Pembawa Pesan Yang Hilang

Mashel D. Wakey
Karya Mashel D. Wakey Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Juli 2017
RALASTHADA

RALASTHADA


Kebahagiaan yang terdapat dalam rangkaian problematika menjadi pesona dalam hal yang tak pernah kita duga sebelumnya

Kategori Acak

718 Creative Commons (CC) Atribusi
Pembawa Pesan Yang Hilang

Salah satu kota di Kopenhagen adalah bukti nyata bahwa aku tumbuh bersama sejuta cerita. Cuaca yang hangat pada bulan ini menambah suasana yang membuat nyaman berada di dalam rumah. Aku terlahir dari keluarga pecinta seni, ayahku adalah seorang penulis buku dan pelukis ternama, sedangkan ibu ku adalah seorang design interior dan juga pelukis seperti suaminya. Dan ANNELISE GYTHA LAILA adalah nama yang mereka berikan kepadaku, sejak 20 tahun yang lalu. Nama yang indah menurutku, bagaimana tidak ? setiap aku memperkenalkan kepada orang lain, pujian untuk nama itu selalu keluar dari mulut mereka begitu saja. Kami tinggal di sebuah rumah berwarna putih dengan gaya vintage dan halaman yang luas. Di belakang rumah ada danau buatan yang cukup besar dan ada dua perahu biru yang mengapung di sana. Itu semua ide ibu, karena itu adalah mimpinya sejak dulu dan beruntungnya ayah bisa mengabulkan mimpinya. Dinding-dinding rumah dipenuhi dengan lukisan yang langsung dibuat oleh tangan ayah sendiri, ada juga koleksi lain karya dari sahabatnya yang juga sama seorang pelukis. Penataan furniture yang sangat apik menambah kesan nyaman bagi setiap orang yang tinggal di dalamnya. Sedangkan aku adalah seorang mahasiswi yang belajar di salah satu perguruan tinggi di Kopenhagen, Denmark, fakultas seni.

Dan aku memang tidak sehebat mereka, tapi bagaimana pun darah mereka mengalir di dalam tubuh ini. Lewat tangan tanganku, setiap kata menjadi menjadi kalimat, setiap kalimat menjadi baris, setiap baris menjadi paragraph yang berpadu rapi dan orang biasa menyebutnya sebagai novel. Entah sejak kapan aku suka menulis, yang jelas sejak pertama kali ibu mengenalkanku pada huruf, mereka bagai candu yang sampai saat ini berhasil setia tetap menemaniku.

Efek dari kecintaanku pada tulisan, dua tahun yang lalu aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku di salah satu universitas swasta ternama di kota ini dengan mengambil fakultas sastra.

Di universitas ini, aku belajar banyak hal tentang bagaimana cara mengukir huruf-huruf itu menjadi lebih indah dari biasanya. Bukan hanya itu, di sini juga aku menemukan arti sebuah persahabatan dan mereka adalah yang tangannya siap menggenggam dikala aku jatuh, yang kakinya siap melangkah untuk berjalan beriringan dan yang telinganya siap mendengarkan keluh kesah. Biar ku kenalkan mereka satu persatu, yang pertama adalah

VILHELM SOREN, wanita yang lembut dan selalu tenang ketika dihadapkan pada satu masalah. Temanku yang kedua adalah GELSOMINA HELIENA, orang bilang dia adalah yang paling judes diantara kami, padahal mereka tidak tahu bahwa liena mempunyai kepedulian yang sangat tinggi pada orang-orang disekitarnya.dan yang terakhir adalah LILI ADISTI, ini dia yang paling aneh diantara kami.karena, ia mempunyai kebiasaan menghayal bertemu beberapa artis idolanya, yang tinggal di luar negeri dan tak jarang khayalannya itu ia libatkan pula di dunia nyatanya. Tapi meski begitu diantara ketiga sahabatku aku paling dekat dengan lili, mungkin karena sejak di bangku sekolah menengah dulu kami memang sudah saling kenal.

