelah ku buka, aku melihat menu masakan yang berada di balik bunga tulip. masakan yang biasa dan aku rasa, masakan ibuku di rumah lebih enak dan nikmat kurasakan di lidahku ini. daftar masakan yang kulihat sangat biasa, cuma masakan yang restoran seperti biasa. ada masakan eropa dan masakan amerika. aku kira, perutku sedang lapar dan kenapa tidak mencoba salah satu makanan yang akan aku nikmati, untuk memberi makan perutku ini. pancake strawberry dan jus buah apel pun menjadi pesananku di tempat ini.

Aku pun menunggu pesanan datang dan makanannya belum juga datang.

sambil membuang kebosanan, buku novel cinta yang sangat populer di jaman ini pun ku baca, kebetulan aku membawanya dan sudah setengah buku aku baca. buku novel romantis pun menemani kebosanan.
di tengah membaca, aku mendengar decitan suara sepatu yang berasal dari sepatu pantofel berwarna cokelat dari merk terkenal asli paris. aku pun kaget, karena tiba tiba ada orang yang menepuk pundakku dan ternyata itu adalah si topi bulat beludru hitam, yang tak lain adalah orang yang mengundangku untuk datang ke tempat ini.

"kau berhasil membuatku percaya untuk menunggumu di tempat ini, maka kau harus memberikanku apa yang ku mau."kataku.

si topi bulat tak menjawab, hanya tersenyum kecil dengan bibirnya yang tipis berwarna merah muda. tapi ada yang aneh, kenapa dia tak duduk dan hanya berdiri di sampingku. dan yang tak kusangka, dia menciumkan lutut sebelah kanannya ke lantai yang terbuat dari parquette dan terlihat usang oleh usia. tubuhku dia paksa untuk menghadap ke arahnya.

"seina renata, apakah kau mau menjadi ibu dari anak-anakku ?"tanya laki laki itu.

aku pun kaget bukan kepalang, apa yang terjadi dengannya saat perjalanan tadi, apakah kepalanya terbentur ke alam mimpinya ? ataukah ini hanya mimpiku saja ? kalaupun ini mimpi kenapa aku melihat dengan jelas, dia memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah dan berisi satu borgol berwarna kuning emas dengan permata di atasnya.
aku pun belum menjawab pertanyaan itu, hanya menganggukan kepala dan menutup mulutku dengan tanganku. perlahan tapi pasti dia memakaikanku borgol itu dan aku merasa seperti tahanan yang sebentar lagi akan terkurung di penjara kebahagiaan dan kerinduan akan kasih sayang seorang laki laki yang nanti akan ku sebut dia suami.

  • view 63