Nyambung Gak Bro ?

Heri Setiawan
Karya Heri Setiawan Kategori Motivasi
dipublikasikan 24 Agustus 2016
Nyambung Gak Bro ?

Nyambung apa gak sih Bro

Oleh : Ahmad Heri Setiawan

 Bro..Di dalam suatu hubungan, pasti terdapat struktur antara subyek dan obyek. Di dalam perusahaan ada seorang director dan manager , dalam organisasi ada  ketua dan anak buah, di dalam rumah tangga ada majikan dan pembantu, di dalam jamaah shalat ada imam dan makmum, dan di alam ini ada Tuhan dan semua makhluk ciptaan-Nya. Benar kan Bro..

Oke kali ini marilah kita berpura-pura sedang menjadi seorang pekerja Bro, misalnya menjadi tukang bangunan. Di desa aku tinggal Bro, seorang tukang bangunan meskipun tidak disediakan mesin absensi selalu datang tepat waktu dan mempersiapkan semua peralatan yang akan digunakan untuk bekerja, tuan rumah biasanya menyiapkan minuman, seperti kopi atau teh dan singkong rebus, pisang goreng dan makanan kecil semacam itu. Pada saat istirahat tuan rumah juga memberikan makan siang kepada tukang bangunan itu. Selama proses pembangunan berlangsung, tuan rumah juga ikut mengawasi pekerjaan tukang bangunan tersebut. Nah, di dalam konteks mewujudkan bangunan yang baik, kuat dan indah tentu tukang bangunan ini meminta peralatan atau material bangunan agar bentuknya nanti benar-benar sesuai dengan keinginan tuan rumah. Tuan rumah pasti juga dengan senang hati memenuhi kebutuhan tersebut selama permintaan tukang bangunan tersebut relevan, realistis dan logis, yang sesuai dengan tujuan pendirian bangunan tersebut. Misal jika tukang bangunan meminta semen yang kualitasnya lebih baik agar cepat kering, pasir yang bagus, batu merah yang siku atau peralatan kerja yang memadai, itu adalah kebutuhan yang relevan, realistis dan logis.

Tapi jika tukang tersebut kemudian minta makanan yang sedap, minuman yang segar, rokok yang enak, atau baju yang nyaman dengan alasan agar kerjanya bagus misalnya, itu tidak realistis dan logis. Itu adalah sikap tukang bangunan yang tidak etis, tidak proporsional dan tidak tahu diri. Tak perlu meminta, jika si tukang memang rajin dengan hasil kerja yang memuaskan, tentu sang tuan rumah akan mengapresiasinya, entah dengan memberi tambahan es teh, rokok, baju bekas atau bakan baju baru yang diberikan pas idul fitri. Setuju ora Bro ?

Dalam konteks hubungan kita manusia sebagai makhluk dan Tuhan sebagai pencipta kita, kita sering sekali mengajukan permintaan yang tidak ada relevansi dan korelasinya dengan tugas kita sebagai seorang hamba. Di dalam QS. Adz- Dzariyat 56 Allah berfirman : “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. Jelas sekali bahwa tugas kita adalah beribadah kepada Tuhan, sehingga kalau kita adalah hamba yang beretika tentu kita akan memohon segala sesuatu yang bisa kita gunakan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita, bukan sebaliknya.

 Kita yang seharusnya meminta daya juang justru minta uang..

Kita yang seharusnya meminta taqwa justru minta mobil mewah..

Kita yang seharusnya meminta hati yang lapang justru minta tanah yang lapang..

Kita yang seharusnya meminta akhlak yang cantik tapi malah meminta wajah yang cantik..

Dan seterusnya..dan seterusnya..

 Lantas apa tidak boleh, apakah salah dengan permintaan itu Bro, jawabnya bisa iya dan tidak. Akan menjadi salah manakala pada saat kita meminta itu tidak diniatkan dan dilakukan untuk ibadah. Boleh meminta uang asalkan ketika mendapatkan uang memang digunakan untuk membantu mereka yang kekurangan uang. Boleh meminta tanah yang lapang jika niatnya digunakan untuk waqaf masjid atau panti asuhan. Boleh meminta wajah cantik jika diniatkan untuk beribadah terhadap suaminya. Namun dalam kenyataannya kita sering menipu Tuhan, kita merayu-rayu Tuhan dalam doa-doa kita agar Tuhan mengabulkan apa yang kita inginkan ( lah iyo Tuhan kok dibujuki, pekok opo piye ) dan saat keinginan kita terkabul, justru keinginan itu membuat kita terlena dan semakin jauh dengan jalan Tuhan. Dan di sinilah pentingnya berilmu, dan karena ini pula lah ilmu itu diwajibkan untuk dituntut, minal mahdi ilal lahdi. Terkabulnya doa tanpa pengawalan ilmu membuat manusia menjadi pribadi yang Nggilani…Pribadi yang gak nyambung (blas), menjadi pribadi yang paling jelek bahkan dibandingkan dengan iblis sekalipun.

 

Dalam posisi seperti itu iblis justru jauh lebih mulia dibanding kita, loh kok iso ? Yo iso lah, dalam perjanjiannya dengan Tuhan, iblis telah berjanji untuk istiqomah mengoda manusia dan Allah memang ngijabahi permintaan iblis itu. Iblis bisa menjelma menjadi seorang perempuan yang super cantik dan sexy, tapi itu untuk menggoda manusia bukan untuk menggoda sesama iblis, masih ada korelasinya dengan tugasnya, lah kalau manusia diberi tubuh cantik dan sexy kan digunakan untuk menggoda manusia bukan menggoda iblis. Iblis bisa saja berubah menjadi emas, mutiara, intan dan permata, tapi kan untuk menggoda  Qarun bukan memperkaya diri iblis itu sendiri, masih ada korelasinya kan dengan tugas iblis sebagai penyesat. Lah kalau kita yang dikasih kekayaan kayak gitu, apakah kita gunakan untuk membuat jengkel iblis dengan menyedekahkan harta itu kepada yang berhak atau malah kita gunakan untuk membahagiakan iblis dengan berfoya-foya, membeli kekuasaan, keadilan dan apa saja yang bisa membuat kita menjadi Qarun yang baru. Piye Bro, nalar opo ora iki.

 

Oleh karena itu Bro, mumpung nafas ini masih nyambung, apa gak sebaiknya kita meng-edit doa-doa kita yang selama ini gak nyambung blas sama tugas kita sebagai hamba, ayo kita revisi doa kita, agar nyambung, selaras, dan serasi dengan penugasan kita sebagai hamba. Ayo kita lakukan tugas tersebut dengan penuh tanggung jawab, meskipun susah payah, meskipun bersimbah air mata, meskipun luka semakin menganga, agar kita bisa menjadi pribadi yang bisa membuat Tuhan  tersenyum… Pribadi yang Ngangeni , bukan Nggilani.

Selamat merevisi doa ..selamat bersimpuh..Tuhan sudah menunggu

  • view 224