 

***

Matahari siang hari di bulan ini membuat cuaca di kota semakin panas, debu yang bertebaran di jalanan sepanjang trotoar membuat kotor dinding kaca di setiap pertokoan. Warna daun yang berwarna hijau mulai berubah menjadi merah, seperti di cat oleh burung burung yang sedang terbang diantara pohon-pohonan, karena musim gugur akan segera tiba.

Musim gugur adalah salah satu musim yang aku sukai, entah kenapa alasannya.

Waktu menunjukan pukul 1 siang dan di lorong kampus saat ini banyak orang berlalu lalang, sepertinya mereka sedang istirahat jam makan siang dan akan ke kantin. Aku dan teman teman sedang berada di bangku kampus yang letaknya tidak jauh dari kelas. Kami sedang menikmati istirahat jam makan siang sembari mengobrol. Karena, di bangku lorong terlalu ramai, kami pun pergi ke taman yang berada di dekat danau buatan yang sangat bagus. Taman yang luas dan terlihat hamparan hijau di bumi ini seperti permadani zamrud rerumputan. Kami pun berjalan menyusuri jalan setapak di antara hijaunya rerumputan ini. Suara angin yang berbisik halus ke telinga ditemani kicauan burung di antara pohon-pohon. Desiran air danau yang tertiup angin menenangkan jiwa disaat suntuk. Matahari di siang ini sangat panas. Karena bikin gerah, aku dan teman-teman memutuskan untuk berhenti di pertigaan jalan setapak dan kami pun duduk di bangku taman yang berada di sebelah kanan.

“lili kemana nih, ko hari ini ga ada kabar,”kata liena.

“tadi pagi aku tanyain ke mamanya dan dia bilang lili sakit deman. Jadi tidak bisa pergi ke kampus,”kata soren.

“iya, semoga dia baik-baik saja,”jawabku

“jadi bagaimana rencana kita untuk pergi liburan ?” Tanya soren.

“kalau bisa pas libur semester aja, lumayan lama juga kan waktu liburannya.”kataku

“oke lah kalau begitu, kita kumpulan uang dari sekarang, untuk biaya pergi ke sana dan beli oleh oleh untuk orang rumah,”kata Liena.

 

Kemudian kami pun beranjak dari bangku taman dan pergi ke kelas, karena pelajaran selanjutnya akan di mulai.

 

***

Seperti biasanya, aku bangun pagi untuk segera pergi ke kampus. Karena ada kelas pagi. Setelah di kampus aku pun ke kelas dan disana sudah ada Liena, Soren dan Lili.

“kamu sudah sembuh li ?”tanyaku pada lili.

“sudah anne, seperti yang bisa kamu lihat. Aku sudah sembuh dan bisa kembali ke kampus,”jawabnya.

“baguslah, akhirnya kita bisa melanjutkan rencana pergi liburan,”kata liena.

“nanti sajalah, setelah pulang dari kampus, atau kita pergi ke kafe yang deket terminal bus aja. Disana sedang ada diskon untuk Rib-eye steak,”jawab soren.

Rib-eye steak adalah steak favorit soren. Karena kesukaanya pada Rib-eye steak itu, setiap kami nongkrong, makanan itu tidak pernah absen dari daftar pesanannya.

“ya sudah, okelah.”jawab lili.

 

Setiap pelajaran sudah kami ikuti dan yang terakhir sudah selesai, kami pun beranjak dari kelas dan langsung pergi ke café yang di rekomendasikan oleh soren.

“yasss, akhirnya selesai juga pelajaran hari ini,”ucap soren.

“ya udah,langsung ke café yuk,”kataku.

 

Kami pun berjalan ke stasiun, yang jaraknya tidak jauh dari kampus kami, dengan berjalan beriringan kami pun bercanda dan menikmati perjalanan menuju café. Sangat beruntung sekali hari ini, karena cuaca sedang tidak panas. setelah sampai di tempat yang di tuju, kami pun langsung mencari kursi yang kosong.

