Seorang Pahlawan dan Seorang yang Bertepuk Tangan

Dimas Budi Prasetyo
Karya Dimas Budi Prasetyo Kategori Motivasi
dipublikasikan 04 September 2016
Seorang Pahlawan dan Seorang yang Bertepuk Tangan

Malam itu, sebuah pertanyaan datang.

"Mas, aku dapat rekomendasi dari Profesor untuk melanjutkan program Doktor disini, gimana mas pendapatmu?"

Pertanyaan yang membuat bangga sekaligus bimbang. Bagaimana tidak, setelah pertanyaan itu, dia melanjutkan, "Aku mau lanjut sekolah, asal mas Dimas mau menemani disini."

Jadilah selama beberapa hari aku kesulitan tidur memikirkan bagaimana menanggapi pertanyaan itu. Di satu sisi, tentu saja membanggakan kelak akan memiliki seorang istri seorang lulusan Doktor dari luar negeri. Sisi lainnya, meninggalkan pekerjaan mapan yang baru ditempuh seumur jagung dengan pengalaman minim, tentu akan sangat riskan disaat mencari pekerjaan dewasa ini tidaklah mudah.

Setelah beberapa waktu berselang, keputusan besar itu diambil.

Sungguh tidak mudah mengambil keputusan yang tidak populer itu. Dengan mengambil keputusan melanjutkan sekolah ke luar negeri, berarti siap meninggalkan segala "kemewahan" dan "kemapanan" yang sudah kami dapatkan. Perlu diketahui, saat itu calon istri (sekarang sudah istri) belum tentu mendapatkan beasiswa Doktor dan aku belum tahu akan melakukan hal apa di sana.

Karena kami mengambil keputusan yang tidak populer, pasti banyak yang berkomentar dan mengajukan keberatan, terutama keluarga. Tentu saja, keluarga pasti menghendaki yang terbaik dan aku tidak bisa menghindari pertanyaan-pertanyaan yang bertubi-tubi datang.

"Kamu mau ngapain disana selama istrimu kuliah?"

"Kamu mau kerja apa disana untuk menghidupi keluargamu? Kamu itu kepala keluarga, harus bertanggung jawab."

"Apa yang kamu dapat disana? Apa tidak cukup sekolah Doktor di dalam negeri?"

"Apa kamu gak rugi meninggalkan pekerjaanmu yang sudah mapan cuma demi ketidakpastian nasib disana?"

Dan sederet pertanyaan-pertanyaan lain yang memperlihatkan keluarga sungguh peduli dengan aku dan memang begitulah sebuah keluarga sewajarnya bersikap.

Sebenarnya kami bisa berkompromi, menjalani sebuah rumah tangga berjauhan. Namun, kami dari sejak berpacaran sudah berkomitmen, ketika menikah kelak apapun yang terjadi, tidak boleh terjadi hubungan jarak jauh. Bagi kami, sebuah rumah tangga yang terbaik akan bisa ditempuh jika kami selalu bersama, dimanapun kami berada.

Jadilah kami memiliki beberapa opsi,

Pertama, aku tetap bekerja di tempatku dan istri ikut kemanapun aku berada dan ditempatkan nantinya.

Kedua, aku keluar dari tempat bekerja dan mencari pekerjaan di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya dan istri melanjutkan pendidikan di tempat tersebut.

Dan opsi ketiga dan terakhir, istri mengambil kesempatan yang ditawarkan Profesornya ketika mengambil Master di Taiwan dan aku mengikuti kesana dengan konsekuensi ketidakjelasan nasib.

Opsi pertama sungguh menggoda. Memang seperti itulah kebanyakan yang terjadi dan sangat populer di masyarakat. Kami bisa tetap bersama dan hidup mapan dengan gaji tiap bulan yang masuk rekening dan istri bisa juga ikut mencari pekerjaan untuk menopang rumah tangga. Sungguh ideal bukan?

Opsi kedua tidak kalah menarik. Kami tidak harus berpisah, menjalani hidup "normal" layaknya orang lainnya, dan aku tidak harus menghalangi cita-cita istri yang berkeinginan menjadi seorang Profesor kelak.

Dan opsi ketiga, iya opsi ketiga, sungguh opsi yang tidak populer bukan?

