Senja pada Seina

Mashel D. Wakey
Karya Mashel D. Wakey Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Juli 2017
SEPAYUNG RINDU

SEPAYUNG RINDU


"Menunggu saja sudah ku lakukan, mengapa aku bisa percaya kepadamu ? entahlah, aku hanya dengan kepercayaan ini.

Kategori Fiksi Remaja

268 Hak Cipta Terlindungi
Senja pada Seina

#1  Ketika Senja Menyapa

Pada saat itu suasana sore di taman terasa sangat cerah, ditemani sejuknya rimbun pepohonan dan bunga yang tertata rapi di pinggiran trotoar. Terlihat ada dua orang sedang duduk berdua di kursi taman dan terlihat jarak antara mereka.

penyelesaian masalah tentang Ray mulai terlihat, kedatangannya dari kota lain telah merubah sikap Ray.  Memikirkan hal itu membuat Seina kalut dalam ketakutan, pikiran emosi yang semakin terbentuk.

“Aku rasa kamu sekarang sudah berubah, bukan seperti Ray yang aku kenal,”ucap Seina dengan menahan air matanya turun dan memperlihatkan wajah yang tegar.

 Dengan mengalihkan pandangan dan menatap wajah Seina, Ray pun menjawab dengan tatapan yang dingin.

“mungkin itu hanya perasaanmu saja, aku masih Ray yang kau kenal ?”jawab Ray.

 “Aku sudah tak melihat sisi Ray yang aku kenal,” ucap Seina.

"sekarang kau sudah mulai terasa seperti orang asing, belakangan ini kau hanya memperhatikan dirimu sendiri,"lanjut seina.

 

Tanpa berkata apa-apa Ray pun mulai berdiri dari posisi duduknya dan meninggalkan seina seorang diri di bangku taman.

Suara langkah sepatu Ray yang beradu dengan kerasnya bebatuan jalan ditaman semakin terdengar jelas ditelinga seina, hampa dan kesedihan yang dia rasakan semakin mengosongkan pikiran jernihnya tentang cara berpikir untuk menerima kenyataan bahwa Ray yang dia kenal dulu telah menghilang jauh di kota terakhir yang Ray kunjungi.

***

Sunyi sepinya sore itu menambah suasana sedih hati Seina, riuh suara pepohonan yang tergoyangkan oleh angin yang  semakin lama semakin membuatnya tak sadarkan diri dengan apa yang harus dia lakukan dengan semua itu.

"salahkah prasangka burukku tentang dia, salahkah jika aku terlalu mengkhawatirkan dirinya dan hatinya. aku menunggu bertahun tahun lamanya dan aku menanggung kesetiaan yang tidak seorang pun tahu, betapa terluka dan beratnya tahun terakhir ini tanpa kabar dari Ray."ucap Seina dalam hati.

Suara riuh pepohonan pun berhenti dengan diikuti rintik air hujan yang turun yang  mulai membasahi  tubuh seina yang belum bergerak semenjak Ray pergi 30 menit yang lalu.

“Berakhirkah semua yang telah kupercayakan bahwa setianya aku menunggu membuat aku gila seperti ini ? “ ucap seina dalam hati, disambut dengan tetesan air mata yang turun menemani sang hujan.

“Menunggu yang tak pernah aku akhiri untuk menjemput kebahagiaan bersama Ray, apakah sia sia semata. Kesetiaan yang aku tunjukan dengan menunggunya di setiap tetesan embun pagi sampai langit berwarna kuning kemerahan.”ucap seina dengan sedih.

“Siang  telah kujadikan malam dan begitu juga sebaliknya, yang telah ku simpan baik baik sebuah kesetiaan ternyata berujung sakit”. Kata seina.

 

 

Tiba tiba air hujan tidak membasahi tubuh seina, seakan ada yang membuat dia teduh. Dan ternyata Ray kembali dengan sebuah payung berwarna hijau muda untuk memayungi tubuh seina agar tubuhnya tidak terlalu basah kuyup. 

Kemudian seina pun menoleh kearah wajah Ray untuk memastikan bahwa Ray baik baik saja, setelah telah meningggalkannya di bangku itu sendiri. Perasaan marah seina ternyata sedikit demi sedikit telah luluh pada saat itu juga.

Ray pun berkata, “Ayo pulang sei, aku takut kamu sakit karena kehujanan dan baju kamu juga sudah basah kuyup gitu”.

Seina pun berdiri dari posisi duduknya tanpa berkata sepatah kata pun, hanya anggukan kepalanya yang menandakan bahwa seina setuju untuk pulang bareng. Dia pun berjalan lebih dulu di depan Ray,tetapi masih di satu payung yang sama menuju rumah seina yang jarak rumahnya tidak jauh dari taman kota.