Café yang bernuansa eropa, dinding di café berwarna putih dan biru. Warna yang menenangkan jiwa bagi setiap orang yang datang. Setiap meja dan kursi di sini di cat berwarna putih, di sini juga di sediakan ruang tertutup bagi yang merokok. Dan yang aku sukai di café ini adalah pajangan yang ada di dinding, karena terdapat foto-foto berwarna hitam putih yang entah foto siapa terpajang disana, itu terkesan unik dan menarik. Ada juga bingkai yang berisi kata kata dari orang terkenal, dan yang paling aku suka adalah dari Pablo picaso, yang tertuliskan seperti ini “Everything you can imagine is real”. Nuansa vintage antara putih dan biru sangatlah khas dengan café disini.

Kemudian soren pun memanggil pramusaji, untuk memesan beberapa makanan.

“pelayan..,”kata soren sambil mengangkat tangan kanannya.

Kemudian ada seorang wanita yang datang dan diperkirakan berumur 25 tahun, dengan memakai baju pramusaji

“iya, mau pesan apa kak ?”Tanya wanita itu.

“saya pesan Rib-eye steak, house salad dan untuk minumnya iced chocolate,”kata soren.

“kamu mau pesan apa anne ?”tanya lili.

“aku pesan chicken strip salad dan untuk minumnya grapefruit juice ukuran besar,”jawabku.

“tumben pesananmu salad anne,”Tanya lili.

“iya, lagi program diet nih,”jawabku sambil tertawa kecil.

“oh, kalau kamu mau pesan apa liena ?”Tanya lili.

Kemudian liena pun menjawab,”Sirloin Filet, cheese fries dan iced tea aja,”jawabnya.

setelah pramusaji itu mencatat pesanan kami, lalu dia pun mengulangi makanan yang akan kami pesan. Dan dia pun pergi untuk menyampaikan pesanan kami ke chef nya.

Sambil menunggu makanan kami datang, aku pun menanyakan alasan kenapa lili tidak masuk kemarin.

“li, kamu kemarin kemana ? kok ga ada kabar ?”tanyaku.

“aku kemarin sakit dan maaf ga bisa ngabarin kalian,”jawabnya.

“oh, begitu. Eh. Acara liburannya gimana nih ?,sahut liena.

“emang jadi pergi liburan semesternya ?”Tanya lili.

Kemudian soren pun menceritakan acara liburan semesternya kepada lili.

“yang sudah kami rencanakan kemarin sih gitu li, kamu setuju kan ?,”Tanya soren.

“ayo, aku ikut saja dan setuju”.jawabnya.

Kemudian pesanan kami pun datang, satu persatu makanan yang ada di tatakan pramusaji itu di taruh di meja kami yang masih kosong belum ada apa-apa kecuali vas bunga.

“oke, karena makanan sudah selesai meetingnya kita tutup dan ayo di makan semua,” kata soren sambil becanda.

“ya sudah, sebelum makan jangan lupa berdoa dulu ya,”ucapku.

Lalu kami pun makan sambil di temani alunan music acoustic cover, suara yang merdu itu semakin menambah suasana menjadi seru. Orang orang yang sedang duduk dan makan di sini, terlihat menikmati makanan mereka. setelah selesai kami pun membayar dan langsung beranjak pulang dengan hati senang dan perut kenyang.

“wah, enak juga sirloin filet disini,”kata liena.

“iya, enak banget makanannya,”sahut soren.

“oh iya, aku pulang di jemput sama mogens,”kata lili.

“emang kamu sudah jadian sama dia ?”tanyaku penasaran.

Lili pun menjawab pertanyaanku dengan tersenyum dan muka malu,”hehehe..”.