Sebenarnya istri sepenuhnya menyerahkan semua keputusan di aku, karena memang begitulah seorang imam dalam sebuah rumah tangga, membuat sebuah keputusan untuk keluarganya. Dan dia akan dengan ikhlas sepenuh hati dengan semua keputusan yang akan aku buat.

Akhirnya timbul pertanyaan besar yang menggelayut apabila aku mengambil opsi pertama dan kedua sebagai keputusan akhir.

Kenapa aku begitu egois mematikan bakat luar biasa istriku, calon ibu anak-anakku kelak, hanya untuk mengikuti tuntutan hidup "normal" dan bekerja sesuai dengan keinginanku sendiri?

Aku tidak perlu mendefinisikan secara detail sehebat apa istriku. Namun, jika aku memaksakan seorang wanita, yang mana dia mendapat rekomendasi melanjutkan pendidikan Doktor oleh salah seorang Profesor terbaik di dunia dalam bidang Antenna, sungguh aku akan menjadi seorang yang sangat egois.

Aku hanya berpikiran diantara kami harus ada yang menjadi seorang pahlawan dan harus benar-benar menjadi seorang pahlawan yang kelak akan membanggakan.

Aku mendapat inspirasi dari Nabi Muhammad. Beliau di usia muda menikah dengan seorang janda kaya bernama Siti Khadijah. Saat itu, beliau memang sudah terkenal dengan kejujuran dan kebaikan akhlaknya, namun tetap saja Siti Khadijah lebih punya "nama" daripada beliau. Pada awal berumah tangga, beliau membantu istrinya sebagai asisten dan orang kepercayaan untuk melebarkan usaha. Menjadi suami seorang yang terpandang, kaya, dermawan, dan baik hati sungguh dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Nabi Muhammad untuk beribadah dan melaksanakan perintah Allah. Setelah beliau diangkat menjadi Rasul oleh Allah, sang istri Siti Khadijah mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung perjuangan dakwah beliau sebagai Nabi. Dan seperti yang  kita tahu sekarang, yang pada awalnya beliau "hanya" menjadi asisten istrinya, kini menjadi seorang manusia paling mulia yang pernah hidup di dunia ini dan itu karena dukungan hebat istrinya.

Sungguh aku tidak berharap terlalu tinggi bisa mengikuti jalan hidup Nabi Muhammad yang luar biasa. Namun setidaknya, aku bisa mengambil pelajaran hidup dari beliau, seorang yang menurut fisikawan dan astronom dari Amerika Serikat, Michael H. Hart sebagai orang nomer 1 paling berpengaruh sepanjang sejarah, mengalahkan nama-nama hebat lain seperti Issac Newton, Isa Al-Masih, Albert Einstein, dan semua nama hebat yang lain.

Pelajaran berharga tersebut bahwa, dalam sebuah rumah tangga akan susah apabila keduanya bertindak sebagai pahlawan. Salah satu sebaiknya menjadi pendukung atau seorang yang bertepuk tangan. Karena sehebat apapun seorang pahlawan, akan ada masa dimana dia akan merasa kelelahan dan butuh dukungan. Jika masing-masing bertindak sebagai pahlawan, akan ada masa dimana keegoisan datang dan mendorong untuk melakukan klaim mengenai siapa pahlawan yang lebih baik. Dan sebagai seorang lelaki, bukan sebuah aib dan kesalahan apabila menjadi pendukung istri selama masih mau berusaha bekerja, belajar, dan tidak berpangku tangan saja mengandalkan istri.

Sekarang memang waktu yang tepat istriku menjadi seorang pahlawan, sehingga sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang suami untuk mendukung sepenuhnya. Aku tidak sedang mengalah, sungguh aku tidak merasa sebagai orang yang kalah. Karena kami sudah menjadi 1 jiwa yang dipisahkan dalam 2 raga. Apabila salah satu menang, yang lain juga akan merasakan kemenangan.

Aku hanya berkeyakinan kelak, akan ada masa nantinya aku menjadi seorang pahlawan dan diberi dukungan oleh seorang yang luar biasa.

Untuk saat ini, aku hanya ingin bertepuk tangan dan terus mendukung pahlawanku.

 

 

Sabtu, 3 September 2016.

Pukul 23.37 waktu Kaohsiung, Taiwan.

 

  • view 182