“kamu pake jaket ya, biar kamu ga kedinginan”, bisik Ray sambil memakaikan jaket jeansnya yang berwarna biru.

Dengan cuaca yang saat itu dingin karena hujan yang tak kunjung berhenti, entah kenapa pipi seina memerah karena senang dan cuaca di sekitar mereka berdua tiba tiba jadi hangat. Hanya karena bisikan dari Ray tadi. Sepanjang jalan mayor abdurachman, mereka berdua tidak berbicara satu sama lain.  

***

Akhirnya mereka berdua sampai di rumah seina dan tak lama kemudian Ray pun pamit untuk pulang. “Thanks buat hari ini ya sei,” ucap Ray yang langsung pergi meninggalkan seina. Dan seina pun berdiri membelakangi tubuh rey, setelah Ray berjalan cukup jauh seina menoleh kearah Ray sambil memegang erat jaket Ray yang sedari tadi dipakai agar tubuhnya tetap hangat.

Air mata yang jatuh tanpa sengaja sambil melihat langkah Ray yang seakan akan pergi menjauhi seina, menandakan bahwa seina tidak mau kehilangan Ray.

 

Tak mau kehilangan orang yang selalu dia tunggu sepanjang musim kemarau dan hujan, menunggu yang bisa menambah kesetiaan dan kepercayaannya membuat seina menjadi orang yang tangguh dalam menjalani hubungan dengan Ray. Dia percayakan hati nya kepada orang yang sangat dia sayangi.

 

Tetesan air hujan yang masih mengalir, Seina duduk di dekat jendela ditemani secangkir cokelat panas dan cemilan. kemudian seina menarik nafas dalam dalam dan menghebuskannya lagi, lalu dia lakukan secara berulang ulang.

“Hujan yang seakan mewakili air mata ini untuk membasahi pipi, seakan telah mengerti bahwa keadaanku tak secerah langit di siang tadi sebelum bumi menjadi basah karena air hujan,” kata seina.

Sambil memejamkan mata dan menghirup aroma cokelat yang membuat pikiran dan tubuh seina menjadi hangat lalu meminumnya sedikit demi sedikit.

Tiba tiba handphone Seina berbunyi dan terlihat nama Ray yang sedang memanggil, kemudian seina menjawab telepon dari Ray.

“selamat malam seinaku...”kata Ray lewat telepon.

“iya, malam juga Ray, Aku yang sangat sabar menunggu kabarmu dulu dan satu tahun telah berlalu tanpa kabarmu, kini aku bahagia karena kamu sudah ada di dekatku. Tetapi saat kita tadi ketemu untuk pertama kalinya, kenapa kamu malah diam tanpa menceritakan alasanmu tidak ada kabar dalam satu tahun itu.”jawab seina dengan membendung air matanya supaya tidak mengalir di pipi.

 “Aku tidak bisa menjelaskan alasanku untuk tidak menghubungimu seina, aku sangat tersiksa karena tidak bisa mengabari bagaimana keadaanku pada kekasihku sendiri. Percayalah, walaupun raga kita terpisah oleh jarak dan waktu akan tetapi hati dan cintaku ini akan selalu untukmu seinaku.”jawab Ray.

“oke, maafkan aku yang terlalu mengkhawatirkanmu Ray, aku akan selalu percaya kamu ?”, kata seina.

Kemudian sambungan telepon pun terputus.

“kenapa malah putus teleponnya, aku kan masih ingin mendengar suara Ray”, kata seina dalam hati.

***

Langit yang gelap tanpa bintang dengan ditemani suara air hujan yang mulai reda dan suasana malam yang dingin seakan mengerti bahwa sesuatu telah terjadi dengan Ray. Seina yang tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi pada sikap Ray yang telah berubah semenjak kepulangannya dari kota lain.

Hanya kepercayaan dan waktu yang dapat menjawab seluruh pertanyaan dalam hati seina.

Ia menunggu sesuatu yang akan kembali dalam genggaman dan ingatannya seperti dahulu.

“kepercayaan yang aku gengggam ini tak ingin berakhir secara percuma, aku akan berpikir positif dalam menanggapi segala macam masalah,”,ucap seina dengan sadar bahwa semua masalah itu hanya ada dalam pikirnya semata, padahal banyak hal yang harus Seina pikirkan terlepas dari pikirannya tentang Ray. Karena sebuah kepercayaan adalah untuk mengingatkan apakah kita akan setia dengan orang yg kita tunggu atau kita yang menunggu itu.

Picture from : hipwee.com

 

 

  • view 79