Mogens adalah cowok yang baru saja lili kenal dan kami bertiga pun akhirnya kenal sama dia. Pertemuan singkatnya saat kami berempat sedang berada di taman kampus dan tanpa disangka dia berani mengutarakan cintanya pada lili. tetapi lili tidak berkata iya atau menolak. Ternyata mogens selalu memperhatikan lili dari 3 bulan yang lalu, setelah kejadian itu, dia suka menanyakan kabar lili dariku. Bisa di bilang juga aku adalah perantara dari mereka berdua. Aku sudah tahu mereka dekat, tapi mogens tak pernah bilang bahwa mereka sudah jadian dan menjadi sepasang kekasih.

“oh jadi udah jadian ya,”kata liena.

“kok, ga bilang bilang li ? emang udah berapa lama kamu sama dia ?”tanyaku.

“baru satu minggu ko, anne,”jawabnya.

“oke lah, long last ya,”jawabku.

Kemudian kami pun berjalan ke beranda café dan di sana ternyata sudah ada mogens sedang menunggu lili dengan membawa motor besar berwarna putih.

“aku duluan ya, girls,”kata lili.

“kami duluan ya,”kata mogens.

Kemudian mereka pun pulang berdua dengan mengendarai motor. Dan kami pun pergi ke rumah masing-masing.

***

Pagi hari yang cerah dan aku bangun seperti biasanya, udara pagi hari yang masih segar dan menenangkan pikiran. bunyi suara televisi dari ruang keluarga menambah hangatnya pagi ini. aku pun masih belum bergerak dari tempat tidur, masih di balut dengan selimut berwarna putih moca. hangatnya tempat tidur ini, membuatku malas untuk beranjak dari kasur yang empuk ini. seperti biasanya, setiap pagi selalu ada bunyi suara telepon rumah yang berada di ruang keluarga.  "kring.. kring.. kring..."bunyi suara telepon rumah. bunyi itu berhenti, seperti ada yang menjawab telepon itu sehingga bunyi teleponnya berhenti. tiba-tiba ibu mengetuk pintu kamarku dan berkata,"anne... cepat bangun nak, ada panggilan penting nih dari soren. kemudian aku pun beranjak turun dari tempat tidur dengan rasa malas sekaligus kesal, kira-kira siapa yang memanggiku pagi pagi begini.aku pun pergi ke ruang keluarga.

aku pun mengangkat telepon dan berkata"halo, ini siapa ya ?".

“kamu kemana aja anne ?”Tanya penelpon itu.

“kenapa ?”Tanya aku.

“ini aku soren, kamu kemana aja anne ? aku sudah menghubungi ke nomor ponsel kamu tapi tidak aktif,”jawab soren.

“aku baru bangun tidur dan handphoneku mati. Memangnya kenapa pagi-pagi sudah nelpon ke rumah soren ?,”jawabku.

“aku melihat status di bbm saudaranya lili, dan statusnya itu “semoga kuat ya li,” aku takut sesuatu terjadi pada lili,”jawab soren terdengar lirih.

“ya sudah, nanti kita ketemu di kampus dan memastikan apa yang terjad pada lili, sampai ketemu di kampus”.jawabku dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus.

“ya sudah, bye”.jawab soren.

 

***

Setelah di kampus aku pun langsung pergi ke kelas, aku mencari soren dan liena, untuk memastikan kabar lili baik-baik saja.

“jadi bagaimana kabar lili ?”tanyaku pada liena.

“belum tahu nih, katanya sih kecelakaan di jalan,”kata soren

“kecelakaan ?”tanyaku tak percaya dengan apa yang terjadi.

“aku rasa tadi malam dia baik-baik saja dan kita sempat berbalas pesan singkat. Dia menanyakan besok ada pelajaran tambahan atau tidak”.kataku dengan kaget.

“menurut info dari saudaranya lili kecelakaan bersama mogen, ketika akan pulang menuju rumahnya”.jawab soren.

“semoga lili baik-baik saja ”.jawab liena.

