Wahai Orang-Orang Besar dan Benar

Masyarakat Pengamat
Karya Masyarakat Pengamat Kategori Politik
dipublikasikan 13 Mei 2017
Wahai Orang-Orang Besar dan Benar

Pandangan dari masyarakat kecil dan salah

Jarang sekali saya memposting tentang politik. Bahkan hampir tidak pernah saya membuka suara saya, mengeluarkan pendapat ataupun pandangan saya tentang politik. Saya simpan hanya di diri saya sendiri atau berbagi dengan keluarga dan teman-teman dekat saya saja. Namun peristiwa politik belakangan ini sangat menggerakkan hati saya untuk mengungkapkan pandangan saya.

Untuk keluarga besar Bpk. Basuki Tjhaja Purnama, saya ucapkan turut berduka cita dengan kekurangan bangsa ini. Sangat besar jasa beliau untuk bangsa ini, namun bangsa ini belum siap untuk maju kedepan dengan prajurit-prajurit jujur di barisan paling depan. Saya akan meng-kesampingkan fakta bahwa Bpk. Basuki adalah minoritas dalam hal ras dan agama. Saya banyak membaca respon-respon orang yang sangat semangat untuk menurunkan Bpk. Basuki dengan membawa masalah penistaan agama. Mereka berbicara kalau yang mereka permasalahkan bukanlah karena Bpk. Basuki minoritas tetapi dikarenakan menistakan agama.

Wahai orang-orang besar yang benar, ijinkan saya sebagai masyarakat pengamat menyapaikan sesuatu, marilah kita buka semua fakta yang ada di depan mata kita. Janganlah kau terbakar semangat dengan satu orang pemimpin-mu. Wahai orang-orang besar yang benar, janganlah kau menutup matamu dari fakta yang sudah ada. Wahai orang-orang besar yang benar, junjung tinggilah rasa toleransi mu dan memulailah untuk “melek” informasi yang sesungguhnya.

Jika kamu sudah melihat pe-vonis-an Bpk. Basuki, apakah hatimu senang? Apakah yang sebenarnya kau ingin capai? Tujuanmu untuk memuliakan agama mu atau memuliakan tujuan pemimpin-mu? Saya memang bukan pemeluk agama yang kuat di agama saya. Saya lebih banyak berbicara dan berperilaku berdasarkan hati nurani saya. Bukankah setiap agama mengajarkan keindahan bersama dan memaafkan bersama? Keraskah hatimu untuk tidak memaafkan seseorang yang sedang berusaha membangun bangsa ini?

Memang benar pepatah berkata “Karena Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga”, menurut saya pribadi, Bpk. Basuki memang melakukan kesalahan. Tapi BUKAN karena menistakan agama, tetapi dikarenakan membawa unsur agama dalam bidang politik yang dimana saat dilakukan beliau sedang menjabat sebagai pemimpin ibukota. Dan itu hanya masalah etis atau tidaknya sebagai pemimpin. Dalam pandangan saya, agama adalah kepercayaan yang sangat mulia, tidak ada satu mahkluk dibumi ini dapat merendahkan agama. Bukankah setiap agama mempunyai Tuhan nya? Bisakah kau bersandar kepada Tuhanmu? Kenapa kau harus menghakimi orang, yang dimana bukan kau yang mempunyai kuasa untuk menghakiminya? Tidak lihatkah kau seberapa banyak jasa Bpk. Basuki untuk Jakarta ini? Sudah lupakah kau dengan itu semua? Saya tidak akan menjabarkan jasa Bpk. Basuki disini, saya ingin kamu untuk melihatnya sendiri, mulailah mencari informasi, mulailah perkaya diri dengan informasi yang benar. Bangunlah dari tempatmu dan bergerak keluar lihatlah jasa-jasa Bpk. Basuki.

Tidak bisakah kita, yang mengaku bangsa ini satu dalam Bhinneka Tunggal Ika, memaafkan satu kesalahan Bpk. Basuki demi membangun bangsa ini jauh kedepan.

