Seruan teressa

Mashel D. Wakey
Karya Mashel D. Wakey Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Juli 2017
RALASTHADA

RALASTHADA


Kebahagiaan yang terdapat dalam rangkaian problematika menjadi pesona dalam hal yang tak pernah kita duga sebelumnya

Kategori Acak

422 Creative Commons (CC) Atribusi
Seruan teressa

Aku kini sedang berjalan menuju tempat Teresa Rhoutein, seorang wanita yang sudah singgah di hatiku. Jalanan menuju tempatnya sedikit sepi, karena tempatnya berada di dekat asrama sekolah wanita. Angin sore yang menemani pun masih terasa di kulitku, dinginnya cuaca yang kurasakan seperti menembus ke tulang. Sekejap kemudian aku melihat dia dan mempercepat gerak langkahku. Langkah demi langkah kemudian aku berada tepat di depannya.
“halo Teresa, kamu apa kabar sayang ?”tanyaku pada Teresa.
Dia hanya tersenyum, belum menjawab pertanyaanku. Baru sebentar saja aku ada di hadapanya cerita demi cerita keluar begitu saja dari mulutku. Ku ceritakan semua yang terjadi hari ini. Pun setiap masalah yang datang ku ceritakan padanya.
“kamu masih simpan bunga dariku ternyata, tapi sayang sudah layu ya ?”tanyaku lagi, karena aku tahu bahwa dia sangat suka bunga rose berwarna merah dan terakhir ku bawakan minggu kemarin.
“ini aku bawakan lagi bunga kesukaanmu, kamu senangkan ? oh iya ku bawakan surat untukmu juga,”
“ko kamu diam saja ? aku kan bukan tamu,”
“Oh iya maafkan aku yang telah membuatmu begini, kamu jangan marah padaku yah.”
Teresa pun tak menjawab pertanyaan demi pertanyaan dariku, dia hanya memasang muka yang datar.
“aku akui ini memang salahku, tapi kamu tak boleh membuatku seakan menjadi orang paling bersalah di dunia ini.”
“kau juga telah membuatku menjadi seorang diri di dunia yang fana ini, apakah kamu tak mau mengingat saat-saat kita bersama ?”
“maafkan aku teresa,”
“aku ini bersalah, tapi jangan kau hukumku dengan sikap dinginmu, dan ini adalah kelima kalinya aku datang ke tempatmu dan kau membuatku diam seribu bahasa,”
“Ini adalah surat dan bunga kelima yang aku berikan padamu Teresa, aku akan terus memberikannya padamu walaupun hanya seminggu sekali, sebulan sekali maupun setahun sekali, apapun yang kau mau,”
Aku pun menangis tersedu sedu tanpa jawaban dari seorang Teresa Rhoutein, dan kini aku pun memberanikan diri untuk melihat batu nisan yang bertuliskan nama Teresa Rhoutein tanpa ku keluarkan air mata dari dua mataku ini. Kesakitan yang selama ini dia rasakan sekarang sudah tak lagi menemaninya.
“aku ingin kau selalu bahagia di atas sana, aku tahu bahwa tuhan sangat mencintaimu sayang,”
Kemudian dibawah langit yang berwarna merah kekuningan, aku pun membacakan semua surat yang telah ku simpan rapi di atas nisanmu, surat yang telah ku tulis dengan hati hati supaya tak lekang di makan waktu. Tak kelak aku selalu menetaskan air mata saat ada kata-kata yang mengingatkan kebahagiaan kita saat bersama. Aku memang salah satu pria yang cengeng ya, aku ternyata lemah saat teresa tinggalkan. Aku mengingat kenangan yang telah aku dan Teresa buat, hari demi hari telah kita lewati bersama sampai ajal menjemputnya. Ku temani dia saat sakit dan merasakan keputus asaannya.
“ini adalah rencana tuhan, dia tak mau melihat kau mengerang kesakitan.”
“dan kini aku akan merindukan ucapan marahmu yang lugu itu, ucapan marahmu saat aku sedang bosan untuk pergi ke kampus, tak kan ada yg mengingatkanku makan, dan aku akan…….”
“aku akan merindukan kamu disaat kau mengeluh dalam menjalani pengobatanmu itu. Dan kau juga tahu aku sangat benci bau rumah sakit. Tapi kau malah membuat candaan dari itu.”
“kata-kata terakhirmu yang akan selalu ku ingat adalah aku harus menjalani kehidupan denganmu atau tanpamu. Kemudian diantara ribuan mimpiku, mimpimu lah yang pertama kali akan aku wujudkan. Percaya padaku ya!"
“Aku akan ingat itu, semoga kau pun begitu."