Kemudian waktu pun berlalu dan jam belajar sudah selesai. Kami bertiga pun pulang ke rumah masing-masing dengan menunggu kabar dari lili.

Sore ini aku sedang membaca buku di teras rumah ditemani secangkir teh hijau hangat. Tiba-tiba ponselku berbunyi, nomor tak dikenal muncul di layarnya. Dengan sedikit ragu aku pun mengangkat telepon itu.

“hallo anne, lagi dimana ?”Tanya si pemilik suara.

“aku lagi di rumah, ada perlu apa ya ?”tanyaku keheranan.

bukannya menjawab, tetapi si penelpon malah menangis sesenggukan.

Kemudian si penelepon menjawab,”ini aku anne, mogens”.

“lili, anne….. li….li….”.katanya.

“oh iya, ada apa mogens, kenapa ?”tanyaku.

‘apa yang terjadi sama lili ?”tanyaku lagi.

“jangan tanyakan kronologisnya, yang jelas kamu harus tahu bahwa lili sudah dipindahkan ke rumah sakit di kota lain. Karena, kecelakaan ini mengakibatkan kerusakan pada bagian kepala dan sayangnya rumah sakit di kota kita tidak sanggup menanganinya”.jawabnya.

Kabar itu sontak mengagetkanku yang seakan hujan turun dengan deras. Jika mengikuti kata hati, aku ingin sekali menyalahkan mogens. Tapi aku urungkan niat itu.

“bagaimana keadaan lili sekarang ? sekarang kamu dimana ?”tanyaku.

“malam ini dia akan masuk ke ruang operasi, menurut informasi dia hampir saja kehabisan darah. Dan saat ini aku berada di rumah sakit bersama keluarganya,”jawab mogens.

Aku pun terdiam sejenak karena tak percaya bahwa dengan apa yang aku dengar. Kemudian pembicaraan kami pun terputus dan aku pun menelpon soren.

“soren, kamu sudah mendapatkan kabar dari lili belum ?”tanyaku pada soren

“belum, memangnya bagaimana keadaannya ?”jawab soren.

Lalu aku pun menceritakan kepada soren tentang keadan lili yang diinformasikan oleh mogens.

Tak lain halnya denganku, soren bahkan terdengar menangis ketika tahu apa yang terjadi pada lili. Diakhir pembicaraan aku meminta soren untuk memberi tahu kepada liena.

***

Satu minggu berlalu dan menurut informasi dari mogens, lili masih terbaring lemah di ruang ICU. Tak ada respon yang ia berikan, malah dari hari ke hari-hari keadaannya semakin melemah.

Tepat pada hari jumat, perasaan aneh sedikit mengganggu pikiranku. Aku pun menceritakan kepada liena dan soren tentang apa yang aku rasakan.

“aku sedikit khawatir dengan keadaan lili, aku takut terjadi hal yang tidak diinginkan,”kataku.

“hush… jangan bilang begitu. Aku yakin lili pasti sembuh,”jawab soren.

“apa tidak sebaiknya kita jenguk saja ? soalnya tidak ada kabar lanjutan dari mogens,”kataku.

“bisa saja, tetapi jarak dari sini ke rumah sakit itu cukup jauh, lagi pula diantara kita bertiga belum ada yang pernah ke sana,”jawab liena.

“iya annelise, lebih baik kita tunggu dan menjenguknya ketika dia sudah pulang,”kata soren.

Waktu menunjukan pukul 5 sore dan cuaca di luar sedang di guyur hujan deras. Entah, kenapa hujan sore ini terasa sangat menyebalkan. Karena, ia berhasil mengingatkanku pada seseorang yang sedang berjuang mempertahankan nyawanya, seseorang yang tidak lagi berada di samping aku, soren dan liena. Ditemani dengan alunan musik instrument yang membuat sore ini terasa sangat sendu.