Jikalau kalian wahai orang-orang besar yang benar tetap keraskan hati kalian, lihatlah sekeliling Indonesia ini. Tidak hanya dari Sabang sampai Merauke yang merespon peristiwa ini, hampir seluruh negara ikut merespon peristwa ini. Apakah kau masih merasa besar dan benar?

Jikalau kalian wahai orang-orang besar yang benar tetap keraskan hati kalian, lihatlah keluarga Bpk. Basuki. Dirikan dirimu sebagai keluarga Bpk. Basuki. Inginkah Ayah/Suami/Saudara mu di penjarakan karena hal yang diperpanjang-panjang? Tidak ada rasa iba kah dalam dirimu? Apakah kau masih merasa besar dan benar?

Junjung tinggilah nilai memaafkan dalam dirimu setinggi-tingginya. Jadilah orang yang benar-benar besar dan benar. Banyak selain Bpk. Basuki yang melakukan kesalahan lebih besar tapi kamu menutup matamu. Lihatlah apa yang kau telah perbuat wahai orang-orang besar yang benar, bangsa ini telah menjadi sorotan bangsa-bangsa lain. Apakah ini yang kau inginkan dari Indonesia untuk menjadi sorotan bangsa lain? Janganlah kamu mengikuti panggung sandirawa ini, berdirilah untuk dirimu sendiri, pilah-lah semua informasi yang kau dapat. Sadarkan dirimu untuk memajukan bangsa ini di banding memajukan pemimpin-mu seorang.

Sebagai penutup saya ingin menyampaikan, ingatlah nilai-nilai yang diajarkan mu dari kecil sampai sekarang. Jika nilai memaafkan ada dalam agama mu, ingatlah itu dan laksanakan.  Bukankah itu yang membuat dirimu menjadi manusia beragama yang sesungguhnya? Jadilah manusia beragama yang sesungguh, jangan menjadi manusia beragama yang sesuai dengan pemimpinmu. Pemimpin manusia mempunyai kesalahan dan ketidak sempurna-an. Janganlah kau bersandar pada pemimpin-mu tapi bersandar lah sesungguhnya kepada Tuhanmu.

Jikalau kalian wahai orang-orang besar yang benar menginginkan keadilan, kami orang-orang kecil yang salah berhak mendapat keadlian tersebut. Bolehkan kami meminta keadilan yang sama untuk pemimpin-pemimpin-mu yang salah. Bukankah banyak diluar sana yang merendahkan agama dan ras lain? Masih bolehkah negara ini disebut negara Bhinneka Tunggal Ika? Hormatilah nilai-nilai yang telah dibangun oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Janganlah kau me-misah-kan dirimu dari kami orang-orang kecil yang salah.

Saya sebagai masyarakat pengamat, tidak mempunyai kekuasaan apa-apa untuk mengubah peristiwa ini, saya hanya berkuasa untuk men-support Bpk. Basuki dari kejauhan dalam doa saya dan menyerahkan seluruhnya pada Tuhan saya. Saya percaya bahwa waktu akan membukakan semuanya. Jikalau saya yang salah berpihak, saya akan mengakui nya dan meminta maaf sebelumnya. Jikalau kamu yang salah berpihak, janganlah sungkan untuk mengakui nya, percayalah kami tetap menjunjung nilai Bhinneka Tunggal Ika. Manusia boleh melakukan kesalahan tetapi jangan lah diam dalam kesalahan itu. Saya pribadi sudah memaafkan dengan rela kepada pihak-pihak yang berusaha menurunkan Bpk. Basuki, tidak ada rasa dendam dan benci dalam diri saya untuk mereka. Saya percaya selama masih ada orang-orang yang ingin perjuangkan bangsa ini, maka masih ada setitik harapan untuk membuat bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik dan lebih pintar informasi.

Salam Indonesia,

Masyarakat Pengamat

  • view 27