Tak terasa, matahari sudah tenggelam dan berubah menjadi langit yang gelap tanpa cahaya bintang. Aku masih merasakan cemas tentang keadaan lili. Kemudian detik itu juga aku menghubungi mogens dan menanyakan keadaan lili sekarang.

“jadi bagaimana keadaan lili sekarang mogens ?”tanyaku.

“kata dokter dia masih belum pulih dan aku sedang masih berada di rumah sakit menunggu dia,”jawab mogens.

“baiklah, terima kasih sudah memberitahuku keadaan lili,”jawabku.

Lalu telepon pun terputus.

Sunyinya malam ini ditemani sedikit tetesan air hujan yang mulai berhenti, aku masih memikirkan keadaan lili. Kemudian aku pun menghubungi soren, untuk mengajaknya ke rumah sakit di kota itu.

“halo soren, kamu lagi apa ?”tanyaku.

“oh iya anne, aku sedang duduk saja. Memangnya kenapa ?”Tanya soren.

“perasaanku semakin tidak enak, aku ingin sekali bertemu dengan lili. Apakah besok kita bisa menjenguknya ? lagipula besok kan perkuliahan libur.”jawabku.

“ya sudah, kalau misalkan itu mau kamu. Besok kita janjian di stasiun kereta api dan aku akan menghubungi liena.”kata soren.

“oke, sampai ketemu di stasiun,” jawabku.

***

Pagi hari yang cerah, aku pun sudah berada di stasiun kereta. Tempat janjian aku, liena dan soren untuk pergi ke rumah sakit. Kemudian liena dan soren pun datang.

“eh, kamu sudah ada disini ternyata,” kata soren.

“iya, aku sudah menunggu kalian. Ya sudah, ayo kita berangkat.”jawabku.

Lalu kami bertiga pun pergi ke rumah sakit, tempat dimana lili di rawat dengan memakai kereta. di dalam gerbong kereta, kami pun membicarakan tentang perjalanan liburan nanti, karena sudah tidak sabar lagi untuk pergi berlibur. 5 jam sudah terlewati dan kami sudah berada di stasiun tujuan kami. Lalu kami pun mencari rumah sakit lili. Karena, tidak tahu dimana letak tempat itu, aku pun bertanya pada salah satu penjaga kios bunga di pinggir jalan. Lalu si penjaga kios itu pun menunjukan tempatnya. Kemudian aku, liena dan soren pergi ke arah yang di tunjukan oleh si penjaga kios itu.

Sesampainya di rumah sakit, kami langsung menuju ke resepsionis untuk menanyakan ruang ICU, tempat lili di rawat. Dan akhirnya kami pun berada di lorong rumah sakit dan melihat orang yang tidak asing lagi bagi kami dan itu adalah mogens. Dia sedang duduk di bangku di depan ruang ICU. Kemudian aku pun menyapa orang tua lili yang berada di samping mogens. Aku dan Soren pun masuk ke Ruang ICU, tempat lili di rawat. Kami sudah memakai pakaian serba hijau dengan masker dan penutup kepala, kemudian aku dan soren pun mulai membuka pintu dan langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.

Ketika itu aku langsung tertuju pada lili dan dia terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Aku mengusap air mata yang tak sengaja turun dari pelupuk mataku. Aku duduk di samping lili dan memegang tangannya yang dingin.

“kamu ngapain sih disini li, ayolah, kita pulang,”tanyaku pada lili yang tak menjawab.

“kita kan ada rencana pergi liburan li, kamu masih ingetkan ?”tanyaku lagi.

Aku pun terus menanyakan hal yang aku tahu, bahwa lili tak akan menjawabnya.

Kemudian soren mencoba menenangkanku.

“sudah anne, lebih baik kita doakan saja. Supaya lili cepat sembuh.”katanya sambil menahan air mata yang sedari tadi dia tahan.

Lima belas menit telah berlalu, karena waktu menjenguk sudah selesai. Aku, liena dan soren pun meminta ijin ke mogens dan orang tua lili untuk pamit pulang.

Sesampainya di rumah, hatiku sedikit lebih tenang, aku yakin soren dan liena pun demikian. Dalam keyakinan kami lili pasti sembuh dan bisa beraktifitas seperti sedia kala. Hari demi hari telah ku lewati dan belum ada kabar tentang lili lagi, setelah kedatangan aku, liena dan soren menjenguknya.

Malam itu aku jalan-jalan ke taman deket rumah, karena suntuk diem di rumah. Udah ngajakin Liena dan soren, tapi mereka masih sibuk sama tugasnya. Udara malam ini berhasil menusuk ke tulangku tanpa ampun .kegelapan malam yang di sinari bulan dan bintang di atas awan menjadi teman pelengkap. Awan putih di langit yang bergerak tanpa arah terbawa angin malam. Aku berjalan sendiri, diatas aspal hitam yang basah. langkah demi langkah sambil memikirkan bagaimana keadaan lili sekarang. Karena dia sekarang berada di luar kota, sedang melakukan pengobatan di rumah sakit lain dan itu informasi yang aku dapat dari mamanya.

“sekarang lili kabarnya gimana ya, apakah sudah sembuh atau belum,”itu yang ada di dalam benak aku.

Jam tangan sudah menunjukan pukul 9 malam dan aktivitas yg ga biasa untuk seorang gadis berjalan-jalan sendirian di sekitar taman komplek rumah. Dengan dibalut jaket berwarna biru dongker, aku menulusuri dinginnya malam ini. Aku berjalan sambil merunduk tanpa melihat kearah depan jalan. Kemudian aku pun mengarahkan wajah kearah depan, karena pegal melihat kebawah terus. Tiba tiba ada seseorang yang berdiri di depan bangku taman. Karena tidak terlihat jelas, siapa orang yang sedang berdiri, aku pun memicingkan mata supaya terlihat jelas siapa orang yang di depan bangku itu.

Karena penasaran dengan apa yang dilakukan orang itu, aku pun mendekatinya. sedih dan bahagia tergambar jelas dari sorot matanya, wajah yang tak asing untuk aku. Dan ternyata itu lili, aku pun sontak berteriak,”lili……..iiiiii”.

Sambil berlari ke arahnya, aku pun memeluk tubuh lili dengan bahagia, tapi ada yang aneh, kenapa dia tak memeluk tubuhku, ah.. sudahlah aku tidak menghiraukannya, saat ini aku bahagia sekali telah bertemu lili.

“ kamu kapan balik ke sini ? kenapa ga ngomong-ngomong ? terus gimana penyakitnya ? ,” Tanya aku penasaran dan senang karena dia sudah ada di depan aku.

 “lili kamu ngapain di tempati ini malam malam ?,”tanyaku lagi.

“sama sepertimu Annalise, aku sedang mencari udara segar.”

“memangnya kamu sudah sembuh ?”tanyaku lagi.

“bisa kamu lihat, aku sudah sembuh,”jawabnya.

“oh iya, lebih baik aku segera menghubungi lina dan soren,”ucapku.

“tidak usah Annalise, besok kan kita bisa bertemu kampus,”

“ya sudah, kalau begitu. menginap saja di rumahku malam ini, rumahmu kan jauh dari sini,”.

Dengan anggukan kepala tanda setuju, lili dan aku menyusuri jalan hingga sampai ke tempat tujuan kami, yaitu rumahku.

Sesampainya kami tiba di rumah, aku mengentuk pintu rumah, karena pintunya terkunci.

Kemudian ada jawaban dari dalam rumah“iyaa, sebentar”.

Dan ternyata itu mama

“kamu kenapa jam segini baru pulang anne ? “Tanya mama.

“cari angin dulu mah, soalnya belum ngantuk,”jawabku.

Kemudian aku pun masuk rumah dan spontan menjelaskan kenapa lili ada bersamaku, padalah mama ga nanyain tentang itu. Aku jelasin terlebih dahulu karena takut dia ga mengijinkan lili untuk menginap di rumah. Kemudian mama pun menganggukan kepalanya sambil tersenyum ke arah kami, tanda bahwa dia mengijinkan lili untuk menginap di rumah.

Kami pun beranjak ke tempat tidur, karena kelelahan kami langsung tertidur.

***

Tak terasa matahari mulai masuk ke kamarku, seperti sengaja mencoba membangunkanku. Suara burung-burung di pagi ini terasa berbeda.

aku pun membalikkan badanku, dan tak kudapati seorang lili di sampingku. Ah, pikirku mungkin dia sudah pulang ke rumahnya, lagi pula jam sudah menunjukan pukul 9 pagi.

“ya sudahlah, di kampus juga nanti kita ketemu”pikirku.

Lalu aku pun bersiap-siap pergi ke kampus dan seperti biasa, aku berjalan ke terminal bus dengan melewati taman. Disaat melewati taman itu, ternyata lili ada disana sedang duduk. Aku kira dia sudah pulang, dan aku pun menghampirinya.

“lili, aku kira kamu sudah pulang. Ternyata kamu ada disini.”tanyaku.

Bukannya menjawab, tetapi lili hanya menganggukan kepalanya.

Kemudian teleponku tiba tiba berbunyi dan tertulis nama soren di layar itu. Aku pun menjawab teleponnya.

“lili.. anne, lili….”kata soren terdengar menangis terisak-isak.

“iya, kenapa ?”tanyaku keheranan.

“dia sudah tidak berada di tengah-tengah kita lagi,”ucapk soren.

“kamu kok becandanya gitu sih, lili tuh ada di sampingku sekarang.”jawabku sambil terkekeh.

“aku serius anne,”jawab soren.

“memangnya kapan ?”tanyaku sambil menahan air mata dan tak percaya.

“tadi malam anne, ya sudah aku sama liena akan pergi ke rumahnya dan kita bertemu di rumah lili saja”.kata soren sambil menutup teleponnya.

Aku pun kaget mendengar kabar dari soren, sambil menahan air mata dan aku pun mencoba melihat ke bangku taman yang berada samping kiri. dan ternyata lili masih ada, aku pun memeluk dia dan benar aku merasakan tubuh lili dingin. Aku tak percaya dengan apa yang terjadi. Sambil menahan air mata aku pun berbicara pada tubuh yang dingin itu.

“kamu masih punya janji yang belum ditepati, kamu masih ingatkan ?”tanyaku sambil mengusap air mata.

“lalu bagaimana dengan rencana liburan kita ? kamu lupa juga ?”tanyaku.

Tanpa menjawab pertanyaanku, lili hanya berkata “jangan sesalkan perpisahan ini, karena setiap jiwa yang hidup akan kembali ke asalnya. kita tidak bisa menahannya, mungkin saja esok, lusa bahkan secepatnya kepergian itu akan datang menjemput kita. Seperti aku saat ini, percayalah annelise aku akan baik baik saja. Jagalah persahabatan dengan liena dan soren, katakan pada mereka jangan sering mendebatkan hal yang kecil ya hihihi. Dan bilang pada mogens jangan bersedih, ia harus tahu bahwa aku tidak menyesal pernah mengenalnya. Aku menyayangi kalian,selalu.”

Seketika hujan di mataku turun, aku merasakan separuh hatiku pun menghilang. Seiring hilangnya lili dari bumi yang sebelumnya ia pijak. lalu jasad yang dingin itu pun perlahan-lahan memudar, tetapi pesan yang indah darinya selalu terngiang.

“lili…. Tak perlu kau penuhi janji yang belum kau tepati, cukup kembali dari tidur panjangmu dan kembali ke sisi yang selama ini kau tempati. Begitupun kami menyayangimu, selalu.”

 

  • view 95